
"Maaf Kaisar, apa perlu besok diadakan upacara penyambutan Dewi Alena?" Tanya Hector sekali lagi.
Kepalanya masih tertunduk di hadapan Kaisar. Ia susah payah menelan salivanya saat mendengar suara helaan panjang dari Kaisar.
"Tidak ada acara apapun besok selain acara pertemuan. Jika dia bersikeras, siapkan saja kamar untuknya dan untuk para pelayannya." Jawab Kaisar dingin.
"Baiklah Kaisar, saya permisi dulu." Sahut Hector.
Kaisar membalas ucapan Hector dengan anggukan pelannya. Lalu Hector segera keluar dari ruangan itu sambil menghembuskan napas kelegaan. Ia mulai melaksanakan tugasnya kembali dengan sebaik mungkin.
Sedangkan Kaisar Ouranos masih sibuk dengan tumpukan gulungan surat di mejanya, karena ia sudah terlanjur memeganginya sedari tadi. Ia bermaksud untuk sekalian saja membaca dan menghabiskan seluruh surat yang ada di atas mejanya itu.
Ia mengambil dan membuka satu per satu gulungan itu. Ternyata sebagian besar surat berisikan tentang persetujuan kerajaan-kerajaan yang diundang , dan mereka bersedia mengikuti segala aturan dan persyaratan untuk pertemuan besok.
Kaisar menganggukkan kepalanya sedikit.
Kemudian Ia mengernyitkan mata tajamnya itu, saat melihat ada satu surat yang berbeda di antara tumpukan-tumpukan surat lainnya.
Ia kemudian mengambil satu gulungan surat yang menarik perhatiannya itu.
Dibukanya gulungan surat berwarna abu abu padam itu dengan hati-hati, lalu membacanya dalam hati.
_______________
Kepada Yang Mulia Kaisar Agung Ouranos
Saya mohon maaf sebelumnya karena lancang mengirim surat biasa ini pada Kaisar. Sungguh tidak layak. Tetapi Kaisar, saya melakukan ini karena saya tengah berada dalam situasi genting meredakan keributan di wilayah Timur. Tidak memungkinkan mengirim seseorang untuk menyampaikan pesan saya.
Saya juga takut mengirim lewat jalur udara karena akan membahayakan. Saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf karena besok tidak bisa hadir di pertemuan besar Istana Langit, tetapi saya sudah menunjuk adik saya Dewa Avram sebagai pengganti saya di pertemuan besok.
Saya tidak akan lari dari tanggung jawab saya sebagai seorang pemimpin Zoi. Maka segala kesalahan yang mungkin terjadi besok jikalau disebabkan oleh suku Kehidupan, saya akan bertanggung jawab penuh. Terimakasih.
Salam dari Dewa Athan
_______________
"Dari Dewa Athan ya. dia memang Dewa yang tangguh. Sudah 200 tahun sejak Ia mengawalku, dan tidak pernah bertemu lagi. Bahkan besok pun tak bisa." Gumam Kaisar Ou pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.
Ia menyayangkan ketidakhadiran penguasa Zoi itu.
Dewa Athan adalah salah satu Dewa yang dihormati oleh Kaisar Ou, karena jasa dan pengabdiannya yang begitu besar.
Pertemuan mereka berawal dari 200 tahun yang lalu. Dimana kala itu tiga siluman kuat datang dan menciptakan keributan di perbatasan Dunia Manusia.
__ADS_1
Mengetahui hal itu, Kaisar Ouranos turun tangan untuk mengusir siluman-siluman berbahaya itu, dibantu beberapa Dewa lainnya.
Saat itu Dewa Athan juga ikut bersama Kaisar, karena perbatasan dunia manusia letaknya lumayan dekat dari lembah Zoi. Jadi itu juga merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Saat sampai di tempat itu, Kaisar Ou menyadari bahwa siluman itu bukanlah tandingan dari dewa-dewa yang menemaninya di sana. Jadi ia melarang siapa pun untuk ikut bertarung melawan siluman itu. Bukan karena sombong akan kekuatannya, tetapi Kaisar tidak ingin ada Dewa yang sampai terluka.
Pertarungan sengit itu pun dimulai. Karena melawan tiga siluman kuat sekaligus, Kaisar sempat lengah dan hampir terluka oleh salah satu siluman.
Saat itu hanya Dewa Athan lah yang berani melawan salah satu siluman yang hampir melukai Kaisar. Ia pun bertarung hingga akhir.
Melihat aksi dari Dewa Zoi itu, Dewa yang lainnya juga terdorong untuk ikut melindungi Kaisar. Kaisar Ou menyadari perbuatan besar Dewa Athan, dan sangat memuji keberaniannya.
Semenjak saat itulah Dewa dari suku Zoi itu sudah mendapat tempat khusus bagi Kaisar Ouranos. Karena itu jugalah Kaisar sangat menyayangkan atas ketidakhadiran Dewa Athan ke pertemuan besok.
Setelah membaca habis seluruh gulungan di atas mejanya, Kaisar mulai menutup matanya untuk melakukan meditasi. Ia terlihat sangat anggun ketika sedang duduk sambil bermeditasi.
.
.
.
Keesokan harinya di Lembah Zoi...
"Oshun..."
Tok tok tok tok ...
"Oi, Oshun! Bangun!"
Ketukan di pintu kamar Oshun terdengar semakin kencang ditambah teriakan Avram yang sangat keras.
Oshun merasa terganggu, tetapi ia hanya sanggup menyahut sebentar lalu tertidur lagi.
Tak tahan menunggu diluar karena tak ada respon sama sekali, pria itu pun masuk ke ruang kamar Oshun menggunakan ilmu sihir penembus miliknya.
Apa-apaan ini, kenapa berantakan sekali? Apa dia habis pesta tadi malam? Batin Avram bertanya-tanya. Ia mengamati sekelilingnya sambil mennyusuri ruangan yang luas itu.
Avram menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kamar keponakannya yang terlihat benar-benar berantakan. Ia juga sesekali berdecak ringan saat melihat Oshun yang masih tertidur pulas di kasurnya.
Pria itu curiga jika Oshun habis mabuk-mabukan, tetapi Ia malah tak menemukan ada bau-bau alkohol di kamar itu.
__ADS_1
Karena sudah mau terlambat, jadi Avram tidak terlalu memikirkan hal lainnya lagi . Avram yang tadinya menggenggam gulungan kerajaan di tangannya, kemudian meletakkan gulungan surat tersebut di atas meja rias Oshun.
Pria itu meletakkannya di sana agar Oshun kebagian tugas, yaitu membawa barang-barang penting. Sementara ia harus mempersiapkan hal lainnya.
Gulungan itu adalah alasan penting dari kepergian mereka nanti, karena itu merupakan salinan laporan suku Zoi yang mereka kerjakan malam itu.
Pria itu masih melihat keponakannya tertidur pulas, kemudian ia mendekatkan kepalanya ke telinga wanita itu. Ia menyamakan posisi mulutnya ke telinga Oshun untuk menyampaikan sesuatu.
"Sepuluh menit lagi Paman kembali, kau harus sudah siap. Gulungan ini Paman letak di meja rias mu ya." Ucapnya dengan suara sedikit memberat, hingga membuat alis Oshun sedikit mengerut.
Wanita itu merasa terganggu. Lalu dalam keadaan masih setengah sadar ia hanya berdehem meng-iyakan perkataan pamannya itu. Karena tak kunjung membuka matanya, Avram menaikkan tekanan suaranya lagi,
"Oi.. dengar tidak...?!" Sambung pamannya itu sambil menjewer telinga Oshun, karena ia kesal diabaikan olehnya.
Dengan mata yang masih terpejam Oshun merengek karena jeweran pamannya itu.
Setelah mendaratkan jewerannya, Avram pun pergi dari tempat itu dengan setengah berlari. Lalu ia menembus dinding ruangan itu untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Tak lama setelah pria itu pergi, Oshun yang masih setengah sadar, bangkit dari kasurnya dan berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat.
Mata sayu yang mengantuk, dan bawah mata yang sudah tampak sedikit menghitam, membuat wajah cantiknya itu terlihat sangat memprihatinkan.
.
.
Para pelayan sudah menyiapkan air mandi untuk Oshun. Lalu dengan langkah yang diseret-seret dan sedikit membungkuk, Oshun berjalan seperti orang linglung ke bak mandinya.
Setelah sampai, diceburkannya tubuh elok nan gemulai itu ke dalam air hangat berhiaskan helaian kuncup mawar merah.
Hah nyamannya... Batin Oshun yang menikmati hangatnya air yang mengguyur tubuhnya.
Karena berendam di air hangat, mata Oshun yang tadinya berat sudah sedikit lebih ringan, dan rasa kantuknya pun sudah sedikit berkurang.
Masih memejamkan matanya dan menikmati air hangat dengan aroma mawar, Oshun merasa benar-benar rileks dan akhirnya bisa melepas sedikit rasa kantuknya. Aroma mawar pada air mandinya itu seakan menghipnotis dirinya.
"Nona, maaf mengganggu anda. Ada gulungan surat yang datang dari istana Bintang, suku perbintangan." Kata salah seorang pelayan wanita yang berdiri di luar ruang mandi Oshun. Suara itu membuat Oshun reflek membuka matanya.
Oh, surat dari Cleon ya. Buat apa dia mengirimiku surat? Batin Oshun. Lalu ia kembali memejamkan matanya.
"Ya, letakkan saja di atas meja riasku. Nanti akan kubaca." Jawab Oshun kepada pelayan itu.
Setelah mengatakan hal itu, terdengar langkah kaki yang menjauh, tanda pelayan tadi sedang melakukan tugasnya. Tak lama setelah itu, Oshun memutuskan untuk menyelesaikan mandinya dan segera mulai berdandan.
__ADS_1
Setelah bangkit berdiri dan keluar dari bak mandinya, diambilnya kain merah tipis untuk penutup tubuhnya, lalu dikenakannya kain itu.
......................