
"HIYAAA!!" Teriak Maximus memulai serangannya.
Itu adalah pusaran api yang sangat besar yang diarahkan tepat ke arah Sebasta.
Sebasta pun tak tinggal diam, ia mengeluarkan teknik air yang dikuasainya. Tentu teknik air adalah sebagian besar kekuatan yang dikuasainya karena ia berasal dari suku duyung, penguasa lautan.
Pria dari suku duyung itu membentuk tameng air yang sangat besar hingga mampu menangkis serangan api dari Maximus.
Dua elemen bertolak belakang yang saling bersinggungan itu menghasilkan asap yang cukup tebal, sehingga lumayan menganggu area pandangan di sekitar arena.
"Menakjubkan..." Gumam Oshun.
Mereka berdua terus melanjutkan pertarungan dengan berbagai teknik dan kekuatan yang sungguh luar biasa, hingga akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Maximus, Dewa Suku Langit.
Semua yang menyaksikan pertarungan itu bertepuk tangan dan bersorak dengan antusias. Banyak yang memberi selamat pada Maximus, banyak juga yang menyemangati Sebasta.
Biar bagaimanapun, Sebasta gugur dengan bangga.
Meski begitu, tetap saja ada rakyat suku duyung yang kecewa dan malu. Sebagai seorang Putera Mahkota, kebanggaan suku dan kerajaan, ada banyak beban yang harus ditanggung. Itu sudah menjadi resiko.
'Aku jadi takut...' Batin Oshun.
.
.
Tiba saatnya duel kedua berlangsung.
Kali ini adalah giliran Cleon, Putera Mahkota dari Kerajaan Asterix, Suku Perbintangan melawan Damian, Putera Mahkota dari Kerajaan Tenox, Suku Dimian (Tanah).
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak menyemangati Cleon dan Damian.
'Kuharap kau memenangkannya Cleon!' Ucap Oshun dalam hatinya.
Pertarungan pun berlangsung.
Kali pertama, untuk menghalau penglihatan Damian yang tajam, Cleon mengeluarkan kekuatan cahayanya yang sangat terang. Cahaya itu tidak hanya mengganggu penglihatan Damian, tetapi juga semua penonton di arena itu. Kecuali Cleon sendiri.
Ketika penglihatan lawan terganggu, pada saat itulah kesempatan Cleon untuk memberikan serangan tambahan.
Itu adalah kekuatan pedang seribu bintang. Teknik yang cukup terkenal dari suku perbintangan.
Pedang yang dikeluarkan Cleon bercahaya terang dan memiliki ujung yang sangat tajam. Awalnya pedang itu hanya satu, kemudian berlipat ganda menjadi seribu pedang, sesuai dengan namanya sendiri.
Dengan cepat pedang-pedang itu melesat ke arah Damian.
Namun ternyata meski penglihatannya terganggu, Damian menyadari arah datangnya serangan Cleon. Itu karena ia punya pendengaran yang sangat bagus.
Dengan kekuatannya, Damian meninggikan permukaan tanah hingga membentuk semacam kubah untuk melindunginya dari serangan itu. Ia berlindung di dalamnya.
Meski kubah yang tebal dan kokoh itu melindungi Damian, tapi serangan seribu pedang bintang milik Cleon tampaknya tidak boleh diremehkan. Pedang-pedang itu kian menghantam kuat kubah perlindungan Damian hingga retak.
Tak lama kemudian, kubah besar dan kokoh itu hancur berkeping-keping sehingga pedang-pedang Cleon dapat masuk dan menghantam ke titik tengah kubah.
Namun siapa sangka, saat asap runtuhan kubah hilang sepenuhnya, terlihat ada lubang di tengah-tengah situ. Serangan Celon jadi berakhir sia-sia.
__ADS_1
'Itu seperti jalan tikus?' Batin Celon meyakinkan dirinya.
Benar, Damian kabur diam-diam melalui lubang itu.
Pandangan Cleon liar menelusuri setiap sudut arena, mencari Damian yang entah bersembunyi dimana.
"Apa kau punya kepribadian pengecut seperti ini?!" Teriak Cleon memprovokasi agar Damian menunjukkan dirinya.
Tiga Dua Satuu...
Brakk...
Tiba-tiba serangan keluar dari dalam tanah, tepat di pijakan Cleon.
Serangan itu tidak dapat dihindari, Cleon terpental cukup jauh karena tumbukan dari bebatuan yang mengenai rahangnya.
'Cleonn!!' Teriak Oshun dalam hatinya. Wajahnya berubah khawatir melihat sahabatnya itu mendapat serangan.
"HAHAHAHA... Kau dikalahkan oleh orang yang kau sebut pengecut!" Teriak Damian dengan senyuman arogannya.
"Tsk, aku belum kalah!!!"
SYUNGG...
Kali ini Cleon melesat begitu cepat untuk melancarkan serangannya. Dan berhasil, itu adalah serangan balasan yang sempurna.
Sebagai serangan penutup, Cleon melancarkan kekuatan mempengaruhi pikiran milik sukunya, sebuah kemampuan rahasia dari suku perbintangan.
Serangan yang tak terduga itu membuat Damian mengeluarkan pedangnya, dan mengarahkannya pada lehernya sendiri.
Pertarungan pun berakhir dimenangkan oleh Cleon de Asterix. Semua orang bertepuk tangan dan menyoraki pertarungan hebat itu.
"Selain kuat, Cleon juga pintar. Jebakan cerdasnya membuat Damian masuk dalam perangkapnya." Puji Athan yang menyaksikan pertarungan itu.
'Apa aku bisa seperti Cleon?' Batin Oshun.
Sementara di sisi lain, Ouranos tampaknya tidak terlalu mempedulikan pertarungan itu. Ia terus saja sibuk dengan buku yang ia baca.
"Wah, ternyata pertarungan kali ini semakin seru ya Ouranos~" Ucap Mantis sambil menyikut lengan Ouranos.
Dengan cuek, Oranos menanggapi Mantis, katanya, "Benarkah?"
Ia mengatakan itu tapi pandangannya sibuk melihat buku di tangannya.
"Astaga, aku tahu pertarungan ini tidak ada apa-apanya bagimu, tapi jangan keterlaluan begitu dong!" Protes Mantis.
"Tidak menarik."
Mantis menghela napasnya kasar, ia sungguh lelah dengan kepribadian pria itu.
.
.
Duel terus berlanjut.
__ADS_1
Banyak pertarungan mengesankan dan hebat berlangsung, namun tak satupun dari pertarungan itu yang dapat menarik perhatian Sang Kaisar Agung Ouranos.
Hingga tibalah saatnya pertarungan terakhir, yang artinya adalah pertarungan penutup.
Ini adalah pertarungan antara Oshun dari Kerajaan Zoi, Suku Kehidupan dengan Alena El Primalae dari Kerajaan Langit, Suku Langit.
Oshun begitu terkejut saat melihat namanya muncul bersama dengan nama Dewi Alena. Ia tak menyangka akan melawan adik dari Kaisar, orang yang sepertinya sangat membenci dirinya.
"Akhirnya tiba giliran putriku." Ucap Athan antusias.
Semua rakyat suku kehidupan menyemangati Oshun dn bersorak untuknya. Suku Zoi jadi sangat heboh karenanya.
'Okay, aku harus bisa menang!' Tekadnya.
Oshun masuk arena dengan kemampuan teleportasi miliknya, sementara Alena memasuki arena dengan terbang melesat ke tengah-tengah arena.
"Mari bertarung dengan seluruh kemampuan kita, Dewi Alena." Ucap Oshun serius.
Alena tersenyum remeh dan membuang pandangannya.
'Aku tak perlu repot mengerahkan seluruh kemampuanku untuk orang lemah sepertimu.' Ucap Alena dalam hatinya.
Sekedip mata kemudian, Alena tiba-tiba berpindah ke belakang Oshun dan dengan cepat menggerakkan pedangnya untuk menusuk Oshun dari belakang.
Untungnya Oshun yang peka itu menyadari serangan Alena, dengan cepat ia mengeluarkan batang pohon yang sangat tebal dn kuat untuk melindunginya dari serangan itu. Alhasil, pedang Alena malah tertancap di batang pohon itu.
Alena berusaha keras menarik pedangnya keluar, namun sepertinya pedangnya itu menancap cukup dalam karena kekuatan Alena yang sungguh besar.
'Dia berniat membunuhku rupanya.' Batin Oshun.
Setelah bersusah payah melepaskannya, akhirnya pedang Alena terlepas.
Sebelum sempat menyerang balik, Oshun lebih dulu melancarkan aksinya.
Kali ini ia mengeluarkan pasukan akar pohon yang bergerak cepat ke arah Alena. Akar-akar pohon itu digerakkan Oshun untuk menyerang Alena.
Alena sudah mulai kewalahan menebasi akar pohon yang tak kunjung habis itu dengan pedangnya. Ia terus menjauh, menciptakan jarak yang cukup agar ia punya waktu untuk mengeluarkan kemampuannya yang berikutnya.
Saat Alena sudah berada cukup jauh dari akar-akar pohon yang masih bergerak mengejarnya, Alena menahan napasnya, lalu dalam hitunan ketiga, angin kencang keluar dari mulutnya.
Sangkin kencangnya dan kuatnya, tekanan angin-angin itu bahkan mampu mematahkan dan menghancurkan akar-akar pohon milik Oshun.
Untung Oshun berhasil berteleportasi ke area yang tidak terkena serangan langsung angin itu, kalau tidak, ia pasti sudah mati.
Oshun meringis, ia menyentuh pipinya yang terasa perih.
'Ah, rupanya aku terkena sedikit.' Ucapnya dalam hati.
Saat akan mengeluarkan jurus selanjutnya,
DEGG
Tiba-tiba seluruh otot Oshun terasa kaku. Ia tidak dapat bergerak. Kepalanya juga terasa sangat sakit.
'Apa yang, apa yang terjadi padaku?' Tanyanya dalam hati sambil menahan rasa sakit.
__ADS_1
...****************...