Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 18 Pagi Hari


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Bastian memandangi foto Grace di gawainya. Sang pemilik akun tidak memberikan postingan terbaru lagi membuat hati Bastian sedikit gundah.


"Bodohnya aku waktu itu tidak meminta kontaknya. "


"Kalau aku DM pantas atau tidak yah?"


Jari jemarinya yang mulai mengetik tulisan yang berisikan pertanyaan kabar kembali membuat jari tersebut mematung lalu menghapusnya kembali.


Tak berselang lama pelayan datang dan cukup mengagetkan Bastian dari fokus gawainya.


"Permisi tuan, nyonya memanggil mengajak sarapan."


"Ah.. Ya baik saya segera menyusul. "


Diruang tamu sudah duduk Tiara dan Tuan Atmaja. Bastian pun ikut bergabung mengambil roti lapis yang sudah dihidangkan.


"Bas jika hari ini senggang kakek ingin di temanimu kontrol kesehatan lagi, itupun jika kamu mau. " Tuan Atmaja memulai pembicaraan.


"Baiklah, jam berapa janji temu dokternya kek. "


"Jam 11 siang Di Rumah Sakit Cahaya. "


"Oke nanti aku jemput kakek jam 10 ya. "


Setelah memakan 2 roti lapis Bastian pun bertolak ke tempat kerjanya.


***


Kepala Grace terasa berdenyut berat, matanya bengkak mungkin ia menangis dalam mimpi. Rumah tangga yang ia bina kandas begitu saja dan sekarang tugasnya hanya memperbaiki kondisi dari diri sendiri. Grace berjanji ketika semalam menjelang tidur ia meneguhkan hati dan bisa hidup lebih baik tanpa Darwys. Dan mimpi semalam adalah tangisan terakhirnya melepaskan Darwys.


Siti mengetuk pintu memberitahukan majikannya sedang ditunggu Tuan Amor diruang makan.


Grace terlihat sangat kusut meski sudah mencuci muka, langsung menyambar salad dan omlet telur,


"Ayah sudah memberitahu Kak Noah? "


"Belum, Noah jika tahu kamu dicampakan bisa-bisa dia mendaratkan pesawat dirumah Darwys laki laki bejat itu. "


"Ayah bisa saja, tidak sampai seperti itu. " Grace tertawa kecil.


Amor berhenti sejenak menyantap sarapannya dan mengamati putri mungilnya, "Kamu pasti akan jenuh jika terus dirumah, lihatlah wajahmu bahkan lebih buruk dari semalam. Ikut ayah kerumah sakit nanti dan jadilah asisten pribadi ayah dalam sehari. "


"Ayah aku sudah lama tidak praktik, jika aku ikut nanti malah bisa mal praktik. "


"Gelar saja Dokter masa kerja ngurusin perusahaan. Daftar residen lagi jadilah penerus ayah, punya dua anak tidak ada yang bisa diandalkan. "


"Bukan seperti itu ayah, passion ku kan memang ingin berbisnis dari dulu. Aku lulus kedokteran karena ayah yang meminta. " Grace kembali tertawa kecil melihat raut wajah ayahnya.


***


"Maaf Tuan, Tuan Rama datang dan orang yang disuruh Nyonya Grace mengambil barang yang tersisa juga datang. " Andre berbisik ditelinga Darwys saat sedang sarapan.

__ADS_1


"Suruh masuk pak, dan orang suruhan Grace arahin langsung ke kamar Grace, kau awasi mereka. "


Rama memasuki ruangan dengan membawa 2 koper besar miliknya diikuti dua orang yang tidak ia kenal membuntuti nya juga membawa 2koper besar dan beberapa kardus kosong dan berjalan melewatinya menuju lantai dua.


"Letakan barang bawaan mu disana saja biar pelayan yang bawa ke kamar, mari sarapan bersama kamu pasti lapar. "


Rama pun meletakan koper yang ia bawa dan berjalan kearah meja makan. Yang tadi ia kira Grace ternyata bukan.


Apakah ini calon istri kedua Kak Darwys? Cantik juga, tidak beda jauh dari Grace bahkan terlihat lebih muda


"Kak Grace tidak ikut sarapan? "


"Ukhuk!! "


Sarah menjulurkan minuman, "minum dulu mas, pelan pelan saja. "


"Cerintanya panjang Ram, intinya aku berniat menceraikan Grace. "


"Ukhuk!!! " Dan kini Rama yang tersedak.


"Serius!? "


"Kamu pikir kakakmu ini bercanda, bahkan setelah ku iya kan perceraian dengannya, iparmu langsung pulang kerumah orangtuanya sendirian. "


"Seharusnya aku datang semalam lebih awal agar bisa mengantar Kak Grace. " Rama menaik turunkan kedua alisnya.


"Tidak usah berharap ia akan mampu didekati, kau bukan lah typenya. "


"Oh ya kenalkan ini Sarah calon istriku yang sudah papah ceritakan dikantor waktu itu. "


Rama berdiri dan menjulurkan tangannya dan Sarah pun iku berdiri dan menjulurkan tangannya.


"Rama adik sepupu kak Darwys. "


"Saya Sarah, salam kenal. "


Sarah merasakan kokohnya gengaman Rama, meski hanya sesaat ia bisa membedakan dengan sentuhan Darwys.


"Sarah akan menjadi istri ku, kamu juga bisa memanggilnya kakak seperti Grace. "


"Bukankah dia lebih muda dariku kak. "


"Iya masih 28 tahun. "


"Tak apa mas Rama memanggilku dengan nama. Tidak usah dipermasalahkan. " Sarah mulai ikut bergabung mengakrabakan diri dengan anggota baru.


***


Hari ini Grace benar mengikuti ayahnya bekerja di rumah sakit namun tidak menjadi asisten ayahnya melainkan hanya menemani selayaknya putri kecil.


"Ayah akan makan siang di kafetaria rumah sakit anak ayah ikut kan?"

__ADS_1


"Ah ayah aku lebih baik makan diluar saja, makanan disini terasa hambar di mulutku. "


"Tapi kan lebih sehat. "


"Ayah saja yang makan diluar bareng aku, ada restoran enak dekat sini. "


"Ayah sudah ada janji najer rumah sakit minta ditemani makan. "


"Baiklah aku akan pergi sekarang saja sebelum macet karena jam makan siang. "


"Oke hati hati dijalan, ayah ada pemeriksaan satu pasien lagi setelah ini.


Grace bertolak meninggalkan ruangan ayahnya saat berjalan menuju lobi ia tak sadar ada sepasang mata melihatnya sesaat.


'Aku tidak salah lihat kan? Itu Grace?'


'Ah mungkin aku saja yang sedang berhalusinasi'


'Tapi jika benar, siapa yang sakit? '


Bastian masih mengenakan setelan jas selayaknya pemimpin perusahaan yang masih di jam kerja, ia tidak sempat berganti pakaian saat akan mengantar kakeknya ke rumah sakit.


Tuan Atmaja berjalan menyusuri lorong sampai berhenti di pintu bertuliskan Prof. Dr. Bara SkyAmor. MD.


Tuan Atmaja mengetuk pintu dan terdengar sahutan mempersilahlan masuk.


Kakeknya dan dokter tersebut terlihat akrab dari segi pandang Bastian bagaikan sahabat karib ata sejenisnya.


"Aku kesini hanya untuk mengecek kesehatan ku, dan sekalian membawa anaknya Adi jalan-jalan setelah sekian lama mengurung diri di negara orang. "


Selagi menyeduh teh untuk tamunya, Amor sedikit mengingat ingat.


"Anaknya Adi? Bastian? Ini Bastian Putra Sukmo? "


Bastian beri inisiatif berdiri dan bersalaman, ia juga melirik tag nama di meja sang dokter. Ia merasa tidak asing dengan nama belakang dokter itu.


"Saya Amor, sahabat ayahmu semasa hidup. "


"Ah ya sekarang saya ingat, bunda pernah memberikanku surat dari papah saat berencana keluar negeri. Namun namanya surat itu saya baca setelah papah tiada. "


"Surat, aku tak tahu surat apa itu. Intinya kamu sekarang sudah besar dan persis seperti papamu. "


Tuan Atmaja kembali menanyakan proses pemeriksaannya dan mereka menuju ruang pemeriksaan yang tak jauh dari ruangan pribadi Amor.


"Sebentar lagi jam makan siang jika mau kita bisa makan di kafetaria rumah sakit Bas, Tuan Atmaja juga akan makan disana. "


"Maaf Tuan Amor, tetapi saya tidak terlalu suka rasa masakan rumah sakit. "


"Santai saja denganku panggil saja Om, kamu sudah seperti anak ku sendiri. "


"Kamu makan diluar saja, nanti kakek kabari saat waktunya pulang. "

__ADS_1


Setelah pemeriksaan selesai dan hasilnya baik Tuan Atmaja dan Dokter Amor pergi ke kafetaria. Bastian yang mulai keroncongan mencoba keluar mencari restoran terdekat.


__ADS_2