
Hujan telah berhenti entah kapan dan awan kini bercerai-berai. Secercah cahaya matahari tampak seolah hendak mengintip dari balik langit yang mulai berwarna jingga. Hari itu hari yang baik untuk dihabiskan untuk suka cita menyambut perayaan ulang tahun pendiri perusahaan mega farmasi Atmaja Sukma yang kini usianya memasuki 84 tahun. Meski umurnya kian mendekati satu abad lelaki tua itu masih bisa berdiri kokoh tanpa bantuan alat topang dan gigi yang masih lengkap. Senyum lebarnya menutupi kerut wajah penuaan tak terbayang dimasa mudanya Atmaja adalah seorang yang amat sangat gagah.
"Entah mengapa semakin hari kakekku semakin tampan, hari ini sepertinya akan ada wanita yang minta dipersunting lagi seperti tahun-tahun sebelumnya hehehe.. " Candaan Bastian membuat para tamu yang mengelilingi Atmaja ikut tertawa.
"Kakekmu ini memang sedari dulu tampan dan akan selalu tampan sampai maut menjemput Bas. Kamu sendiri umur sudah 30 belum ada wanita yang bisa kamu gandeng sekarang cih.. " Atmaja balik membalas candaan cucunya.
Gelak tawa kini semakin pecah, posisi Bastian yang menjadikannya bahan candaan tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya itu.
Bastian menggelengkan kepala dan tertawa pelan. Dari kelima cucu Atmaja Sukma, Bastian lah yang paling tenang dan bijak. Ia selalu rasional, logis, dan berpikiran jernih dalam segala situasi. Ia selalu merencanakan terlebih dulu apa yang akan ia lakukan.
"Kakek tunggu saja nanti akan datang wanita yang ingin sekali ku kenalkan ke kakek. " Bastian tersenyum menyeringai membuat sangat kakek mengangkat kedua alisnya.
***
Setelah selesai menggerutu atas candaan yang Atmaja lempar untuk cucunya hingga membuat Bastian malu didepan para tamu yang hadir, Bastian mendengar suara. Naluri semangat yang tajam sesaat menjalari dadanya, lalu ia segera tenang kembali. Suara mobil yang didengarnya berhenti persis didepan pintu besar rumah itu. Apakah Sang Mawar yang sedari tadi membuatnya menanti akhirnya telah tiba? Pasalnya semua tamu undangan sudah datang terkecuali dari keluarga Agapius yang belum muncul satu orangpun. Dengan langkah pelan dan santai layaknya menyambut tamu ia meletakan gelas berisi minuman berwarna merah di tepi meja.
Akhirnya dia sampai juga.
Grace terlihat turun dari mobil membawa dua paperbag yang akan ia berikan kepada pemiliknya.
"Maaf sepertinya aku telat, sampai-sampai yang menyambutku adalah cucu pemilik rumah, " Grace tersenyum mengakrabkan diri dengan lelaki yang baru ia temui sekali.
"Belum dimulai acaranya, santai saja. Kukira kamu tersesat saat menuju kesini. "
Grace mendengus kecil dan menyodorkan paperbag berisi jas Bastian yang telah ia bawa pulang hari itu.
"Mana ada yang tersesat rumah dengan luas berhektar-hektar ini ada-ada saja. Oh yaa kukembalikan jasmu maaf tadi sepertinya terkena sedikit rintik hujan."
"Jangan cemaskan itu, yang terpenting kamu sudah datang dengan selamat. Ayo masuk.. " Bastian menerima paper bag dan memberikannya kepada pelayan yang ada disana.
Mega yang sedari tadi terdiam kini berbisik dan mengekor langkah kaki Grace " Siapa dia, tampan sekali. "
"Dia adalah Bastian cucu Tuan Atmaja Sukmo yang ku ceritakan tadi di mobil, " Grace membalas lebih pelan lagi.
Mobil Darwys yang tiba setelah Grace tidak terlewatkan saat melihat istrinya bersalaman bahkan sempat terlihat tertawa kecil bersama lelaki yang ia tidak kenal.
"Pak Andre, siapa lelaki yang baru saja menyambut Grace? "
"Kabarnya dia adalah cucu kedua keluarga Sukmo tuan. Setelah kejadian 10 tahun lalu sepertinya dia menenangkan diri di luar negeri. "
"Pantas saja saya baru melihatnya. "
Darwys dan Sarah melangkah memasuki kediaman Sukmo yang terlihat sudah ramai, banyak juga penjaga berbaju serba hitam di sekitar kediaman tersebut.
Melihat Grace yang sedang memberikan ucapan selamat kepada pemilik pesta dan memberikan paperbag kecil kepada Tuan Sukmo.
__ADS_1
Hadiah apa yang Grace berikan kenapa dia tidak memberitahuku, semoga pemberiannya tidak membuat malu keluarga Agapius.
Darwys melangkah menuju istrinya yang sedang terihat sendau gurau dengan beberapa percakapan yang menurutnya lucu, sudah lama Grace tidak tertawa seperti itu. Darwys yang penasaran menghampiri dan berniat memberikan hadiah berupa jam tangan mewah.
"Selamat Ulang tahun Tuan Atmaja, semoga selalu diberikan kesehatan dan selalu diberikan kesejahteraan diumur yang panjang" menyalami pria yang sekarang berumur 84 tahun itu.
"Iya iya terimakasih, anda hadir saja sudah cukup tidak usah bawa hadiah Pak Darwys. "
Sekarang Darwys, Sarah dan Grace berada dalam satu lingkaran kerumunan hanya saja lelaki disebelah Grace bukanlah suaminya melainkan Bastian. Saat sedang mengamati cucu tuan atmaja tiba-tiba ada tangan yang menepuk punggunya.
"Wah Darwys datang bareng calon istrinya nih" Liev berbicara lumayan keras hingga sang pemilik acara sampai menengok.
Sarah yang daritadi diam hanya melemparkan senyum kepada semua orang yang barada disana.
Bastian yang melihat Grace tidak nyaman saat Liev mengungkit tentang sosok Sarah ia pun mengajaknya keluar dari kerumunan. Belum sempat Darwys mengejar, Liev dan para teman nya menghadang mengajaknya membahas bisnis dengan santai bersama Tuan Atmaja.
***
Bastian membawa Grace menuju taman bunga, gazebo kayu dengan detail ukiran mengkilap warna yang menyatu dengan alam tempat yang paling Grace sukai untuk bersantai. Tiara yang sudah lama menunggu melemparkan senyum manis keibuannya.
"Siapa ini? " Senyum Tiara merekah.
"Halo tante saya Grace.. Mmm teman Bastian " Grace melirik sinis Bastian ia sendiri tidak diberitahu jika akan di kenal kan kepada orang tuanya dan ia pun ragu untuk memberi tahu kan hubungannya dengan Bastian apa.
Grace hanya terdiam ia yang mulai sadar dengan percakapan anak dan ibu tersebut mengarah kemana.
"Maaf jika mengganggu boleh saya bawa Bastian sebentar tante? " Grace bergegas menarik ujung jas yang Bastian kenakan.
Menjauh beberapa meter dari tempat ibunya duduk memastikan beliau tidak akan mendengar percakapan mereka.
"Kamu ngomong apa sih, aku dan Darwys belum cerai jangan buat kegaduhan yang lain. Tolong. Kita juga baru bertemu sekali. "
Tiara berdiri dari tempatnya duduk ia mendapat pesan dari pelayan jika ada tamu penting yang datang dan harus disambut olehhya, ia pun menghampiri Bastian dan Grace "Bunda ada tamu sebentar, kamu ajaklah Grace berkeliling taman ini. "
"Baik bunda, " Bastian membalas lesu karena gagal mengenalkan lebih jauh sosok Grace kepada ibunya.
"Mari kita keliling saja, aku ingin menunjukan taman wisteria yang ku tanam sendiri" Tangan Bastian mempersilahkan Grace untuk melangkah.
"Aku bisa berkeliling dengan para pelayan, kamu temuilah tamu-tamu yang penting. "
"Ini acara kakekku mereka adalah tamu kakek bukan tamuku. Santai saja. "
Saat berjalan beiringan seseorang memanggil dari arah belakang,
"Kak Grace! "
__ADS_1
Ah suara ini..
Sarah berlari dengan gaun merah muda dengan topi seperti akan terbang dari kepalanya. Ia hanya sendiri tidak ada Darwys disampingnya.
"Kakak sedang jalan-jalan yah, aku juga ingin jalan-jalan keliling taman. "
Tidak terlalu banyak orang di taman itu, hanya beberapa yang menikmati pemandangan taman dan beberapa tamu lelaki yang hanya sekedar merokok diluar ruangan.
"Ah salam kenal, Saya Sarah. " Sarah mengulurkan tangannya kepada Bastian Berharap disambut baik oleh lelaki itu.
"Salam kenal saya Bastian, " Ali-alih menyambar tangan Sarah, Bastian hanya menganggukan kepala dengan sopan.
Tampak wajah kikuk Sarah yang memerah dan kembali menarik tangannya mengurungkan niat bersalaman dengan lelaki yang berada disamping Grace.
Grace sedikit menyunggingkan senyum melihat tingkah Sarah dan Bastian.
Tak mau diacuhkan Sarah berusaha mencari perhatian kembali, wajahnya masih tampak berbinar.
"Anda tampan sekali, apakah anda teman Kak Grace? "
"Beliau adalah cucu Tuan Atmaja " Grace membalas, menghindari pertanyaan Sarah yang akan berbuntut panjang terhadap Bastian.
"Waa..aku baru pertama kali melihat orang setampan dirimu"
"Terimakasih pujiannya" Bastian membalas dengan senyum yang dipaksakan.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku ikut berkeliling dengan kalian? " suara Sarah semakin bersemangat ia tahu bahwa ia akan diterima.
"Ah maaf nona Sarah saya bukan pemandu banyak orang, jika ingin berkeliling juga biar ku panggilkan pelayan . " Dengan jawaban dingin Bastian wajah Sarah tampak sangat terkejut, tidak ada sebelumnya lelaki yang menolak ajakannya.
Grace yang berdiri disamping Bastian-pun tampak terkejut namun dengan wajah datar.
Ternyata dia juga bisa berekspresi sedingin itu, seolah-olah tidak tertarik dengan kecantikan Sarah.
"Mari Nona Grace.. " Bastian kembali mengajak Grace.
"Ah ya Mari.. "
Bastian dan Grace meninggalkan Sarah dengan wajah merah padamnya, tampak terlihat amarah yang dipendam.
Lihat saja pasti orang-orang yang sekarang menyangimu akan beralih menyayangiku, masa-masa bahagiamu akan berakhir menyedihkan Grace.
Hati Sarah mulai cemburu dengan apa yang selama ini didapat Grace.
Banyaknya orang dan suara yang lumayan ramai tak membuat pandangan Darwys berpaling dari tiga sosok manusia yang terlihat sedang bertegur sapa di taman, meski terbilang jauh dari ruang ia tahu bahwa yang sedang berada disana adalah istri-istrinya bersama cucu Tuan Atmaja.
__ADS_1