
Oshun begitu semangat dan antusias karena akhirnya mereka akan sampai. Gadis itu terbelangah sebentar, pandangannya terpaku pada keindahan pemandangan di sekitar jalan utama menuju gerbang perbatasan istana langit.
Hembusan angin yang begitu sejuk menyentuh kulit wanita nan cantik itu, mata lentiknya sesekali menutup ketika hembusan angin mengganggu penglihatannya.
"Wahh... indahnyaa..., damai sekali berada di suku langit." Gumam Oshun sambil menghirup udara segar dan kedua tangannya ia rentangkan mengudara.
"Hei, perhatikan langkahmu. Lihat, rombongan lain sudah ada didepan. Sekarang kita paling belakang, ayo cepat.." Cetus Avram yang mempercepat langkahnya.
"Ah tunggu," Pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya karena teringat akan sesuatu.
"Ada apa Paman? Lihat, sudah ada rombongan yang sampai. Kita sudah tertinggal jauh nih.." Omel Oshun pada pamannya yang tiba-tiba saja mengajak berhenti.
"Lebih baik kau menyamar disini saja. Kita masih punya banyak waktu." Suruh Avram.
"Terserah Paman.." Balas Oshun dengan wajah malasnya. Mau tidak mau memang harus menurut pada pamannya itu, demi berhasilnya rencana ini.
Avram pun memerintahkan beberapa pelayan untuk berjalan didepan terlebih dahulu, agar tidak terlihat ketika Ia sedang menyihir Oshun.
Dari belakang rombongan para pelayan, pria itu terlihat mengayunkan tangannya, berkonsentrasi dan memusatkan energinya.
Kemudian terlihat secerca cahaya biru keluar dan menyambar tubuh Oshun. Seketika berubahlah Oshun layaknya seorang kepala pelayan.
"Hmm, sempurna. Ayo cepat.. ternyata tinggal kita yang belum sampai sama sekali." Ucap Avram. Kemudian ia melangkah terburu-buru.
"Aduhh.. Paman sih bikin malu saja." Omel Oshun kesal.
"Iya maaf. Dengar, bersikaplah seperti layaknya seorang kepala pelayan."
"Iya, aku mengerti." Sahut Oshun setelah mendengar ucapan pamannya itu.
Kerajaan Zoi adalah rombongan terakhir yang sampai di gerbang perbatasan Istana Langit.
"Kerajaan Zoi, Suku Kehidupan, Dewa Avram Zoi beserta seluruh rombongan memasuki Kerajaan Langit...!" Terdengar suara lantang seorang kepala prajurit memperkenalkan rombongan suku kehidupan.
Pria itu berperawakan tinggi, tubuhnya terlihat gagah ketika mengenakan pakaian baja itu. Ia berdiri tepat di depan gerbang perbatasan .
Memperkenalkan suku-suku yang datang, memang biasa dilakukan ketika diadakan pertemuan formal, untuk mencegah datangnya seorang penyusup.
Dewa Avram bersama seluruh rombongannya pun berhenti, lalu sesaat melihat ke tempat Kaisar berdiri. Kemudian serentak mereka menghormat pada Kaisar Ouranos, Dewa Mantis, dan Dewi Alena, tak lupa juga kepada Dewa-Dewi lainnya yang turut hadir.
__ADS_1
"Salam Yang Mulia Kaisar Ouranos, Dewa Mantis, dan Dewi Alena. Saya adalah utusan Dewa Athan pemimpin kerajaan Zoi." Ucap Avram sambil menunduk diikuti seluruh rombongannya.
Hah.. kenapa harus jadi kepala pelayan sih? Kalau begini mana bisa melihat wajah Kaisar dan siapa tadi yang dibilang Paman? Dewi A-Alena? Siapa dia?
Oshun menghela napasnya lagi.
Siapa sih yang buat peraturan kalau kepala pelayan itu tak boleh menatap langsung pada Dewa atau Dewi? Omel Oshun dalam hati sambil menunduk.
Kaisar Ouranos kemudian mengangguk tanda menerima salam dari Dewa Avram.
Seluruh rombongan kemudian jalan mengikuti perarakan untuk memulai acara pertemuan besar. Masing-masing rombongan Kerajaan duduk sesuai dengan tempat yang telah ditentukan.
Oshun lagi-lagi terbelangah melihat kemegahan aula pertemuan Istana Langit. Seluruhnya bernuansa merah dan emas, dengan pilar-pilar besar berukirkan naga yang menjulang tinggi menopang langit-langit kaca yang sungguh sangat megah.
Tetapi meskipun ada pemandangan indah yang membuat Oshun takjub, Ia masih merasa kesal karena tidak bisa melihat pemandangan indah lainnya. Pemandangan yang dimaksud adalah wajah Kaisar Ou sendiri. Padahal gadis itu sungguh penasaran dengan ketampanan Kaisar Ouranos.
Menurut peraturannya, seorang kepala pelayan atau pelayan yang dibawa mengikuti acara besar dilarang melihat wajah Dewa atau Dewi lain secara langsung, selain kepada tuan mereka sendiri.
"Ssstt..Oshun, jagalah sikapmu. Paman tau kau pasti sangat ingin melihat wajah Kaisar kan? Tenang saja, karena nanti akan ada saatnya." Ucap Avram setengah berbisik pada Oshun.
Sekarang Oshun bersikap layaknya benar-benar seperti seorang kepala pelayan. Sambil menunduk dan berdiri disamping Avram, Oshun menganggukkan kepalanya tanda meng-iyakan perkataan pamannya itu.
Dewa Mantis berucap demikian dengan suara lantang yang memenuhi aula Istana. Tangan kanannya yang memegang gelas emas berisi minuman khas Istana Langit, ia angkat dan diikuti oleh Dewa-Dewi yang hadir untuk mulai bersulang.
Aw...leherku pegal sekali, kalau begini terus aku tak akan sanggup. Batin Oshun yang sudah merasa sangat gelisah.
Saat musik tembang sudah dimainkan, dan para penari sudah mulai menari, dengan kepala sedikit mendongak Oshun melihat sekitar.
Ia berusaha memastikan kalau tak ada yang memperhatikannya, lalu diam-diam Oshun kabur dari tempat itu menuju tempat yang sunyi untuk melepas penatnya
Cukup jauh berjalan, sampailah ia di suatu ruangan yang cukup luas. Di ruangan itu terdapat kolam di sisi tengahnya, mirip seperti balkon, namun lebih luas. Jika berjalan lurus terus mungkin akan menuju kamar-kamar tamu, karena ada banyak sekali para pelayan yang keluar dari sana.
Tempat ini sebenarnya sangat cocok untuk tempat Oshun melepaskan penatnya, karena begitu indah. Melihat ada tempat duduk yang cukup luas di sisi kolam, Oshun memutuskan untuk duduk dan melepas penat disana.
Desiran angin yang begitu sejuk menghanyutkan Oshun dalam rasa kantuk yang semakin mendalam. Angin itu berhembus ke wajah cantik itu sampai-sampai hampir mengangkat burka tipis yang menutupi wajahnya.
Lama Ia duduk di salah satu bangku di tempat itu, samar-samar Oshun mendengar seperti suara siulan burung. Ia mendengar suara itu sambil berusaha menahan kantuknya. Dengan mata terpejam Oshun berusaha mendengar baik-baik darimana asal suara itu.
Suara siulan itu terdengar semakin jelas ketika Oshun mendekatkan telinganya ke arah kanannya. Semakin ke kanan dari posisi duduknya, suara itu terdengar semakin jelas.
Karena penasaran, akhirnya Oshun memutuskan untuk pergi mengikuti arah datangnya suara itu.
__ADS_1
Hingga suara itu menuntun Oshun sampai di suatu tempat. Tempat itu mungkin taman belakang istana. Ada beberapa pelayan juga yang berlalu lalang di tempat itu.
Oshun masih sibuk mencari asal suara siulan yang sangat menarik perhatiannya itu. Ternyata datangnya dari arah balkon yang dipenuhi rumput-rumput liar yang terdapat ditengah taman.
"Ah, ternyata suaranya dari sana ya." Ucap Oshun.
"Tunggu dulu, Apa jangan-jangan aku dipermainkan ya? Entah kenapa aku yakin.. sudahlah.." Gumam Oshun pada dirinya sendiri.
Saat rasa ingin tahunya sudah mulai memudar, tiba-tiba Oshun mendengar suara halus yang berbisik di telinganya. Suara halus dan lembut itu terdengar memanggil-manggil namanya.
"Hei! Siapapun yang mempermainkanku awas saja ya...! Akan kupatahkan tulang belulangnya sampai remukk..!!" Teriak Oshun kesal yang sebenarnya dicampur sedikit rasa takut.
Teriakan Oshun itu ternyata mengundang perhatian para pelayan yang berlalu lalang di tempat itu. Ada yang memandangnya dengan tatapan bingung, ada pula dengan tatapan sinis sambil tersenyum miring. Mungkin mereka berfikir bahwa Oshun sudah gila.
Oshun menyipitkan matanya saat menyadari tiba-tiba ada secerca cahaya muncul dari balik tembok. Oshun berulang kali mengatur fokus matanya, memastikan bahwa apa yang dilihatnya memanglah nyata.
Dewi cantik itu akhirnya memutuskan pergi ke balik tembok setengah tiang itu, dan berniat memeriksanya secara langsung. Ia terkejut saat melihat ternyata ada seekor burung yang sekujur tubuhnya diselimuti api.
Oshun terkejut melihat burung itu, karena selama ini ia sama sekali belum pernah melihat yang seperti itu. Burung itu tetap terbang disitu dan mengeluarkan siulannya lagi, siulan yang sama. Siulan burung itu terdengar keras dan sangat jelas.
Oshun bingung kenapa hanya dia yang bereaksi seperti ini, sementara yang lainnya biasa saja.
Hanya ada dua kemungkinan, antara Oshun sedang dikerjai oleh seseorang atau memang burung ini peliharaan Istana Langit, sehingga orang-orang disini juga sudah terbiasa.
Gadis itu tak mengerti sama sekali kenapa burung itu terus bersiul, menatap dirinya. Ia mengedipkan dan menggosok-gosok lembut matanya berulangkali, berusaha memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah benar.
Tak lama kemudian, burung api itu berubah wujud menjadi seorang wanita yang tidak terlihat jelas wajahnya. Melihat itu Oshun membulatkan matanya dan spontan menutup mulutnya karena kaget dengan apa yang dilihatnya.
Wanita berselubung api merah itu sama sekali tak mengatakan apapun pada Oshun. ia hanya melayang di tempat yang sama sambil menari-nari dengan indahnya.
Untuk memastikan sekali lagi tentang apa yang dilihatnya, Oshun kemudian memanggil salah seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"Ah, permisi.. boleh ikut saya sebentar?" Tanya Oshun.
"Baik Nona." Sahut pelayan itu sambil tertunduk karena mengira Oshun adalah kepala pelayan sungguhan.
Oshun menarik tangan pelayan muda itu dan membawanya ke balik tembok setengah tiang tadi, untuk menunjukkan apa yang dilihatnya.
......................
__ADS_1