OSHUN

OSHUN
Bantuan


__ADS_3

Tubuh gadis itu bergetar. Pandangannya tak lagi jelas karena air mata yang mengganggu penglihatannya. Oshun berlari kecil meninggalkan tempat itu melalui pintu belakang.


Ia bermaksud untuk menemui siapa saja yang bisa menghentikan hukuman untuk Ayahnya. Gadis itu tak bisa membayangkan betapa ngerinya keadaan Sang Ayah nanti setelah menjalani hukumannya. Karena yang ia lihat, baru sebentar saja, keadaan pamannya sudah separah itu.


Brukk


"Akh!" Oshun memekik kesakitan, saat kepalanya terbentur keras dengan sesuatu di hadapannya.


Benturan itu membuat Oshun terjatuh cukup keras dan terjembab ke tanah.


"Tsk, siapa di situ?!" Sergah seorang pria yang tubuhnya ditabrak oleh Oshun barusan.


Tampaknya dadanya kesakitan karena benturan yang cukup keras tadi. Ia mengelus-ngelus dada bidangnya.


"Hei, Aku tau ada seseorang di sini." Ucap pria itu lagi.


Pria itu tak lain adalah Hector, tangan kanan Kaisar Ouranos. Sekarang, ia tampak meraba-raba udara dengan kedua tangannya, mencari-cari tubuh yang menabraknya.


Itu dilakukanya karena ia tak bisa melihat Oshun saat ini, karena kekuatan magis yang masih digunakan oleh gadis itu.


Sementara, Oshun membekap mulutnya sendiri, agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Hei, aku tau kau sedang menggunakan jurus tak terlihat. Muncullah, selagi aku meminta baik-baik, dan katakan kenapa kau datang ke sini." Ucap Hector.


Wajah pria itu kini tampak mengetat. Sepertinya ia sudah mulai marah. Lalu,


Sringg


Dihunuskannya pedang yang tiba-tiba saja muncul di tangan kirinya, tepat mengarah ke tempat dimana Oshun duduk saat ini.


AKH!! Teriak Oshun dalam hati, sambil dikencangkannya bekapan mulutnya sendiri.


Ujung pedang Hector saat ini posisinya benar-benar tepat berada di leher Oshun.


"Jangan main-main denganku, aku tau kau di sana. Kuhitung sampai tiga, jika tak mau muncul juga, akan kutebas kau." Ancam Hector dengan seringaiannya.


Se-sekarang aku harus apa? Aku...


Oshun panik karena tak tahu harus berbuat apa. Jika dia muncul saat ini, bisa saja dia akan dianggap melakukan kejahatan, padahal ia hanya datang untuk mengunjungi Pamannya.


Selain itu, tidak ada gunanya meminta tolong pada pria dihadapannya ini, karena ia sangat kaku dan penurut, mirip seperti tuannya. Begitulah pertimbangan Oshun.


"Satu..."


Hector mulai menghitung.


Ibuu... apa yang harus aku lakukann??? Batin Oshun. Ia menutup matanya, memaksa otaknya untuk berpikir dan segera memutuskan sesuatu.


"Duaa..." Ucap Hector sambil menyipitkan sudut matanya, dan mengambil kuda-kuda, bersiap untuk menebas.


Ahh, tak taulah...!


"Ti—" Belum sempat menyelesaikan hitungannya, akhirnya Oshun memutuskan untuk melepas kekuatannya, dan muncul di hadapan Hector.


"Dewi Oshun? Anda masih di sini?" Tanya Hector. Ia mengendurkan genggaman pedangnya, dan tidak lagi memasang kuda-kuda.


...


Oshun tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya terdiam menunduk.


"Tidak, kenapa Anda diam-diam datang, dan diam-diam kabur dari tempat ini?" Tanya Hector. Matanya menyipit penuh selidik.


Oshun tak langsung menjawab, karena ia tak sanggup. Air mata lagi-lagi membendung, sehingga membuatnya malu untuk menatap Hector secara langsung.


"Jika Anda diam saja, saya jadi semakin mencurigai Anda." Ungkap Hector.

__ADS_1


"Aku datang ke sini karena mendengar Paman sudah dibebaskan. Aku menguping pembicaraan pelayan, lalu datang diam-diam mengikuti mereka untuk memeriksa keadaan Paman. Lalu..."


Air mata Oshun perlahan menetes membasahi pipinya.


"Lalu, aku tersadar. Kalau Paman sudah dibebaskan, itu artinya... itu artinya Ayahku sudah ada di sini dan akan dihukum, kan? Jadi, jadi aku ingin menemui Ayah... aku ingin... aku ingin memohon pada siapa saja agar hukuman Ayah dihentikan." Jelas Oshun dengan suara bergetar.


"Anda tau kan kalau itu percuma saja? Kaisar yang membuat keputusannya, dan Anda bahkan sudah mencoba memintanya kemarin, tak ada yang berubah kan?" Ucap Hector dengan suara yang melunak.


Brukk


Oshun berlutut di hadapan Hector.


"A-apa yang Anda lakukan Dewi?!" Ucap Hector sambil mundur beberapa langkah, menolak sikap kelewat sopan itu.


"Hiks, tolong... tolong bantu aku Dewa Hector... aku tak mau Ayah sampai mati atau jadi cacat karena aku. Aku mohon Dewa... Hiks.. Aku Mohonnn..." Isak Oshun sambil mengatupkan kedua tangannya.


Sepertinya tidak mungkin sampai mati, kan Dewa Athan itu seseorang yang dihormati Kaisar. Tapi kalau cacat... Ya, itu mungkin juga. Batin Hetor memikirkan ucapan Oshun.


Hector kemudian menunduk dan menyamakan posisinya dengan posisi Oshun. Lalu dengan sihirnya, disimpannya kembali pedang yang sedari tadi dipegangnya.


"Sekarang Anda tahu kan betapa kerasnya Suku Langit? Betapa ketat dan tegasnya peraturan Istana Langit? Apa tak ada yang pernah memberitahukan ini pada Anda? Hah, itulah sebabnya tak semua Dewa atau Dewi sanggup menginjakkan kakinya di tempat ini." Jelas Hector sambil menatap Oshun yang masih menunduk.


"Asal Anda tau, di tempat ini, Anda tidak boleh menundukkan kepala, bahkan sampai berlutut di hadapan sesama Dewa atau Dewi, kecuali di hadapan Kaisar. Karena jika Anda melakukannya, Anda akan dipandang sebelah mata." Ucap Hector lagi sambil memegang kedua bahu Oshun, mengajaknya untuk ikut berdiri.


"Terimakasih... Tapi, tapi saya mohon, hanya Anda yang bisa saya andalkan sekarang. Tolong bantu saya menggagalkan hukuman untuk Ayah..." Pinta Oshun dengan isak tangisnya yang mulai agak mereda.


Kali ini, gadis itu menatap wajah Hector. Ia masih mengatupkan tangannya meminta pertolongan.


Degg


Saat melihat ekspresi gadis itu, tiba-tiba Hector teringat pada adik perempuannya yang telah tiada 200 tahun yang lalu, akibat monster yang menyerang di lembah perbatasan.


"Acasha..." Racaunya pelan memanggil nama adiknya.


"Baiklah, tapi saya tak bisa membantu Anda banyak. Hanya ada 1 cara yang paling aman, tapi saya tak yakin ini akan berhasil." Ucap Hector.


"Apapun itu akan saya coba, terimakasih Dewa Hector..." Balas Oshun penuh syukur sambil menunduk.


"Sudah saya bilang, jangan sembarangan menundukkan kepala di tempat ini!"


Hector berucap demikian sambil mencekal bahu Oshun agar segera menghentikan sikap itu.


"Ah, maaf, saya refleks." Balas Oshun yang tangisannya mulai mereda.


"Jadi apa yang bisa saya lakukan?" Sambung Oshun bertanya.


"Tidak ada cara lain selain memohon pada Kaisar." Jawab pria itu.


"Apa? Bahkan permohonanku yang sebelumnya saja ditolak, bukankah hasilnya akan sama saja...?"


"Tidak. Asal Anda tau saja, terakhir kali Anda memohon, saya cukup terkejut melihat respon Kaisar. Biasanya Ia akan marah atau bahkan langsung mengusir Dewa atau Dewi yang memohonkan hal yang tak masuk akal, tapi itu tidak dilakukannya pada Anda. Jika Anda mencobanya lagi, mungkin hasilnya akan berbeda." Jelas Hector.


"Tapi..." Ucap Oshun penuh keraguan.


"Itu terserah Anda. Dari awal saya juga sudah bilang saya tak bisa banyak membantu Anda, dan kemungkinan berhasilnya petunjuk saya ini pun sangat kecil." Jelas Hector lagi.


"Ba-baiklah. Aku akan mencobanya." Ucap Oshun mengusir keraguannya, menyetujui saran Hector.


Mendengar itu, Hector tesenyum tipis.


"Kalau begitu ikut saya." Ucap Hector sambil memegang tangan Oshun. Lalu dalam sekejap mereka menghilang dari tempat itu.


.


.

__ADS_1


.


Rikusea, Istana Langit


"Ini dimana?" Tanya Oshun setelah mereka sampai di suatu tempat yang asing.


"Rikusea, tempat dimana Kaisar berada saat ini." Jawab Hector.


"Oh ya, Anda tidak boleh masuk ke dalam." Tambahnya lagi.


"Kenapa?"


"Karena itu tempat pemandian. Kaisar sedang mandi." Jawabnya.


"Ma-mandi? Lalu bagaimana aku bisa memohon padaNya?" Tanya Oshun. Ia bingung dengan pemikiran pria di hadapannya itu.


"Anda bisa berteriak memohon dari luar, karena bangunannya tidak kedap suara." Jawab Hector enteng.


Oshun menghembuskan napasnya kasar, "Lalu, bukankah tidak sopan mengganggu Kaisar saat sedang mandi?"


Hector juga menghela napasnya frustasi, "Kalau begitu Anda mau menunggu sampai Kaisar selesai mandi? Bukankah itu buang-buang waktu? Dan ingat, Dewi, jangan sampai menerobos masuk ke dalam jika tidak ingin mendapat malu, karena di sekitar sini sebentar lagi akan banyak Dewa dan Dewi lalu-lalang." Jelasnya.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya Dewa Hector." Ucap Oshun sambil tersenyum pada Hector.


Hector kemudian mengangguk membalas senyuman itu.


"Kalau begitu saya pergi dulu, saya masih ada urusan, Dewi." Pamit Hector, lalu seketika menghilang ditelan cahaya putih miliknya.


.


.


Setelah Hector pergi meninggalkan Oshun sendirian di tempat itu, Oshun pun pergi mendekati pintu masuk Rikusea yang dijaga oleh dua orang pengawal.


Saat melihat Oshun mendekat ke arah pintu, kedua pengawal itu tertegun menatap kecantikan Oshun.


"Siapa Anda? Ada perlu apa kemari?" Tanya salah seorang pengawal itu.


"Saya ingin berbicara dengan Kaisar. Saya ingin membahas sesuatu." Jawab Oshun.


Salah seorang pengawal itu kemudian menatap Oshun dengan tatapan curiga, lalu berkata, "Kaisar sedang mandi saat ini, Dewi. Anda bisa menemuinya setelah ini."


"Tapi ini urusan mendesak, tolong mengertilah. Saya diantar oleh Dewa Hector kemari, itulah sangkin mendesaknya urusan ini." Jelas Oshun penuh percaya diri, meyakinkan kedua pengawal di hadapannya.


Kedua pengawal itu kemudian saling menatap. Mereka tak percaya dengan apa yang diucapkan Oshun.


"Maaf Dewi, Anda harus pergi." Tolak salah satu pengawal.


"Tidak, aku tak perlu menemuinya secara langsung. Aku akan bicara dari sini." Ucap Oshun.


Ia melangkah maju mendekati pintu dengan maksud agar suaranya lebih jelas didengar oleh Kaisar. Tetapi kedua pengawal itu malah mencekalnya, menghentikan Oshun agar tidak berjalan lebih dekat lagi.


"Akh, tolong mengertilah..." Erang Oshun setengah berteriak karena ia terus saja dihalau untuk mendekat ke arah pintu.


"Maaf Dewi, Anda tidak boleh mengganggu Kaisar!" Geram salah seorang pengawal itu menarik tangan Oshun dengan kuat.


"Akh! Sakit tahu, dasar—


"Ada ribut-ribut apa ini?"


Tiba-tiba suara berat yang berwibawa terdengar dari dalam pemandian, memecah keributan antara Oshun dan kedua pengawal itu.


Kaisar...!! Teriak Oshun dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2