
"Siapa yang akan bercerai? "
Suara berat seorang lelaki yang berjalan memasuki ruangan berhasil membuat Grace dan Bastian menoleh.
Noah Sky Amor lelaki berumur 38 tahun itu masih mengenakan seragam penerbangannya.
Grace berdiri dan merangkul kakanya yang baru saja datang menghilangkan rasa rindu yang amat sangat.
Tidak sadar bulir bening mengintip di ujung mata Grace.
Noah melepas rangkulannya lalu mengecup jidat adiknya.
"Ada apa? "
Pandangan noah beralih kepada sosok Bastian yang berdiri mematung di belakang Grace.
"Ada apa dengan adikku? " Noah menanyakan hal itu kepada Bastian tanpa bertanya siapa Bastian.
"Aku tidak apa-apa kak. Oh-ya perkenalkan ini Bastian dia CEO dari perusahaan Mega Farmasi yang bekerjasama dengan rumah sakit ayah. "
Lalu Bastian menyalami Noah dan memperkenalkan diri.
"Saya rasa saya tidak asing melihat anda Tuan Noah. "
"Entah lah, saya bekerja membawa ratusan penumpang jadi saya tidak bisa mengingat satu persatu penumpang ku. "
Bastian kembali berfikir dimana ia pernah bertemu dengan Noah.
"Selarut ini sedang membahas pekerjaan? " Noah melirik jam dinding besar di belakang Bastian.
Jarum jam menunjukan pukul 10 malam, perjalanan yang macet tidak membuat Bastian sadar bertamu terlarut malam.
"Maaf sebelumnya jika saya kurang sopan, saya datang kesini dadakan tanpa rencana. "
Tia datang membawakan teh hangat untuk Noah.
"Saya berencana melamar Grace setelah ia resmi bercerai. "
Noah terhenti saat akan mengangkat cangkirnya ia merasa ucapan Bastian terdengar kurang jelas di telinganya.
"Cerai? " Noah pun melihat kearah adiknya.
__ADS_1
Grace hanya bisa menggigit bibirnya, ia tak menyangka yang memberikan kabar tentang perceraiannya bukan dirinya melainkan orang lain yang bahkan bukan anggota keluarga.
"Apa yang kakak dengar itu salah? "
Grace mengangguk pelan.
"Kau diceraikan atau kamu yang menceraikan!? "
"Tadinya aku meminta cerai tetapi Darwys menolaknya, lalu 4 hari nyang lalu ia memutuskan menceraikan ku. "
"Jadi kamu diceraikan Darwys? Kamu salah apa. Oh atau jangan-jangan kamu selingkuh dari Darwys? " Noah melihat tajam kearah Bastian.
"Tidak! Tidak! Bukan itu permasalahan nya. " Grace menggeleng dengan keras.
"Darwys yang berselingkuh kak. " Bastian berusaha menyelamatkan dirinya dari tuduhan itu.
"Apa itu benar Grace? "
Grace kembali meneteskan bulir hangat dari matanya, entah mengapa ia tidak dapat membendung nya kali ini.
Grace hanya mengangguk meng-iyakan apa yang Bastian betul adanya.
"Ceritakan yang jelas apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Didalam rumah tanggamu. "
Grace bercerita dari awal sampai akhir tanpa menghiraukan adanya Bastian. Kini Bastian pun tahu apa yang selama ini diderita oleh wanita yang ia sukai.
"Kurang ajar bedebah itu! Dulu mengemis meminta restu. Sekarang malah kau campakkan adiku wanita yang paling aku sayang! "
Noah menghapus air mata Grace, ia turut merasakan apa yang adiknya rasakan. Lalu ia pun berdiri, "Aku akan datang ke rumahnya, aku akan hantam mukanya dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa tinggal diam . "
Grace menarik tangan kakaknya, menghentikan Noah untuk benar-benar pergi kerumah Darwys.
"Tenang dulu kak, jangan membuatku tambah bersalah. Aku hanya ingin berpisah dengan baik-baik. Jika kaka ingin kesana besok kita temui dia. Tapi tidak boleh ada emosi. "
Noah bernafas dengan kasar ia juga menghabiskan teh di cangkirnya dalam sekali teguk.
"Mungkin saya sedang tidak tepat berada di suasana saat ini, maka dari itu saya akan pamit pulang. " Bastian melihat kearah Grace yang sedang menepuk pundak Noah berusaha menghilangkan rasa amarah kakaknya.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu kedepan. "
"Tak apa. Aku permisi. "
__ADS_1
Noah masih memejamkan mata berusaha meredakan emosinya. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya.
" Kapan persidangan akan dilaksanakan? " Noah bertanya.
"Satu bulan lagi, tapi sebelum itu kita ada pertemuan untuk mediasi terlebih dahulu. "
"Jangan biarkan dia memintamu tetap bertahan dan menerima selingkuhan nya menjadi istri mudanya. Lelaki seperti itu tidak pantas untuk diperjuangkan. "
"Tidak akan kak, aku tidak akan mempertahankan pernikahan ini. "
"Sudah semakin larut, kamu beristirahat lah. "
"Baik kak. Kakak jua beristirahat lah. "
Grace berjalan menuju kamarnya.
***
Noah bersandar disofa empuk itu lalu mengeluarkan gawainya.
"Hallo? Ada apa seluruh ini menelpon? Tidak seperti biasanya. " Suara skarang wanita dari sebrang telephon.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan adikku? "
"Iya sebenarnya aku sudah mengetahuinya. Hanya saja aku tidak mau kamu merasa cemas dan bukan hakku meberitahumu perihal rumah tangga Grace. Aku minta maaf. "
"Ya sudah lupakan lah. Esok aku akan berniat menemui Darwys. Maaf aku akan membatalkan rencana kita. "
"Tidak apa-apa, kita masih bisa bertemu dilain waktu. Buatlah Grace tenang dan bisa melawati masa sulitnya. "
"Terimakasih atas pengertianmu, sudah larut lanjutkan tidurmu honey. "
Telepon terputus. Noah pun beranjak memasuki kamarnya.
***
"Dimana aku pernah bertemu Noah?" Bastian berfikir saat menyetir.
"Meski aku tidak mendapatkan kontaknya lagi tak apa, yang pasti wanita yang kusukai benar-benar akan bercerai. "
"Ha ! jahat sekali aku mendoakan orang lain lekas bercerai. "
__ADS_1