
Tampak lekuk tubuh indah dan seksi milik Oshun, dibalik balutan kain merah tipis yang dikenakannya. Kulit putih nan mempesona, pinggang kecil, kaki jenjang, dan dada bulat berukuran lumayan itu sungguh mempesona.
Wanita yang kini tampak seksi itu melangkah menuju meja riasnya untuk segera dipersiapkan pelayan. Dipersiapkan untuk menggunakan pakaian yang layak.
"Hei Oshun sudah selesai belum?" Tiba tiba suara itu terdengar lagi.
Suara itu begitu nyaring, sehingga sanggup memecah gendang telinga yang mendengarnya.
"Ayo cepatlah! Tak perlu berdandan, toh kau akan menyamar sebagai pelayan nanti." Teriak Avram dari luar kamar Oshun.
"Sebentar Paman...! Aku masih sedikit mengantuk." Sahut Oshun setengah berteriak dari dalam ruangan sambil menunggu pelayan mempersiapkan pakaiannya.
"Kalau begitu hitungan ke-tiga kamu tidak keluar juga, Paman tinggalkan kamu...!" Ancam pria itu.
Mendengar itu, mata Oshun langsung terbelalak. Ia panik dan cepat-cepat merapikan segalanya.
"SATU..."
"Ahh sial, baju apa yang harus kupakai?" Tanya Oshun buru-buru kepada para pelayan. Tingkah wanita itu membuat para pelayan juga semakin panik dan sulit untuk memutuskan.
"DUA... , Oh ya, jangan lupa bawa gulungan yang ada di meja riasmu!" Ucap Avram setengah berteriak.
Estetika maupun keindahan tak dipedulikan para pelayan lagi, termasuk Oshun. Para pelayan itu buru-buru memakaikan dan merapikan baju, mengikatkan rambut wanita itu seadanya, dan lupakan soal perhiasan, itu akan semakin membuang waktu.
Setelah semuanya dirasa siap, dengan gerakan kilat tangan Oshun mengambil asal gulungan yang ia lihat terletak di atas meja riasnya.
Karena buru-buru, wanita itu tak sengaja menjatuhkan beberapa wewangian dari atas meja riasnya, hingga membuat para pelayan semakin panik, menghela napas, dan geleng-geleng memaklumi sikap Tuan Putri itu.
"TII....GA.." Tepat ketika Avram mengucap "tiga", Oshun akhirnya melompat, keluar dari ruangannya.
Avram cukup terkejut melihat Oshun yang tiba-tiba muncul. Lalu, ditatapnya keponakannya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Hah, berlebihan sekali. Mana gulungannya?" Tanya Avram.
Mendengar ucapan tak menyenangkan dari pamannya itu, Oshun menggeram sedikit dan menghelakan nafasnya.
"Bagian mana yang Paman sebut berlebihan? Coba saja Paman lihat, mck, ini bahkan terlalu sederhana. Apa anggapan orang-orang nantinya?" Balas wanita itu dengan ledekannya sambil tersenyum nyinyir.
"Segalanya tidak dapat dinilai dari pakaian. Jika pakaianmu berlapis-lapis mutiara atau berlian langka sekalipun tetapi sikap dan perilakumu tidak sama mahalnya dengan pakaian yang kau gunakan, apa gunanya semua itu? Kau akan terlihat mahal dan terhormat bila tak ada yang mampu menyaingi kebaikanmu." Ucap Avram menanggapi ledekan Oshun sambil menepuk sekali bahu kanan nona muda itu.
Melihat pamannya yang mulai berlagak serius, Oshun hanya diam saja. Lalu ia memberi gulungan laporan itu kepada Avram.
Ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba paman Oshun yang lainnya datang menghampiri mereka.
"Paman rambut putih? Ada apa Paman?" Tanya Oshun yang menyadari hadirnya orang itu.
"Tidak apa. Paman hanya mau berpesan, jaga sikapmu dengan baik disana." Pesan paman rambut putih pada Oshun dengan nada yang lembut.
"Dewa Hannes, tolong jagalah tempat ini selagi kami pergi. Mungkin paling cepat rapat ini selesai dalam sehari dan kami akan kembali besok." Pinta Avram.
"Baik Dewa Avram. Jaga Oshun baik-baik. Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Hannes.
__ADS_1
Hannes pun pergi meninggalkan rombongan itu.
"Tumben Paman rambut putih mau berbicara denganku. Kupikir Dia tidak sayang padaku." Ucap Oshun sesaat setelah sosok itu menghilang dari pandangan mereka.
"Jangan bercanda, saudara Ayahmu dan saudara Ibumu sangat menyayangimu. Dia jarang berbicara bukan berarti tak sayang. Bukankah Ibumu dan saudara-saudaranya memang orang yang dingin? Jadi tak usah heran lagi. Ayo berangkat.."
Rombongan suku Zoi pun berangkat dari lembah Zoi menuju Istana Langit. Meskipun waktunya sudah tinggal sedikit lagi, namun jarak Istana langit dari Istana Zoi tidak terlalu jauh, jadi masih sempat.
Semua rombongan kerajaan dari berbagai alam datang untuk menghadiri pertemuan besar di Istana Langit, dan mereka juga masih dalam perjalanan.
Beberapa Dewa Suku Langit sudah terlihat berkumpul di gerbang perbatasan suku langit untuk menyambut para Dewa yang hadir. Sementara Kaisar Ouranos masih berada di ruang pribadinya untuk bersiap-siap..
.
.
.
Tok tok tok...
"Kaisar Ou, apa Anda sudah selesai? Sepertinya ada pesan yang perlu Anda ketahui." Ucap Dewa Mantis dari luar ruangan pribadi Kaisar.
"Masuklah..." Sahut Kaisar dari dalam.
Menanggapi itu, Dewa Mantis pun masuk ke dalam ruangan Kaisar.
Kriett..
Ketika Mantis membuka pintu, sejenak ia tertegun karena tersanjung melihat penampilan Kaisar yang begitu tampan.
Tubuh gagah dengan balutan jubah kerajaan yang cukup sederhana, rambut panjang berwarna perak yang tertata rapi dan berhiaskan mahkota elegan dikepalanya, juga warna manik matanya yang berubah, senada dengan mahkota yang dikenakannya.
Semua itu membuat Ouranos benar-benar terlihat anggun, gagah, dan berwibawa.
Jangan lupakan wajah tampannya yang semakin menyempurnakan penampilannya.
"Wah, sederhana namun tetap memikat. Jangan bilang kalau kau berencana untuk memikat hati para Dewi yang hadir...?" Goda Mantis mengedipkan satu matanya pada Kaisar.
Sambil tersenyum nakal, ia berjalan mendekati Kaisar Ou.
"Kau seperti baru mengenalku kemarin lalu." Jawab Kaisar dengan suara beratnya.
"Ah sudahlah, aku kan hanya bercanda saja." Ucap Dewa Mantis.
"Ngomong-ngomong Adikmu sudah tiba, aku menyuruhnya langsung istirahat di kamarnya. Tapi lagi-lagi Ia menolak. Katanya dia akan ikut rapat, dan sedang bersiap sekarang." Jelas Mantis sambil duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.
"Untuk saat ini, terserah dia saja. Setelah ini, baru kita bahas lagi." Jawab Kaisar dan mengalihkan pandangannya dari Dewa Mantis.
"Bukankah kau terlalu memanjakan adikmu itu? Apa kau melakukan ini karena kau tau dia menyimpan perasaan padamu?" Ucap Mantis sambil tertawa kecil memandang sosok pria bertubuh kokoh dihadapannya.
"Apa hanya ini yang mau kau sampaikan? Jika iya, maka keluar dari ruanganku dan tunggu aku di perbatasan." Ucap Kaisar pada pria jahil itu dengan ekspresi yang datar.
__ADS_1
"Ah, jangan marah dulu.. Kau ini terlalu sensitif."
Sesaat setelah mereka berargumen, terdengar bunyi langkah sepatu yang sepertinya mendekati ruangan Kaisar. Jika didengar dari suara langkah kaki itu, sepertinya berjumlah sekitar lima orang.
Kaisar dan Dewa Mantis yang menyadarinya, sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu ruangan yang setengah terbuka itu.
Dengan sorotan mata yang tajam, mereka berdua menatap kearah pintu ruangan, mereka sedang menunggu sosok yang mungkin akan singgah di tempat itu.
"Salam Kakak, lama tidak bertemu Kakak." Terdengar suara wanita yang terdengar lembut dengan senyuman tipis dan mata yang tegas melihat ke arah Kaisar.
Dewa Mantis terkejut melihat ternyata orang itu adalah Dewi Alena bersama empat orang pelayan dibelakangnya.
"Kakak, aku akan ikut dalam pertemuan nanti. Bolehkan?" Tanya Dewi Alena dengan lembut pada kakaknya itu.
Kaisar hanya diam dan tak mengeluarkan suara apapun sedari tadi, kemudian ia berjalan keluar ruangan itu dengan langkah pelan. Hanya terdengar suara seretan kain sutera yang dikenakan Kaisar, tak ada yang berkutik sedikitpun diruangan itu.
Ia telah mengabaikan Adiknya, Dewi Alena, sama seperti saat terakhir bertemu, dingin tak berperasaan. Dewa Mantis yang melihat tubuh kokoh itu pergi berjalan hendak keluar ruangan, juga ikut menyusul berjalan mengikutinya dari belakang.
Ia juga mengabaikan Dewi Alena. Sementara Alena, ia hanya menatap mereka berdua dari belakang dengan tatapan sendu.
Ia sudah terbiasa menerima perlakuan dingin Kakaknya, namun tak pernah mengurangi rasa cintanya.
.
.
Mantis berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Ouranos yang panjang dan terburu-buru.
"Berlebihan seperti biasanya, iya kan?" Ucap Mantis setengah berbisik saat langkah mereka sudah beriringan.
"Aku tidak berlebihan sama sekali. Kalau aku berlebihan, pasti sudah kuusir dia dari Istana Langit ini." Sahut Kaisar Ou dengan intonasi suara yang tetap tenang.
Mendengar itu, Mantis menatap malas pada pria di sebelahnya,
"Bukan itu maksudku, maksudku itu dandanan adikmu. Berlebihan dan tidak berubah sama sekali dari dulu. Menurutmu seperti apa dia ketika bertapa di tempat pengasingan? Apa dengan semua aksesoris di tangannya itu?" Ucap Mantis sambil tersenyum lebar.
Ouranos yang mendengar perkataan pria disampingnya itu seketika menarik kedua ujung bibirnya, hingga membentuk senyuman yang begitu manis.
Kira-kira apa yang dibicarakan Kakak dan Dewa Mantis ya? Tanya Alena dalam hati. Ia hanya bisa menatap mereka berdua yang sedang asik mengobrol, dari kejauhan.
Tak beberapa lama kemudian Kaisar Ou, Adiknya, dan Dewa Mantis pun akhirnya sampai di gerbang perbatasan Istana Langit.
Saat kehadiran mereka bertiga disadari, semua Dewa yang lebih dulu berada di tempat itu tunduk dan memberi hormat pada mereka.
Kaisar mengangguk, menanggapi hormat mereka. Setelah itu, mereka semua bangun dan terlihat beberapa Dewa tampak berbisik-bisik melihat Dewi Alena yang ikut menghadiri acara pertemuan.
Tak lama kemudian terompet dan gendang besar Kerajaan mulai dibunyikan, tanda beberapa rombongan kerajaan lain sudah sangat dekat dengan perbatasan.
"Kelihatannya tidak terlihat Dewi cantik di antara rombongan-rombongan itu. Andai Dewi Bulan ada disini, bukankah begitu?" Goda Mantis pada Ouranos yang hanya dibalas dengan tatapan yang sulit diartikan.
......................
__ADS_1