OSHUN

OSHUN
Maafkan Aku


__ADS_3

Di ruangan pribadi milik Kaisar


Bersamaan dengan cahaya api ungu muncullah Ouranos dengan raut wajah tidak suka.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Tanyanya pada seseorang yang juga ada di situ.


"Eumm ... tidak ada sih. Tapi Kaisar, ada yang membuatku sangat penasaran sampai-sampai berani menerobos habitatmu ini."


Beberapa saat kemudian Hector masuk lewat pintu belakang membawa minuman teh hijau kesukaan Kaisar, lalu menyuguhkannya di meja yang ada di hadapan Sang Kaisar.


"Sebenarnya apa yang membuatmu menghentikan rapat tadi?" Tanya seseorang itu lagi.


"Hah ... aku berusaha untuk melupakannya hari ini, tetapi kau malah mengingatkanku lagi." Ucap Ouranos sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"Ah, Hamba permisi dulu Kaisar Ou, Dewa Mantis." Ucap Hector setelah meletakkan teh itu. Ia tahu bahwa ia tak boleh mendengar percakapan itu.


Setelah Hector meninggalkan ruangan, Ouranos menunjuk gulungan laporan penyebab masalah tadi. Mantis kemudian beranjak mengambil gulungan yang dimaksud Kaisar, lalu membacanya dalam hati.


Setelah selesai membacanya, digulungnya kembali surat itu lalu diletakkannya di tempatnya semula.


"Ini hanyalah masalah kecerobohan saja, kau tak perlu menghukumnya sampai-sampai harus menahannya dalam sel keputusasaan." Ucap Mantis.


Setelah menyeruput teh hijau kesukaannya, Ouranos menanggapi Mantis, "Kalau masalahnya sesederhana itu, aku juga tak perlu menyiksanya sampai seperti itu."


"Jadi karena apa? Ayolah jangan cerita setengah-setengah ...


...


"Dia tidak mau mengakui hal yang sebenarnya, dan dia masih berani berbohong padaku meski berulang kali ku sindir." Jawab Ouranos.


"Aku masih tidak mengerti. Kenapa kau jadi sensitif akhir-akhir ini?"


Ouranos hanya menunjukkan ekspresi datarnya menanggapi ucapan Mantis. Lalu ia menghela napasnya sebelum melanjutkan pembicaraan,


"Dia bukan satu-satunya Dewa yang hadir dalam rombongan itu, aku tahu saat ia menjawab beberapa pertanyaanku tadi."


"Maksudmu, salah seorang lagi menyamar sewaktu rapat tadi? Untuk apa sampai harus menyamar?" Tanya Mantis tak habis pikir.


Namun pertanyaan Mantis itu sepertinya tidak digubris oleh Ouranos. Ouranos masih sangat sibuk dengan teh di hadapannya.


Sesekali diaduknya teh hijau itu lalu diminumnya lagi, setelah itu dituangkannya lagi dari ketel ke gelasnya. Itulah yang dilakukannya sekarang.


"Tapi itu artinya Avram sangat menyayanginya kan?"


"Rasa sayang yang seperti itu akan menciptakan Dewa-Dewi yang tidak bertanggung jawab, dan melahirkan Bia yang baru. Aku merasa marah karena ia melindungi orang yang jelas berbuat salah. Kalau seandainya mereka mengaku aku pasti akan memaafkannya. Lagi pula rapat itu memang harus dihentikan terlepas dari masalah Avram yang menutupi kesalahan orangnya, karena tetap saja laporan Zoi yang asli tidak ada kan?" Jelas Ouranos.


Mendengar itu, spontan Mantis mengangguk pelan menyetujuinya.


"Apa kau sudah tahu siapa yang coba dilindungi Avram?" Tanya Mantis penasaran.


"Mungkin yang bernama Oshun." Jawab Ouranos.


"Kenapa menurutmu begitu?" Tanya Mantis sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Karena saat kutanya tadii ...

__ADS_1


* Ingatan Kaisar Ho :


"Siapa Oshun? Kenapa Putra Mahkota Asterix sampai repot-repot mengirimkan gulungan surat resmi padanya?"


"Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua Kaisar. Sayalah yang sangat ceroboh karena membawa gulungan yang tertukar..."


.


.


.


"Ada apa?" Tanya Mantis, memecah lamunan Ouranos.


"Saat kutanya tadi, dari kata-kata Avram sepertinya ia berusaha melindunginya. Padahal aku hanya bertanya mengenai siapa Oshun, aku tidak bertanya apakah Oshun terlibat atau tidak. Tetapi jawabannya justru secara tidak langsung menyatakan bahwa Oshun terlibat." Jelas Ouranos.


Mantis lagi-lagi mengangguk sambil memukul-mukul pelan bahu kirinya dengan kipas perak di tangannya.


"Kaisar Ou, apa kau tahu siapa itu Oshun Zoi?" Tanya Mantis.


Ouranos menaikkan kedua bahunya seolah mengisyaratkan "mana kutahu".


Dengan seberkas senyuman, Mantis berkata, "Dia adalah pewaris kerajaan Zoi, Dewi Oshun Zoi, anak kandung dari Dewa Athan Zoi.


"Ternyata penggemar barumu lagi-lagi adalah seorang Dewi. Asal kau tahu saja, kalau kau pergi ke kerajaan Zoi kau akan sangat jarang sekali bertemu dengan wanita suku itu. Wanita adalah lambang keberuntungan disana. Dan Dewa Athan adalah salah satu yang sangat beruntung. Aku sekarang mengerti kenapa Avram mati-matian melindunginya." Jelas Mantis.


"Tapi, kenapa Oshun ingin sekali bertemu denganmu, sampai-sampai hal ini melibatkan pangeran Cleon?" Tanya Mantis lagi.


"Entahlah." Kata Ouranos cuek.


"Itu tidak penting untuk dibahas."


Heee... apa-apaan reaksi itu? Ucap Mantis dalam hati. Ia tersenyum jahil.


"Tapi dari yang kudengar Dewi Oshun ini baik hati dan sangat cantik, dia sampai-sampai pernah disandingkan dengan Dewi Chyntia loh." Ucap Mantis dengan antusiasnya.


Mendengar itu Ouranos tertawa kecil, bukan karena ada yang lucu melainkan karena merasa ucapan Mantis hanya omong kosong.


Takk...


Mantis memukulkan kipas perak di tangannya ke meja yang berada tepat di hadapannya.


"Kau tidak percaya ya ...?" Tanya Mantis yang mulai merasa kesal.


"Sudahlah, aku tidak tertarik membahas yang seperti itu. Mau bagaimana pun Oshun sudah melakukan kecerobohan yang fatal, sudah itu dia bersikap seperti pengecut. Apa menurutmu Dewa Athan tidak salah memilih penerus? Entah dia wanita satu-satunya atau apapun itu, penjahat tetaplah penjahat." Ucap Ouranos menatap tajam.


"Baiklah baiklah, aku mengerti. Lalu apa yang akan kau lakukan pada Avram dan Oshun?" Tanya Mantis.


"Avram akan kubebaskan sampai ia memutuskan untuk mengaku, atau sampai Dewa Athan sendiri yang datang ke Istana Langit. Kalau Oshun, aku yakin dia sudah pergi dari tempat ini. Dan kalau dia peduli pada Pamannya, dia pasti akan kembali." Jawab Ouranos yang terdengar dingin dan kejam itu.


"Bukankah Oshun ini hebat? Sekali kemunculannya sudah menyebabkan banyak masalah." Ucap Mantis dengan tawa kecilnya.


"Pergilah dari ruanganku, aku sudah lelah." Perintah Ouranos.


"Hm ... aku permisi Kaisar." Ucap Mantis sambil menghormat lalu seketika menghilang ditelan cahaya putih seperti kilat.

__ADS_1


Ternyata Putri Dewa Athan. Aku sangat kecewa, putrinya sungguh tidak mirip dengan Ayahnya. Batin Kaisar Ou.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain...


"Apa yang sudah aku lakukan..." Gumam wanita cantik bercadar itu dengan tubuh yang kini diam mematung.


Keringat mulai membasahi pelipisnya, mata berwarna cokelat muda itu kini menajam berusaha untuk mengingat-ingat kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga menyeret Pamannya.


Ternyata ini kesialan yang ingin diberitahu burung api tadi. Paman, bagaimana nasib Paman sekarang? Batin Oshun.


Kemudian seorang wanita berpakaian pelayan, datang mendekati Oshun.


"Nona, mari kita ke ruangan istirahat." Bisik seorang pelayan di dekat Oshun sambil menyentuh lembut pundaknya.


Rupanya sentuhan pelayan itu menyadarkan Oshun dari pikirannya yang kacau. Oshun mendongakkan kepalanya dan melihat ke seluruh sudut aula Istana langit, ternyata tempat itu sudah kosong.


Hanya tersisa rombongan sukunya, beberapa pelayan, dan beberapa prajurit istana langit yang tengah berjaga saat ini.


Dengan anggukan pelan yang terkesan lemas wanita itu menanggapi pelayannya, lalu ia berbalik dan ditatapnya satu per satu orang yang ikut dalam rombongannya lekat-lekat.


Seketika mata indahnya berbinar dan perlahan air matanya terjatuh, membasahi cadar yang dikenakannya. Para pelayan, jendral, dan prajurit yang melihat Dewi tersayang mereka menangis, merasa panik dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangisnya.


"Tidak apa-apa Nona, ini bukan kesalahan Anda." Bujuk seorang prajurit.


"Iya Dewi, nanti kecantikan Dewi bisa hilang lohh ..." Sambung seorang lagi.


Lalu mereka semua yang ada di dalam rombongan itu juga ikut mengeluarkan kata-kata penghiburan  untuk memperbaiki suasana hati Dewi mereka. Meskipun pangkat dan tingkatan mereka bak sudra, mereka terlihat sangat akrab dengan Oshun, tetapi masih dalam konteks yang wajar.


Hal itu memang dilakukan karena permintaan Oshun sendiri yang mau akrab pada siapa pun, entah apa pun pangkat mereka.


Kini Oshun tertunduk dengan kedua tangan yang terjuntai sambil mengepal keras. Dewi muda itu kesulitan untuk menghentikan tangisnya. Di balik cadar, digigitnya bibir merah miliknya berusaha untuk menahan suara tangisnya.


"M-maaf ... aku minta maaf ... karena aku kalian telah mendapat malu." Ucap Oshun yang tiba-tiba bersimpuh di hadapan rombongannya, dengan isakan tangis yang terasa menyayat hati.


Rombongan Zoi yang menyaksikan Dewi Agung mereka mau merendahkan dirinya di hadapan mereka, sungguh membuat mereka tidak enak hati. Spontan rombongan Zoi juga bersimpuh sujud dihadapan Oshun,


"Mohon Dewi jangan berbuat seperti ini. Kami mohon Dewi ..." Ucap sang Jendral.


"Kami Mohon Dewi." Sambung yang lainnya lagi.


Mendengar para prajurit serta pelayan-pelayan tersayangnya memohon padanya, dengan kaki gemetar Oshun bangkit berdiri dibantu oleh pelayan dekatnya.


"Sudahlah Dewi, ini sudah terjadi. Kita tidak bisa melawan nasib. Kami tetap menyayangi dan mencintai Dewi kok. Lagipula kalau memang kesalahan ini akibat perbuatan Dewi, pasti alasannya karena kecerobohan kan?" Ucap pelayan dekat Oshun dengan lembut sambil merangkul pundak lemas Oshun.


Dengan terisak-isak Oshun menjawab pelayannya itu ,


"Te-terimakasih banyak. Ta-tapi, Paman...?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2