
Sepekan telah berlalu kini hubungan Grace dan Darwys sudah resmi bercerai.
Pernikahan Darwys yang harusnya direncanakan minggu ini harus diundur karena Herra jatuh sakit mengalami shock berat kehilangan menantu kesayangannya.
Damian menghubungi Grace karena sudah 3 hari setelah Herra jatuh sakit, istrinya selalu memanggil nama Grace dalam tidurnya.
[Kamu bisa datang kesini Grace? Istriku jatuh sakit setelah mendengar putusan cerai Darwys dan dirimu, sekarang badannya lemah dan sesalalu merantau namamu dalam tidurnya. Mungkin dengan hadirnya kamu, istriku bisa membaik. ]
[Saya akan segera kesana Tuan Damian] balasan singkat Grace.
Herra memang sangat dekat dengan Grace namun berbeda dengan Damian yang biasa saja. Entahlah seperti ada ikatan batin antara dirinya dan Herra ketika mereka bersama.
Grace meminta izin kepada Ayah dan Noah untuk menjenguk Herra.
"Apa perlu ayah ikut? "
"Tidak perlu yah, nanti malah membuat mamah Herra semakin merasa bersalah. "
"hmm baiklah. "
"Jangan pulang telat. " Sahut Noah.
"Iya kak. "
Hera pergi menuju rumah Herra dalam cuaca yang cerah dan jalanan yang cukup lengang. Tak lupa dirinya mengabari Bastian bahwa dirinya akan pergi menjenguk Herra.
[Hari ini aku akan pergi kerumah Nyonya Herra, Beliau sakit dan ingin aku datang menemaninya. ] Terkirim.
"Tsk untuk apa aku memberitahu Bastian, bukan hal penting yang harus ku beritahu. Lagipula siapa Bastian bagiku. Ku urungkan saja pesannya. "
Saat Grace akan menghapus pesan yang ia kirim, logo biru tanda sudah terbaca menyala. Bastian sudah membaca pesan yang dikirim Grace.
[Baiklah. Hati-hati dijalan. Jika aku sudah menjadi suamimu aku akan ada disetiap waktu menemanimu kemanapun kamu pergi akan aku antar. ]
Grace tersenyum membaca pesan yang Bastian kirim, bahkan senyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi rapihnya, "Ah! sepertinya aku memang sudah gila. "
__ADS_1
Grace sampai dirumah Herra setelah menempuh waktu sejam dirinya langsung diantar kekamar ibu sambungnya.
"Kamu datang bersama siapa? " suara Herra lirih menyambut Grace yang baru sampai.
"Sendiri mah, cuaca disini mendung padahal tadi aku dari rumah cerah. " Grace melepas jaket blazer yang ia kenakan.
Grace pun memeluk Herra dan mencium pipinya.
"Kamu persis seperti ibumu, entah mengapa setiap melihatmu aku selalu mersa sedang bersama sahabatku sendiri. " Herra menggenggam tangan Grace diatas kasur, Grace hanya terdiam duduk disamping temat tidur Herra.
"Dulu aku dan ibumu adalah teman yang sangat dekat sampai sesuatu yang disukai ibumu akupun ikut menyukainya. "
"Saat ibumu menyukai dan memilih ayahmu sebagai pendamping hidup, aku sempat iri. Kenapa jodoh yang datang padanya malah mendahauluiku kenapa Tuhan juga tidak memberiku jodoh juga agar kita bisa menikah pada hari yang sama. Sempat dulu aku berpikiran jahat untuk membuat ibu dan ayahmu putus, namun gagal dan ibumu berkata, Jodoh disiapkan Tuhan saat diri kita juga siap. bersabarlah. "
Herra tersenyum mengenang kenangan dirinya bersama sahabat nya itu.
"Saat ibumu tiada aku berjanji untuk selalu menjaga dan menyayangimu bagaikan anak kandungku sendiri. Namun sekarang aku malah melukaimu Grace ini salahku karena dulu telah merestui Darwys dengan perempuan itu. "
Saat Herra sedang mengelap air matanya tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, suara Darwys meminta ijin masuk. Belum sempat Herra mengijinkan Darwys sudah membuka pintunya dengan menggandeng tangan Sarah.
"Ka kamu di sini? " Tanya Darwys.
Grace merasa tak enak hati jika terus disana, bagaimanapun Herra adalah calon mertua Sarah dan Grace tidak ingin Sarah salah paham terhadap Grace.
"Kak, kamu kan sudah bercerai dengan Mas Darwys kenapa masih suka kesini sih. Apa jangan-jangan kamu berusaha merayu mamah agar bisa membuat Darwys berbalik kearahmu lagi? "
Benar saja apa yang Grace tadi pikirkan, memang Sarah wanita lugu yang licik.
"Jangan asal bicara Sarah, Grace dan aku tumbuh besar bersama mamah, bukan hal kita untuk melarangnya datang. " Darwys menarik keras lengan Sarah yang tadinya berdiri berkacak pinggang menghampiri Grace.
"Jaga mulutmu! Seperti nya aku sudah salah memberikan kalian restu untuk menikah! " Sura Herra kini meninggi tersulut emosi.
"Mah restui atau tidak. Pernikahan ini akan tetap berlangsung, karena ada cucu mamah diperut ini!" Sarah tak mau kalah dengan suaranya berkacak pinggang menghadap Herra langsung.
"Sayang kendalikan dirimu, yang mamah katakan hanyalah salah ucap. Iya kan mah? " Darwys berusaha merayu Sarah.
__ADS_1
"Tidak! mamah tidak asal bicara. Harusnya memang mamah tidak merestui kalian menikah. Belum tentu anak yang perempuan ini kandung adalah cucuku mungkin anak dari lelaki lain. "
"Mah jika memang tidak suka antara aku dan Sarah ya sudah. Tapi jangan sampai mamah menjelekan dia apalagi anak yang belum lahir ini ikut mamah maki. " Darwys menggenggam erat tangan Sarah berusaha melindungi.
"Kamu belum tahu yang sebenarnya, Grace beritahukan saja yang sebenarnya. Mamah tidak ingin salah menduga lagi. "
Terlihat Sarah memundurkan kakinya selangkag tergagap.
"Apa ! bukti apa yang kalian maksud! " Kini Darwys ikut meninggikan suara.
"Mas sudah mas, lebih baik kita pergi saja dari sini. Aku tidak ingin anaku kenapa-kenapa. " Sarah berusaha menarik tangan Darwys yang mengeras.
"Grace beritahu sekarang! agar tidak ada rahasia lagi diantara kalian yang memang sudah bercerai. "
Grace pun mengeluarkan Gawainya dan mengirim foto hasil tes kesuburan Darwys yang memang sudah Grace siapkan sebelumnya dan ia kini mengirimkannya kepada Darwys.
Darwys membuka Gawainya dan berusaha memperbesar tulisan yang ada difoto itu agar bisa ia baca.
"Apa maksudnya ini!? " Tanya Darwys yang memang tidak paham.
"Ini hasil tes kesuburan mu dulu saat kita melakukan program bayi tabung. Kamu dinyatakan mandul di surat itu. "
Darwys terpaku lalu kemudian mundur bebrapa langkah dan berusaha melepaskan cengkraman Sarah. Kini tangan Darwys sibuk mengacak rambutnya sendiri.
"Apa maksud semua ini? Kamu mengetahui suatu kebenaran namun kamu juga menutupinya? atau semua ini hanya permainanmu Grace, kau sedang berusaha membuatku merasa menyesal karena telah menceraikan mu kan?? aku ini lelaki sehat buktinya Sarah hamil anaku. " Darwys mengusap wajahnya dengan kasar.
"Belum tentu itu anakmu, coba saja kamu pastikan kepada calon istrimu itu. Tanyakan kepadanya anak siapa itu? " Grace berbicara dengan melihat kearah Sarah yang tergagap dan sedikit gemetar.
"I-ini anak Darwys, aku hanya melakukannya dengan Mas Darwys. Kalian tidak bisa asal tuduh. mu-mungkin saja Mas Darwys tidak bisa memiliki anak saat bersamamu, atau mungkin bahwa kamulah yang mandul Grace jangan malah membalikan fakta. " Dengan sedikit gemetar Sarah berusaha menyerang balik.
"Benar apa yang Sarah katakan! Jika memang aku mandul Sarah tidak mungkin hamil. Dan mungkin saja benar jika kamulah yang mandul Grace, Surat itu pasti sudah kamu edit kan?" Telunjuk Darwys mengacung kearah wajah Grace.
"Kalau memang kamu tak ingin bercerai sebaiknya kamu menerima keputusanku, bukan malah bermain kotor seperti ini. Menuduh sesuatu yang tidak masuk akal. Sekarang aku tahu sifat aslimu Grace, Jangankan untuk rujuk, untuk melihat wajahmu saja kini aku muak.! Cih! " Darwys meludah disamping kakinya.
"Kita pergi saja dari sini Sayang! " Darwys menarik tangan Sarah dan meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Bulir air menetes perlahan di ujung mata Grace yang terpaku terdiam, tak kalah dengan Hera yang sudah menangis tersedu-sedu karena anaknya bahkan lebih memilih wanita desa itu.
"Aku harus menggagalkan pernikahan mereka. " Rancau Herra sembari menagis.