
Dengan cepat, Oshun mengubah posisinya dengan menunduk hormat ke arah pintu pemandian Kaisar, "Maaf mengganggu Anda, Kaisar. Ini saya, Oshun Zoi. Saya ingin membahas sesuatu yang penting." Ucapnya.
Mendengar suara yang tak asing itu, Ouranos yang hampir selesai dengan pakaiannya, mengernyit heran. Ia berbalik menatap ke arah pintu pemandian, dimana Oshun berdiri di baliknya.
"Huh? Bukankah seharusnya Anda sudah kembali?" Tanya Ouranos.
"Ya, seharusnya begitu... Tapi saya kebetulan mendengar kabar tentang Ayah. Kaisar, saya mohon... saya mohon bebaskan ayah saya. Hukum sajalah saya, Kaisar." Mohon Oshun yang masih menunduk penuh harap.
Sudah kuduga dia akan mengetahuinya. Batin Ouranos. Tanpa sadar ia tersenyum kecil.
Ouranos yang masih bertelanjang dada, lebih memilih untuk duduk dan melanjutkan percakapan mereka, daripada langsung memakai pakaiannya, lalu keluar menemui Oshun.
Ia berjalan menuju tempat duduk dari batu yang ada di pemandian itu.
"Tidak bisa. Dewa Athan sudah berjanji. Apa Anda mau Dewa Athan dihina di ketujuh dimensi karena berani mengingkari perkataannya sendiri? Itu bukan solusi, asal Anda tau saja." Sahut Ouranos.
"Tapi... tapi saya hanya ingin menebus kesalahan saya, Kaisar." Ucap Oshun lirih. Ia masih menunduk hormat.
"Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?" Tambahnya lagi.
Di dalam pemandian, Ouranos menghela napasnya, "Yang bisa kau lakukan hanya diam dan pulanglah. Rasa bersalahmu itu adalah bentuk hukuman untukmu, apa kau tidak mengerti juga?" Jelas Ouranos yang mulai mengernyit menatap ke arah Oshun yang berdiri di balik dinding itu.
Tes...
Air mata Oshun seketika menetes, membanjiri pipi mulusnya. Ia tak mengerti kenapa usahanya untuk memohon sampai seperti ini pun tidak dihiraukan oleh Kaisar.
Tolong jangan kecewakan saya Kaisar... aku mohon... Ucap Oshun dalam hatinya.
Ia tak mau Kaisar yang selama ini diyakininya berhati lembut, baik, dan penyayang, hanyalah ilusinya belaka.
Jika ya, maka ia akan sangat menyesal karena pernah mengaku sangat menyukai Kaisar Ouranos, di depan banyak orang.
Ia hanya akan mendapat malu dari orang-orang yang selama ini menertawakannya, karena ambisinya yang ingin mendapatkan Kaisar.
"Pergilah Dewi. Saya tidak akan merubah keputusan saya." Tolak Ouranos dengan yakinnya.
Mendengar itu, air mata Oshun semakin merembes. Ia tak dapat menahan semua perasaan dalam hatinya. Amarah, kecewa, rasa malu, sedih, terlalu banyak emosi di dadanya.
"De-Dewi, apa Anda baik-baik saja?" Ucap salah seorang pengawal. Ia mengulurkan tangannya hendak meraih pundak Oshun, karena merasa iba.
Namun tiba-tiba, Oshun mundur beberapa langkah, lalu,
Srekk...
Oshun mengibaskan pakaiannya yang panjang, kemudian berlutut.
"Hah? Apa yang---" Cetus pengawal lainnya panik saat melihat Oshun sampai berlutut di hadapan mereka.
__ADS_1
Mereka panik karena budaya di Istana Langit yang mengharamkan sikap menunduk, menghormat, apalagi sampai berlutut pada sesama Dewa/Dewi, selain pada Kaisar. Mereka menganggap sikap itu adalah sikap rendahan.
Mereka yang melakukan itu, akan dianggap berada di kasta paling rendah di Instana Langit, dan tentu akan diperlakukan seenaknya juga.
Kedua pengawal itu ingin menghampiri Oshun untuk melarangnya berlutut, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Tapi Oshun melarang mereka mendekat dengan isyarat yang diberikannya.
Jadi mereka hanya bisa diam dan kembali ke posisi semula sambil menahan perasaan risih karena melihat seorang Dewi terhormat berlutut, seolah kepada mereka berdua.
"Saya akan tetap di sini, Yang Mulia Kaisar, sampai Anda mau keluar dan memberikan hukuman pada saya, menggantikan Ayahanda." Tandas Dewi muda itu.
Di dalam pemandian, Ouranos hanya menghela napasnya. Kemudian dia berdiri, dan memakai pakaiannya.
"Lakukan saja semamu, dasar keras kepala..." Gumam Ouranos pelan.
Namun meski sudah memakai pakaiannya dan menyelesaikan kegiatan mandinya, Ouranos tetap tak keluar juga dari sana. Ia penasaran dan ingin menunggu, sejauh mana gadis itu akan bertahan.
.
.
.
Sudah cukup lama, Oshun masih menunduk dengan sikap hormat sambil berlutut di depan tempat pemandian Ouranos. Ia sampai berkeringat, sesekali dia gigit bibirnya untuk menahan rasa nyeri pada lututnya karena sudah sangat lama berlutut.
Anda memang lama mandinya, atau Anda sengaja berlama-lama di dalam sana, Kaisar? Gerutu Oshun dalam hati sambil sedikit menggeram.
Waktu terus berjalan, dan kini kegelapan sudah mulai menyelimuti dimensi itu. Dan Ouranos, dia bahkan tak menunjukkan batang hidungnya sedikit pun.
Di waktu seperti inilah Dewa-Dewi biasanya sering berlalu lalang di sekitaran area Rikusea, persis seperti apa yang dikatakan Hector pada Oshun.
"Lihat itu, siapa Dewi itu? Kenapa dia berlutut?"
"Entahlah, apa dia tak malu berbuat serendah itu di depan pengawal?"
"Kasihan ya dia bahkan diacuhkan oleh Kaisar."
"Dia tak tau diri ya."
Begitulah sayup-sayup terdengar bisikan para Dewa dan Dewi yang lalu lalang saat melihat Oshun. Hinaan dan tawaan mereka terdengar begitu jelas. Entah mereka sengaja atau tidak.
Meski sangat jelas mendengarnya, Oshun sama sekali tak peduli. Ia akan melakukan apa pun untuk mendapat apa yang diinginkannya. Meski saat inipun sebenarnya ia sudah sangat lapar. Lututnya pun sudah gemetaran karena lelah menopang tubuhnya.
"Dewi, jika tak ingin makan, setidaknya lakukanlah meditasi agar Anda tidak kelaparan lagi." Ucap seorang pengawal yang merasa iba melihat Oshun.
Seorang Dewa atau Dewi memang benar bisa hidup tanpa makanan dan minuman, asal melakukan meditasi. Biasanya jika tak ada makanan atau minuman, mereka akan melakukan meditasi dan pemusatan energi.
Meditasi pun percuma, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk memusatkan energi. Jawabnya dalam hati.
__ADS_1
Lain halnya dengan pria yang masih menetap di dalam pemandian itu, ia sedang melakukan meditasi sekarang. Mungkin karena ia juga sudah lapar.
.
.
.
Syutt...
Tiba-tiba Mantis muncul di samping Ouranos.
Sekarang Ouranos tengah melanjutkan membaca buku bacaannya setelah cukup lama bermeditasi.
"Hei, bukankah kau sudah keterlaluan?" Ucap Mantis memukul pelan pundak Ouranos dengan tongkat kecilnya.
"Jadi kabarnya sudah menyebar ya? Cepat juga..." Jawab pria itu cuek. Pandangannya masih fokus pada buku bacaan di tangannya itu.
"Hei, jangan mengganti topik pembicaraan. Kau sudah keterlaluan. Kau tau ini sudah gelap kan? Kenapa kau masih membiarkannya berlutut di depan sana? Dia terlihat sangat kacau."
Ouranos mendelik, kemudian ia menghela napasnya pelan.
"Aku tidak menyuruhnya untuk melakukan itu. Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi dia keras kepala. Kenapa kau jadi menyalahkan aku?" Protes Ouranos dengan suara yang tetap tenang.
"Hah, ya ampun.. lihatlah pria ini. Maksudku, kenapa kau tidak menemuinya saja dan berbicara baik-baik padanya. Jangan terlalu keras begituu..." Jelas Mantis. Ia sampai geleng-geleng melihat perilaku dingin sahabatnya itu.
"Kalau begitu lakukanlah sendiri..." Sahut Ouranos tak peduli.
Lalu dalam sekejap, ia menghilang ditelan cahaya ungu miliknya. Ouranos telah pergi meninggalkan tempat pemandian itu.
"Dasar tidak punya hatii!!" Geram Mantis sesaat setelah Ouranos menghilang dari tempat itu.
Mantis membuang napasnya kasar.
"Sekarang apa yang bisa kulakukan?" Gumam pria itu.
Dengan teknik rahasianya, Mantis membuat dinding tembus pandang, agar ia bisa melihat keadaan Oshun saat ini.
"Hah... kasihan sekali Anda, Dewi Oshun. Anda mengharapkan belas kasihan pada orang yang hatinya sudah membeku. Anda terlalu berharap pada orang yang kaku dan tidak mengerti apa itu kasih sayang dan cinta." Gumam pria itu, sambil menatap Oshun dengan perasaan iba.
"Pria seperti Ouranos, berbuat kebaikan dan kasih sayang hanya berdasarkan apa yang dipelajari dan diajarkan padanya. Dia tak pernah benar-benar mengerti bagaimana itu perasaan iba, sakit hati, senang, apalagi cinta." Tambahnya lagi.
Mantis berjalan mendekat ke dinding, lalu menatap Oshun dengan pandangan sendu, "Percuma jika saya menyuruh Anda untuk berhenti, kan? Dari ekspresi Anda, saya tahu bahwa Anda tetap akan berlutut di sana sampai Kaisar datang, entah apapun yang terjadi." Ucap Mantis sambil tersenyum tipis.
Lalu setelah itu, Mantis menghilang dari tempat itu.
Ia menyerahkan semuanya pada takdir dan nasib Oshun. Karena ia punya firasat, bahwa gadis itu memiliki garis hidup yang tak biasa.
__ADS_1
...****************...