
Tibalah hari yang paling dinanti-nanti oleh seluruh penjuru Alam Semesta, yaitu hari dimana Festival Pankrasi diadakan. Pada Festival kali ini, giliran Istana Langit yang menjadi Tuan Rumah. Semuanya dipersiapkan dengan baik. Istana Langit dihias begitu indah, dan berbagai acara penyambutan telah dipersiapkan dengan baik.
Istana Langit mempersiapkan acara Festival ini dengan antusias karena mereka tak ingin kehilangan muka di depan suku lainnya, jika ada satu kesalahan yang terjadi. Terlebih, mereka tak ingin mempermalukan Sang Kaisar Agung yang amat mereka banggakan. Mereka menyambut dan menjamu para tamu yang datang dengan ramah dan antusias.
Di gerbang perbatasan Istana Langit, tampak dari kejauhan rombongan Suku Zoi yang barisannya dipimpin oleh Raja Athan, dan Panglima Tertinggi mereka, yaitu Dewa Hannes.
Ouranos yang berdiri di gerbang perbatasan langsung melihat ke arah rombongan itu saat matanya menangkap simbol Kerajaan Zoi. Ada perasaan senang saat dirinya melihat kehadiran Dewa Athan.
Sementara Mantis, ia masih kesal karena rasa penasarannya belum juga terjawab hingga sekarang. Semuanya karena Hector yang mengganggu pembicaraan antara dirinya dan Ouranos terakhir kali. Padahal, itu adalah hal penting yang paling ingin diketahuinya saat ini. Kenapa Ouranos sengaja menghindari Oshun? Pertanyaan itulah yang terus menghantui kepalanya, hingga ia tak mempedulikan apapun saat ini. Tubuhnya memang berdiri tegap di samping Ouranos, namun tidak dengan hati dan pikirannya.
Mata Ouranos terus mengikuti rombongan Zoi sampai berada cukup dekat dengan tempatnya berdiri saat ini. Saat rombongan Suku Zoi berhenti dan bersiap untuk memberi salam, tampak Dewi Anastasya dan Dewi Oshun keluar dari kereta kerajaan untuk ikut memberi salam.
Tanpa disadari, seketika mata Ouranos terbelalak melihat kehadiran Oshun. Yah walaupun perubahan ekspresinya hanya sedikit, yang jelas kehadiran Oshun membuatnya cukup terkejut.
'Dia terlihat... berbeda.' Benaknya.
Tidak hanya Ouranos, orang-orang yang berada di tempat itu juga sepertinya tampak terkejut akan kehadiran Oshun. Mereka saling berbisik satu sama lain. Dan jangan tanyakan Mantis, saat ini ia yang paling tersenyum lebar menyambut kedatangan Oshun yang kedua kalinya.
Kali ini Oshun tampak sangat berbeda dari yang terakhir kali saat kunjungannya ke Istana Langit. Ia sudah tampak jauh lebih dewasa dari segi penampilan maupun pembawaan, dan tentunya ia semakin cantik. Kecantikannya cukup membuat Dewi-Dewi lainnya di tempat itu merasa iri, terutama Dewi Alena yang semakin terbakar api cemburu kala melihat kakaknya tak henti melirik ke arah Oshun.
"Salam pada Dewa para Dewa, Raja dari para Raja, Kaisar Agung Ouranos, kami dari Kerajaan Zoi datang untuk mengikuti Festival Pankrasi." Ucap Dewa Athan, Penguasa Kerajaan Zoi itu dengan lantang. Seluruh rombongan Zoi menunduk memberi salam, tanpa terkecuali.
Saat Ouranos mengangguk menerima salam mereka, rombongan Zoi kembali berdiri. Semua yang berstatus Dewa dan Dewi di rombongan itu kembali berdiri tegap dan menatap ke arah Kaisar Ouranos, kecuali Oshun. Ia masih setengah menunduk, enggan melihat ke arah Penguasa Agung itu.
Ouranos menyadari itu, dan sebenarnya pun ia merasa terganggu akan sikap Oshun. Tetapi dia juga tak punya hak untuk mengatur orang lain, jadi ia membiarkannya begitu saja.
'Sepertinya Dewi Oshun masih marah pada Ouranos.' Batin Mantis saat melihat Oshun yang enggan melihat ke arah Ouranos dan dirinya.
__ADS_1
Oshun berulang kali menarik napas menenangkan dirinya. Sebenarnya ia sangat tidak suka dan sangat tidak ingin menghadiri Festival ini, tentu saja alasannya karena ada Ouranos. Tetapi, meski benci, ia tetap harus menghadiri acara besar ini. Ia sudah berjanji takkan mempermalukan seluruh rakyatnya lagi, ia tidak ingin mengecewakan sukunya. Itulah kenapa dia masih mau menghadiri acara yang membuatnya harus bertemu dengan Ouranos.
Selagi Dewa Athan sedang berbincang dengan Ouranos, Dewi Anastasya tak sengaja melihat ke arah putrinya yang membuang pandangannya dengan ekspresi tak nyaman.
"Oshun, tegakkan kepalamu. Sikap apa yang kau tunjukkan itu?" Ucap Anastasya setengah berbisik. Anastasya bukannya tak tahu tentang putrinya yang patah hati karena Ouranos, ia pun tak melarang putrinya untuk merasakan dan mengekspresikan emosinya itu, hanya saja Anastasya ingin agar Oshun tak terlalu menunjukkannya di depan umum.
'Benar, jika aku seperti ini, bukankah aku terlihat semakin menyedihkan? Aku harus tunjukkan bahwa aku sudah tak memiliki perasaan apapun pada Kaisar.' Ucap Oshun dalam hatinya penuh tekad.
"Maaf Ibu." Ucap Oshun menatap lembut pada Anastasya. Ia kemudian berdiri tegak dan menunjukkan senyuman lembutnya.
Dari jarak yang cukup jauh, mata Ouranos tak sengaja menangkap senyuman indah Oshun, lalu cepat-cepat ia memutus pandanganya saat Oshun juga menatap ke arahnya.
"Yang Mulia Kaisar, kami membawakan beberapa hadiah kecil dari Istana Zoi. Saya harap Anda menerimanya dengan senang hati." Ucap Dewa Athan sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah hadiah yang dipegang oleh salah satu pelayan Zoi.
"Terimakasih atas ketulusan Anda, Dewa Athan." Ucap Ouranos menunjukkan senyuman tipisnya.
"Sebenarnya Anda tidak perlu repot membawakan hadiah, Dewa Athan." Ucap Mantis ikut bergabung.
"Bawa kemari hadiahnya." Perintah Raja Athan.
Saat pelayan yang memegang hadiah itu hendak berjalan mendekat ke arah Athan dan yang lainnya, Oshun menghentikan pelayan itu, kemudian berkata, "Biar aku saja."
Setelah itu, ia mengambil alih hadiah yang dipegang pelayan tersebut, dan menggantikannya untuk membawa kepada Ouranos.
"Meski hadiah ini kecil, namun akan jadi besar ketika Anda menerimanya, Yang Mulia Kaisar Agung Ouranos." Ucap Oshun dengan senyuman lembutnya, menyodorkan hadiah itu ke hadapan Ouranos.
DEG
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang dirasakan Ouranos saat melihat Oshun. Sesuatu yang membuat pelupuk hatinya nyeri.
Perasaan Ouranos aneh, ia tiba-tiba teringat dengan kejadian lalu, dimana ia pingsan ketika bertatapan langsung dengan Oshun. Jadi dengan ekspresi datarnya itu, ia membuang muka dan mengisyaratkan pelayan Istana Langit untuk mengambil hadiah tersebut dari tangan Oshun.
Jelas perbuatan Ouranos itu akan membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham, termasuk Oshun sendiri. Oshun jadi semakin yakin jika Ouranos sangat membencinya. Oshun marah, ia tak masalah jika Ouranos membencinya karena perbuatan jahat atau semacamnya. Hanya saja, Oshun tak terima jika Ouranos membencinya tanpa alasan yang jelas.
Meski sangat tersinggung akan perlakuan Ouranos, Oshun tetap menunjukkan senyuman ramahnya.
'Padahal aku baru saja ingin memuji ketampanannya itu, tapi tidak jadi. Aku justru muak melihatmu!' Teriak Oshun dalam hatinya.
'Astaga, lihatlah pria kejam ini. Lihat saja Ouranos, aku akan membuatmu tak bisa melupakan Oshun.' Benak Mantis yang juga merasa geram atas perlakuan Ouranos pada Oshun barusan. Ia bertekad ingin membuat Ouranos jatuh hati pada Oshun, hitung-hitung sekalian mengajarkannya tentang yang namanya perasaan. Jika usahanya berjalan lancar, ia rela dan ikhlas jika Oshun adalah pasangan Ouranos, karena Oshun adalah Dewi yang cantik, kuat, dan baik hati.
.
.
Setelah beberapa acara singkat diadakan untuk penyambutan rombongan setiap suku, para pelayan Istana Langkit diperintahkan untuk menuntun setiap anggota Kerajaan yang datang ke tempat penginapan mereka selama festival berlangsung.
Rombongan Kerajaan Zoi ditempatkan di Istana Hijau, di sisi barat Istana Langit. Semua rombongan sedang menjalankan aktivitasnya masing-masing, sementara Oshun sekarang sedang berjalan-jalan mengitari Istana itu karena merasa bosan.
"Bukankah Dewi Oshun itu tidak tahu malu? Bisa-bisanya dia masih berani menatap Kaisar dengan wajah polosnya itu?" Ucap salah seorang wanita berpakaian pelayan khas Istana Langit. Ia menertawakan Oshun dengan tawa remehnya.
"Yah, dia bukan satu-satunya Dewi bermuka tembok yang masih saja menggoda Kaisar setelah ditolak ribuan kali. Kita tak perlu heran lagi."
Oshun yang mendengar para pelayan yang sedang menggosipi sambil menertawakannya spontan mengepalkan tinjunya. Rasa malu bercampur amarah sedang bergumul dalam hatinya. Oshun ingin menegur mereka, tetapi ia sadar bahwa apa yang mereka ucapkan tidak sepenuhnya salah. Tetapi jika Oshun pergi begitu saja, pasti mereka akan berlaku seenaknya.
Cukup lama memikirkannya, Oshun pun memutuskan untuk menangkap basah mereka yang sedang bergosip tentangnya.
__ADS_1
"Jadi Dewi bermuka tembok bukan hanya aku saja ya? Kalau boleh tahu, siapa Dewi yang lainnya itu?" Ucap Oshun yang tiba-tiba menampakkan dirinya dari balik tembok.
...****************...