
"Kami juga tidak mengetahui tentang Dewa Avram, Putri. Kami tidak ingin menyimpulkan apa pun. Hamba rasa, lebih baik kita istirahat dulu, lalu kita coba cari informasi nanti."
'Benar, aku yakin pasti Paman baik-baik saja. Bukankah Kaisar adalah orang yang baik hati? Untuk saat ini aku tidak boleh membuat rombongan suku ku kerepotan karena diriku. Aku akan bertindak sendiri.'
Oshun menenangkan dirinya sendiri lalu berjalan bersama rombongannya mengikuti beberapa dayang Istana, yang akan mengarahkan mereka pada ruangan peristirahatan mereka.
Ruangan yang akan menjadi tempat peristirahatan mereka berada terpisah dengan Istana utama, sehingga mereka harus berjalan sedikit jauh dari aula Istana.
Terlihat beberapa rombongan dari suku lain juga tengah dituntun para dayang Istana Langit menuju ruangan mereka.
Keadaan halaman Istana Langit yang begitu luas itu, sekarang terlihat sangat ramai dengan para pelayan, dewa dewi, maupun prajurit yang sedang lalu lalang.
"Ini adalah area Saka. Area ini akan menjadi tempat beristirahat untuk suku Zoi. Silahkan tuan dan nona beristirahat." Ucap salah seorang dayang suku langit yang menuntun suku Zoi tadi.
"Apa setiap suku diberikan satu area luas seperti ini juga?" Tanya Oshun penasaran.
Suaranya terdengar sedikit sengau dan serak, karena habis menangis tadi.
"Benar, semuanya dapat area yang sama." Jawab dayang itu.
'Benar juga, Istana ini memang luar biasa. Suku Langit sangat makmur.' Batin Oshun kagum.
"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, kami mohon diri. Selamat beristirahat." Ucap dayang itu sambil menghormat, lalu berbalik hendak meninggalkan area itu.
'Tunggu, bagaimana dengan paman?' Batin Oshun yang tiba-tiba teringat dengan Pamannya.
"Maaf, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan." Oshun menunduk hormat lagi dengan anggunnya.
Suaranya yang terdengar lantang itu, membuat langkah para dayang yang hendak pergi tadi terhenti, lalu kembali melihat ke arah Oshun.
"Apa itu Nona?" Tanya dayang itu.
"Itu ... Mengenai Dewa Avram. Kapan dia akan diperbolehkan kembali ke area ini? Kami mengkhawatirkan Tuan kami." Tanya Oshun sedikit ragu. Ia benar-benar sangat mengkhawatirkan Pamannya itu.
"Maafkan saya Nona. Kami hanya seorang dayang. Orang seperti kami tidak punya wewenang untuk mengetahui urusan internal Kerajaan." Jawab dayang itu dengan sangat sopan.
__ADS_1
'Ya, dia memang benar.' Batin Oshun .
"Ah begitu ya. Kalau begitu, sekali lagi terimakasih ya ..." Ucap Oshun sambil menghormat dan tersenyum manis dari balik cadarnya.
Setelah itu para dayang pergi dari area Saka untuk kembali melakukan tugas mereka yang lainnya.
Rombongan suku Zoi kemudian mulai beberes, lalu Oshun memerintahkan mereka untuk langsung memasuki area dan mempersiapkan segalanya di dalam. Sebelum melangkahkan kakinya masuk area itu, tiupan angin yang sejuk tiba-tiba berhembus ke arah Oshun.
Hembusan itu terasa begitu menenangkan. Wanita bercadar itu kemudian berbalik membelakangi pintu masuk area Saka. Ia menatap langit yang begitu indah lalu mulai memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang sungguh membuat terlena.
Srekk
"Eh?"
Ia merasa ada sesuatu yang sedang mencengkram pundaknya. Tidak ingin repot-repot untuk langsung membuka mata dan melihat apa yang sedang hinggap di pundaknya, wanita itu lebih memilih untuk mengusir "sesuatu" yang ada di pundaknya itu dengan tangannya.
Saat kulitnya bersentuhan dengan "sesuatu" yang sedang hinggap di pundaknya itu, Oshun menyadari bahwa itu berbulu dan terasa lembut. Mungkin salah satu hewan sejenis unggas, pikirnya.
Beberapa kali mencoba mendorong dan mengusirnya, "sesuatu" yang ada di pundak wanita itu justru mencengkram semakin erat hingga membuat pundak Oshun mulai terasa perih.
'Harus ku akui, burung ini punya nyali besar juga!' Batin Oshun, lalu membuka matanya untuk melihat tampang hewan yang sudah berani menantangnya itu.
"Kyaaa...!!"
Oshun spontan berteriak saat membuka matanya. Ia sangat terkejut melihat makhluk yang sangat mirip dengan burung itu.
Sekilas, itu memang burung, namun ia memiliki tanduk kecil berwarna hitam pekat, tatapan matanya tajam dan berwarna merah darah, belum lagi warna bulunya yang hitam legam.
Burung mengerikan seperti itu belum pernah dilihat oleh Oshun sebelumnya. Selama ini hanya makhluk-makhluk cantik saja yang selalu dijumpainya di alam Zoi.
Untung saja teriakan yang lumayan keras itu tidak mengundang siapa-siapa datang ke tempatnya. Karena kalau itu terjadi, bisa-bisa Zoi harus menanggung malu untuk yang kesekian kalinya hanya karena melihat burung "kecil" saja.
Burung pemberani itu bahkan masih hinggap di pundak Oshun, seberapa keras pun Oshun berusaha mengguncang-guncang tangannya sendiri.
Sudah mulai lelah dan pasrah, Oshun memilih diam saja sambil menatap datar pada burung yang dirasanya sangat kurang kerjaan itu. Menyadari ia sedang ditatap, burung itu menajamkan matanya lalu seperti tersenyum remeh pada Oshun.
__ADS_1
"HEH?!" Oshun terkejut lagi. Kali ini ia terkejut karena ekspresi kurang ajar burung aneh itu.
'Kalau saja kita di tempat yang sepi, kau sudah kuberi pelajaran dengan sihirku. Dasar burung gila...! ' Batin Oshun sambil mengepalkan kuat tangan kanannya. Ia merasa kesal lagi karena ulah seekor burung yang tampaknya tengah meremehkan dirinya.
Tiba-tiba burung itu tampak membuka paruhnya sedikit. Entah apa yang akan dilakukannya, itulah yang sedang dipikirkan Oshun. Hanya beberapa detik saja membuka paruhnya, burung itu kemudian terbang dari pundak Oshun.
Namun burung itu tidak pergi, melainkan hanya terbang di tempat.
"Sekarang apa lagi, huh?"
Oshun menatap burung itu dengan ekspresi yang datar, sebenarnya sangat malas meladeninya.
Tiba-tiba muncul kepulan kecil asap berwarna hitam di pundak Oshun, tempat burung seram tadi hinggap. Oshun sedikit terkejut menyadari kalau burung itu akan melakukan sihir padanya, namun ia punya firasat kalau itu bukanlah suatu hal yang perlu diwaspadai.
Hanya memakan waktu beberapa detik saja, kepulan asap itu sudah hilang. Ternyata ada semacam gulungan surat yang lumayan besar tiba-tiba muncul setelah kepulan asap tadi menghilang.
Surat itu menggelinding sedikit dari pundak Oshun, lalu terjatuh ke tanah. Dengan cepat Dewi muda itu segera mengambilnya.
"Ya ampun, ternyata kau hanya burung pengantar pesan ya? Seharusnya tadi jangan menakut-nakutiku begitu dong!" Ucap Oshun.
Saat kembali berdiri tegak, matanya sibuk menjelajahi sekitar mencari sosok burung yang menyeramkan tadi.
Tidak ada.
Rupanya burung itu sudah menghilang. Perhatian Oshun kemudian kembali lagi pada sebuah gulungan surat yang didapatnya. Dibukanya ikatan pada gulungan surat di tangannya itu, lalu dilebarkannya untuk kemudian dibacanya isi dari surat itu dalam hati.
Oshun, ini pamanmu Avram Zoi. Ku harap kali ini kau benar-benar mau mendengarkanku, segeralah pergi dari Istana Langit. Pulanglah ke kerajaan dengan semua rombongan, jangan menungguku lagi. Aku tidak bisa menuliskan semuanya di kertas ini. Tidak peduli apapun itu, aku mohon lakukanlah apa yang aku minta. Tertanda, Avram Zoi.
Setelah membaca isi surat itu dan mencernanya baik-baik, berbagai macam emosi campur aduk dirasakannya dalam hati. Namun perasaan bersalah adalah perasaan yang paling dominan.
Air mata penyesalan kemudian tanpa sadar mengalir membasahi pipinya. Ia yakin bahwa mungkin Pamannya sedang mengalami kesulitan besar karena dirinya. Oshun mencoba tegar dan menghapus air matanya.
Ia berfikir untuk melakukan suatu rencana yang diharapkan bisa memperbaiki keadaan. Wanita bercadar itu yakin bahwa rencana yang ada di kepalanya saat ini adalah rencana terbaik yang bisa dilakukan dalam waktu yang cepat.
Buru-buru Oshun menggulung rapi surat itu, lalu membawanya masuk ke dalam area Saka. Dimintanya seluruh rombongan Zoi untuk berkumpul di ruangan utama, untuk segera menjalankan rencananya.
__ADS_1
...****************...