
Sekarang tibalah saatnya seluruh keluarga inti tiap Kerajaan berkumpul untuk mengikuti jamuan yang telah dipersiapkan oleh Istana Langit. Mereka berjalan masuk ke ruangan tempat perjamuan sambil saling berbincang satu sama lain.
Saat pintu megah ruang perjamuan itu dibuka, mereka semua tak henti-hentinya berucap kagum. Area jamuan yang megah dan luas sungguh memanjakan mata.
Sebenarnya tidak mengejutkan jika Istana Langit memiliki keindahan seperti ini, karena Suku Langit memanglah suku yang kaya akan segala sumber daya dan pengetahuan.
Satu-satunya Istana yang memiliki ornamen hampir serupa dengan milik Istana Langit adalah Istana Laluna, Istana milik Suku Bulan yang terkenal akan lapisan bangunannya yang memancarkan cahaya biru.
Namun karena kebijakan yang telah diatur, dan berdasarkan kesepakatan dengan Kaisar Ouranos, tak sembarang orang diizinkan untuk datang berkunjung ke Istana Bulan. Para delegasi penting bahkan harus meminta persetujuan dari Kaisar Ouranos jika ingin berkunjung. Seolah ada sesuatu milik Suku Bulan yang tidak boleh diketahui oleh dunia luar.
Itulah sebabnya kenapa Suku Bulan disebut suku yang misterius, karena mereka menyimpan banyak rahasia mengenai sukunya, sampai Kaisar pun turun tangan untuk melindungi informasi penting mengenai mereka.
Kembali ke suasana perjamuan,
Suku Zoi atas perwakilan Raja Athan, Permaisuri Anastasya, dan Oshun, duduk di meja makan khusus yang telah disediakan untuk mereka, yang ditempatkan cukup dekat dengan meja makan tempat Ouranos. Jarak meja mereka hanya sekitar lima langkah, dan itu cukup membuat Oshun kesal.
'Kenapa meja kami harus sedekat ini?! Padahal aku berharap mejaku dekat dengan Cleon!' Keluh Oshun dalam hatinya. Meski kesal, Oshun hanya menampakkan wajah datarnya sambil menatap sekeliling.
Sebenarnya ia sangat ingin bertegur sapa dengan teman lamanya Cleon, yang sekarang adalah Pangeran Mahkota dari Suku Perbintangan. Karena mereka sudah sama-sama menjadi pewaris, mereka selalu disibukkan dengan urusan Kerajaan, sehingga tak punya waktu untuk mengobrol secara langsung. Semenjak kembalinya Oshun dari Istana Langit 500 tahun yang lalu, mereka hanya bisa mengobrol melalui surat. Dan sekarang pun mereka hanya bisa saling tatap-tatapan karena posisi duduk mereka yang bersebrangan.
Setelah berbagai macam makanan dan minuman dihidangkan di hadapan para tamu, Ouranos mulai mengucapkan sepatah dua patah kata untuk mengawali acara jamuan itu.
Meski mulut pria dingin itu mengeluarkan sanjungan manis dan ucapan terimakasih, namun tidak dengan wajahnya. Ekspresi pria itu lebih seperti menunjukkan ketidakpedulian, datar dan angkuh.
Namun tampaknya tak ada yang mempermasalahkan itu karena begitulah Ouranos yang dikenal. Justru akan lebih mengejutkan jika dia tiba-tiba tersenyum di depan semua orang.
Setelah ucapan singkat dari Ouranos, acara jamuan resmi dimulai.
Semua tamu terhormat dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan, dan menikmati hiburan yang telah dipersiapkan oleh Istana Langit. Mereka juga dipersilahkan menikmati acara itu dengan bebas.
Ouranos yang tengah menikmati minuman anggur di mejanya kemudian melirik ke sebelah kanannya, tempat dimana Suku Zoi duduk. Tampaknya ia ingin mengatakan sesuatu pada mereka.
"Oh ya, belum lama ini kudengar Kerajaan Zoi baru mengangkat seorang pewaris, kuucapkan selamat untukmu Putri Mahkota Oshun Zoi." Kata Ouranos, lagi lagi dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
Karena jarak tempat duduk Ouranos dengan tempat duduk Suku Zoi bisa dibilang dekat, jadi perkataannya masih dapat terdengar jelas oleh mereka.
Raja Athan dan Permaisuri Anastasya tentu sangat senang mendengar ucapan selamat dari Kaisar Agung. Jadi mereka ikut menghormat menerima ucapan selamat dari Ouranos.
Oshun pun tak tinggal diam. Entah apa yang dipikirkannya, ia perlahan berdiri dan berjalan 3 langkah mendekat ke arah Ouranos, hingga apa yang dilakukannya itu cukup menarik perhatian orang-orang.
Semua orang bertanya-tanya, termasuk Dewa Athan dan Dewi Anastasya. Jangan tanya apa yang tengah dirasakan Alena saat ini. Adik Kaisar Ouranos itu sekarang tengah menggeram karena dibakar api cemburu.
Meski tau Oshun berjalan mendekat ke arahnya, Ouranos bersikap acuh tak acuh. Dia kembali memandang lurus ke depan sambil sambil menikmati minuman anggurnya.
'Ck, akan kuhancurkan kesombonganmu itu! Aku tidak akan takluk lagi olehmu, dasar pria tak berperasaan!' Batin Oshun menggeram karena melihat sikap Ouranos.
Tak lama kemudian Oshun menampilkan senyuman manisnya sambil menunduk hormat pada Ouranos, lalu berkata, "Saya mengucapkan terimakasih pada Anda, Kaisar Ouranos Yang Agung. Saya menerima ucapan selamat Anda yang terlambat."
'Rasakan penghinaanku itu.' Batinnya.
Oshun merasa bangga dan senang atas kemenangannya saat mengucapkan kalimat itu kepada Ouranos. Habisnya, belum pernah ada Dewi yang terang-terangan menyinggung Kaisar Agung.
Lain halnya dengan Oshun, Dewa Athan dan Dewi Anastasya yang mendengar dengan jelas ucapan putri mereka, terkejut setengah mati menahan rasa cemas. Mereka takut kejadian 500 tahun lalu terulang kembali, dimana Suku Zoi harus menanggung malu karena kelakuan Oshun.
Setelah cukup lama menunduk dan memberi hormat, Oshun kembali berdiri tegak sambil tersenyum menatap Ouranos.
Diam
Ouranos hanya menatap wajah Oshun datar, lalu mengangguk pelan. Tampaknya ia menerima ucapan Oshun begitu saja, dan malah mempersilahkan Oshun untuk kembali duduk ke tempatnya.
Yah, Oshun tidak terlalu terkejut akan reaksi yang diberikan pria itu. Itu sesuai dengan perkiraannya. Begini pun sudah cukup membuat Oshun puas. Ia hanya ingin tau, sejauh apa pria itu bisa bersikap dingin padanya. Ia ingin menghancurkan kesombongan pria itu perlahan. Itulah rencananya kali ini.
Lain halnya dengan Oshun, Athan dan Anastasya terkejut akan reaksi yang diberikan Ouranos. Mereka berpikir Ouranos akan marah dan tersinggung, mengingat sifat Ouranos yang keras dan tegas.
Mereka tak menyangka Ouranos akan membiarkan ucapan kurang ajar putri mereka berlalu begitu saja. Tetapi daripada itu, mereka sesungguhnya lega dan bersyukur karena Ouranos mau bermurah hati.
Sekembalinya Oshun ke tempat duduknya, kali ini Anastasya harus dikejutkan lagi atas reaksi yang ditunjukkan Ouranos.
Mata tajam Anastasya menangkap perubahan ekspresi yang tidak biasa dari pria itu. Ouranos yang sedikit menunduk, tiba-tiba menunjukkan senyuman tipisnya sekian detik.
__ADS_1
"Kurasa aku salah lihat." Gumam Anastasya sambil menggeleng pelan.
Tidak, tentu saja Anastasya tidak salah lihat. Karena sekarang Alena pun menyaksikan hal yang sama. Ia semakin geram karena apa yang dilihatnya itu.
Alena cemburu dan marah karena Oshun bisa-bisanya membuat Ouranos yang dingin itu tersenyum, walau sebentar. Seharusnya yang mampu melakukan itu adalah dia, dan bukan orang lain!
'Godaan apa lagi yang diberikan wanita itu?!' Geram Alena dalam hati.
Tidak tahan dengan apa yang dilihatnya itu, Alena memilih untuk meninggalkan ruangan perjamuan itu terlebih dulu.
Mantis tak sengaja melihat ekspresi Alena yang jelas sangat marah ketika Alena berjalan melewatinya.
Mantis penasaran, jadi ia memutuskan untuk pergi pada Ouranos dan bertanya padanya. Siapa tau Ouranos tau alasan kemarahan si Dewi pemarah itu. Karena biasanya apa yang dilakukan Alena pasti ujung-ujungnya selalu berkaitan dengan Ouranos.
"Ada apa lagi dengan Alena? Aku heran kenapa penyakit marah-marah tidak jelasnya muncul lagi. Kau tau dia kenapa?" Tanya Mantis sambil memukulkan kipasnya pelan ke bahu Ouranos.
Ouranos lagi-lagi hanya cuek sambil meminum segelas anggurnya. Ia tidak peduli dengan Alena, karena wanita itu selalu sangat merepotkannya.
"Hei, bisa tidak kau langsung menjawabku ketika aku bertanya?" Protes Mantis.
"Aku tidak tau."
"Kalau kau bilang begitu dari tadi kan beres." — "Oh ya, apa yang kalian bicarakan tadi? Kau dan Dewi Oshun itu, apa yang dia bilang padamu?"
"Bukan urusanmu."
"Hei, ayolah jangan pelit begitu~"
"Tak kukatakan pun, kau pasti akan segera tau. Jadi pergilah, dan jangan menggangguku."
"Ya memang benar. Baiklah, nikmatilah makananmu, aku mau mencaritahunya dulu." Ucap Mantis berlalu meninggalkan Ouranos.
Ketika Mantis hendak berjalan ke meja Suku Zoi, sepersekian detik kemudian Ouranos menghilang ditelan api biru miliknya.
Tampaknya tidak ada hal menarik di perjamuan ini sampai pria itu pergi sebelum acara berakhir, begitulah pikir Oshun saat menyadari Kaisar yang tidak lagi berada di tempat duduknya.
__ADS_1
...****************...