
"Apapun bisa terjadi padaku Raja." Ucap Ouranos dengan wajah datarnya.
"Maaf lancang Kaisar, apa selama ratusan ribu tahun ini Kaisar belum juga merasa tertarik untuk menjalin asmara? Sekali lagi maaf Kaisar." Tanya pria tua itu sambil menundukkan kepalanya, takut menyinggung perasaan Kaisar Ou.
Ouranos yang mendengar itu, hanya tersenyum tidak jelas. Lalu ia bangkit berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku permisi Raja Damon, terimakasih atas informasinya." Ucapnya dengan sangat sopan.
Seketika Sang Kaisar Agung menghilang bersamaan dengan munculnya api biru miliknya.
Kaisar pun sampai ke Istana Langit hanya dalam waktu beberapa detik saja, berkat dimensi teleportasi yang dimilikinya.
Sebenarnya bukan tidak ingin menjalin asmara, hanya saja sampai sekarang belum ada yang dapat menaklukkan hatiku. Hati? Bahkan orang-orang menganggapku tidak punya hati. Guru dulu pernah bilang bahwa hatiku itu lebih dalam dan lebih luas dari puluhan ribu samudera, sehingga akan sulit mengarunginya. Jadi mana mungkin ada wanita yang bisa mencapai dasar. Batinnya.
.
.
.
Istana Utama Zoi, Gua Istana
Saat Oshun sampai di Istana utama Zoi, ia sedikit tergesa berlari menuju gua Istana. Gua itu merupakan tempat ruang baca untuk keluarga Kerajaan. Ada banyak sekali buku yang tertata rapi di ruangan yang sangat luas itu
Setelah sampai di dalam, ia duduk di sebuah kursi yang terdapat di ruangan itu. Hanya ada Oshun seorang di dalam ruangan, sehingga ia dapat fokus memikirkan rencana besarnya.
Gadis cantik itu tampak menghela napas, ia kelihatan sangat berkonsentrasi memusatkan pikirannya.
"Baiklah, Oshun pikirkan sebuah rencana. Eumm..." Ucapnya yang mulai berpikir sambil memegangi dagu dengan jemarinya.
Waktu terus berjalan, sementara Oshun masih berusaha untuk menemukan ide yang cemerlang demi keberhasilan rencana besarnya.
Setelah cukup lama berfikir, akhirnya sebuah ide hebat terlintas di kepalanya.
"Hehehe... tidak sia-sia aku rajin belajar di tempat Kakek Ri." Ungkap Oshun salut pada dirinya sendiri dengan bangga.
Oshun mengambil salah satu buku yang sudah terbuka di atas mejanya, ia berniat untuk membaca informasi penting yang ada di dalamnya, untuk sekali lagi memastikan apakah rencananya kali ini memiliki cacat atau tidak.
Buku yang dibacanya itu adalah buku sejarah Alam Semesta, yang sebagian besar isinya merupakan kisah tentang Kaisar Ouranos
...
__ADS_1
Ia berdehem cukup kencang sebelum mulai membacakannya. Padahal seharusnya itu tidak perlu, karena ia membaca isi buku itu dalam hatinya dan tidak bersuara sedikit pun.
"Menurut buku pusaka ini adik Kaisar akan datang setiap genap 100 tahun sekali, itu berarti besok—Ya meskipun aku tak pernah tahu bahwa Kaisar punya adik—Ah, lupakan... oke, kembali fokus—Sekembalinya adik Kaisar, biasanya ia akan mempekerjakan pelayan wanita yang baru di Istana Langit." Lanjut Oshun berkata-kata pada dirinya sendiri sambil fokus membaca buku di tangannya.
"Nah, ini adalah saat yang tepat! Aku akan mengambil kesempatan ini untuk menyamar menjadi salah satu pelayan Istana Langit , lalu bekerja di sana. Dengan begitu, aku bisa ketemu Kaisar setiap hari." Ucap Oshun dengan semangat berapi-api.
Ia sangat bangga akan rencana bagus yang dibuatnya sendiri. Ia sungguh tidak sabar melaksanakannya dan segera bertemu dengan Kaisar.
"Dari awal rencanaku sudah sempurna. Tidak bercacat sedikit pun. Yeyy...!" Teriak Oshun lagi dengan semangatnya.
Tak beberapa lama kemudian, Oshun tersentak dan spontan merapatkan senyumannya kala ia mendengar sebuah langkah kaki yang terdengar sangat terburu-buru. Langkah kaki itu mengarah ke gua perpustakaan Istana tempat Oshun saat ini.
"Paman? Sedang apa Paman Avram disini?" Ucap Dewi muda itu saat melihat seseorang yang datang ternyata adalah Pamannya.
"T-tenanglah Paman, kau tidak perlu curiga. Aku tidak merencanakan sesuatu kok." Oshun dengan sangat gugup berusaha meyakinkan Pamannya. Namun pamannya hanya diam dan tidak menghiraukan perkataan keponakannya itu.
Avram terlihat sangat tegang dan cemas saat ini. Ia berjalan kesana-kemari mencari sesuatu di setiap rak buku. Dari gerak-geriknya, mungkin ia sedang mencari benda yang sangat penting.
"Paman cari apa? Biar Oshun bantu cari." Tawar Oshun sambil berjalan mendekati pamannya yang masih mondar-mandir.
"Ini gawat Oshun. Paman baru ingat, Paman belum ada persiapan sama sekali." Ucap Avram yang terlihat benar-benar panik dan cemas. Ia kelihatan sangat berkeringat sekarang.
"Dengar, besok akan diadakan rapat hierarki. Rapat besar ini tentu akan diadakan oleh seluruh orang-orang penting, termasuk Kaisar Agung sendiri. Bodohnya, Paman bahkan sama sekali tak ingat kalau besok adalah rapatnya. Laporan yang sudah dibuat oleh ayahmu juga entah dimana." Jelas Avram yang masih sibuk bolak-balik mencari benda, yang ternyata adalah sebuah laporan.
"Laporan?"
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba mata Oshun melebar. Ia teringat akan sesuatu.
"Aku tahu! Sepertinya Ayahanda tak sengaja membawa laporannya saat pergi bertugas. Sebelum Bibi menceritakan tentang sejarah alam semesta tadi pagi, aku melihat Ayah membawa kotak pusakanya. Dan di dalam kotak itu ada gulungan naga emas yang mungkin adalah laporan yang Paman cari. Laporannya yang berwarna putih dan bergambar naga emas kan?" Tanya Oshun memastikan.
Mendengar itu, Avram tertegun sejenak, matanya melebar, sepersekian detik kemudian ia berbalik dan menyambar tubuh mungil itu. "Iya benar, itu dia !" Ucapnya sambil mengguncang-guncang bahu keponakannya itu.
Avram kemudian menghela napasnya kasar.
"Habislah aku Oshun... Lagi pula Ayahmu kenapa harus menunjukku sebagai penggantinya? Hah, kalau begini aku harus lembur malam ini" Lelaki tampan itu menggaruk kepalanya frustasi sambil mengusap kasar wajahnya.
Ia terduduk lemas di sebuah kursi yang ada di ruangan itu.
Sementara Oshun, ia hanya mengedip-ngedipkan mata besarnya melihat sang paman.
"Maaf ya Paman, aku baru memberitahumu." Ucap Oshun sambil tersenyum lirih. Oshun berpikir sejenak. Ia merasa sepertinya ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak tahu apa itu.
__ADS_1
Terus berpikir untuk mencari tahu, kemudian tak beberapa lama dengan mata membulat ia berkata, "Paman, karena besok diadakan rapat besar, apakah kedatangan adik Kaisar juga akan tertunda?" Tanya Oshun yang memastikan semoga dugaannya salah.
"Tentu saja ditunda, ini kan rapat besar. Bahkan 1 hari pun tak akan cukup untuk menyelesaikan pertemuan ini. Tidak akan sempat mengadakan upacara untuk penyambutannya."
Mata Avram kemudian berubah melirik penuh selidik ketika merasa keanehan pada keponakannya itu, "Lagi pula sejak kapan kau peduli tentang adik Kaisar?"
B-berarti... Batin Oshun berusaha menyimpulkan.
Kenyataan itu langsung membuat Oshun terduduk lemas mendengarnya.
"AAAAHHHHHGGGGG.....!!!!!!" Oshun spontan berteriak dengan nyaring karena kecewa dan sangat kesal dengan kesialan yang dialaminya.
Avram hanya terdiam sambil menganga melihat tingkah keponakannya yang aneh, karena suatu hal.
Sepertinya kami bernasib sial hari ini. Batin pria itu setelah melihat tingkah keponakannya.
"Sepertinya rencana kita gagal ya." Gumam Avram kepada keponakannya yang kini tampak cemberut itu.
Untuk beberapa saat, ruangan itu penuh dengan kesunyian. Keduanya tak lagi sanggup berkata-kata dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Avram juga bingung harus bagaimana agar dapat membuat gulungan yang baru dalam waktu yang singkat, karena ia juga lupa sebagian besar isi laporan dalam gulungan itu.
Jika gulungan itu tidak ditemukan, maka bisa mempermalukan sukunya, belum lagi akan dimarahi oleh Kaisar Ouranos.
Tetapi terlepas dari itu, Avram juga menjadi penasaran mengapa Oshun memberikan reaksi yang berlebihan tadi. Pria itu sedikit menaruh curiga kalau Oshun pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan huh? Kenapa reaksimu lebih mengkhawatirkan dari pada Pamanmu ini? Bukannya Paman yang seharusnya seperti itu?" Tanyanya penasaran.
Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik itu, menunggu jawaban darinya.
"Lupakan. Aku sudah mempekerjakan otak jeniusku dengan sungguh, tetapi malah jadi sia-sia. Aku malu menceritakannya." Jawab Oshun dengan wajah cemberut yang malah membuatnya menjadi terlihat imut. Ia benar-benar terlihat sangat kesal.
"Apapun itu, kalau kau sudah melibatkan otak jeniusmu berarti memang sesuatu yang besar. Entah kenapa Paman yakin, ini pasti rencana bertemu dengan Kaisar. Tak usah jawab kalau Paman memang benar." Avram mengatakannya sambil tersenyum lebar menatap keponakan perempuannya yang tersimpuh lemas.
"Lupakan sajalah bertemu dengan Kaisar. Secantik apapun orangnya, Kaisar itu tidak akan peduli. Lebih baik kau bantu Paman saja." Tawar Avram pada Oshun.
Kata-kata itu terdengar seperti menjatuhkan rasa percaya diri Dewi muda itu, hingga membuatnya semakin tertunduk lemas.
Oshun kemudian bersandar pada sandaran tempat duduknya lalu melihat ke arah langit-langit. Tatapannya terpaku, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
......................
__ADS_1