OSHUN

OSHUN
Pertemuan yang Memalukan


__ADS_3

Istana Langit, Ruang Pribadi Kaisar


Saat ini Ouranos sedang istirahat di ruangannya.


Karena tak tahan jika hanya tidur dan beristirahat saja, jadi untuk menghalau rasa bosannya. Ia lebih memilih untuk membaca buku.


Lagipula membaca buku tidak akan menguras energi spiritual, jadi Ia bukannya tidak menuruti permintaan Elenio, Hector, dan Mantis. Begitulah pikirnya.



Beberapa saat kemudian,


"Maaf mengganggu Kaisar. Dewa Athan sudah datang, dan sedang menunggu Anda di ruang pertemuan, Kaisar." Ucap Hector sambil menunduk hormat dari balik pintu.


Oh? Cepat juga datangnya. Anda benar-benar pemimpin yang baik, Dewa Athan. Batin Ouranos saat mendengar kabar itu.


"Baiklah, katakan aku akan segera datang." Ucap Ouranos.


"Baik, Kaisar."


Setelah itu, Hector pun pergi menyampaikan pesan Kaisar kepada Dewa Athan.


"Hah... padahal aku ingin bertemu denganmu setelah sekian lama, dalam keadaan suka cita. Bukan seperti ini." Gumam Ouranos.


Kemudian, Ouranos bangkit berdiri. Ia berjalan, dan dalam sekejap menghilang ditelan cahaya ungu miliknya.


.


.


.


Istana Langit, Aula Pertemuan


"Lama tak berjumpa, Yang Mulia Athan." Ucap Ouranos.


Mendengar suara itu, Athan dan Hector pun kemudian berbalik, menghadap ke sumber suara.


"Yang Mulia Kaisar, tolong jangan memanggil saya dengan sebutan seperti itu. Panggil saja nama saya langsung." Ucap Athan. Ia membungkuk menghadap Ouranos.


"Baiklah, Dewa Athan." Balas Ouranos sambil berjalan menuju singgasananya.


Setelah Ouranos duduk di singgasananya, Athan dan Hector kemudian berhenti menunduk. Ouranos menatap Athan baik-baik. Sebenarnya Ia pun sangat berat hati kalau harus menghukum salah satu Dewa yang dikaguminya itu. Namun, di sisi lain ia tidak boleh menjadi pemimpin yang pilih kasih.


"Dewa Athan, duduklah di tempat duduk yang sudah disediakan di sana." Kata Ouranos dengan ekspresi datar.


"Tidak, tidak perlu Kaisar. Saya datang ke tempat ini bukan sebagai tamu, melainkan sebagai tahanan. Lebih baik saya berdiri saja, Kaisar." Ucap Athan sambil menunduk hormat pada Ouranos.


Anda benar-benar seorang pemimpin sejati. Puji Ouranos dalam hatinya.


"Baiklah kalau begitu." Balas Ouranos menyetujui.


"Dewa Athan, bagaimana misimu? Apa berjalan lancar?" Tanya pria penguasa langit itu.


"Betul Kaisar, berkat kerjasama kami semua, misi saya dapat diselesaikan. Hanya saja, masih ada beberapa pekerjaan kecil yang terpaksa saya tinggalkan, karena saya mendengar kabar bahwa suku saya membuat kesalahan di Istana Langit." Jawab Athan.

__ADS_1


"Ya, sayangnya kesalahan itu terjadi karena kecerobohan seorang Dewi muda."


Mendengar ucapan Ouranos barusan, wajah Athan berubah menjadi merah padam, karena rasa malunya.


"Maafkan Putri saya Kaisar. Maaf atas sifat kekanak-kanakannya. Mungkin awalnya dia hanya ingin mengerjai Pamannya, makanya..."


"Bukan begitu Dewa Athan, saya rasa putri Anda tidak berniat mengerjai Dewa Avram. Dia hanya ceroboh dan lalai dalam menjalankan tugas. Sepertinya dia membawa gulungan yang salah. Anda bisa membaca gulungan ini..." Ucap Ouranos.


Lalu dengan sihirnya, ia memberikan gulungan yang dimaksud pada Dewa Athan. Sihirnya membuat gulungan itu terbang melayang mendekat pada Athan.


Saat sudah berada di dekatnya, Athan mengambil gulungan itu, lalu dibacanya.


Astaga anak ini membuat malu saja... ternyata dia memang berencana ikut pertemuan ini untuk bertemu dengan Kaisar. Ucap Athan dalam hatinya.


Lagi-lagi ia harus menahan malu karena putrinya terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Sang Penguasa Agung.


Putrinya yang bahkan masih sangat kurang dalam pengetahuan dan kekuatan, berani-beraninya menginginkan seorang seperti Kaisar. Begitulah pikir Athan.


"Karena Putra Mahkota Asterix mengirimkan surat menggunakan gulungan resmi, dan laporan itu juga biasanya ditulis di gulungan resmi. Lalu, kemungkinan surat dari Asterix itu sampai di hari yang sama ketika rombongan Kerajaan Zoi akan berangkat. Jadi, sangat masuk akal kenapa Dewi Oshun membawa gulungan yang salah." Jelas Ouranos.


Ouranos kemudian tersenyum kecil, lalu berkata, "Sepertinya putri Anda sangat bersemangat untuk menemui saya."


Melihat untuk pertama kalinya Ouranos tersenyum saat membahas seorang Dewi, mata Hector terbelalak. Ia geleng-geleng, memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar atau tidak.


"Maaf Kaisar, putri saya masih sangat muda. Dia masih sangat kekanak-kanakan. Dia tak tahu apa yang sudah dia lakukan." Ucap Athan penuh penyesalan.


"Ya, dia memang kelihatan belum dewasa sama sekali. Dia ceroboh, dan juga seenaknya. Tapi, jika Anda mendidiknya lebih baik lagi, saya rasa dia akan jadi pemimpin yang bahkan lebih baik dari Anda." Ucap Ouranos.


Mendengar itu, Athan dan Hector serentak melihat pada Kaisar. Mata Athan terbelalak saat putrinya dipuji oleh Kaisar Agung yang berhati dingin itu.


"Kalau saya boleh tau, apa yang membuat Kaisar berpikir seperti itu?" Tanya Athan tak percaya.


"Dia pemberani, dia cerdas, dan juga kuat. Meskipun masih muda, dia bahkan mampu membuka dimensi ini sendirian, apalagi mengirim lebih dari 10 orang untuk kembali ke Istana Zoi." Jawab Ouranos.


Jadi begitu, yang memulangkan para pelayan dan pengawal tadi ternyata adalah Oshun. Ucap Athan dalam hati.


"Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan padamu Dewa Athan? Jujur saja, ini bukanlah pertemuan yang kuharapkan denganmu. Kupikir kita akan bertemu dalam keadaan berbahagia."


"Saya juga Kaisar. Saya tak pernah menyangka akan bertemu dengan Kaisar dalam keadaan yang memalukan seperti ini. Ini sungguh pertemuan yang memalukan. Soal hukuman, saya layak menerima hukuman seberat-beratnya, Kaisar" Balas Athan sambil menunduk hormat pada Kaisar Ou.


Ouranos menghela napasnya panjang, lalu berkata,


"Baiklah, kau akan kuberi hukuman yang sama dengan adikmu. Apa kau bersedia?"


"Tentu Kaisar, saya tidak mungkin menolak." Jawab Athan.


Setelah itu, Ouranos menatap Hector dan memberinya kode untuk segera melaksanakan hukuman untuk Dewa Athan, lalu melepaskan Avram.


Saat Dewa Athan dikawal oleh penjaga sel Istana Langit dan hendak pergi, Athan menghentikan langkahnya.


"Kaisar, saya dengar putri saya masih berada di Istana Langit. Apa benar begitu?" Tanya Athan.


"Ya, seharusnya dia masih berada di Istana Langit, karena aku tak merasakan adanya portal yang dibuka selain milikmu. Kalau tidak salah dia berada di area Saka." Jawab Ouranos.


Ha? Kaisar sampai tahu tempat tinggal wanita itu? Aku tahu dia memang tahu segalanya tentang Dimensi Langit ini, tapi dia tidak pernah sampai sepeduli ini.

__ADS_1


Hector berucap dalam hati, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Begitu ya. Bolehkah saya minta tolong, Kaisar?" Pinta Athan.


"Tentu saja." Jawab Ouranos tanpa pikir panjang.


"Saya minta tolong jangan biarkan Oshun tahu kalau saya sudah datang ke Istana Langit. Tolong jangan biarkan dia menemui saya. Saya tidak mau memperlihatkan keadaan saya yang sangat menyedihkan." Pinta Athan.


Justru seharusnya putrimu melihatmu, agar dia tahu bagaimana perbuatannya sudah membuat Ayah dan Pamannya menderita. Dia sudah menyia-nyiakan keluarga yang baik seperti kalian. Seandainya aku punya yang namanya keluarga, aku takkan pernah mengecewakan mereka. Ucap Ouranos dalam hatinya.


Meskipun tidak suka dengan permintaan Athan, tetapi Ouranos tetap mendengarkannya dan menyetujuinya.


"Terimakasih Kaisar." Ucap Athan menunduk, lalu pergi bersama kedua pengawal dan juga Hector.


"Tapi karena dia anak yang cerdas dan cepat tanggap, aku yakin dia akan segera tahu." Gumam Ouranos pelan, sambil menatap kepergian Dewa Athan.


.


.


.


Istana Langit, Sel Keputusasaan


Terlihat Avram yang sudah luka-luka dan babak belur di dalam sel itu. Dalam keadaan setengah sadr, ia masih meringis kesakitan menahan ngilunya luka-luka di tubuhnya.


Tak lama kemudian,


Ceklek


Kunci sel itu dibuka oleh salah seorang penjaga sel.


Setelah pintu sel itu dibuka, dengan kekuatan sihir, mereka berteleportasi berpindah ke dekat Avram yang sedang terlentang di sudut sel.


Mereka harus berpindah dengan kekuatan teleportasi, agar tidak terkena semak duri beracun yang menjalar hampir memenuhi sel itu.


Setelah masuk, salah satu dari penjaga mengeluarkan sihirnya untuk membantu Avram sadarkan diri, dan menekan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, kesadaran Avram pun kembali.


"A-apa yang ter...jadi?" Tanya Avram dengan suara parau.


"Dewa Avram, kami mendapat perintah untuk segera membebaskan Anda, karena Dewa Athan sudah datang." Jelas salah satu penjaga itu.


"Ka-kakak sudah datang ya? Baiklah..."


"Oh ya, Dewa Avram, Dewa Athan menitip pesan tadi. Katanya, terimakasih karena sudah menggantikannya untuk beberapa saat." Ucap penjaga yang satunya.


Mendengar itu, Avram tersenyum. Ia tak bisa tersenyum seperti biasanya, karena luka di wajahnya yang sangat sakit.


"Kalau begitu, izinkan kami merawat Anda Dewa Avram." Ucap salah satu penjaga yang adalah seorang wanita.


Avram kemudian hanya bisa mengangguk menyetujui.


Setelah itu, dengan jurus teleportasi milik penjaga itu, mereka memindahkan Avram ke ruang medis Istana Langit.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2