
..." KISAH LELUHUR "...
Beratus ribu tahun sebelum adanya pembagian suku di tujuh dimensi berbeda, hanya ada dunia/dimensi tempat dimana manusia berada. Tempat itu adalah bumi, dunia fana tempat semua makhluk fana berkumpul.
Kemudian, atas kehendak Pencipta, turunlah Ilham bagi manusia yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengabdi padaNya. Mereka yang mendapat Ilham, melakukan tapa, meditasi, doa, serta perbuatan kebajikan, atas dasar cinta kepada Sang Pencipta.
Atas pengabdian yang luar biasa itu, beberapa manusia diberikan kepercayaan untuk memiliki kekuatan supranatural. Itu adalah kemampuan di luar nalar manusia. Mereka yang mendapat "hadiah" ditugaskan oleh Sang Pencipta untuk melindungi seluruh isi bumi, serta menjaga keseimbangannya.
Mereka yang mendapat kemampuan, akan semakin kuat bila tetap melakukan tapa, meditasi, dan tentunya dengan berbuat kebajikan. Jika meninggalkan itu, beberapa kasus menunjukkan kemampuan supranatural manusia itu akan melemah seiring berjalannya waktu.
Namun karena manusia pada dasarnya hanyalah makhluk fana, mereka akan mati bahkan sebelum menyelesaikan tapa dan meditasi mereka.
Belum ada manusia yang benar-benar berhasil mencapai kekuatan yang sesungguhya, dan kembali untuk melindungi seisi bumi.
.
.
Suatu waktu ada seorang petapa yang sangat tulus hatinya, meminta sesuatu yang disebut "keabadian" . Ia meminta keabadian agar sekiranya kembali dari pertapaan, ia dapat melindungi bumi sampai selama-lamanya.
Melihat niat tulus itu, Sang Pencipta yang berbelas kasih pun menurunkan ajaran tentang bagaimana menjadi makhluk Immortal. Sang Pertapa pun mempelajari pengajaran itu dengan bersungguh-sungguh.
Tak membutuhkan waktu lama, dengan mengalami berbagai ujian dan cobaan, akhirnya ia berhasil mempelajarinya dan menjadi satu-satunya manusia yang menjadi makhluk Immortal.
Karena tujuannya yang luhur, ia pun mengumpulkan orang-orang yang memiliki visi dan tujuan yang sama dengannya.
Ia mendirikan sebuah perguruan tertutup yang hanya menerima mereka yang bertekad untuk melindungi bumi, dan mengabdikan dirinya untuk Sang Pencipta.
Setelah berhasil mengumpulkan mereka, pertapa itu mulai menurunkan ilmunya, termasuk ilmu mencapai keabadian.
Tidak sedikit yang gugur ketika mengikuti pembelajaran itu, hingga hanya menyisahkan tujuh pasang manusia, yang kemudian mereka disebut sebagai makhluk Immortal.
Untuk membedakan, mereka yang laki-laki disebut Dewa, dan mereka yang perempuan disebut Dewi.
.
.
Beberapa puluh tahun kemudian, mereka pun melaksanakan tugas mereka untuk melindungi bumi dan segala isinya. Menjaga keseimbangan alam, dan membantu manusia untuk menjauhi yang buruk.
Namun, lagi-lagi semuanya tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sepasang makhluk Immortal, murid dari pertapa itu, mulai melenceng dari jalan lurus. Mereka ingin memberontak dan bebas untuk melakukan kehendak sendiri tanpa terikat aturan apapun.
"Manusia saja punya kehendak bebas untuk melakukan apa yang mereka mau, lalu kenapa kita harus tetap di jalan ini?" Ucap seorang Dewa.
"Dewa Vaso, kita juga punya kehendak bebas. Tidak ada yang memaksa kita untuk melakukan ini dan itu. Hanya saja, ini adalah wujud cinta kita atas besarnya kebaikan Sang Pencipta, juga Guru yang telah mengajarkan kita." Ucap Dewa Aniello.
"Yang diucapkan Dewa Aniello benar. Dewa Vaso, apa kau terpaksa melakukan ini? Apa kau menjalani ini bukan karena dari hatimu?" Tanya Dewi Cassia.
"Kalau yang diucapkan Dewa Aniello memang benar, lalu kenapa kalian memojokkan Dewa Vaso? Ia hanya ingin bebas melakukan apa yang diinginkannya."
"Dewi Bernice, aku tidak bilang Dewa Vaso salah. Aku hanya bertanya apakah selama ini ia terpaksa melakukan ini atau tidak?" Jawab Cassia.
"Aku mencintai Sang Pencipta, Aku juga menghormati Guru. Hanya saja, aku ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan, dengan caraku sendiri." Ucap Vaso.
...
"Baiklah. Sang Pencipta dan Guru bahkan tak memaksa kita untuk melakukan ini dan itu, kami pun tak mungkin memaksamu. Lakukanlah selama itu untuk kebaikan umat manusia." Balas Aniello.
"Dewa Vaso, sebelum kau pergi, jangan lupa pamit pada Guru."
__ADS_1
"Aku tahu, Dewi Cassia."
Setelah itu, Dewa Vaso pun pergi menemui Sang Pertapa untuk meminta izinnya. Sang Pertapa memberi izinnya sambil tersenyum hangat pada Vaso.
Sesaat sebelum Vaso pergi mengembara, ia bertemu dengan Bernice.
"Dewi Bernice, aku pamit dulu." Ucap Vaso sambil tersenyum sendu.
"Anda benar-benar harus pergi? A-aku bukannya ingin melarang Anda melakukan kehendak Anda, tapi..." Bernice tertunduk sedih.
"Kalau begitu, apa Dewi juga mau ikut bersamaku?" Ucap Vaso tersenyum hangat.
Mendengar itu, mata Bernice terbelalak. Ia tertegun untuk beberapa saat.
"A-aku ingin. Tapii..."
"Tidak perlu khawatir Dewi, akan kusampaikan izinmu pada yang lain nanti, termasuk pada Guru." Vaso mengatakan itu sambil mengelus pipi Bernice dengan lembut.
"Jadi..." Ucap Vaso sambil mengulurkan tangannya.
Melihat uluran tangan itu serta senyuman hangat Vaso, Bernice yang mencintai pria itu spontan meraih tangannya.
Dengan tersenyum bahagia, mereka pun pergi meninggalkan tempat pengajaran itu untuk hidup mengembara.
.
.
Belasan tahun kemudian, Vaso membuat keributan dan semakin melenceng dengan ajaran Sang Pertapa. Dia mulai melenceng dari ajaran kebajikan. Sang Pertapa beserta murid-muridnya yang mengetahui hal itu, tidak tinggal diam dan berencana untuk menghentikan Vaso.
"Bagaimana bisa Vaso berubah menjadi seperti itu?"
"Alice, bagaimanapun awalnya kita diciptakan sebagai manusia. Kita tetap tak bisa menghilangkan sifat kemanusiaan kita. Kalian yang hebat, sudah bekerja keras untuk menekan sifat kemanusiaan itu." Ucap Sang Pertapa dengan raut kesedihannya.
"Benar Guru." Jawab yang lainnya serentak.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pada Vaso?" Tanya Dryas, salah satu Dewa, murid Pertapa.
"Tidak ada jalan lain selain membasminya."
"Ta-tapi Dewa Aniello, itu..."
"Tidak ada jalan lain, Dewi Cassia. Jika kita tidak melakukannya, manusia akan semakin dibahayakan, bumi akan hancur!" Tegas Aniello.
"Atas izin Guru, izinkan kami menghentikan Vaso."
Aniello berlutut memohon izin pada Sang Pertapa.
"Tidak, biar aku yang pergi. Tunggulah di sini."
"Tapi Guru, Anda—"
Tak menunggu persetujuan muridnya, Sang Pertapa pun langsung pergi hendak menemui Vaso, untuk menghentikanya.
Sang Pertapa membawa Vaso ke sebuah dimensi, dan mereka bertarung di sana. Meski sangat sedih, namun Pertapa itu tetap melayangkan serangan demi serangan pada muridnya itu. Pertarungan itu amat dahsyat, hingga menyebabkan pertumpahan darah.
Akhirnya Vaso berakhir hari itu juga.
Tetapi sebelum mati, Vaso yang mulai sekarat meminta permintaan terakhirnya kepada si Pertapa.
__ADS_1
"Gu-guru, i... izinkan aku, tidur di... di pangkuanmu." Ucapnya terbata.
Meski marah dengan kelakuan muridnya, namun Pertapa itu sebenarnya sangat menyayanginya. Jadi ia ikuti permintaan terakhir muridnya itu.
"Gu-guru... aku tau ini sudah terlambat. Ma-maafkan aku... Aku sudah, sudah gelap mata. Maaf..." Ucap Vaso sambil berurai air mata, dengan darah di sekujur tubuhnya.
"Guru... Aku, aku sudah menikah dengan Bernice—"
Uhukk... Uhukk..
Vaso terbatuk-batuk. Bersamaan dengan itu, darah segar keluar dari mulutnya.
"Bernice sedang mengandung anakku. To-tolong... tolong lindungi mereka. Do-sa- dosaku tidak ada... hubungannya de-ngan me-re-ka..."
Pertapa itu menatap muridnya dengan ekspresi sedih, lalu mengangguk menyetujuinya.
Setelah itu, Vaso pun menghembuskan napas terakhirnya, dan meninggal di pangkuan Sang Guru. Pertapa itu menutup mata Vaso, lalu mendoakannya pada Sang Pencipta.
Bernice tentu sangat syok dan terpukul ketika mendengar kabar kematian suaminya. Ia berteriak histeris dan sempat ingin bunuh diri. Namun, kata-kata penghiburan dari Dewi-Dewi seperguruannya membuatnya mau untuk melanjutkan hidup.
Meskipun, di lubuk hati terdalamnya masih ada amarah yang membekas.
.
.
.
Beratus tahun kemudian, Bernice telah melahirkan seorang putera. Mereka semua kembali menjalani hidup seperti biasanya.
Lalu, Sang Pertapa melakukan panggilan untuk murid-muridnya agar berkumpul untuk membahas suatu hal penting.
"Ada apa Guru?" Tanya Dewa Gavriil.
"Ini terkait insiden ratusan tahun yang lalu. Mengenai Vaso."
Degg
Nama itu terasa menikam jantung Bernice. Ia kembali mengingat kejadian itu. Rasa sakitnya, seolah kembali.
Melihat Bernice, Cassia spontan menggenggam tangan wanita itu, dan tersenyum lembut padanya. Ia menyemangati Bernice.
"Setelah kupikir-pikir, Vaso melakukan itu karena kita tinggal di dunia yang fana ini. Kita tinggal di tempat dimana kerapuhan, dan segala hal buruk berada. Memang tugas kita untuk mencegah agar manusia tidak mendekati itu. Tapi, daripada kita juga terjatuh ke lubang yang sama dan malah menciptakan kerusakan yang beribu kali lipat, lebih baik kita tinggal di tempat lain. Dan mengawasi bumi dari kejauhan." Jelas Pertapa itu.
"Aku percaya pada kalian. Sejauh ini, kalian sudah luar biasa menahan diri. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan kita tak akan berbuat seperti Vaso. Karna pada dasarnya, kita juga dulunya adalah manusia. Sifat dasar ini takkan bisa dihilangkan." Tambah Sang Guru.
"Tapi Guru, dimana kita akan tinggal?" Tanya Alice.
"Baru-baru ini, aku melakukan meditasi dan mendapat Ilham. Aku berhasil menemukan tujuh dimensi. Ketujuh dimensi itu adalah tempat yang sangat layak. Kalian kubebaskan memilih tempat tinggal kalian di ketujuh dimensi itu. Kalian hiduplah, dan jagalah bumi ini dari sana. Bentuklah kelompok untuk membantu kalian mewujudkan tujuan kita." Jelas Pertapa itu.
"Lalu Guru akan tinggal dimana?" Tanya Cassia.
Pertapa itu hanya tersenyum, lalu berkata, "Aku akan selalu ada di sekitar kalian, untuk mengawasi."
Dengan segala pertimbangan, akhirnya mereka pun setuju.
Lalu setelah diskusi itu, mereka pun berpencar dan menetap di tujuh dimensi berbeda. Masing-masing dimensi dijaga oleh sepasang Dewa dan Dewi, kecuali Bernice yang hanya pergi dengan puteranya.
Lalu bagaimana dengan Sang Pertapa?
__ADS_1
Ia hilang seolah ditelan Semesta. Kabarnya tak terdengar dimana-mana, sekeras apapun para muridnya mencoba untuk mencari Sang Guru.
...****************...