
"Oh ya, Dimana Dewa Hector? Aku tak melihatnya sedari tadi, bukankah area Axile seharusnya dijaga oleh Dewa Hector?" Tanya Oshun penasaran.
"Ooopss..." Mantis menutup mulutnya seperti orang yang tertangkap basah, keceplosan mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak boleh diketahui oleh kedua orang di hadapnnya itu.
"Ahahahahahaaa..." Tawa Mantis canggung.
Avram menaikkan sebelah alisnya menatap Mantis, seolah menuntut jawaban darinya.
Melihat Avram dan Oshun masih menatap penasaran ke arahnya, Mantis menghela napasnya kasar, lalu ikut duduk di tempat duduk yang tersedia di ruangan itu.
"Sebenarnya hari ini dia masih menjalani hukuman dari Kaisar." Ucap Mantis.
"Huh? Memangnya Dewa Hector berbuat apa sampai dihukum oleh Kaisar?" Tanya Avram.
Belum sempat dijawab oleh Mantis, Oshun terlebih dahulu bersuara, "Pasti karena bantuan Dewa Hector untukku, kan?" Tanyanya memastikan.
Mantis mengangguk pelan, membenarkan ucapan Oshun barusan.
"Cih, sampai segitunya. Memangnya Kaisar punya dendam apa padaku? Kenapa semua hal yang berkaitan denganku harus dibuatnya menderita?" Tanya Oshun penuh protes.
Mendengar protes Oshun, Mantis kemudian berdiri dan menghampiri tubuh lemah itu. Diulurkannya tangannya, menyentuh pundak Oshun, untuk menenangkan Dewi muda itu.
"Ouranos tidak punya dendam apa pun padamu. Hanya saja, memang begitulah sifatnya. Aku juga tidak mengerti dengan isi kepala pria itu." Bujuk Mantis.
"Iya, Dewa Mantis memang benar. Jangan terlalu dipikirkan. Kalau begitu, pulihkanlah energimu, Oshun. Kami akan mengatur kepulanganmu." Ucap Avram sambil menjauhkan tangan Mantis yang menyentuh Oshun dari tadi.
Mantis hanya terkekeh pelan saat Avram menunjukkan sikap protectivenya itu. Sungguh, Oshun dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, berbeda dengan seorang pria yang diketahuinya.
Pria itu selalu kesepian sejak dulu, dia dididik oleh kerasnya hukum Alam Semesta. Yang dia tau pun hanya bagaimana menjadi kuat, dan hebat. Sikap moral dan pengenalan akan bentuk-bentuk emosi, diketahuinya hanya berdasarkan buku pengetahuan saja.
Maka tidak heran kenapa kepribadian pria itu begitu buruk. Pria itu tak lain adalah Kaisar Agung Ouranos sendiri.
Ingin sekali Mantis menjelaskan alasan kenapa kepribadian Ouranos seperti itu, tetapi ia tak mau membeberkan kelemahan dan kekurangan sahabatnya itu pada sembarang orang.
Biarlah hanya beberapa orang terdekat saja yang tau, pikirnya.
"Kalau begitu, kami pergi dulu ya, Oshun." Pamit Avram sambil merangkul Mantis, mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Setelah Avram dan Mantis pergi meninggalkan ruangan itu, Oshun mulai fokus memusatkan energinya. Ia duduk tegap dengan mata terpejam, berusaha mengatur pernapasannya agar lebih stabil, sehingga tak terjadi kesalahan apa pun saat proses pemulihan titik cakranya.
Benar, saat ini Dewi muda itu tengah melakukan meditasi. Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi di tempat yang menurutnya bak Istana penyiksaan itu. Atau lebih tepatnya, ia tak ingin melihat wajah Kaisar lagi, orang yang sudah membuatnya kecewa.
Ia benci pada kenyataan bahwa Kaisar Ouranos tak seperti yang dibayangkannya. Namun siapalah Oshun bagi Ouranos, sampai harus memenuhi semua ekspektasinya.
__ADS_1
.
.
.
Ruang Senjata, Istana Langit
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ouranos setelah mengayunkan senjatanya di udara.
...
Tak ada jawaban apa pun. Yang ditanyainya malah diam entah melakukan apa.
"Mantis! Aku bertanya padamu, apa yang kau pikirkan?!" Ketus Ouranos. Namun pandangannya masih mengarah lurus ke depan, tanpa melihat ke tempat dimana Mantis berada.
Mendengar suara tinggi pria itu, Mantis yang posisinya lumayan jauh itu pun tersentak dan langsung terbangun dari lamunannya.
"Astaga, maafkan aku Ouranos. Habisnya posturmu luar biasa jika dilihat dari belakang sini, Hehehe.." Celetuknya sambil membuat gerakan tangan berbentuk persegi, seolah memotret tubuh kekar Ouranos.
"Ck, lama-lama aku jadi takut padamu." Gumam Ouranos. Lalu diayunkannya pedang di tangannya itu lagi menghantam udara.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Ouranos lagi dengan nada netral.
Mendengar pertanyaan itu, Mantis spontan menarik kedua sudut bibirnya. Dengan begitu bersemangat, ia berteleportasi dan tiba-tiba muncul tepat di sebelah Ouranos.
"Hoohh...?~~ Lihat siapa yang mulai mengkhawatirkan seseorang~" Goda Mantis tersenyum jahil sambil menoel-noel lengan kekar Ouranos.
Tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan itu, seketika Ouranos melayangkan tatapan tajamnya. Ia ingin agar Mantis segera menghentikannya.
"Memangnya salah kalau aku menanyakan kabarnya?" Sahut Ouranos dengan memberi pertanyaan, karena menurutnya tak ada yang salah dari setiap kata yang diucapkan mulutnya.
"Tidak, tidak... tentu saja itu hal yang wajar, karna kau sudah repot-repot ikut memulihkannya waktu itu." Kekeh Mantis sambil mengedipkan sebelah matanya, menatap ke wajah sensi Ouranos.
"Apa? Tunggu... sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Ucap Ouranos. Ia memegang dahinya dengan salah satu tangannya, tak habis pikir dengan kekonyolan yang diucapkan Mantis barusan.
"Ng? Kesalahpahaman? Memangnya maksudmu apa?" Tanya Mantis penasaran.
Ouranos menghela napasnya kasar, lalu menatap Mantis dengan tatapan malas.
"Sebaiknya kau hilangkan sifatmu yang suka bertindak impulsif itu, Mantis. Aku serius. Itu bisa berbahaya untuk kedepannya." Ungkapnya terang-terangan menasihati Mantis.
__ADS_1
"Hah ya ampunn, iya, iya... Lalu kesalahpahaman apa yang kau maksud barusan?" Ucap Mantis tidak memedulikan nasihat Ouranos yang sudah lebih dari 1000 kali didengar dari mulut pedasnya.
"Aku bertanya tentang Hector." Jawab Ouranos.
Mendengar jawaban Ouranos barusan, Mantis langsung kehilangan semangatnya. Air mukanya langsung berubah karena jawaban Ouranos tak sesuai ekspektasinya. Ia berpikir dari awal Ouranos sedang menanyakan kabar Oshun, Dewi dari suku Kehidupan itu. Nyatanya, ternyata maksud Ouranos adalah Hector.
"Astaga... bodohnya aku berharap kau menanyakan kabar Dewi cantik itu." Sindir Mantis membuang pandangannya dari makhluk tak berperasaan itu.
"Ya, aku setuju kalau kau bodoh." Ledek Ouranos dengan ekspresi datarnya.
Mantis tak habis pikir dengan sifat pria di hadapannya saat ini. Ia sebenarnya naik pitam mendengarkan kalimat tak berperasaan itu, tapi lagi-lagi ia harus menekan perasaannya, jika tak ingin mendengarkan cerewetan pria itu lagi.
"Hah, sudahlah. Mengenai Hector, dia masih menjalani hukumannya. Sepertinya dia masih kelihatan baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Kalau tentang Oshun, dia—"
"Tunggu, aku tidak bertanya tentang bocah itu." Potong Ouranos.
"Memangnya aku salah kalau ingin sekalian memberitahukan keadaannya?" Protes Mantis sedikit meninggikan suaranya. Kali ini ia merasa Ouranos sudah kelewatan.
"Memangnya kenapa dengan Dewi itu? Kenapa aku merasa seolah kau terus menghindar jika ada sesuatu yang berkaitan dengannya? Apa kau najis dengannya?" Tambahnya lagi tidak terima dengan sikap tak berperasaan Ouranos.
Ouranos menghentikan ayunan pedangnya, lalu menatap Mantis dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku bukannya najis dengannya. Aku hanya tidak peduli." Jelas Ouranos.
"Tidak peduli? Jawaban macam apa itu? Kalau kau tidak peduli, kenapa kau ikut menyembuhkannya waktu itu? Kenapa kau harus campur tangan?" Serang Mantis dengan berbagai pertanyaannya.
"Hanya karena aku menghargai Ayahnya." Jawab pria dingin itu.
Mantis memukul pelan kepalanya, lalu geleng-geleng menatap pria yang kelihatan sempurna itu, namun minus akhlak.
Aku tidak percaya dia masih bisa menjawabiku. Kau luar biasa Ouranos, kalau begini kau bisa sendirian terus sampai maut menjemputmu! Cibirnya dalam hati.
"Hahh... sudahlah, aku malas meladenimu. Aku pergi dulu..." Pamit Mantis hendak pergi meninggalkan Ouranos.
"Kau bahkan belum memulai latihanmu, kau bilang kau tidak sibuk?" Ucap Ouranos yang membuat langkah Mantis terhenti.
"Iya, tapi sebentar lagi Oshun Zoi akan pergi meninggalkan tempat ini. Aku akan menghantar kepulangannya mewakilimu. Pria terhormat sepertimu tak mungkin akan datang kan?" Jawab Mantis sambil tersenyum menyindir.
Ouranos hanya terdiam. Entah kenapa lidahnya terasa kelu, tak sanggup menjawab kalimat sindiran Mantis barusan, seolah jiwa dan raganya membenarkan kalimat itu.
Karena tak mendengar jawaban apa pun dari orang yang disindirnya, Mantis hanya bisa tersenyum kecewa. Padahal, ia berharap Ouranos membantah ucapannya dan memberikan pembelaan.
Tapi nyatanya, Ouranos hanya diam, dan membiarkan Mantis pergi dari tempat itu.
__ADS_1
...****************...