
Beberapa saat kemudian, "Baiklah! Aku akan bantu Paman." Ucap gadis itu penuh percaya diri.
"Kalau begitu kemari."
Ajak Avram sambil mengangkat tangan kanannya membuat gerakan mengajak. Ia melakukan itu agar Oshun duduk di sampingnya, dan mempermudah proses diskusi mereka tentang gulungan itu.
Menanggapi pamannya, Oshun pun dengan semangat berlari kecil lalu duduk di samping Pamannya itu.
"Baiklah, apa rencanamu?" Tanya Avram pada wanita cantik yang tengah duduk di samping kanannya.
"Sebentar Paman, Oshun pikirkan dulu." Ucap wanita itu sambil memejamkan mata besarnya yang indah .
Wanita itu tampak benar-benar sibuk dengan pikirannya saat ini. Sesekali ia menggigit lembut bibir merah alami miliknya, lalu mengernyitkan dahi. Berpikir, berpikir, dan terus berpikir.
Namun waktu sudah berjalan cukup lama, Oshun sama sekali tidak berkutik sedari tadi. Pria yang menunggu duduk disebelahnya itu mulai tampak kesal karena ia merasa seperti dipermainkan.
Dengan tatapan tajam dan helaan napas yang kasar, pria itu menatap sinis wajah keponakannya.
"Hei..!" Sentak Avram yang telah habis kesabaran melihat tingkah Oshun.
Suara keras itu sontak membuat Oshun membuka matanya karena benar-benar sangat terkejut.
"Kalau memang tidak niat menolong Pamanmu ini bilang saja, tidak usah berlagak berpikir dari tadi. Hah, waktu ku terbuang sia-sia." Oceh pria itu kesal sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Oshun kemudian berpaling mengikuti arah pandangan pamannya, lalu mulai membujuk agar tidak kecewa padanya. "Jangan marah-marah dulu Paman. Aku udah dapat ide tau.."
Mendengar ucapan gadis itu, Avram menyipitkan kedua matanya karena tidak yakin, "Benarkah? Apa idemu?" Tanyanya.
"Sebentar, waktu itu Ayah dan Paman mengerjakan laporannya dimana?" Tanya Oshun.
"Di situ."
Jawab Avram sambil menunjuk sebuah meja kayu yang ukurannya lumayan besar. Meja kayu itu berada sedikit jauh di belakang posisi duduk mereka.
Oshun kemudian berjalan ke arah meja kayu yang ditunjuk pamannya tadi. Terlihat banyak alat tulis dan kertas gulungan di atasnya yang tersusun rapi.
Oshun kemudian mengalihkan pandangannya pada gantungan kuas di atas meja itu. Ia menatap satu per satu dari sekian banyaknya kuas di atas meja kayu itu, untuk memastikan bahwa semua kuas sudah berada pada tempatnya.
Setelah memastikan bahwa semuanya sudah lengkap dan tidak ada gantungan kuas yang kosong, wanita cantik itu kemudian memanggil pamannya untuk datang mendekati meja kayu itu.
"Paman kemari..."
Pria itu pun melangahkan kakinya dengan raut wajah kebingungan. Bingung akan apa yang hendak dilakukan keponakannya itu.
__ADS_1
"Apa Paman ingat kuas mana yang dipakai Ayahanda untuk menulis laporan itu?" Tanya Oshun saat menyadari kehadiran Avram di sampingnya.
"Ah, yang berlogo naga emas itu." Jawab Avram dengan yakin sambil menggerakkan kepalanya dengan pelan menunjuk ke arah kuas yang dimaksud.
"Paman jangan salah ya... Paman yakin kan? Kemampuanku ini hanya bisa digunakan sekali saja, kalau Paman salah ingat ini semua jadi sia-sia." Jelas Oshun sambil menatap wajah paman yang berdiri di sampingnya.
"Oo.. jadi kau menggunakan kemampuan rewind mu ya? Apa belum bisa menggunakan kemampuan perjalanan waktumu? Kemampuan rewind ini terlalu beresiko."
Kata pria itu sambil menatap mata indah Oshun. Kini tatapan mereka saling beradu, Oshun menatap mata pamannya itu dengan tatapan datar dan kesal.
iihh.. Paman tolol ini kenapa sih? Memangnya tidak punya kemampuan rewind atau perjalanan waktu ya? Tidak tau ya sulitnya mengembangkan kemampuan itu. Seenaknya saja..
Sejenak Oshun menghentikan pergulatan batinnya, lalu menyadari tentang sesuatu.
Ah aku lupa, Paman Avram kan bukan pewaris darah murni. Maaf Paman... Batin Oshun menyesal karena telah menghina Avram dalam hatinya.
Masih saling beradu pandangan di tengah kesunyian, Avram menunggu keponakan perempuannya itu untuk mulai berbicara dan menjawab pertanyaannya tadi.
Kemudian wanita cantik di hadapannya itu mulai melakukan satu pergerakan.
Ia tak lagi berdiri mematung sambil menatap matanya. Wanita itu mendekat ke arah Avram lalu membulatkan matanya sambil berkata,
"Paman, keponakanmu yang imut ini adalah seorang Dewi Zoi muda. Aku tentu belum menguasai itu. Sekarang hanya bisa dengan cara ini saja. Paman tinggal beritahu mana kuas yang dipakai Ayahanda saat itu, kemudian akan Oshun rewind kejadian saat itu dengan menyentuh kuas tersebut. Kalau kuasnya benar, pasti Oshun bisa lihat apa saja yang ditulis di gulungan itu." Jelas Oshun panjang lebar pada pria di depannya itu.
Merasa risih dengan posisi Oshun yang terlalu dekat dengan mata membulat dan senyuman manisnya, pria itu pun sedikit mundur menjauh sambil berkata, " Masalahnya Paman agak ragu."
Avram pun melempar pandangannya ke meja kayu yang sama, yang tengah dilihat Oshun. Pria itu menatap satu per satu kuas di atas meja itu dari posisi berdirinya.
Kuas yang mana ya? Ah, aku yakin sekali pasti yang naga emas. Yayaya, yang naga emas. Batin Avram sembari melihat kuas naga emas yang tergantung.
"Oke, paman sudah yakin. Kuas yang digunakan Ayahmu adalah naga emas itu." Ucapnya dengan keyakinan penuh.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai."
Wanita cantik itu kemudian mengambil kuas berlogo naga emas yang dimaksud, lalu kemudian duduk dan mengambil posisi nyamannya di atas salah satu kursi empuk di ruangan itu.
Saat tampak sudah nyaman dengan posisi duduknya, wanita itu pun memejamkan kedua matanya. Salah satu tangannya memegang kuas naga emas, dan yang satunya memegang kuas kayu biasa. Ia tampak benar-benar sedang berkonsentrasi.
Kemampuan rewind ini memang harus dilakukan dengan konsentrasi penuh, agar kejadian yang ingin diulang dapat terulang dengan sempurna. Avram hanya menatap lekat-lekat keponakannya itu dan hanya bisa berharap penuh padanya.
Sebenarnya ia takut kalau usaha ini juga akan gagal, maka tidak akan ada kesempatan lagi.
Dengan mata terpejam, tangan kanan wanita itu masih memegang kuas berlogo naga emas. Dan tangan yang satunya memegang kuas yang lain untuk menuliskan langsung apa yang ia lihat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian tangan kiri Oshun mulai melakukan pergerakan. Tangannya mulai menciptakan goresan-goresan tulisan seperti yang ia lihat di dalam gulungan yang ditulis Ayahandanya saat itu.
Avram hanya berdiri mematung memandangi keponakannya yang tengah berkonsentrasi membantunya.
Sepertinya kemampuan rewindnya sudah semakin membaik. Batin pria itu dengan perasaan bangga.
.
.
Tak..!
Tak beberapa lama kemudian wanita cantik itu tiba-tiba menghentakkan kuas di tangan kirinya itu. Mungkin tanda proses rewindnya sudah berakhir.
Wanita itu terlihat mengeluarkan keringat dan sedikit terengah-engah.
"Kau memang calon pemimpin Zoi sejati." Puji Avram ketika menyaksikan usaha keras yang dilakukan keponakan tersayangnya itu.
"Hehehe.. Paman ini terlalu berlebihan. Oh ya, ini tidak gratis loh Paman." Ucap Oshun yang tersenyum nakal sambil berusaha mengatur nafasnya lagi.
"Aku tauu.. Kau itu kan bukan tipikal anak yang bekerja kalau tidak mendapat balas budi." Balas Avram sambil berjalan mendekat ke arah Oshun.
"Kau nyamankan saja dirimu. Paman mau lihat dulu apa kau berhasil atau tidak." Ucap pria itu yang kemudian mengambil gulungan kerajaan yang terletak di hadapannya, dimana Oshun memindahkan laporan dari rewindnya tadi.
Mata tegas itu mulai membaca isi salinan itu dengan sangat fokus dan konsentrasi. Ia berusaha mengoreksi kata demi kata.
Beberapa saat kemudian, pria itu menghembuskan nafas lega karena ternyata tak ada yang perlu dikoreksi.
"Bagaimana...?" Tanya Oshun dengan senyum lebarnya menatap pria itu.
"Hmm.. ya tidak buruklah." Ucap pria tampan itu sambil mengangguk pelan berulang kali.
Dasar tidak ikhlas... Batinnya kesal.
Setelah membaca gulungan itu baik-baik, Avram pun menggulungnya dengan kembali lalu memasukkannya dalam kantung pakaiannya.
"Karna sudah membantuku, sekarang mari kita bahas mengenai balas budiku." Oshun mulai melancarkan aksinya sambil bersikap manis pada Pamannya itu.
"Paman tau kan, ee.. itu.. apa yang aku suka?" Tanya Oshun sambil membulatkan matanya membuat tatapan nanar, sehingga ia terlihat sangat menggemaskan.
"Ayolah.. kenapa harus main tebak-tebakan lagi? Kau tinggal bilang saja." Balas pria itu, malas meladeni keponakannya.
"Ayolah, jawab dulu. Bukankah kita tidak boleh melawan arus deras yang datang ke arah kita? Kita harus ikuti arus itu jika tidak ingin mati." Ucap Oshun dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan keponakannya itu Avram membulatkan matanya dan menatap wajahnya tajam. Bola mata pria itu tampak seperti akan keluar melihat tingkah bocah itu.
......................