OSHUN

OSHUN
Sebuah Takdir Dalam Mimpi


__ADS_3

Sementara itu di Istana Langit ...



Seseorang datang sambil berdehem sedikit keras.


"Salam Kaisar."


Ucap pria dengan rambut berwarna cokelat dan ikat kepala yang dikenakan di dahinya. Pria itu tampaknya sedang sengaja mengganggu ketenangan Kaisar yang tengah duduk menikmati teh di mejanya.


Kaisar menyadari kedatangan tamu tak diundang itu, tetapi ia hanya bersikap cuek saja sambil menyeruput teh hangatnya. Ia duduk bersantai di ruangan pribadi miliknya yang megah itu.


"Hei ayolah, jangan cuek begitu. Kau mau ikut keluar tidak?" Tawar orang itu pada Ouranos.


Tanpa dipersilahkan masuk, pria itu berinisiatif masuk ke ruangan itu dan mengambil posisi nyamannya duduk di kursi santai milik Kaisar.


Siapa lagi orang itu kalau bukan sahabat baik Kaisar, Dewa Mantis.


"Heh, siapa yang menyuruhmu duduk?" Ucap Kaisar dengan ekspresi datarnya yang sontak membuat Mantis tersenyum malu.


Ia pun langsung bangun dari kursi itu.


"Dimana Eos?"


"Eh? Tumben Kaisar menanyakan Eos? Dia sedang bermain di taman Istana." Jawab Dewa Mantis pada Kaisar, yang menanyakan tentang hewan magis peliharaannya.


"Sedang apa disini?" Tanya Kaisar sambil menyeruput teh hangatnya lagi.


Mantis tampak menghela napasnya.


"Sudah begini lamanya, baru inisiatif tanya sedang apa disini. Sudahlah, aku hanya bosan." Ia cemberut.


"Oh ya, aku juga sekalian ingin memberitahu kalau besok akan ada pertemuan hierarki." Tambahnya lagi.


Dengan wajah datar dan dingin ciri khasnya, Kaisar kemudian bangkit berdiri lalu menyibakkan jubah anggunnya. Seketika ia menghilang ditelan api biru miliknya.


Mantis yang menyaksikan itu hanya bisa menghela napasnya sambil menggeleng kecil, sebab memang begitulah sifat sahabatnya itu.


Dewa Mantis yang kini merasa diacuhkan oleh Kaisar Agung, memilih untuk kembali ke kediamannya dan berniat menjemput Eos di sana.


Saat akan membalikkan tubuh dan mulai berjalan selangkah, tiba-tiba Kaisar Ou muncul di hadapannya.


"AAGGHH...!!"


Dewa Mantis terkejut sampai terbatuk-batuk. Sambil mengelus-ngelus dadanya, Mantis berkata,


"Sudah berapa kali kubilang jangan muncul seperti itu!" Ucapnya dengan kesal karena sudah dipermainkan.

__ADS_1


Kaisar tidak ambil pusing, Ia hanya menanggapi sahabatnya itu dengan tersenyum jahil sambil menaikkan kedua alisnya seolah mengisyaratkan, "Terserahku mau seperti apa".


Setelah itu Ouranos mendekati Mantis, lalu Ia meletakkan tangannya di bahu lawan bicaranya. Mantis merasa bingung dan tidak mengerti bahasa tubuh yang ditunjukkan pria di hadapannya itu.


Sambil memiringkan kepalanya, Ia mencoba menerka-nerka maksud dari Kaisar.


"Jangan khawatir. Mengenai apa yang kau katakan itu, aku sudah tahu lebih dulu. Sekarang ..."


Kaisar mengangkat salah satu tangannya dan melambaikannya seperti gerakan mengusir.


Dewa Mantis lagi-lagi bingung, ia mengedip-ngedipkan kedua matanya berulang kali dengan polosnya, menunggu ucapan Kaisar yang terputus.


Apa Kaisar sedang mengusirku? Batin Dewa Mantis bertanya pada dirinya sendiri.


"Pergilah dari ruanganku." Ucap Ouranos tak berperasaan.


"Iya iyaa!"


Mantis mematuhi perintah pria dingin itu , lalu pergi dari ruangan pribadi Kaisar dengan langkah malas.


"Kapan sikap dinginnya itu berubah? Apa dia sejak lahir sudah seperti itu?" Ucapnya kesal sambil berjalan berlalu dari ruangan itu.


Sementara itu, Kaisar yang tidak merasa bersalah karena mengusir sahabatnya itu kembali menikmati teh kesukaannya.


Siapa wanita itu? Wajahnya tidak jelas. Biasanya orang yang kulihat dalam mimpi memiliki suatu keterikatan denganku. Tetapi anehnya, kali ini adalah seorang wanita. Batin Kaisar yang sibuk memikirkan tentang mimpinya belum lama ini.


.


.


.


Sesaat kemudian, Kaisar Ou muncul di ruangan yang luas dengan dinding, lantai, dan atap yang terbuat dari kaca tebal yang mengkilap. Langit-langitnya tampak menjulang tinggi ke atas.


Di titik pusat ruangan tersebut terdapat sebuah bola cahaya berukuran sedikit lebih besar dari ukuran bola biasa


Bola bercahaya itu tampak dikelilingi oleh empat orang yang mengenakan jubah putih-emas. Bola tersebut adalah bola mimpi, dan empat orang tersebut merupakan penjaga mimpi.



Beberapa waktu lalu saat di Istana Langit, tepat ketika Dewa Mantis diusir oleh Kaisar Ou...


"Yang Mulia, kenapa ada mimpi yang tidak jelas? Semuanya kelihatan buram. Berdasarkan dengan apa yang kami lihat, sepertinya ini berasal dari Suku Langit, tapi kali ini kami tidak tahu ini milik siapa. Sepertinya ini bukan mimpi biasa, milik siapa ini yang Mulia?" Tanya salah seorang penjaga mimpi pada pemimpin mereka yang saat itu ada bersama mereka.


"Aku yang buta ini juga belum pernah tahu ada yang memiliki mimpi seperti ini. Ini satu dari sejuta." Jelas Pemimpin mereka dengan suara serak, mengingat umurnya yang tidak lagi muda.


"Kami tidak bisa melihat mimpi dari Yang Mulia, berarti mungkinkah mimpi ini milik..."

__ADS_1


"Kau benar." Sambung sang penguasa suku Perbintangan itu membenarkan dugaan penjaga mimpi.


"Sebentar lagi dia akan datang. Kalian pergilah, tugas kalian sudah selesai. Tidak perlu khawatir, aku sepertinya sudah sedikit tahu mengenai mimpi ini." Perintah sang pemimpin Agung pada keempat orang itu.


Sebelum pergi, keempat penjaga mimpi itu berlutut menghormat pada pemimpin mereka, lalu menghilang dari tempat itu. Penguasa suku Perbintangan itu kemudian bangkit berdiri lalu menuruni altar.


Tepat setelah pemimpin suku Perbintangan menuruni altarnya, Kaisar Ouranos pun tiba bersama dengan munculnya api biru yang menyelimuti tubuhnya.


"Salam Kaisar Agung Ouranos." Kata pemimpin Agung suku perbintangan itu sambil menunduk dan mengatupkan kedua tangannya, layaknya sikap menghormat seorang hamba.


"Salam" Jawab Kaisar .


Setelah mendengar Kaisar menerima salamnya, pemimpin suku Perbintangan yang bernama Yang Mulia Damon itu, mengangkat kepalanya, lalu mempersilahkan Kaisar untuk duduk di salah satu kursi di ruangan itu.


"Terimakasih yang Mulia."


Ouranos kemudian berjalan menuju salah satu tempat duduk di ruangan megah itu, diikuti oleh Damon yang berjalan menuju tempat duduknya.


"Kaisar, apa boleh tidak usah memanggil saya Yang Mulia? Panggil saja Damon, saya tidak enak mendengar sebutan tadi dari Kaisar Agung." Ucap Dewa Damon dengan sudut matanya yang tampak berkerut.


"Kalau begitu Raja Damon saja, apa boleh?" Balas Kaisar sambil tersenyum simpul.


"Ah baiklah, begitu pun boleh." Ucap Damon sambil sedikit mengeluarkan tawanya.


"Raja Damon, kau pasti tahu tentang kedatanganku kemari kan?" Tanya Kaisar yang mulai memperlihatkan wajah seriusnya.


"Tentu hamba tahu. Kaisar pasti ingin menanyakan tentang mimpi itu kan? Hamba memang tidak dapat melihat, namun hamba dapat merasakannya."


"Ya, tidak heran kalau kau mengetahuinya. Aku ingin bertanya padamu, Raja Damon. Kali ini aku tidak bisa membaca mengenai mimpiku sendiri, aku juga tidak tahu siapa wanita itu." Tanya Kaisar dengan air muka yang tenang dengan tatapan yang tetap tajam.


"Mengenai hal itu, hanya sedikit yang hamba ketahui, Kaisar. Tetapi ini bukan karena hamba lebih hebat dari Kaisar. Kemampuan untuk mengerti tentang mimpi yang Kaisar punya, tentu berbeda dengan kemampuan pengendalian mimpi milik suku kami. Terkadang kami hanya memprediksi, sementara Kaisar tahu suatu hal sudah pasti akan terjadi. Tetapi berbeda jika itu takdir. Takdir adalah sesuatu yang tidak bisa diramal oleh siapa pun. Namun, tetap dapat dilihat meski tidak jelas, atau dapat dirasakan. Dalam hal ini firasat sangat berguna." Jelas Raja Damon panjang lebar pada Kaisar Ou.


Kaisar mengernyitkan dahinya, matanya tampak menyipit.


"Takdir? Jadi maksudmu wanita itu takdirku? Takdir seperti apa yang kau bicarakan?."


Damon yang mendengarkan ucapan Kaisar barusan, spontan kedua sudut bibirnya tampak tertarik membentuk senyuman.


"Ini hanya firasat yang hamba dapatkan, tetapi hamba merasakan firasat ini sangat kuat. Mengenai takdir yang seperti apa, hamba juga belum dapat memastikannya. Maaf jika hamba lancang. Mimpi Anda hanya berarti dua hal, entah wanita itu ditakdirkan menjadi penyebab kematian Kaisar, atau wanita itu ditakdirkan untuk hidup bersama Kaisar selamanya."


"Kau benar juga. Memang akan datang hari, dimana setiap makhluk yang dilahirkan akan mati atau menikah dan hidup bahagia. Aku pun sepertinya tidak dapat menghindarinya, bukan begitu Raja Damon?" Tanya Kaisar Ou yang jadi semakin penasaran.


"Kalau kematian, sepertinya hamba kurang yakin Kaisar." Goda Raja Damon.


Itu dilakukannya, karena Damon tahu betul kalau Kaisar sangat sensi jika membahas tentang hubungan asmaranya.


Kalau soal mimpi Kaisar, sebenarnya Damon juga tidak mengetahui tentang kepastian mimpi itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2