OSHUN

OSHUN
Perasaan yang Sebenarnya


__ADS_3

BRAKK


Alena membanting pintu ruang baca Ouranos, lalu masuk ke ruangan itu dengan langkah yang jelas menyiratkan kemarahan.


"Dimana sopan santunmu, Alena?" Tanya Ouranos yang hanya menatap adiknya itu dengan tatapan datar.


Alena tidak menjawab perkataan Ouranos, lagipula alasan kemarahannya adalah penyebab sikapnya yang tidak sopan itu, dan Ouranos harus mengetahuinya. Begitulah pikir Alena.


"Kakak! Kenapa Kakak melakukan itu?!"


"Memangnya apa yang sudah kulakukan?"


"Kenapa Kakak berbicara dengan Dewi itu?!"


"Kau sudah berani berbicara dengan nada tinggi padaku?"


"Ah, ti, tidak... maaf Kak, aku terlalu terbawa emosi."


"Lagi pula kau tidak punya hak melarangku berbicara dengan siapapun, kau tau itu, lalu kenapa kau marah?"


"Dia itu Dewi yang licik! Bukankah Kakak sudah tau? Terakhir kali dia datang mengatur siasat untuk mendekatimu! Dia itu Dewi penggoda."


"Aku juga menerima perlakuan yang sama dari Dewi yang lain, tapi kau tidak pernah semarah ini."


"Itu karena Kakak hanya memberi kesempatan pada wanita itu! Kakak bahkan tersenyum padanya, jangan kira aku tidak melihatnya!"


"Lalu kenapa? Itu hakku kan? Aku bebas menggunakan seluruh tubuhku untuk apa yang aku inginkan, kenapa kau yang marah?"


"Aku tidak suka Kakak begitu ke wanita lain."


"Wanita lain?"


"Ya, wanita lain selain diriku! Kakak bahkan tidak pernah menunjukkan senyuman Kakak yang seperti itu padaku!"


'Apa benar aku tersenyum saat berbicara dengan Dewi Oshun tadi?' Tanya Ouranos dalam hatinya, berusaha mengingat-ingat kejadian di acara jamuan tadi.


"Kenapa aku harus melakukannya hanya padamu?" Tanya Ouranos.


"Karena aku menyukai Kakak! Aku mencintai Kakak sebagai seorang pria, aku tidak tahan ketika Kakak memberi perhatian pada wanita lain selain diriku!" Aku Alena dengan mata yang berbinar menatap Ouranos.


"Itu bukan cinta."


"Kakak tidak mengerti, aku sangat mencintai Kakak. Aku rela memberikan apa saja untuk Kakak, bahkan hidupku, atau tubuhku!"


"Hentikan omong kosongmu Alena, kembalilah ke tempatmu. Pikiranmu sedang kacau karena dikuasai amarah, kembalilah besok jika ingin membahasnya lagi."


Alena bersimpuh di hadapan Ouranos.


"Lalu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini Kak? Perasaan ini semakin menggebu-gebu dari hari ke hari. Aku tidak bisa menghentikannya. Tolong bantu aku Kak, jadilah milikku!"


"Alena, kau mabuk. Pergilah!"


Ouranos meninggikan suaranya. Ia tau bahwa Alena sudah mabuk karena aroma anggur yang begitu menyengat tercium darinya saat ia bersimpuh di hadapan Ouranos.


"Kakak!! Apa Kakak membenciku?!"


"Tidak, aku tidak membencimu. Kau saudaraku, jadi aku tidak mungkin membencimu."


"Kakak tau kita tidak sedarah. Aku adik angkat Kakak. Kakak tau itu dengan jelas! Jadi seharusnya aku tidak salah jika mencintai dan menginginkan Kakak, iya kan?!" Teriak Alena. Air matanya mulai mengalir begitu derasnya.

__ADS_1


"Alena, pergilah, sebelum aku menghukummu!" Ucap Ouranos dengan suara yang tertahan.


Alena tidak mendengarkan. Pikirannya yang sedang kacau membuatnya tidak lagi takut akan setiap perintah yang keluar dari mulut pria itu. Alena tidak peduli lagi, ia membuka ikat pinggang yang dikenakannya, setelah itu beralih pada kancing pakaiannya. Ia membukanya satu per satu.


"Aku akan melakukan apa saja Kak." Ucap Alena lirih, menatap sendu pada Ouranos yang mulai menunjukkan raut tidak sukanya.


Melihat Ekspresi Ouranos, Alena pun tertawa.


"Kenapa...? Kenapa hanya ekspresi itu yang selalu Kakak berikan untukku? Apa mencintai adalah sebuah kejahatan?"


Pluk


Baju bagian atas Alena sudah dilepasnya, menyisahkan pakaian dalam bagian atasnya yang hanya menutupi dada.


Ouranos masih menatapnya datar, ia tidak bergairah sedikitpun melihat Alena yang hampir telanjang itu.


Tiba-tiba,


Brukk


Alena pingsan. Alena pingsan bukan karena efek mabuk berat yang dialaminya, melainkan karena efek dari sihir yang diberikan Mantis.


Saat ini Mantis sudah berdiri di pintu ruangan Ouranos. Ia geleng-geleng melihat tubuh lemas Alena yang hampir telanjang itu.


Sebelum menimbulkan kesalahpahaman, Mantis masuk dan segera menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.


"Dia sudah kehilangan akal." Ucap Mantis.


Kemudian dengan sihirnya, Mantis mengembalikan pakaian Alena dalam keadaan seperti semula, lalu memindahkannya ke tempat duduk  yang lumayan besar di ruangan itu.


"Jangan khawatir, dia takkan mengingat apapun setelah bangun nanti."


"Hehehe, tidak sih."


"Ya sudah, bawa dia pergi dari ruangan ini. Dan katakan padanya, kedepannya aku tidak ingin bertemu dengannya, dia dihukum."


"Astaga, bahkan wanita yang cemburu pun kau hukum? Sudah itu, dia berbuat begitu karena mabuk loh."


Sebenarnya bukannya Mantis ingin membela Alena, hanya saja Mantis sedang ingin menggoda Ouranos.


"Itu untuk kebaikan semua orang. Pergilah!" Ucap Ouranos.


"Iya, iya... Dasar Dewa galak!"


Setelah itu, Mantis mengirim Alena ke kamarnya dengan portal miliknya.


.


.


Di sisi lain, Oshun tampak sedang berjalan-jalan di sekitaran taman utama Istana Langit dengan Cleon. Mereka sedang berbincang-bincang hangat. Ini adalah kesempatan yang sangat jarang mereka dapatkan, jadi mereka benar-benar memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.


"Oshun, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Boleh, kenapa kau jadi sungkan begini?"


"Yah, aku hanya tidak mau moodmu jelek karena pertanyaanku ini."


"Tidak akan."

__ADS_1


"Baiklah. Apa perasaanmu pada Kaisar masih sama seperti dulu?"


...


"Ah, tidak perlu jawab jika kau tak ingin! Aku sudah menduga akan seperti ini, maafkan aku..."


"Hehehe, tidak perlu minta maaf kok. Aku sudah tidak menyukainya lagi. Daripada rasa suka, aku malah merasa sebaliknya."


"Apa karena Kaisar menolakmu?"


"Heh? Tidak. Lagi pula aku belum menyatakan perasaanku padanya. Aku hanya kecewa, kukira dia baik hati, ternyata dia sangat tak berperasaan. Dia dihormati hanya karena kekuatan luar biasanya itu."


"Benarkah?"


"Ya, dia tidak sama seperti yang diceritakan orang-orang."


"Baiklah, aku tau kau pasti punya alasan kenapa mengatakan hal itu. Aku takkan meneruskan pembicaraan mengenai Kaisar kalau begitu."


"Ya, aku memang tidak ingin membahasnya lebih lanjut." Ucap Oshun tersenyum canggung. "Oh ya Cleon, apa yang akan kau lakukan jika kau kalah dalam duel nanti?"


Mendengar pertanyaan itu, spontan Cleon menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Oshun.


"Yah, aku akan mundur dari posisi Putra Mahkota."


"Kenapa?"


"Karena untuk apa menjadi seorang pemimpin yang hanya bisa mempermalukan rakyatnya? Jika aku kalah dalam duel ini, bagaimana bisa rakyatku akan percaya pada kekuatanku di masa depan? Mereka takkan merasa aman."


"Itu pemikiran yang cukup konyol, Cleon. Bayangkan saja jika semua yang gagal dalam duel punya pemkiran yang sama denganmu, bukankah kerajaan yang mengalami kekalahan akan kerepotan dalam memilih pewaris yang baru? Tidak mungkin semuanya akan jadi pemenang, kau tau itu kan? Jadi jangan buat keputusan seperti itu."


"Tapi kekuatan itu penting bagi seorang pemmpin. Jika tidak, rakyat tidak akan menghormati pemimpinnya."


Oshun tersenyum, lalu menggeleng pelan.


"Cleon, tidak selamanya kekuatan menjadi aspek paling penting yang dimiliki seorang pemimpin. Kekuatan bukan menjadi penentu kau akan dihormati oleh rakyatmu atau tidak. Jika kau sangat kuat, namun tidak memiliki nila-nilai kemanusiaan, tidak memiliki perasaan, bukan rasa hormat yang akan kau peroleh, melainkan rasa takut." Jelas Oshun.


"Benarkah?"


"Ya. Aku akan memberimu contoh, coba kau bandingkan antara Raja An dengan Kaisar Ouranos. Raja An tidak sekuat Kaisar. Raja An juga tidak sesempurna Kaisar Ouranos, tapi coba kau lihat, kenapa Raja An sangat dihormati oleh seluruh rakyatnya, bahkan oleh seluruh Kerajaan? Itu karena Raja An sangat dermawan, baik hati, dan juga rendah hati. Berbeda dengan Kaisar yang—"


Tiba-tiba, Cleon menutup mulut Oshun dengan kedua tangannya, menghentikan gadis itu melanjutkan kalimat yang dirasanya akan membahayakan mereka berdua.


"Mmmm!!!" Suara Oshun.


Cleon berulang kali melihat sekeliling mereka, mengawasi apakah ada orang lain di sekitar mereka atau tidak.


"Apa yang kau pikirkan Oshun! Kau tau kan kita ada dimana?!" Ucap Cleon dengan penuh penekanan.


Kemudian Oshun memberontak hingga tangan Cleon berhasil terlepas dari mulutnya.


"Apa-apaan kau Cleon! Kita ini bukan anak-anak lagi!" Tegur Oshun.


"Hei, jangan marah begitu dong. Habisnya kau ini berani-beraninya menghina Kaisar di tempat kekuasaannya sendiri. Kau mau cari mati?"


"Aku hanya mengatakan kebenarannya, Cleon. Yang penting adalah apa yang ingin kusampaikan, bahwa kekuatan bukanlah segalanya."


"Baik, baikk... akan kuingat itu. Ayo kita kembali saja..."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2