OSHUN

OSHUN
Siulan Burung Api (II)


__ADS_3

"Itu.. apa kau melihat apa itu?" Tanya Oshun sambil menunjuk ke arah dimana tempat Dewi api itu berada.


"P-po..pohon Nona, itu pohon." Jawab pelayan itu merasa kebingungan.


"Pohon? Bukan yang dibelakangnya, tapi yang didepannya. Ini, lihat tanganku.." Ucap Oshun memastikan dan terdengar sedikit memaksa.


"Ma-maaf Nona, saya hanya melihat ada pohon disana."


"Kalau begitu, apa kau mendengar suara siulan burung? Siulan ini bukan siulan burung biasa. Kau akan merasa terpanggil ketika mendengarnya. Apa kau mendengarnya?" Tanya Oshun.


"Maaf Nona, saya hanya mendengar suara nona disini. Maaf, saya permisi dulu." Kata pelayan itu yang buru-buru meninggalkan Oshun.


Rasa takut jelas tergambar dari gerak-gerik pelayan itu, ia terlihat sampai terbirit-birit pergi meninggalkan Oshun. Wajahnya yang ketakutan ketika melihat Oshun, sungguh membuat hati Oshun semakin kesal.


Hentikan Oshun bodoh, kau hanya akan membuat dirimu terlihat benar-benar gila... Kurasa ini hanya ilusi, mungkin ada yang mengerjaiku. Ucap Oshun dalam hati.


Setelah melihat pelayan itu pergi menjauh, Oshun kembali melihat ke arah sang Dewi api dengan tatapan tajamnya.


"Hei dengarkan aku Dewi api yang hanya ilusi belaka! Jangan mengerjaiku.. Aku tau ada banyak sekali Dewi-dewi jahil yang begitu kurang kerjaan sepertimu. Membuat waktuku habis saja!!" Omel Oshun pada sosok yang dilihatnya itu.


Dewi api itu bukannya marah ketika mendengar omelan Oshun, Ia malah tersenyum pada Oshun lalu berubah wujud lagi menjadi seekor burung api. Setelah itu burung api itu lenyap, menghilang entah kemana.


Astaga gawat, aku harus segera kembali!! Mati akuu... Ucap Oshun dalam hati ketika menyadari bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan aula Istana Langit.


Ia berlari dengan cepat dan sesekali sambil lompat jauh untuk mempercepat langkahnya. Ia mengubah lariannya menjadi langkah cepat ketika akan melewati para pelayan yang lalu lalang.


Tak berapa lama berlari dari halaman belakang Istana, akhirnya Oshun sampai di balkon tempatnya istirahat tadi.


Ada banyak jendela berukuran sedang tersusun rapi di dinding berukir itu. Oshun berjalan mendekati jendela itu satu per satu berharap ada celah untuk mengintip.


Tiga jendela pertama bena-benar tertutup rapat sehingga Oshun langsung beralih ke jendela selanjutnya sampai ia menemukan celah.


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Oshun melihat ada satu jendela yang sedikit terbuka. Oshun mengintip sebentar melalui celah itu sekilas, dan untungnya jendela itu langsung mengarah ke tempat Pamannya beserta rombongan suku Zoi lainnya.


Wanita cantik bernama Oshun itu kemudian menarik pandangannya dari celah jendela, lalu ia berdiri tegak dan menoleh ke arah kiri dan kanan, karena ia takut ada pelayan yang datang dan pasti akan menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Jadi ia memastikan bahwa di tempat itu tak ada siapapun selain dia seorang. Beruntung tak ada siapapun yang lalu lalang di balkon, beberapa pelayan hanya lalu lalang jauh di luar area balkon, jadi tidak akan ada gangguan apapun.


Setelah mengawasi dan memastikan bahwa di tempat itu hanya ada dirinya, Oshun kembali sedikit membungkukkan punggungnya dan mendekatkan sebelah matanya ke celah jendela itu untuk mengintip lagi.


Disana tampak Avram sedang memasang wajah kesal dan mungkin juga sedang sangat cemas saat ini. Dia berulangkali menoleh ke belakang memastikan ternyata keponakannya Oshun masih belum kembali.


Melihat Pamannya yang sudah terlihat sangat cemas, Oshun pun jadi panik.


"Hah.. bagaimana ini? Semoga Paman tidak marah.." Gumam Oshun yang masih mengintip.


"Kalau dilihat-lihat sepertinya acara hiburannya belum selesai. Lebih baik aku segera kembali.." Gumam dewi cantik itu lagi.


Kemudian ia segera berjalan cepat memutar arah, keluar dari balkon menuju pintu yang letaknya tepat di area suku Zoi berada. Setelah berjalan cukup jauh, kini ia sudah sampai di pintu masuk yang ditujunya.


Oshun menghela napasnya panjang, merapikan rambut dan juga pakaiannya. Setelah dirasa bahwa semuanya sudah lebih baik, ia pun melangkah masuk. Oshun menghentikan langkahnya ketika ia sudah sampai di belakang kursi Avram, pamannya.


Avram sedari tadi tak menikmati acara hiburan karena khawatir kehilangan keponakannya. Dengan mata tajamnya lelaki itu menoleh kebelakang, dan mendapati Dewi nakal itu kini tengah berdiri sambil tertunduk dengan tubuh yang dibanjiri keringat.


Ha-hawa panas apa ini? Apa karena aku keringatan ya? Bukan, sepertinya bukan. Ini semacam energi, arahnya dari hadapanku... Batin Oshun sambil mendongakkan kepalanya perlahan.


Menanggapi itu, Oshun pun maju dua langkah dengan tetap menunduk.


"Dari mana saja kau? Dan apa yang terjadi hah?" Bisik pria itu pelan sambil menatap ke arah para penari.


"Tenang Paman, aku bisa jelaskan..." Balas Oshun dengan kepala sedikit tertunduk.


Suasana aula istana diwarnai suara alat musik dan gelak tawa para tamu yang hadir. Sementara Dewa Dewi suku Zoi itu tengah dalam perdebatan kecil dan sama sekali tak terlihat menikmati acara.


"Kalau begitu jelaskan padaku." Ucap Avram.


"Tadi aku merasa sangat lelah, jadi aku kabur sebentar ke balkon di sisi seberang aula ini. Balkon itu lumayan besar dan angin disana sangat menggodaku untuk tidur, jadi kuturuti rasa kantukku dan tertidur." Jelas Oshun.


"Lalu apa yang membuatmu berkeringat seperti ini? Jangan menutupi apapun dari Pamanmu ini.." Balas Avram dengan tenang berusaha menahan emosinya.


Glekk

__ADS_1


Oshun mulai gugup.


"La-lalu ketika aku tertidur, samar-samar terdengar suara siulan burung. Suaranya sangat nyaring dan mengganggu, jadi kuikuti dan kucari asal suaranya. Saat kuikuti ternyata asal suara itu dari halaman belakang Istana, dan sialnya aku dipermainkan seorang Dewi. Dia awalnya berwujud burung api sambil bersiul-siul, kemudian berubah wujud menjadi seorang Dewi." Jelas Oshun setengah berbisik pada Avram karena suasana Istana benar-benar ribut.


Degg..


Perkataan Oshun itu seolah memukul keras jantung Avram. Avram terbelalak dan spontan menoleh ke arah Oshun saat mendengar penjelasannya. Ia seolah-olah mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar.


"Kau yakin dengan apa yang kau lihat..?" Tanyanya dengan ekspresi cemas. Oshun yang hanya tertunduk tak dapat melihat ekspresi pamannya yang tengah cemas entah karena apa.


"Awalnya aku tak yakin, makanya sempat kutanya beberapa pelayan mengenai apa yang kulihat. Tetapi mereka tak melihat dan tak mendengar apapun. Tapi yang membuatku yakin bahwa apa yang kulihat itu benar, aku merasakan panas dari nyala api burung itu." Jelas Oshun lagi.


"Gawatt.. ini gawatt.." Ucap Avram gelisah sambil mengusap usap dahinya dengan salah satu tangannya.


Oshun menoleh sedikit kearah pamannya itu dan merasa sangat kebingungan melihatnya. "Paman, ceritaku belum selesai.." Sambung wanita itu.


"Sudah sudah, tak perlu kau jelaskan lagi." Ucap Avram.


Kali ini apa lagi? Batin pria itu.


"Paman tenang saja, Dewi jahil itu gak apa-apain Oshun kok..." Ucap wanita itu dengan percaya dirinya.


Mendengar itu, Avram terdiam sebentar. Sesungguhnya bibirnya tak sanggup berkata-kata lagi, namun hal ini harus dijelaskan dengan baik,


"Dia itu bukan Dewi jahil, Oshun. Dia pertanda kesialan. Cepat atau lambat kau akan mengalami sial. Kalau kau sial hari ini, itu artinya aku juga. HAHH..." Balas Avram yang tiba tiba terduduk lemas.


"Paman yakin itu pertanda sial? A-aku.." Oshun tak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena kata-kata pamannya itu jadi membebani pikirannya saat ini.


"Itu bukan sembarang burung, bisa dibilang itu hewan magis. Dia hanya akan memperlihatkan wujudnya pada seseorang yang akan terkena sial hari itu juga. Kalau saja kau tak mencari tau, mungkin kita akan selamat dari kesialan hari ini." Jelas Avam yang kini tampak benar benar lemas.


"Inilah yang terjadi kalau kau tak serius mengikuti pembelajaranmu di lembah kakek Ri. Pengetahuan dasar inipun kau tak tau.." Sambungnya lagi.


"Bi-bisa saja kesialan itu bukan untukku, ada banyak pelayan bersamaku di halaman belakang tadi. Mungkin salah satu dari mereka." Ucap dewi muda itu berusaha mengelak dan tetap berfikir positif.


......................

__ADS_1


__ADS_2