OSHUN

OSHUN
Sudah Mengerti


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu sejak saat itu, dan Oshun masih juga melakukan hal yang sama. Ia masih memohon sambil berlutut di depan tempat pemandian Kaisar, tanpa makan, minum, istirahat, maupun meditasi, untuk memulihkan energinya.


Seberapa keraspun para pengawal dan pelayan memberitahu bahwa Kaisar sudah pergi dari pemandian itu, Oshun tetap bersihkeras melakukannya. Lagipula Kaisar pasti akan kembali ke tempat itu untuk membersihkan diri, dan gadis itu takkan menyerah sampai Kaisar mau berbicara langsung dengannya.


"Dewi, tolong berhentilah, Anda sudah terlihat sangat—To-tolong istirahatlah Dewi..." Ucap salah seorang pengawal yang dijumpai Oshun pertama kali. Ia bahkan tak sanggup menjelaskan kondisi Oshun saat ini.


Pengawal itu sangat sedih melihat Oshun yang tidak dipedulikan oleh Kaisar. Dia pun sampai ikut berlutut dan memohon agar Oshun menghentikan perbuatannya. Selain itu, kedua pengawal itu kerap membawakan makanan untuk Oshun, berharap agar gadis itu mau memakannya, walau sedikit.


Tentu saja mereka sampai melakukan itu ketika melihat kondisi Oshun yang sangat memprihatinkan. Gadis itu sekarang terlihat begitu pucat, bawah matanya pun sudah mulai menghitam.


Selain kering, terdapat beberapa luka kecil dan bekas darah yang telah mengering di bibirnya. Oshun sengaja melukai bibirnya untuk menahan rasa lelah dan sakit yang ia rasakan. Tidak ada semangat hidup lagi di kedua sorot mata gadis itu, seolah memasrahkan hidupnya saat ini.


"Hosh... hosh... De-dewi, saya datang membawa pesan." Ucap seorang pelayan pria yang datang sambil berlari-lari ke arah Oshun.


"Ada apa? Kenapa kau terburu-buru begitu?" Tanya salah satu pengawal itu.


"Ah, ini... ada pesan mengenai Dewa Avram." Jawab pelayan itu sambil menunjukkan selembar kertas.


Mendengar nama pamannya disebut, spontan mata Oshun terbelalak. Ia menoleh sedikit melihat ke arah pelayan itu.


"Dewa Avram sudah siuman. Saya diminta oleh Dewa Mantis untuk mengabarkan ini pada Anda, Dewi." Ucap pengawal itu dengan sopan.


"Pa-man..." Gumam Oshun pelan.


Tes...


Air matanya jatuh dan membasahi kulitnya yang telah mengering.


"Syukurlah..." Gumamnya lagi sambil menahan tangisnya.


"Dewi, apa Anda ingin menemui Dewa Avram?" Tanya salah seorang pengawal itu. Dia berjongkok, menyamakan posisinya dengan Oshun.


Sambil mengusap matanya, Oshun mengangguk pelan. Gadis itu berpikir tak ada salahnya menemui sang Paman sebentar, lalu nanti akan kembali ke tempat ini untuk kembali memohon pada Kaisar.


Saat akan mengangkat tubuhnya,


Akh, ssi-al... kakiku tidak bisa digerakkan. Ke-kepalaku juga pusing. Rintih Oshun dalam hati.


Ketika melihat Dewi muda itu sangat kesulitan untuk bangkit berdiri, pengawal itu ikut membantu memegang tangan Oshun. Namun Oshun dengan keras kepala menolak bantuan itu,


"Terimakasih, tapi aku bisa sendiri." Begitu ucapnya.


"Baiklah Dewi, kalau begitu izinkan kami mengantar Anda ke tempat Dewa Avram." Pinta pengawal yang satunya.


Untuk tawaran yang satu itu, Oshun tidak bisa menolaknya karena ia memang tak tahu dimana pamannya berada saat ini. Lagipula, saat ini tubuhnya terlalu lemah untuk mencari tahunya sendiri, seperti yang sudah-sudah.


.


.


Kedua pengawal itu berjalan cukup jauh di depan Oshun, mengarahkan jalan menuju ke tempat dimana Avram dirawat. Sementara seorang pelayan tadi berdiri cukup jauh di belakang Oshun, sambil sedikit menunduk.


Oshun berjalan dengan langkah gontai mengikuti kedua pengawal baik hati yang berjalan di depannya, sampai kemudian...


Brukk

__ADS_1


Oshun terjatuh. Dia pingsan.


Mendengar suara yang cukup keras itu, spontan kedua pengawal dan seorang pelayan tadi melihat ke arah sumber suara dan berteriak.


"Dewii!!!" Teriak mereka serentak.


Seketika mereka bertiga berhamburan berlari mendekati Oshun untuk memeriksa kondisinya.


Oshun tak kuat lagi untuk bangkit berdiri. Ia terlalu memaksakan dirinya. Pandangannya perlahan mengabur, suara panik ketiga orang itu pun hanya samar-samar didengarnya. Lalu, perlahan semuanya menjadi gelap dan sunyi.


.


.


.


Axile, Istana Langit


Dengan kesadaran yang perlahan memulih, samar-samar, Oshun mendengar suara tangis yang tak asing.


Paman? Tebaknya dalam hati.


Kemudian dengan keinginan yang kuat, gadis itu perlahan membuka matanya. Ia menyipit, berusaha menyesuaikan pandangannya karena cahaya yang sangat silau menyambar begitu kuat.


"Pa-man..." Ucapnya lirih ketika matanya berhasil menangkap sosok Paman yang sedang duduk di sampingnya, menunduk sambil menangis.


Mendengar suara yang lemah itu memanggil dirinya, sontak Avram mendongak, dan melihat ke arah keponakannya.


"Oshun!" Panggilnya penuh haru.


Ia merasa senang, lalu menyambar tubuh yang masih terbaring lemah itu. Hingga ringisan kecil Oshun, membuatnya berhenti memeluk gadis itu.


"Akhirnya?" Sahut Oshun.


"Ya, kau sudah dua hari tak sadarkan diri. Kau dibawa oleh pengawal ke tempat ini."


"Memangnya kita dimana, Paman?" Tanya Oshun sambil memerhatikan sekelilingnya.


"Kita di Axile, Istana Langit. Kau pernah mendengar tentang tempat ini kan?" Balas Avram melayangkan pertanyaan.


"Ya, tentu saja." Gadis itu menjawab dengan gaya percaya dirinya.


Melihat keponakannya yang kembali menunjukkan sifat yang dirindukannya itu, membuat Avram spontan tertawa kecil. Ia senang karena Oshunnya sudah kembali.


"Apa Paman baik-baik saja?" Tanya Oshun khawatir.


"Tentu saja. Istana Langit memperlakukan Paman dengan bertanggungjawab."


Ucapan pamannya itu seketika membuat Oshun tersenyum geli. Ada rasa penolakan yang jelas tergambar di wajah pucatnya.


"Tempat ini kejam..." Gumamnya pelan.


Lalu Oshun kembali melihat pamannya, "Bagaimana dengan Ayahanda?"


Avram terdiam. Wajahnya yang tadinya senang berubah muram.

__ADS_1


"Jangan pikirkan hal lain dulu. Ini, minumlah dulu obatmu." Elak Avram sambil menyodorkan cangkir berisi cairan.


"Paman tau kan aku seperti ini karena apa? Aku berbuat sejauh ini demi Paman dan Ayah, jadi aku ingin tau bagaimana keadaan Ayah! Jangan mengelak dari pertanyaanku!" Tuntut gadis itu setengah berteriak.


Avram menghela napasnya dengan kasar. Lalu diletakkannya cangkir itu di meja dekat tempat tidur Oshun.


"Paman tidak tau bagaimana kondisi ayahmu. Bahkan Paman pun dilarang untuk melihat keadaannya. Yang Paman tahu, Ayahmu akan dibebaskan malam ini." Ucap Avram membuang pandangannya dari Oshun.


Mendengar kabar itu dari Avram, air mata Oshun kembali menetes. Kini bukan air mata kesedihan atau penyesalan, melainkan air mata kekecewaan,


"Hah, benar-benar... sampai aku seperti ini pun... Kaisar tetap tidak peduli. Aku benar-benar..."


"Sangat membencinya...!" Sambung Oshun dengan suara tertahan. Dia meremas erat kain tempat tidurnya sangkin marahnya.


"Oshun, inilah yang kutakutkan ketika membawamu ke tempat ini. Semua cerita-cerita itu, hanyalah dongeng pengantar tidur saja. Inilah kenyataannya. Tapi meskipun saat itu kau kuberitahu yang sebenarnya, kau tetap akan memaksa untuk ikut kan? Aku tau kau tak akan mundur sebelum merasakannya sendiri." Jelas Avram menatap khawatir pada keponakannya itu.


Oshun kemudian tertawa pasrah, "Ya, pada akhirnya aku pasti akan memaksa pergi ke tempat ini. Semuanya karena perasaan yang sia-sia ini. Perasaan ini menjengkelkan..." Keluhnya sambil memukul dadanya berulang kali.


Melihat tindakan keponakannya itu, dengan sigap Avram menahan dan menangkap tangan gadis itu. Ia tak ingin Oshun menyakiti dirinya sendiri lagi.


"Sudahlah Oshun, lupakan saja. Di umur-umur sepertimu, wajar bila merasakan perasaan seperti itu. Sekarang kau sudah mengerti bagaimana kehidupan di Istana Langit, dan bagaimana sosok Kaisar yang membuatmu penasaran itu, kan? Anggap saja itu sebagai bentuk pendewasaan dirimu." Jelas Avram mencoba membuat Oshun agar mau melupakan perasaannya pada Ouranos.


Dengan tatapan sendu, Oshun melirik tangannya yang dipegang oleh pamannya, "Ya, akhirnya aku sudah mengerti. Semuanya tak seindah dan sebagus yang dikatakan orang-orang. Ini bukan tempatku, dan Kaisar juga bukan untukku." Ucapnya dengan nada pasrah.


"Kalau begitu, mari kita pulang setelah Ayahmu selesai dirawat di Istana Langit." Katak Avram sambil mengelus lembut puncak kepala Oshun.


"Tidak, aku akan kembali deluan." Tolaknya.


Avram menghentikan elusannya, lalu menatap wajah Oshun untuk meminta kepastian, "Hah? Apa kau yakin?" Tanya Avram.


"Ya. Atau Paman mau ikut pulang deluan denganku?" Tanya dewi muda itu dengan mata membulat menatap Avram.


"Yah, inginnya sih begitu. Tapi mana mungkin aku meninggalkan penguasa Zoi sendirian di tempat ini?" Balas Avram tersenyum paksa.


"Kapan kau akan pergi?" Tanya Avram lagi.


"Mungkin setelah aku bermeditasi sebentar." Jawab Oshun.


"Kalau begitu hati-hati ya..." Ucap Avram kembali mengelus puncak kepala Oshun.


Oshun membalasnya dengan anggukan kecil sambil tersenyum simpul.


Tiba-tiba, secerca cahaya putih muncul di ruangan Oshun, lalu terlihatlah Mantis dari balik cahaya itu sambil tersenyum lebar.


"Ah, ternyata Anda sudah sadarkan diri, Dewi Oshun." Pungkasnya ramah sambil melangkah mendekat pada Avram dan juga Oshun.


Avram kemudian bangkit berdiri sambil menghormat memberi salam pada Mantis. Lalu Oshun sambil duduk di tempat tidur, juga ikut memberi salamnya.


"Sudah, sudah... bagaimana kondisimu, Dewi Oshun?" Tanya Mantis.


"Saya sudah merasa lebih baik. Terimakasih atas perawatannya, Dewa Mantis." Ucap Oshun sambil tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Yah, berterimakasihlah pada Hector," Balas Mantis spontan.


"Oh ya, Dimana Dewa Hector? Aku tak melihatnya sedari tadi, bukankah area Axile seharusnya dijaga oleh Dewa Hector?" Tanya Oshun penasaran.

__ADS_1


"Ooopss..." Mantis menutup mulutnya seperti orang yang tertangkap basah, keceplosan mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak boleh diketahui oleh kedua orang di hadapnnya itu.


...****************...


__ADS_2