Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 11 Restu Dari Grace


__ADS_3

Ulang tahun Darwys dilaksanakan di sebuah ball room hotel mewah acara yang akan dilaksanakan sore hari sudah membuat para pelayan sibuk mempersiapkan ini dan itu.


Pukul 10 pagi di rumah, Herra dan Damian suaminya datang lebih awal. Herra sudah memberitahu Damian akan rencana Darwys. Awalnya Damian tidak setuju tapi karena alasan pewaris keturunan selanjutnya belum ada maka Damian pun menyetujui rencana Darwys.


Grace menyambut hangat kedua mertuanya disusul oleh Darwys dan Sarah yang semakin terlihat lengket. Mempersilahkan mertuanya duduk. Sarah yang lugu dengan spontan menyugukan minum yang seharusnya dikerjakan oleh para asisten. Damian memandang dengan penuh kebingungan.


"Kamu sehat Grace?" Herra membuka percakapan.


"Sehat mah. Mama datang kesini lebih awal tumben mah. "


"Iya ada yang ingin mamah katakan nak," Herra dan Damian saling berpandangan mempersiapkan kata kata yang tidak akan menyakiti hati menantu kesayangannya itu. Menarik nafas dalam Herra akhirnya mengeluarkan kalimat pertamanya,


"Grace... izinkan Darwys menikahi Sarah ya, meski nanti mama akan punya menantu dua percayalah Grace masih tetap menjadi menantu yang terbaik dan pikirkanlah takdir garis keturunan Agapius yang berada di tangan Darwys."


"Mamah dan papah merestui nya? " Dengan tatapan tidak percaya Grace memandang bergantian kedua mertuanya itu.


Kedua mertuanya mengangguk, Grace berganti netranya memandang Darwys dengan lekat, "Kamu yakin sayang, akan menikahi Sarah?"


"Aku yakin sayang, restui lah kami. Aku yakin kamu dan Sarah bisa akur seperti saudara dan aku berjanji aku akan adil membagi kasih sayangku kepada kamu dan Sarah mah, " dengan mantapnya nanar mata memberi sorotan meyakinkan.


Grace menarik nafas panjang, "Baiklah".


Jawaban singkat Grace membuat semua orang menunjukan raut wajah bahagia. "Semudah itu merayu Grace" Pikir Darwys.


"Kakak merestu aku dan Mas Darwys menikah? " Tanya Sarah.


Grace hanya melihat kearah Sarah sekejap tanpa menjawab pertanyaan nya, ia berdiri meminta ijin kepada mertuanya untuk kembali kekamar.


***


Pukul 18.00 tamu sudah mulai berdatangan tanpa terkecuali keluarga Amor. Keluarga Agapius selaku pelaksana sudah hadir lebih awal.

__ADS_1


"Hadirin dan para tamu undangan yang terhormat, terima kasih atas kehadiran kalian semua dipesta acara ulang tahun saya kali ini. Semoga kedepannya kita semua bisa membangun bisnis yang sangat maju. Mari bersulang.."


Semua para tamu undangan mengangkat gelas yang sudah berisikan air berwarna ungu ditangannya setinggi mungkin dengan wajah bahagia.


"Bertepatan pada hari ini juga saya akan mengumumkan bahwasannya perempuan yang saya gandeng ini, sebentar lagi akan menjadi istri kedua saya. Sebagai kado istimewa di hari ulang tahun yang ke-35"


Ternyata bukan hanya para tamu dari kalangan bisnis atau kolega saja yang hadir, tetapi ada pula tamu dari kalangan para wanita sosialita. Sehingga mereka mulai berbisik satu sama lain, sampai seketika suara mereka menelisik sampai di telinga keluarga Agapius.


"Diharapkan untuk semuanya agar bisa lebih tenang lagi, saya berbicara seperti itu karena memang sebelumnya saya sudah meminta restu kepada istri pertama saya. Jadi, jangan khawatir dan tidak usah mengumpatiku seperti pria hidung belang lainnya"


"Ayo Sayang, berbicaralah dan berikan mereka jawaban yang memuaskan supaya mereka bisa mengerti jika kau memang telah menyetujuinya tanpa merasa keberatan"


Darwys menatap istrinya dengan senyuman indah, lalu memberikan mik yang tadi berada ditangannya kepada Grace. Dengan berat hati Grace menerimanya sambil menarik nafas panjang serta menyunggingkan senyuman penuh arti.


"Untuk para hadiri, teman dan juga rekan bisnis semuanya. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih telah datang di acara ulang tahun suami saya tercinta. Ini adalah sebuah pernyataan yang akan saya utarakan.."


Seketika Grace memberhentikan ucapnnya menatap semuanya dengan tatapan sedikit gugup. Lalu suasana menjadi sangat hening menyelimuti ruangan besar.


Tampak sekilas mata-mata para lelaki yang tidak berpendamping mengisyaratkan jikalau mereka sudah bersiap mengantri menggantikan Darwys.


"Untuk suamiku tersayang, keputusanmu adalah salah satu kebahagianmu. Jika memang Sarah adalah tempatmu berlabuh maka menikahlah dengannya. Dan terima kasih atas kebahagiaan yang selama ini kau berikan padaku. Maka dengan sangat tidak hormat lepaskan saja diriku dan jadikan Sarah istri satu-satunya di sampingmu... Pe-permisi, te-terima kasih.."


Grace menjatuhkan mik tersebut dan berjalan mundur meninggalkan panggung utama, hingga keheningan kembali memberikan jawaban atas isi hatinya serta mata-mata yang tersorot adalah saksi kunci hubungannya akan segera berakhir.


***


Dipojok ruangan lelaki gagah berumur 30 tahun tersenyum kecil mengetahui sebuah kalimat terucap dari wanita pujaannya. Langkah kaki mengikuti kepergiannya, tak ingin ada yang menyalip antrian dari calon pejuang lain. Hingga saat langkahnya ikut terhenti.


Langkah Grace menuju pintu keluar terhenti saat Herra mencengkram tangannya.


"Nak kamu bilang menyetujui Darwys menikah dengan Sarah, lalu kenapa kamu ingin cerai darinya, " Air mata Herra menetes mengingat kebersamaanya dulu saat Darwys dan Grace masih kecil. Herra bahkan menganggap Grace anak kandungannya sendiri.

__ADS_1


"Tolong lepaskan Grace mah, biarkan Grace pergi. "


Herra melepaskan tangan menantunya. Grace pergi dengan tangis yang tak bersuara.


Kaki Darwys lemas masih tak percaya dengan perkataan Grace. Dadanya sakit serta amarah yang memuncak, ingin rasanya ia mengejar namun tangan lembut Sarah menghentikannya.


"Biarkan kak Grace pergi mas, nanti kita bisa bicarakan lagi dirumah. Jangan buat acara ini semakin kacau. Bersikaplah tegas, " Sarah membisikan kata-kat yang menurut Darwys ada benarnya.


***


Suara hujan yang deras menyamarkan tangis grace, melihat jatuhnya air langit dengan pilar yang kini menjadi sandaran nya berharap akan ada obat untuk luka hatinya. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar, seluruh cinta dan kasih sayang yang ia punya telah diberikan untuk suaminya. Kaki yang mulai lemas raga pun ikut meluruh hatinya berbicara lirih, "aku ingin pulang. "


Sepasang tangan kekar merenggut pundak Grace membalik nya kedalam dekapan dada bidang itu. Dari arah belakang sosok lelaki yang selama ini merindukannya muncul.


"Menangislah nona, menangislah yang kencang keluarkan rasa sesak didadamu."


Tangis Grace kembali pecah, ia tidak tahu siapa lelaki ini tapi yang ia butuhkan kali ini adalah sebuah pundak. Wangi bunga wisteria tertanam di badan Bastian, lelaki yang kini memeluk Grace erat.


Disusul oleh sahabat Grace terlihat berjalan cepat menghampiri Grace . "Grace.. Grace.. Kamu baik baik saja? " Esme sedikit melirik kearah lelaki itu. "Tolong biarkan Grace menangis dulu, aku akan mengantarnya pulang.. Kalian kembalilah masuk, " Tangan hangat Bastian kini mengelus rambut harum wanita yang berada dipelukannya. "Tolong antar Grace pulang, ia akan tenang jika sudah berada dirumah, " Mata Esme tampak cemas memikirkan kondisi Grace. Dengan anggukan Bastian berjanji akan mengantar Grace pulang.


***


Diwaktu yang sama, Herra yang berhadapan dengan keluarga Amor membicarakan nasib Grace kedepannya. Memohon agar keluarga Amor bisa membujuk Grace tidak menceraikan Darwys.


"Maaf Bu saya tidak bisa membujuk Grace bukan saya tidak menyetujui rencana Nak Darwys, namun Grace sudah berbicara sendiri jika ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya ingin anak kita bahagia, Saya permisi, " Kepala keluarga Amor berlalu meninggalkan Herra dan Damian dimejanya.


Bara sky Amor ayah Grace berjalan cepat menyusul anak perempuannya yang sudah dahulu meninggalkan ruangan. Dipintu lobby terlihat sosok lelaki yang ia kenali sedang menenangkan putrinya.


"Om kenal dengan lelaki itu? Ia bilang ingin mengantar Grace pulang, " Esme mendekati Bara ditempat ia berdiri.


Hanya anggukan kepala yang Bara berikan sebagai jawaban. Ia tahu lelaki yang sedang memeluk putrinya adalah anak dari sahabatnya.

__ADS_1


Terlihat Bastian menengok kearahnya, dan Bara kembali memberi anggukan kecil serta senyuman menandakan ia mengizinkan putrinya dibawa oleh Bastian. Embun mata terkumpul disudut mata Bara ikut merasakan sakit hati anaknya.


Hatinya berucap, "Berjuang lah gadis kecil ayah, ayah akan mendukung setiap keputusan terbaikmu "


__ADS_2