
Di taman belakang Istana Hijau, Oshun masih melanjutkan kegiatan bersantainya. Kali ini tanpa ada siapapun yang menemaninya.
Ia duduk, menopang dagunya dengan kedua tangan, dan menikmati indahnya pemandangan kolam ikan dan bunga-bunga yang bermekaran.
"Apa aku bisa memenangkan duelku? Hahh... Setidaknya jika kalah pun, aku ingin kalah dengan bangga." Gumamnya.
"Tapi sebenarnya aku tidak ingin kalah di hadapan pria menyebalkan itu. Aku ingin membuatnya mengakuiku, dan kemudian akan kukikis sifat arogannya itu!" Geram Oshun yang kini terlihat mengepalkan tinjunya di udara.
"Kau sedang merutuki siapa?"
Tiba-tiba terdengar suara yang terdengar sangat maskulin dari arah belakang Oshun.
Spontan Oshun menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok yang katanya sangat ia benci ada bersamanya.
Ia langsung berdiri, merapikan pakaiannya, lalu menunduk memberi salam hormat pada Kaisar Agung Ouranos.
Dag Dig Dug
Dag Dig Dug
Entah kenapa jantung Oshun kian terpacu ketika menyadari Ouranos ada bersamanya. Dan detakan itu semakin cepat kala Ouranos berjalan mendekat ke arahnya.
Ia terus mendekat
Terus
Hingga Oshun memejamkan matanya, tak sanggup menyaksikan secara langsung apa yang hendak pria dingin itu lakukan terhadapnya.
Dan...
Drekk
Itu adalah suara bangku yang sedang digeser.
'Ah, rupanya dia mau duduk.' Batin Oshun sedikit kecewa.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" Tanya Oshun.
Ouranos tersenyum kecil, lalu berkata sambil menuangkan teh yang ada di atas meja, "Bukankah aneh kalau kau menanyakan itu di daerah kekuasaanku sendiri?"
'Lihatlah pria tak tau malu ini. Setelah dia bertingkah sok cuek padaku, sekarang dia malah sok akrab denganku?' Batin Oshun yang kesal, namun tetap menampilkan senyuman manisnya.
"Ya, tapi dari sekian luasnya daerah kekuasaan Anda ini, kenapa harus Istana Hijau, Yang Mulia Kaisar?"
"Kenapa? Kau tidak suka?"
'AHHHGG!!! BISAKAH DIA MENJAWAB PERTANYAANKU SAJA TANPA HARUS BERTANYA?!!!' Teriak Oshun dalam hatinya. Perasaannya membara ingin memukul pria di hadapannya itu, namun ia tak segila itu.
"Tidak, mana mungkin saya tidak suka? Silahkan Anda nikmati waktu Anda. Saya mohon diri..." Pamit Oshun dengan sopan dan lembut.
Ia lebih memilih hengkang dari tempat itu daripada harus duduk dan minum teh bersama dengan Ouranos. Baginya itu adalah penyiksaan tipe baru.
__ADS_1
Lagi pula, ia tak tebal muka seperti Ouranos! Begitulah pikirnya.
Ouranos berdehem, lalu berkata, "Untuk ukuran seseorang yang akan bertarung dalam waktu dekat, bukankah Anda terlalu santai?"
Ucapan yang ditangkap Oshun sebagai sinyal provokasi untuk memulai perdebatan itu, jelas membuat langkah Oshun terhenti.
Ia menampilkan raut wajah kesal dan amarah, namun saat berbalik ke arah Ouranos, ia menyetel raut wajahnya menjadi Dewi yang ramah.
"Apa maksud Anda, Kaisar?"
"Kau tidak berlatih?"
"Saya adalah tipe yang lebih mempersiapkan batin sehari sebelum, jadi Anda tidak perlu khawatir. Saya sudah mempersiapkannya bertahun-tahun." Jelas Oshun sambil tersenyum ramah.
"Itu bagus. Kepercayaan dirimu juga cukup baik. Saranku saja, sebaiknya jangan sesantai ini. Berkultivasilah untuk meningkatkan kekuatan senjata yang akan kau gunakan. Kau takkan tau siapa yang akan jadi lawanmu besok."
Oshun tersenyum, lalu berjalan mendekat lagi ke arah Ouranos.
"Terimakasih atas saran Anda Kaisar Yang Agung. Saya juga tau orang yang akan menjadi lawan terberat saya. Saya sudah memperkirakannya."
"Benarkah? Lalu bagaimana jika lawanmu adalah aku? Apa kau yakin bisa menang dengan kekuatanmu itu?"
"Apa? Apa Anda menantang saya?"
"Yang mau kukatakan adalah, setidaknya persiapkan segalanya dengan matang agar kau tidak kalah dengan memalukan. Kau tidak ingin mempermalukan Kerajaanmu lagi kan?"
'Apa-apaan pria ini?! Apa maksud perkataannya itu? Apa dia menyinggung soal diriku yang memalukan saat 500 tahun lalu?!Apa dia meremehkanku?!' Batin Oshun penuh amarah.
"Silakan."
"Sebenarnya apa tujuan Anda kemari? Apa untuk membuat saya kesal, menurunkan mental saya, atau apa? Jujur saya bingung, apa sebenarnya yang membuat Anda begitu membenci saya hingga tak membiarkan saya merasa tenang sedetik pun?" Tanya Oshun penuh penekanan.
Ouranos terdiam. Ia menatap datar wajah yang memerah menahan amarah, dan mata yang berlinang menahan tangis itu.
"Aku kebetulan melihatmu di sini saat aku menyelesaikan urusanku dengan Dewa Athan."
"Jadi Anda pikir sekalian saja mengerjai saya? Apa saya adalah orang yang bisa Anda permainkan seenaknya?"
'Kapan aku berpikir begitu?' Jawab Ouranos dengan pertanyaan dalam hatinya.
"Terserah Anda mau menghukum saya setelah ini atas sikap saya yang tidak sopan. Saya tidak peduli lagi. Kekejaman Anda tidak akan pernah membuat saya tunduk! Dan ya, di hari duel nanti, di saat saya memenangkan babak pertama, saya akan menantang Anda untuk berduel." Kata Oshun sambil menahan tangisan kekesalannya.
"Saya tau saya tidak mungkin menang melawan Anda, tapi setidaknya, saya akan buktikan bahwa saya bisa menang dengan bangga saat melawan Anda!"
Setelah mengatakan itu, Oshun berlalu dari tempat itu dengan langkah memburu. Dari langkahan kakinya, jelas bahwa Oshun merasa sangat marah.
"Dasar!! Kalau aku tau dia punya sifat seperti ini, aku juga tidak akan sudi jauh-jauh datang menemuinya dulu!" Omel Oshun sambil berjalan menjauhi Ouranos.
Ouranos hanya diam, menatap datar pada Dewi yang sedang dipenuhi amarah itu.
"Kenapa dia bisa semarah itu? Apa dia tidak suka diberi saran?" Tanya Ouranos pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia bingung atas reaksi yang diberikan Dewi muda itu. Seharusnya ia tak perlu bersikap begitu kan? Ouranos hanya memberikan saran yang akan membantunya saat duel besok, apa yang salah dengan itu? Begitulah pikir Ouranos.
Ouranos menghela napasnya.
"Yang penting aku sudah memenuhi permintaan Dewa Athan." Ucap Ouranos sambil menyesap tehnya.
Yang Terjadi Beberapa Waktu Lalu...
"Oh ya, Yang Mulia Kaisar, bolehkah saya mengajukan satu permintaan?" Pinta Dewa Athan, penguasa Kerajaan Zoi.
"Boleh saja."
"Bisakah Anda memberikan saran pada putri saya untuk duel yang dihadapinya besok? Saya khawatir dia akan melakukan kesalahan. Setidaknya sebelum bertarung, dia sudah diarahkan sedikit oleh Dewa terkuat di Semesta ini."
"...Baiklah." Jawab Ouranos.
"Terimakasih Kaisar..."
Benar, Ouranos melakukannya hanya karena Dewa Athanlah yang meminta. Lagi pula ia merasa tak perlu memberi saran apapun pada wanita itu. Karena ia yakin bahwa Dewi Oshun sudah mempersiapkannya dengan matang. Dan lagi, ia adalah Dewi yang akhir-akhir ini sering dibicarakan karena kekuatannya.
.
.
.
.
.
Keesokan Harinya...
Tibalah saatnya acara duel antar Kerajaan dilaksanakan di arena yang sangat luas milik Istana Langit.
Arena itu dipersiapkan dengan sangat baik. Sebisa mungkin pertarungan tidak berdampak langsung pada banyaknya penonton yang hadir menyaksikan duel antara Dewa dan Dewi yang mereka banggakan.
Setelah mengundi, Oshun bernapas cukup lega karena bukan dirinya yang akan bertarung pertama kali, melainkan Sebasta.
Oshun ingat pria itu. Ia adalah teman seperguruannya sewaktu di Lembah Kakek Ri dulu. Ia berasal dari Suku Duyung.
Pria bernama Sebasta itu masuk arena pertarungan dengan cukup heboh, hingga membuat penonton bersorak kagum.
"Aku tidak percaya dia punya kepribadian seperti itu. Seingatku dulu dia cukup pendiam." Gumam Oshun.
Anastasya, Ibu Oshun, tertawa kecil mendengat ucapan Putrinya barusan, lalu berkata, "Yah, wajar jika ada perubahan dalam dirinya. Bukankah kau juga begitu?"
"Benar." Jawab Oshun sambil mengangguk pelan.
Lawan duel dari Pangeran Sebasta adalah Maximus, salah satu Dewa dari Suku Langit. Semua orang tau bahwa Dewa-Dewi Suku Langit sangat kuat. Jadi sebagai pembuka, ini akan menjadi duel yang sangat seru.
...****************...
__ADS_1