
"Bi-bisa saja kesialan itu bukan untukku, ada banyak pelayan bersamaku di halaman belakang tadi. Mungkin salah satu dari mereka.." Ucap dewi muda itu berusaha mengelak dan tetap berfikir positif.
"Sudah kukatakan burung itu hanya memperlihatkan wujudnya pada orang yang akan terkena sial. Bukankah kau bilang pelayan yang kau panggil itu bahkan tak bisa melihat apa yang kau lihat?"
"Tapi bisa saja dia pura-pura tidak melihat atau mendengarnya kan?" Ucap Oshun.
Meski omongannya terkesan tak peduli dengan ucapan pamannya barusan, nyatanya raut ketakutan jelas terpampang di wajahnya. Bahkan keringat dingin mulai mengucur di kedua telapak tangannya.
"Hah, kita lihat saja nanti. Aku sudah pasrah. Yang jelas Ayahmu mungkin akan marah besar nanti." Balas Avram yang kini sudah pasrah setelah mendengar kabar tidak menyenangkan dari keponakannya itu.
"Hadirin Dewa Dewi yang terhormat, kali ini kita akan masuk ke acara inti yaitu membahas mengenai laporan-laporan dari setiap kerajaan." Ucap Mantis dengan lantangnya.
Acara penyambutan dan hiburan telah selesai dan kini akan memasuki tujuan dari pertemuan ini.
Dari kejauhan, Kaisar Ouranos tampak gagah dan berwibawa duduk di atas singgasananya.
Sementara Dewa Mantis yang menjadi juru bicara selama pertemuan berlangsung, meminta setiap kerajaan memberikan gulungan laporan mereka untuk ditinjau langsung oleh Kaisar.
Beberapa perwakilan menyerahkan gulungan itu lalu meletakkannya di atas nampan kerajaan yang dipegang oleh pelayan istana langit, kemudian nampan-nampan itu akan diserahkan pada Kaisar.
"Ssstt.. Oshun, kau saja yang antar pada pelayan itu." Perintah Avram sambil menyodorkan gulungan milik mereka pada Oshun.
Oshun menuruti pamannya, lalu dengan kepala tertunduk layaknya seorang kepala pelayan, ia menghantarkan gulungan itu dan meletakkannya di nampan yang kedua. Setelah meletakkan gulungan itu, Oshun segera kembali ke tempatnya semula.
Kini Avram sudah tak lagi menikmati setiap detil pertemuan karena pikirannya diganggu oleh kesialan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Lain halnya dengan dewi cantik yang berdiri disampingnya itu, yang terus menyangkal kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kepalanya. Ia sibuk menenangkan dirinya dengan selalu berpikir positif.
Mendapati bahwa semua gulungan telah sampai di hadapannya, Kaisar Ou membuka matanya yang sedari tadi terpejam, kemudian memfokuskan pandangannya pada gulungan-gulungan itu.
Diambilnya satu gulungan dari nampan pertama, lalu dibacanya dalam hati. Gulungan itu berasal dari suku Bulan, Kerajaan Altalune. Kaisar Ouranos membaca gulungan yang lumayan panjang itu dengan sangat fokus.
Sementara di sisi lain, Dewa Mantis memulai perbincangan kecil dengan para dewa dewi yang hadir, tidak terlalu penting karena perbincangan ini memang dilakukan sambil menunggu Kaisar selesai membaca seluruh laporan.
Tak beberapa lama kemudian,
Takk..
Kaisar sudah selesai membaca laporan pertama dan menuliskan catatan kecil pada gulungan yang pertama. Setelah itu, ia mengambil gulungan selanjutnya dari nampan pertama.
__ADS_1
Dibukanya perlahan gulungan itu, dan ternyata isinya lumayan panjang juga. Dibacanya gulungan itu dengan seksama. Gulungan itu berasal dari Suku Duyung, Kerajaan Delmore.
Astaga leherku pegal sekali rasanya, tubuhku juga lelah, kakiku seperti mati rasa.. Belum lagi memikirkan tentang kesialan yang dibilang paman tadi, benar-benar pertemuan yang membosankan. Omel Oshun dalam hati sambil melirik tajam pada Dewa yang terduduk lemas di sampingnya itu.
"Salam Dewa Zoi, boleh berbincang sebentar?" Kata seorang wanita seksi yang tiba tiba saja menghampiri Avram dari sisi berlawanan.
Mendengar ada yang mengajaknya berbincang, Avram buru-buru memperbaiki posisi duduknya yang tadinya lemas menjadi tegap berwibawa.
"Ya Dewi, tentu saja boleh" Balas Avram sambil tersenyum canggung.
Oshun yang juga mendengar mereka, penasaran dan melirik sedikit ke arah Avram dan wanita itu.
Oo wanita suku duyung rupanya. Paman ini tak tahu ya kalau wanita suku duyung itu penggoda...? Batin Oshun sambil melirik tajam ke arah wanita duyung yang seksi itu.
"Kenapa Dewa terlihat lemas sedari tadi? Saya sudah memperhatikan Anda sewaktu kepala pelayan itu masuk." Kata Dewi dari suku duyung itu sambil mengarahkan pandangannya kepada Oshun.
Mendengar perkataan wanita suku duyung itu, Avram tahu bahwa wanita itu sedang menaruh kecurigaan padanya.
"Tidak ada hubungannya dengan dia. Mungkin kebetulan ketika dia kembali, saya teringat keluarga saya dan langsung merasa lemas." Jelas Avram seadanya.
Wanita itu menaikkan kedua alisnya, menatap Avram dengan tatapan sensual, lalu kemudian tersenyum, "Tampaknya Anda sangat menyayangi keluarga Anda ya..."
Dewi itu kemudian mengangkat gelas yang ia pegang sedari tadi, dan mengarahkan gelas itu pada Avram untuk mengajaknya bersulang. Avram pun melakukan hal yang sama, dan mereka bersulang.
Tak terasa, kini hanya tersisa dua gulungan kerajaan yang terletak di nampan kaca yang kedua. Kaisar Ouranos kemudian mengambil salah satu gulungan itu dan mulai membacanya.
__________________________________
Dari kerajaan Asterix, Suku Perbintangan
Hai Oshun, ini aku Cleon. Aku tau mungkin kau sedang sibuk merencanakan tentang pertemuanmu dengan Kaisar, aku harap rencanamu akan berhasil. Tetapi berhati-hati ya, aku baru mendapat mimpi kalau kau akan mengalami kesialan di hari kau memulai rencanamu. Semoga berhasil!
Cleon De'Asterix
__________________________________
Selama membaca surat itu, Kaisar Ou tampak mengernyitkan dahinya.
Setelah selesai dibacanya gulungan yang singkat itu, segera ia buka gulungan satunya yang berada di atas nampan.
__ADS_1
"Keduanya dari kerajaan Asterix. Kalau begitu dimana laporan milik kerajaan Zoi?" Gumam Kaisar.
Ouranos kemudian berdiri hingga membuat tamu yang datang bertanya-tanya, dan sontak mereka ikut berdiri juga menghentikan kegiatan masing-masing.
"Raja Damon de'Asterix, aku yakin ini bukan kesalahan yang datang darimu tapi, aku tidak bisa membiarkannya."
Suara Ouranos yang berkharisma sungguh lantang dan memenuhi ruang aula istana. Karena ucapan Kaisar Ou, spontan setiap tamu yang hadir langsung mengarahkan perhatiannya pada pemimpin suku perbintangan itu. Tak sedikit dari mereka mulai berbisik-bisik.
"Kesalahan apa itu Kaisar?" Tanya Dewa Damon dengan hormat.
"Kenapa ada dua gulungan dari kerajaan Asterix, dan dimana gulungan dari kerajaan Zoi?" Tanya Kaisar sambil melemparkan pandangannya pada rombongan suku kehidupan.
Mendengar itu, tampak beberapa orang dari suku Zoi mulai gusar dan gelisah, termasuk Oshun. Namun Avram terlihat pasrah.
Dan kesialan pun dimulai... Batin Avram.
"Maafkan hamba Kaisar. Ini adalah kesalahan fatal dari kami. Mungkin saya kurang teliti dalam memberi laporan sehingga memberikan laporan yang salah kepada Anda." Ucap Damon pada Kaisar Ou.
Dewa Damon kemudian menghadap para rombongannya dan berkata, "Maaf telah membuat kalian merasa malu."
"Cih, kalau sudah buta seperti itu memang tak pantas menjadi pemimpin. Hanya akan buat malu kaumnya saja." Ucap pelan salah seorang pelayan di tempat itu.
Mendengar pengakuan Raja Damon barusan, tidak sedikit tamu yang hadir mulai bergumam menghina pemimpin suku perbintangan itu.
"Ini bukan kesalahanmu ataupun orang-orangmu yang hadir disini, Raja Damon. Aku hanya ingin bertanya dan memastikan bahwa kau hanya memberi satu gulungan saja. Masalah ini penting dibahas agar tak ada yang berani menganggap remeh pertemuan ini."
"Kalau begitu, Dewa Zoi dan Dewa Damon ikut aku. Rapat hari ini kita sudahi dulu." Ucap Kaisar Ouranos dengan wajah yang sangat serius, terlihat bahwa ia sedang marah saat ini.
"Dewa Mantis, kuserahkan padamu." Ucap Ouranos lagi yang dibalas anggukan pelan dari Mantis.
Mendengar ucapan Kaisar Ou, Avram berdiri dan kemudian berbisik pelan pada Oshun yang berdiri di sebelahnya,
"Paman harap kau tidak membuat masalah lagi setelah ini." Setelah mengucapkan itu, Avram, Damon, dan satu pengawal mengikuti Kaisar Ouranos yang berjalan menuntun mereka keluar dari pintu utama.
Seluruh tamu yang hadir tunduk menghormat menghantarkan Kaisar Ouranos meninggalkan aula Istana.
"Ke-kesalahan apa lagi ini? Kenapa Zoi terlibat? Astaga... apa ada yang telah aku lakukan?? Ayo ingat-ingat lagi Oshun...!" Gumam Oshun pelan. Ia sudah keringat dingin karena panik.
"Kita sama-sama mendengar apa yang telah terjadi. Mari tidak usah membahasnya, apalagi memikirkannya. Para pelayan akan mengantar Anda semua ke ruangan masing-masing untuk beristirahat. Salam." Ucap Mantis pada seluruh yang hadir di aula itu dan kemudian menghormat, lalu pergi.
__ADS_1
Suasana aula kini dipenuhi suara bisik-bisik yang sangat mengganggu. Banyak mata tertuju pada suku kehidupan dan suku perbintangan.
......................