
"Icarus, kemarilah!"
Suara lembut wanita yang sama terus bergema di kepala Ouranos. Entah siapa Icarus, Ouranos tak peduli. Ia hanya ingin agar suara itu segera hilang dari kepalanya.
"Kaisar!" Hector berteriak memanggil Ouranos yang tampak sangat gelisah.
Dan tidak lama kemudian,
"Argghh..."
Hector, Mantis, Oshun dan Elenio terkesiap saat melihat Kaisar Ou yang tiba-tiba bangun dan bereriak. Ouranos sangat berkeringat. Kondisinya saat ini mirip seperti seseorang yang habis mengalami mimpi buruk.
Melihat Kaisar Ou yang akhirnya sudah sadarkan diri, Mantis, dan Hector sontak menggeser paksa Oshun dari posisinya.
Mereka berebut mengambil tempat di dekat Kaisar.
Fyuh... syukurlah aku berhasil. Batin Oshun lega.
"Ouranos, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya Mantis yang sangat khawatir. Ia sebenarnya sangat ingin memeluknya, namun diurungkannya niat itu agar umurnya tetap panjang.
"Ah, aku juga tidak tau." Ucap Ouranos lirih sambil memegang dahinya yang terasa masih berdenyut.
"Lebih baik kita bahas itu nanti, untuk saat ini Kaisar harus istirahat dulu." Ucap Elenio.
Mantis, Hector, dan Oshun pun mengangguk menyetujui saran itu.
"Kaisar bisa sadar, semuanya berkat pertolongan Dewi, terimakasih Dewi." Tambah Elenio sambil membungkuk memberi hormat pada Oshun.
"I-ituu..." Oshun terbata saat melihat Dewa Elenio malah membungkuk di hadapannya.
"Benar. Atas nama Istana Langit, saya juga turut berterimakasih." Mantis turut membungkuk hormat, diikuti oleh Hector.
Karena tidak enak, Oshun juga ikut membungkuk lebih rendah dari mereka bertiga,
"To-tolong jangan seperti ini. Saya tidak layak menerima hormat para Dewa." Ucap wanita itu.
"Kenapa tidak layak? Kau sudah bekerja keras, terimakasih." Ucap Ouranos sambil tersenyum menatap Oshun.
Mendengar itu, Oshun spontan mendongakkan kepalanya menatap ke arah sumber suara.
Degg
Oshun terkesima, jantungnya tak berhenti berdentum keras saat melihat wajah Kaisar yang sedang tersenyum padanya. Walau senyum itu agak ditahan karena mungkin pria itu tengah menahan sakit, tapi ketampanannya benar-benar luar biasa.
Siall!! Ini... ini... Mahakaryaa...!!! Batin Oshun memuji pria yang dilihatnya itu.
"Ekhem..."
Saat mendengar deheman Mantis, Oshun cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lalu saat ia menyadari bahwa Mantis, Hector, dan Elenio sudah tidak menunduk lagi, cepat-cepat Oshun juga menegakkan badannya.
Ah, betapa malunya ia ketika sangat jelas menatap kagum pada Kaisar tadi.
"Jadi, ada apa kau mencariku tadi? Negosiasi apa maksudmu?" Tanya Ouranos.
"Eum... itu, say—"
"Maafkan saya Kaisar, saya rasa lebih baik Anda beristirahat dulu. Pembi—"
Kaisar mengangkat telapak tangannya, sehingga membuat ucapan Hector terputus.
"Maafkan saya Kaisar." Ucap Hector menunduk pada Ouranos.
"Sebaiknya kita selesaikan ini. Aku tidak punya waktu untuk meladeni yang seperti ini nanti. Jadi anggap saja aku mau mendengarkanmu sekarang karena kau sudah membantuku." Ucap Ouranos dingin.
Degg
Kata-kata Ouranos seakan menusuk jantung Oshun.
"Yang seperti ini" itu maksudnya apa? Apa aku beban? Menyusahkan? Apa aku hal yang sepele di matanya? Batin Oshun sedih.
__ADS_1
"Baik, Saya mengerti Kaisar." Hector menunduk hormat pada Ouranos.
"Kalau begitu, silahkan Anda jelaskan tujuan Anda, Dewi." Ucap Mantis.
Oshun mengangguk.
"Sebenarnya saya datang mencari Anda untuk membi—"
"KAKAK!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita yang cukup kencang.
Hah ya ampunn, sampai detik ini pun aku masih ditimpa sial! Oshun berteriak kesal dalam hatinya.
BRAKK...
Tiba-tiba seseorang membanting pintu ruangan itu hingga terbuka dari luar. Mereka yang ada di dalam ruangan sontak kaget dan menatap ke sumber suara.
"KAKAK!! Kakak, apa yang terjadi denganmu?!"
Seorang wanita berlari masuk. Wanita itu sampai ngos-ngosan menghampiri Kaisar Ou yang sedang terduduk lemas.
Hah, yaampun siapa yang memberitahu Alena tentang ini? Ouranos berkata dalam hati.
"Kakak? Kenapa wajah kakak sangat pucat?"
Dewi itu hendak menyentuh wajah Ouranos, namun tangannya langsung dicekal oleh Mantis.
"Anda tidak perlu khawatir Dewi Alena, Kaisar sudah lebih baikan. Ia hanya butuh istirahat." Jelas Mantis.
"Tapi Kenapa Kakak jadi seperti ini?"
"Kami bahkan belum mengetahui alasannya, Dewi." Jawab Elenio.
Jadi, siapakah Dewi Alena ini? Tanya Oshun dalam hatinya.
Tak sengaja, suara batin Oshun terbaca oleh Kaisar.
Mereka yang ada di ruangan itu, menoleh menatap Kaisar Ou. Sementara Oshun, dia terbelalak dan kaget karena Kaisar mengetahui apa yang dipikirkannya.
Apa hanya kebetulan? Tanya Oshun dalam hatinya.
"Kenapa kepala pelayan ada di ruangan Kakak?" Alena bertanya sambil menatap Oshun.
Huh? Apa Dewi Alena tidak menyadarinya? Kukira dia kuat. Oshun bermonolog.
"Sa-saya adalah Dewi Oshun, dari suku kehidupan. Maaf saya terlambat menyapa Dewi." Ucap Oshun dengan sikap yang sopan.
Alena menatap sinis pada Oshun, "Dewi Oshun? Cih, kau sampai melakukan trik murahan ini hanya untuk mendekati Kaisar?"
"Apa? Tidak? Ah, memang benar saya sampai menyamar begini hanya untuk menemui Kaisar. Tapi saya tidak punya niat untuk menggodanya." Jelas Oshun.
"Benarkah? Lalu apa tujuanmu sampai masuk ke tempat ini?"
Alena bergerak mendekati Oshun, bermaksud untuk mengintimidasinya.
"Hentikan Dewi Alena, bersikap baiklah pada Dewi Oshun, karena dia sudah membantu Kaisar tadi." Mantis berusaha menghentikan perbuatan kekanak-kanakan Alena.
"Wanita ini? Yang benar saja, Kakakku tak mungkin membutuhkan bantuan dari Dewi yang lemah sepertinya."
"Dewi Alena, jaga ucapan Anda!" Mantis meninggikan suaranya.
"Kenapa? Memang benar kan? Kalau dia kuat, kenapa dia masih ditempatkan di dimensi Zoi?" Ucap Alena dengan ekspresi remeh.
"Alena, haruskah aku mengeluarkanmu dari tempat ini?" Kaisar membuka suara, berbicara dengan suara beratnya.
Hanya dengan satu pertanyaan itu, Alena bungkam dan tidak melanjutkan hinaannya lagi.
"Dewi Oshun, bisa kau jawab pertanyaanku tadi?"
__ADS_1
"Bi-bisa Kaisar." Balas Oshun sambil menunduk hormat.
Kemudian ia melanjutkan perkataannya,
"Seperti yang saya katakan tadi, saya ingin bertemu Kaisar untuk bernegosiasi sekalian mengakui kesalahan saya. Gulungan itu adalah kelalaian saya, saya yang diperintahkan Paman untuk membawa gulungan laporan itu. Tapi saya malah membawa gulungan yang salah.Paman saya tak ada hubungannya dengan insiden ini. Karena itu, saya mohon lepaskan Paman saya. Se-sebagai gantinya bagaimana jika Anda menghukum saya saja Yang Mulia Kaisar?!"
Oshun sampai bersimpuh memohon pada Kaisar Ou agar Pamannya segera dilepaskan.
Cih, dasar menyedihkan! Ledek Alena ketika melihat apa yang dilakukan Oshun.
"Bagaimana ya? Tapi Pamanmu sedang menjalani hukumannya sekarang menunggu Ayahmu menyelesaikan tugasnya. Aku tidak bisa seenaknya melepas dan menghukum yang bukan utusan langsung, Dewi."
"Ayah? Ke-kenapa Ayah terlibat?" Oshun menatap gugup ke arah Ouranos.
"Dewa Athan berjanji akan bertanggungjawab penuh jika sukunya sampai melakukan kesalahan di pertemuan ini. Aku menerima suratnya bahkan sebelum pertemuan ini berlangsung." Jelas Ouranos.
Mata Oshun mulai berlinang menahan air mata yang akan keluar.
"Tapi... tapi Ayah dan Paman tidak bersalah sama sekali..." Oshun tergetar. Kini air matanya mulai menetes.
"Aku tau mereka tidak bersalah. Dan aku akan tetap menghukumnya agar kau mengerti tentang tanggung jawab, dan belajar menjadi lebih dewasa, Dewi." Ucap Kaisar Ou.
"Aku berharap kau menyesali perbuatanmu ini, dan belajar dari peristiwa ini." Tambah pria berhati dingin itu lagi.
"Maaf ya Dewi Oshun, pria di sebelahku ini memang orang yang seperti ini." Mantis ikut menimpali.
"Anda tidak perlu khawatir Dewi, Dewa Avram akan dipulihkan ketika masa hukumannya berakhir. Dia akan baik-baik saja." Ucap Hector memberi penghiburan pada Oshun yang terlihat sangat sedih.
...
"Tapi Ouranos, karena kau menolak permintaan Dewi Oshun barusan, itu artinya Dewi Oshun masih boleh meminta hal lain kan?" Tanya Mantis.
"Tentu saja." Jawab Ouranos dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Alena tidak terima dan ingin protes atas pernyataan itu, "Permintaan? Apa maksudnya itu?"
"Ya, sebagai hadiah dari Kaisar karena Dewi Oshun menyembuhkannya tadi." Jawab Mantis kepada Alena.
Ingin sekali Mantis meyeret Alena keluar dari ruangan itu. Namun ia merasa lebih baik mengurungkan niatnya itu agar tidak menambah masalah.
"Mintalah hal lain, Dewi Oshun." Ucap Kaisar menatap tubuh Oshun yang masih bersimpuh di hadapannya.
Hal lain? Bagaimana bisa aku meminta hal lain dalam situasi seperti ini? Ucap Oshun dalam hati.
"Saya... untuk saat ini saya tak menginginkan apa pun. Bolehkah saya menggunakan kesempatan ini di lain hari, Kaisar?" Jawab Oshun dengan suara yang tak lagi bersemangat.
Oshun merasa hancur, sia-sia, dan sangat menyesal. Tidak ada satupun rencananya yang berhasil sampai detik ini, seolah Alam Semesta tak merestuinya untuk bersenang-senang di Istana Langit.
Niatnya hanya untuk menjalani peristiwa menyenangkan selama di Istana Langit, namun sekarang malah berbalik. Bukan peristiwa menyenangkan, melainkan peristiwa yang sangat menyedihkan.
"Kau ini banyak maunya ya." Alena setengah berteriak, dan memelototi Oshun yang masih bersimpuh.
"Baiklah, jika itu maumu."
"Kakak!" Alena tidak terima atas keputusan Kakaknya.
Ia tidak suka karena keputusan itu berarti akan ada pertemuan selanjutnya antara Ouranos dan Oshun.
Perlahan, Oshun mengangkat tubuhnya yang mulai pegal karena cukup lama bersimpuh di lantai.
Ia menunduk merapikan pakaiannya, lalu dengan mata yang memerah dan bengkak karena habis menangis, ia menatap mereka yang ada di ruangan itu.
"De-Dewi, Anda—"
"Saya pamit undur diri, Kaisar." Timpal Oshun memotong ucapan Mantis.
Ia menunduk hormat, lalu dengan sihirnya, dalam sekejap Oshun menghilang dari tempat itu.
Ouranos hanya menatap kepergian Oshun dengan ekspresi yang sulit diartikan.
__ADS_1
...****************...