
"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul, aku akan langsung membahasnya. Lihat ini, gulungan surat yang di tanganku."
Semua mata memandangi gulungan surat itu dengan seksama.
"Aku menerima surat ini dari Zoi. Ada hal darurat yang sepertinya terjadi di sana. Mereka meminta rombongan untuk kembali ke Istana Zoi malam ini juga." Jelas Oshun dengan percaya diri.
"Tapi Nona, gulungan itu sepertinya bukan milik Zoi?" Tanya salah seorang pelayannya.
"Ya ampun, kau ini tidak mengerti ya? Kita disuruh kembali dengan cara yang rahasia. Jika menggunakan kertas Kerajaan, maka masalah ini harus dilaporkan pada Istana Langit. Lalu kita harus ditanyai mengenai urusan internal Kerajaan Zoi. Apa kau mau membocorkan segala hal tentang Zoi?" Jelas Oshun dengan sangat baik, lalu dibalas oleh gelengan pelayan yang bertanya tadi.
"Putri, jika kita kembali lalu siapa yang akan menemani Dewa Avram di sini?" Tanya salah seorang prajurit pada Oshun.
'Brilian! Pertanyaan yang bagus, pengawalku...' Batin Oshun sambil menunjukkan senyuman yang lebar dan hangat. Ekspresi itu membuat mereka yang melihatnya sedikit bingung dan merasa aneh.
"Biar aku saja yang tinggal, kalian tidak perlu khawatir." Jawab Oshun sambil meletakkan tangan kanannya di dada dengan percaya diri.
"T-tapi Putri, kami ... "
"Apa kalian meragukan diriku??"
Oshun tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat sedih dan kecewa. Aktingnya benar-benar sangat natural, sehingga membuat mereka yang melihatnya ikut terhanyut.
"Ahh tidak, tidak... Kami mana berani begitu. Maafkan kami Putri. Kami hanya khawatir sesuatu akan terjadi pada Putri, hanya itu." Jawab salah satu dari mereka. Wajah mereka sekarang benar-benar sedih dan khawatir.
Sebenarnya Oshun juga tidak tega membohongi mereka, tetapi ini harus dilakukannya agar mereka tidak ikut terlibat lebih jauh lagi. Oshun menggigit sedikit bibirnya dari balik cadar, ia berusaha menahan agar air matanya tidak keluar.
"Itu tidak perlu. Percayalah padaku, aku ini sudah dewasa. Aku bisa melakukan apa pun sendirian." Jawab Oshun dengan lembut.
'Ya, semoga aku bisa melakukan ini sendirian.' Batinnya.
Setelah mencoba meyakinkan rombongannya, akhirnya mereka semua setuju untuk kembali ke alam Zoi dan meninggalkan Oshun sendirian di Istana Langit.
Oshun kemudian membawa mereka ke tempat tersembunyi di area Saka, untuk membuka pintu teleportasi ke alam Zoi. Sihir teleportasi adalah sihir yang membutuhkan energi dan konsentrasi besar, apalagi Oshun harus memindahkan beberapa puluh orang sekaligus.
Oshun menghela napas panjang, kemudian mulai memusatkan energinya. Dibukanya kedua tangannya menghadap sebuah tembok di area itu. Tidak beberapa lama kemudian, muncullah suatu lingkaran dimensi lain di tembok itu.
Oshun sengaja tidak memunculkan cahaya yang mencolok dari sihirnya, agar tidak ketahuan oleh siapa pun. Setelah dirasa pintu dimensi itu sudah cukup lebar, diperintahkannya agar seluruh rombongan cepat-cepat masuk sebelum ia mencapai batasannya.
Syutt...
Pintu dimensi yang dibuat Oshun kemudian tertutup, sesaat setelah orang terakhir berhasil masuk. Karena tidak kuat, wanita itu terjatuh dalam keadaan berlutut di atas rerumputan.
"Hosh... hosh... hosh..." Oshun mencoba menstabilkan napasnya.
'Baru begini saja aku sudah—sudah mau mati... rasanya...'
Srak...
__ADS_1
Oshun menjatuhkan badannya di atas rumput dengan posisi terlentang.
.
.
.
Sementara itu di sisi lain...
Degg
Tiba-tiba Ouranos membuka matanya, ia merasakan suatu hal yang janggal terjadi di Istana Langit. Tentu sebenarnya ia mengetahui tentang hal itu, namun ia tidak ingin heboh membeberkannya. Ia hanya menunjukkan senyuman tipis sebagai tanggapannya akan hal itu.
"Apa ada yang lucu?" Mantis tampak mengernyit keheranan, saat melihat Kaisar tersenyum tanpa alasan.
Saat ini Mantis sedang bersama Kaisar di ruangan baca Istana Langit.
'Berani sekali dia membuat portal di Istana Langit.'
"Menarik juga." Ucap Ouranos dengan seringaiannya.
"Ha?"
"Jika ada yang mencariku, katakan aku ada di ruang senjata." Ucap pria itu dingin.
Tidak ingin ambil pusing dengan apa yang dimaksud oleh pria tadi, Mantis lebih memilih untuk kembali fokus pada buku bacaannya.
***
Sementara itu dengan sihir teleportasi miliknya, Kaisar pun sampai di ruang persediaan senjata Istana Langit. Sesampainya di sana, ia langsung mengambil posisi nyaman, yaitu duduk sambil melakukan maditasi.
Ruangan yang luas itu memiliki berbagai macam senjata "dewa" yang tersusun rapi. Terdapat sedikitnya 6 buah pilar yang menjulang tinggi hingga ke langit-langitnya. Ruangan yang begitu luas dan megah untuk ukuran gudang senjata.
.
.
.
*Kembali pada Area Saka
Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri dan melakukan sihir pemulihan, Oshun akhirnya memiliki tenaga untuk bergerak dan melakukan sihir lainnya. Malam ini juga ia akan menemui Kaisar Ou untuk mengakui kesalahannya, dan memohon agar pamannya diizinkan pulang.
'Aku harus mencari tahu dimana Kaisar Ouranos saat ini.' Batinnya
Dengan sedikit merapi-rapikan pakaian dan rambutnya, Dewi cantik yang masih dalam penyamaran sebagai pelayan itu berjalan melangkah keluar area Saka. Hanya butuh waktu sebentar saja Oshun sudah menyusun rencana di kepalanya.
__ADS_1
Untuk mengetahui informasi tentang Kaisar dan pamannya, ia harus menyamar menjadi 'orang dalam' lebih dulu, lalu secara pribadi pergi menemui Kaisar.
.
.
Masih berdiam diri tepat di depan pintu masuk area Saka, matanya melebar baru menyadari pakaiannya yang sangat berbeda dari dayang Istana Langit. Dengan cepat ia bersembunyi di balik pohon besar yang kebetulan ada di dekatnya.
Saat dilihatnya sekelompok dayang hendak lewat dekat dari pohon tempatnya bersembunyi, dengan ancang-ancang ia bersiap menargetkan dayang pada barisan paling belakang.
Dibacanya satu mantra yang singkat. Lalu saat para dayang itu lewat, dengan sigap Oshun menyentuh dayang barisan paling akhir menggunakan jari telunjuk yang sudah diberinya mantra.
Dayang itu berjalan terus, tampaknya ia tak menyadari sentuhan Oshun. Kekuatan yang sikeluarkan Oshun tadi, membuat pakaian, aksesoris, dan gaya rambutnya berubah menjadi sangat mirip dengan dayang Istana Langit.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, ditariknya napas dalam-dalam bersiap untuk memulai rencananya. Saat tidak ada yang memperhatikan, Oshun berjalan ke luar dari balik pohon.
Ia melangkah dengan tetap tenang dan santai agar tidak kelihatan mencurigakan. Saat ada kesempatan, ia menyelip barisan dayang Istana yang dilihatnya akan kembali ke Istana utama. Kini Oshun berjalan bersama-sama dengan sekelompok dayang Kerajaan itu.
Tiba-tiba langkah Oshun terhenti, sepertinya ada sesuatu yang menghalangi rombongan barisannya untuk berjalan ke tempat tujuan mereka.
Dan benar saja, saat ditegakkannya kepalanya dan melihat ke depan, ternyata ada seorang pelayan lain yang menghalangi.
"Maaf Nyonya, sepertinya ruangan itu belum boleh dibersihkan." Kata pelayan yang menghalangi mereka.
"Kenapa?" Tanya kepala pelayan yang memimpin rombongan barisan Oshun.
"Dewa Mantis masih membaca di ruangan itu."
'Dewa Mantis? Itu sahabat Kaisar Ou kan? Sepertinya aku harus ke tempat itu untuk bertanya padanya.' Batin Oshun.
"Baiklah kalau begitu." Balas kepala pelayan, lalu berbelok hendak menuntun rombongan barisan untuk pergi ke lain arah.
Saat ada kesempatan, Oshun bergerak memisah dari rombongan itu agar ia bisa menyusup ke tempat Dewa Mantis untuk bertanya. Perpindahan gerakannya benar-benar sangat halus, sehingga tidak dicurigai oleh orang yang terus berlalu lalang di tempat itu.
Setelah berjalan dengan sangat hati-hati dan dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Oshun sampai di depan ruangan tempat Mantis berada saat ini. Diam-diam ia mengawasi daerah sekitar.
Saat tidak ada yang memperhatikan ke arahnya, Oshun mulai melancarkan aksinya. Dengan jari jemari lentik itu, disentuhnya keningnya sendiri lalu berjalan melangkah menembus dinding ruangan di hadapannya.
Tak ... Tak ...
Bunyi langkah sepatunya pada lantai ruangan yang tampak sangat megah itu. Oshun tertegun melihat sekelilingnya. Ruangan yang dilihatnya itu benar-benar sangat cantik, penuh dengan buku-buku yang juga tampak indah.
Semuanya tertata rapi. Bahkan rak tempat buku di ruangan itu hampir setinggi pilar yang menyentuh langit-langit, sehingga menambah kesan megah untuk ukuran ruang baca.
'Nanti saja kagum-kagumnya, aku kan ke sini mau mencari Dewa Mantis.' Batin wanita itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya agar fokus pada tujuan.
...****************...
__ADS_1