
"Saya pamit undur diri, Kaisar." Timpal Oshun memotong ucapan Mantis.
Ia menunduk hormat, lalu dengan sihirnya, dalam sekejap Oshun menghilang dari tempat itu.
Ouranos hanya menatap kepergian Oshun dengan ekspresi yang sulit diartikan.
.
.
.
Aula Istana Zoi, Suku Kehidupan, Dimensi ke-4
"Kalian sudah kembali? Kenapa cepat sekali?"
"Bu-bukankah ada perintah Istana yang menyuruh kami untuk kembali, Dewi Iona?" Ucap seorang kepala pelayan dari rombongan itu.
"Apa? Tidak ada yang mengeluarkan perintah seperti itu. Dan... dimana Kak Avram dan Oshun?" Tanya Iona mencari saudara dan juga keponakannya.
"Kudengar dari Kak Hannes, Oshun juga ikut kan?" Tanya Iona lagi.
Glekk
Kepala pelayan yang mendengar pertanyaan itu, spontan menelan salivanya karena gugup.
Gawatt... Ternyata Dewi Oshun sengaja mengirim kami pulang lebih dulu, supaya dia bisa menyelesaikan urusan dengan Kaisar. Ah, kenapa pula aku harus memercayainya tadii...!! Sesal Kepala Pelayan itu dalam hati.
"Kenapa wajah kalian begitu? Dimana mereka berduaa??" Tanya Iona khawatir karena melihat semua orang di rombongan itu berekspresi sendu.
"Maaf Dewi, Dewa Avram sedang ditahan di Istana Langit." Jawab kepala pengawal.
"Apa?! Apa yang terjadi sampai Kak Avram bisa ditahan di Istana Langit?! Lalu bagaimana dengan Oshun?!"
"Mengenai itu..."
Kepala pelayan itu kemudian menceritakan semua yang ia tahu tentang insiden yang menimpa Avram beserta suku mereka selama rapat berlangsung. Mendengar penjelasan itu, beberapa kali Iona menghela napas, lalu bergumam menyayangkan peristiwa itu.
Dalam hati, ia gelisah dan juga khawatir memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada keponakannya. Apalagi bila masalah ini sampai ke telinga Dewa Athan, sang penguasa Suku Kehidupan saat ini.
"Hah... kalau begitu aku yakin masalah gulungan surat itu ada kaitannya dengan Oshun."
"Anak itu memang ceroboh..." Ucap Iona lagi.
"Dewi Iona, kami juga sangat khawatir dengan Dewi Oshun. Ia menipu kami dan menyuruh kami untuk kembali duluan, agar Ia bisa menyelesaikan masalah itu sendirian tanpa harus merepotkan kami. Tapi, tapi kami terlalu bodohh..." Ucap kepala pelayan itu. Ia tampak sangat menyesali perbuatannya.
"Tidak, kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik. Oshun memang anak yang nakal, dia tak pernah berhenti membuat orang di sekitarnya khawatir."
"Bagaimana ya kalau Kak Athan sampai tahu mengenai ini? Menurut kalian Kak Athan sudah tahu?" Tanya Iona meminta pendapat mereka semua yang ada di situ.
"Mengenai itu—
TREEEEEEEREREREREREEEEEETTTT
Terdengar bunyi terompet Istana.
__ADS_1
Astaga, Dewa Athan sudah kembalii !! Benak kepala pelayan yang mulai panik.
Iona melihat ke arah pintu aula Istana, lalu berkata, "Sepertinya kabar itu sudah sampai pada Kakak."
"Dewi Iona, apa kita harus keluar menyambut Yang Mulia Athan?" Tanya kepala pengawal.
"Kurasa tidak perlu. Kakak pasti sedang buru-buru menemui kita." Jawab Iona menebak.
Dan benar saja, setelah mengatakan itu, di aula Istana muncul sepasang sosok dengan jubah kebesarannya bersama dengan cahaya hijau yang menyelimuti mereka.
Melihat Sang Penguasa yang datang bersama dengan Permaisurinya, serentak mereka yang ada di aula Istana itu, membungkuk untuk memberi salam.
"Selamat datang kembali Yang Mulia!" Ucap mereka serempak, kecuali Iona.
Setelah itu, Iona pun ikut memberi salamnya, "Selamat datang Kakak, dan Kakak Ipar." Ucapnya sambil menunduk.
Drap Drap Drap
Tak ada jawaban dari Dewa Athan, hanya ada suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke arah mereka.
"Dimana Hannes?! Kenapa dia membiarkan Oshun pergi dengan Avram?!" Ucap Athan dengan suara yang lantang memenuhi seisi aula itu.
"Kakak, Kak Hannes sedang keluar." Jawab Iona takut-takut.
"Dasar! Ini semua juga salah Avram!! Bagaimana bisa dia membiarkan Oshun ikut! Akan kuhajar dia nanti, lihat saja!" Ancam Athan.
Wajah Athan sangat memerah menahan amarah. Para pelayan dan pengawal yang ada di ruangan itu sampai bergidik ngeri melihat kemarahan Athan. Itu adalah pertama kalinya Athan terlihat semarah itu.
"Sayang, sabarlah. Mari kita pikirkan baik-baik solusinya. Jangan terbawa emosi." Bujuk Dewi Natasya, istri Dewa Athan.
Athan menghela napasnya panjang, lalu berkata, "Sepertinya kita semua terlalu memanjakan Oshun. Lihatlah bagaimana kepribadian anak itu. Dia sudah membuat malu suku kita." Ucapan Athan seperti sedang mengadu kepada istrinya.
"Ya, kita memang terlalu memanjakan Oshun selama ini. Tapi melalui peristiwa ini, aku yakin dia akan segera berubah menjadi lebih dewasa." Ucap Natasya dengan lembut. Dewi yang penuh aura positif itu memang selalu saja bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa buruk yang dilihatnya.
.
.
Athan kemudian menghela napasnya lagi. Lalu, diletakkannya kepalanya di pundak Natasya untuk melepas beban di hati dan pikirannya. Natasya tersenyum, lalu mengelus lembut kepala suaminya itu untuk menenangkannya.
Melihat pemandangan manis itu, mereka yang ada di aula Istana itu pun juga ikut tersenyum. Mereka dapat merasakan betapa besarnya rasa cinta Dewa Athan pada Istrinya itu.
"Tunggu..." Ucap Athan, kembali mengangkat kepalanya.
"Dari kabar yang kudengar, hanya Avram yang ditahan di Istana Langit. Lalu dimana sekarang Oshun" Tanya Athan sambil melihat ke arah rombongan yang kembali dari Istana Langit itu.
"Yang Mulia, Dewi Oshun bilang bahwa ada perintah dari Istana yang memanggil kami untuk segera kembali. Dewi Oshun bilang untuk menyerahkan masalah Dewa Avram kepadanya. Mau tidak mau, kami terpaksa meninggalkan Dewi Oshun di Istana Langit, Yang Mulia. Maafkan kami..." Ucap kepala pelayan itu sambil bersimpuh di hadapan Athan.
"Hah, anak itu benar-benar..." Ucap Athan sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa nyut-nyutan.
"Sudahlah, kalian hanya melakukan tugas kalian."
Setelah Athan mengatakan itu, kepala pelayan beserta pelayan, dan pengawal di rombongan itu, bangkit berdiri dari posisi mereka.
"Bagaimana kabarmu adik ipar?" Tanya Natasya pada Iona dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Kakak ipar." Jawab Iona ikut tersenyum.
"Kalau begitu aku harus pergi ke Istana Langit untuk membereskan masalah ini." Ucap Athan.
"Biar aku temani ya."
"Tidak perlu sayang. Aku tidak mau kau ikut menanggung malu karena ulah Oshun dan Avram." Ucap Athan menolak istrinya.
"Oshun juga putriku, Dewa Athan. Aku juga bertanggung jawab atas kelakuan buruknya."
"Tidak, tidak boleh. Biar aku saja yang menyelesaikan ini. Kau tunggulah kami kembali di sini." Jawab Athan.
"Benar Kakak Ipar. Kurasa lebih baik Kak Athan pergi sendiri, aku khawatir ada pihak yang menyerang Kakak Ipar karena peristiwa ini." Bujuk Iona.
"Iona benar, sayang. Tunggulah disini. Kami akan kembali."
"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lepas kendali, tenangkan pikiranmu ya?" Pinta Natasya pada suaminya itu.
"Iya, iya..."
Lalu Athan berbalik hendak membuka portal menuju Istana Langit. Tetapi sebelum itu...
Grepp
Natasnya meraih tangan Athan, dan menggenggamnya.
Menyadari tangannya digenggam, Athan menoleh melihat ke arah orang yang menggenggam tangannya itu. Ia mengangkat kedua alisnya, bertanya, mengapa Sang Istri menghentikannya. Apa ada hal yang masih ingin disampaikannya? Begitu pikir Athan.
"Kembalilah kesini dalam keadaan sama seperti saat kau pergi dari sini, mengerti kan sayang?" Ucap Natasya sambil tersenyum.
Athan tahu, dari senyuman itu tersirat rasa khawatir yang mendalam untuknya, Oshun, dan juga Avram. Natasya hanya mencoba terlihat seolah dia tenang dan kuat. Begitulah ia dari dulu.
"Aku mengerti sayang." Ucap Athan dengan lembut. Lalu diraihnya tangan gemulai itu, dan dikecupnya.
Setelah itu, Athan berbalik. Ia kembali fokus memusatkan energinya untuk membuka portal ke Dimensi pertama, yaitu Istana Langit. Istana Langit adalah dimensi yang sulit dibuka, jadi membutuhkan tenaga dan konsentrasi yang lebih.
Maafkan aku Natasya, aku tidak bisa janji akan kembali kesini seperti sedia kala. Karena aku sudah berjanji pada Kaisar untuk bertanggung jawab atas kesalahan apapun yang dilakukan oleh suku kita. Saat ini Avram sedang dihukum menggantikan aku. Dan saat aku tiba di sana, selanjutnya akulah yang akan dihukum. Ucap Athan dalam hatinya.
Tidak lama kemudian, terbukalah sebuah portal yang besar menuju dimensi pertama. Tanpa berlama-lama lagi, Athan melangkah masuk ke dalam portal itu. Lalu, portal itu pun tertutup.
"Baiklah, kalian sudah bekerja keras. Terimakasih ya, sekarang kalian sudah boleh kembali beristirahat." Ucap Natasya dengan senyuman lembutnya menatap rombongan pelayan dan pengawal itu.
"To-tolong jangan berterimakasih pada kami Yang Mulia! Kami tak melakukan apa pun. Sebaliknya, sebaliknya..." Ucap kepala pengawal yang hampir berderai air mata.
"Iya,iya... tidak perlu khawatir. Athanku akan menyelesaikan segalanya. Beristirahatlah." Balas Natasnya.
"Terimakasih Yang Mulia!!" Ucap mereka serempak, lalu pergi meninggalkan aula itu.
"Kakak Ipar, Anda juga beristirahatlah. Anda baru kembali." Ucap Iona.
Natasnya tertawa kecil, "Aku baik-baik saja Iona."
Apanya yang baik-baik saja? Anda terlihat sangat lelah... Apa Anda tidak tidur semalaman karena mendengar kabar ini? Ucap Iona dalam hati.
...****************...
__ADS_1