OSHUN

OSHUN
Kembali ke Tempat yang Seharusnya


__ADS_3

Di Perbatasan Istana Langit


Di sinilah sekarang Avram dan Mantis berkumpul untuk menghantar kepulangan Dewi muda yang bernama Oshun itu. Tak ada raut bahagia seperti sebelumnya di wajah Dewi itu.


Mungkin kekecewaannya pada Ouranos lah yang membuat senyuman tulusnya menghilang. Peristiwa ini cukup mendewasakan Oshun. Ada banyak pelajaran yang telah didapatnya setelah datang ke Istana Langit ini.


"Paman harap kau kembali dengan selamat, dan tunggu kami kembali." Pesan Avram pada keponakannya itu.


Oshun hanya menagngguk kecil, lalu ia berbalik, bersiap untuk memasuki portal yang telah dibuka oleh Mantis untuknya.


'Semuanya benar, ini bukan tempatku, dan Kaisar bukan untukku. Memangnya siapa aku sampai-sampai menginginkan seorang Kaisar?' Ucapnya dalam hati sambil tersenyum menertawai dirinya sendiri.


"Aku akan kembali ke tempatku yang seharusnya." Gumamnya.


Kemudian Oshun terbang menembus portal itu. Setelah ia menghilang ditelan portal, Mantis langsung menutup portal itu dalam sekejap.


"Ouranos memang keterlaluan." Ucap Mantis kesal setelah mengingat perlakuan Ouranos pada Oshun.


Ia kesal, namun ia tak bisa berbuat apapun pada makhluk tak berperasaan itu. Ia lelah memberitahunya, tapi Ouranos hanya bisa mengerti berdasarkan teori, dan itu semua jadi percuma karena ia tak bisa merasakannya.


Otaknya lah yang ia gunakan untuk menerjemahkan sesuatu yang disebut dengan perasaan dan emosi.


Mantis jadi bingung siapa yang harus disalahkannya. Ouranos yang terlahir sudah seperti itu, atau Semesta yang sudah menjadikannya seperti itu.


"Itu bukan masalah, Dewa Mantis. Kudengar Kaisar memang memiliki sifat seperti itu sejak dulu, dan sifat tidak bisa diubah begitu saja. Lagi pula aku sudah memberitahu Oshun tentang ini, hanya saja dia tidak mempercayaiku. Dan menurutku itu juga wajar dialami oleh Dewi yang baru dewasa seperti Oshun. Masa muda memang merepotkan." Ucap Avram tersenyum, berusaha meredakan kekesalan Mantis.


'Aku hanya berharap Ouranos berubah. Aku berharap suatu saat Ia akan menyesali kelakuannya pada Dewi Oshun selama ini. Hanya penyesalan yang mampu merubah seseorang.' Benak Mantis.


"Kalau begitu mari kita kembali ke dalam." Ajak Avram pada Dewa Mantis.


Setelah itu, Avram dan Mantis pun kembali ke Istana Langit untuk melanjutkan aktivitas mereka. Avram hanya bisa menunggu sampai hukuman Athan selesai dijalani, baru ia bisa kembali ke Istana Zoi.


.


.


Sementara itu, di Istana Zoi, semua keluarga Kerajaan berkumpul untuk menyambut kedatangan Oshun yang tiba-tiba.


Seluruh pelayan dan prajurit Istana juga ikut menyambut dengan perasaan senang sekaligus khawatir. Mereka semua takut jika Kaisar dan orang-orang Istana Langit memperlakukan Dewi kesayangan mereka dengan semena-mena dan melukainya, setelah apa yang terjadi.

__ADS_1


Namun, tidak semua juga orang-orang di alam Zoi merasakan hal yang sama. Kabar yang menyebar begitu cepat, membuat cukup banyak dari mereka merasa kecewa atas perbuatan yang dilakukan Oshun. Pemimpin kesayangan mereka yang merupakan lambang kebanggaan Kerajaan Zoi, bahkan sampai harus dihukum karena kecerobohan Oshun.


Apa yang dilakukan Oshun telah membuat suku Zoi kehilangan muka di depan suku-suku lainnya di ketujuh dimensi. Karena kecerobohan Oshun, suku-suku lain jadi selalu mencibir dan menggelengkan kepala ketika berpapasan dengan suku Zoi.


.


.


Hari-hari pun berlalu. Kini, setiap harinya tak berjalan seindah seperti biasanya. Senyuman dan gelak tawa Dewi Oshun tak pernah terdengar lagi.


Ia telah berubah menjadi Dewi yang murung, yang selalu bersembunyi di ruangannya dengan alasan ingin mengintrospeksi diri.


Karena merasa bersalah, Oshun sampai mengurung diri berhari-hari di kamarnya. Ia yang biasanya rajin bersosialisasi dengan rakyatnya, sekarang jadi enggan bahkan untuk melangkah keluar dari kamarnya.


Selain itu, ia juga takut jika sampai bertemu dengan orang-orang di akademinya, terutama Sang Guru.


Karena ketika mereka bertemu, Oshun pasti akan teringat dengan kejadian dimana ia begitu percaya dirinya mengatakan akan menjadi kekasih Kaisar. Tentu saja itu akan membuat Oshun kehilangan mukanya.


Sang Raja dan Ratu yang dari awal sebenarnya ingin memberi hukuman pada putri cantik itu, jadi mengurungkan niatnya. Sebagai orangtua, mereka tidak tega jika harus menghukum putri mereka yang terus tampak murung itu. Mereka berpikir mungkin tanpa harus dihukum, Oshun sudah menyesal atas perbuatannya.


Namun yang jadi masalah sekarang ini adalah, hubungan antara putri mereka dengan rakyatnya kian memburuk. Maka untuk memperbaiki hubungan antara rakyatnya dengan anak semata wayangnya itu, Raja Athan bahkan sampai mengadakan pertemuan langsung dengan seluruh rakyat Zoi. Raja dan Ratu menjelaskan sebisa mereka, demi putri mereka yang kelak akan mewarisi tahta Istana Zoi.


"Maafkan aku atas tindakan bodohku. Aku telah membuat kalian semua malu, terutama Dewa Athan dan Dewi Anastasya, yang adalah Ayah dan Ibuku, Penguasa alam Zoi. Maaf karena jadi Tuan Putri yang hanya bisa membuat malu. Aku sudah menyadarinya, dan aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama." Ucapnya dengan lantang dan tetap berdiri tegap di hadapan semuanya.


Kemudian, tak beberapa lama kemudian Oshun menyibak pakaiannya, lalu berlutut di hadapan semuanya.


Melihat itu, banyak rakyat Zoi yang berteriak agar Oshun menghentikan apa yang dilakukannya. Sebab mereka merasa tak enak jika Oshun sampai berlutut di hadapan mereka, sehingga semua rakyat tanpa terkecuali, ikut berlutut, bahkan sampai bersimpuh di hadapan Oshun.


"Tuan Putri, jangan lakukan ini! Kami sudah melupakan apa yang terjadi. Daripada itu, kami masih sangat menyayangi Anda." Pekik salah seorang rakyat Zoi yang ada di tempat itu.


Semua rakyat yang mendengarnya, ikut bersorak menyetujui apa yang dikatakan barusan. Mereka benar-benar tulus memaafkan kecerobohan Sang Putri.


Melihat betapa besar cinta rakyatnya pada sang putri, Dewi Natasya sampai meneteskan air matanya. Ia datang menghampiri Oshun dan memeluknya. Seluruh keluarga kerajaan merasa terharu, juga ikut menangis bahagia.


"Lihat betapa kami semua sangat mencintaimu. Maka jangan lagi mengeewakan mereka, mengerti?" Bisik Dewi Natasya lirih.


Oshun mengangguk pelan, lalu ia membalas pelukan Ibu dan Ayahnya yang kemudian ikut datang menghampiri mereka.


'Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.' Ucap Oshun dalam hatinya.

__ADS_1


.


.


Istana Langit


"Ouranos, apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak mendengarkan ucapanku ya dari tadi?" Protes Mantis karena Ouranos tak menanggapinya sejak tadi.


"Aku sedang memikirkan hal penting."


"Apa?! Maksudmu ceritaku tak penting? Begitu? Ini tentang pertikaian yang terjadi di perbatasan, dan kau sebut itu tak penting?!" Protes Mantis lagi meninggikan suaranya. Ia menggeleng-geleng tak habis pikir dengan Penguasa Agung ketujuh dimensi itu.


"Aku tidak pernah bilang bahwa peristiwa itu tidak penting. Hanya saja, apa yang kupikirkan juga penting. Lagipula tentang masalah itu, bukankah sudah diselesaikan oleh Hector dengan baik?" Ucap Ouranos dengan ekspresi datarnya.


"Hahh~ sudahlah... Ngomong-ngomong, apa masalah penting yang sedang kau pikirkan daritadi? Sepenting apa itu?" Tanya Mantis penasaran.


Ouranos pun kemudian menceritakan tentang hari dimana ia datang menemui Raja An untuk menanyakan tentang wanita yang muncul di penglihatannya saat bertemu dengan Oshun dulu.


Waktu itu ia juga bertanya, kenapa wanita itu memanggilnya Icarus? Siapa sebenarnya wanita itu dan pria yang dia panggil Icarus?


Ketika pertanyaan itu dilontarkannya, tampak raut wajah kebingungan Raja An. Ia tidak yakin, tapi sepertinya ia pernah membaca tentang nama itu di salah satu buku kuno. Nama itu pernah terdengar, namun itu sudah sejak lama hilang begitu saja, dan dilupakan.


Setelah cukup lama mencarinya, ternyata itu adalah nama seorang pahlawan, leluhur dari suku Api. Ia adalah Pangeran Mahkota Icarus. Semua hal tentang kecemerlangan dan kehebatannya dituliskan di buku yang sangat kuno itu. Buku yang keadaannya sudah tampak mengkhawatirkan.


Hanya ada 1 buku saja dari sekian banyaknya buku sejarah yang membahas mengenai Icarus, berbeda dengan Ouranos yang sejak sebelum menjadi Kaisar Agung, namanya sudah disebut hampir di seluruh buku pusaka setiap alam. Namun semua yang tertulis di buku itu tidak menjawab semua pertanyaan Ouranos.


"Kalau begitu, apa hubungannya Dewa Icarus denganku? Dan siapa wanita yang kulihat itu? Kenapa dia tiba-tiba muncul di hadapanku, dan memanggilku Icarus?" Tanya Ouranos pada Raja An.


"Maafkan saya Kaisar. Saya tidak ingin memberikan jawaban yang tidak pasti. Tolong beri saya waktu untuk memastikan jawaban atas pertanyaan Anda. Saya berjanji akan memberitahu Anda."


Ouranos terdiam sesaat lalu berkata, "Baiklah."


Setelah itu, Ouranos pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan mengganjal.


Setelah mendengar cerita Ouranos, Mantis tak mengatakan apa pun. Ia tidak tau harus mengatakan apa, ia tidak punya jawaban atas pertanyaan Ouranos.


Selain itu, Mantis juga tidak ingin mengatakan sesuatu yang dapat memperkeruh suasana, jadi ia hanya menanggapi dengan sekedar. Dan hari itu pun berlalu begitu saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2