OSHUN

OSHUN
Tidak Berharap Lagi


__ADS_3

500 Tahun berlalu sejak hari itu. Semua orang di setiap suku beraktivitas seperti biasanya.


Cukup banyak perubahan yang terjadi selama 500 tahun belakangan, begitu pula pada diri Oshun.


Ia sudah tumbuh menjadi Putri dewasa yang cantik dan anggun. Pembawaan dan cara bersikapnya sudah jauh lebih dewasa dari 500 tahun yang lalu. Ia semakin cerdas dan penuh dengan pengetahuan.


Selain itu, ia juga sudah berlatih keras untuk melatih kekuatannya. Alhasil, sekarang ia sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kemampuannya bahkan cukup sering dibicarakan di ketujuh dimensi alam semesta.


Semua itu sudah cukup membuat para Dewa dan Dewi di setiap dimensi melupakan kejadian 500 tahun lalu, dimana Oshun telah melakukan kecerobohan yang membuat malu sukunya sendiri.


Kini, berkat usaha kerasnya, suku Kehidupan dapat berdiri tegak dengan bangga di hadapan suku lainnya.


Melihat seluruh kemajuan yang dilakukan Oshun, itu artinya ia telah "siap" untuk menerima tanggungjawabnya yang lebih besar. Hari ini adalah hari yang dipilih para tetua suku Zoi untuk menobatkan Oshun sebagai Putri Mahkota Kerajaan Zoi.


Banyak tamu penting dari Kerajaan lainnya yang datang untuk menghadiri upacara penobatan Sang Putri.


"Apa kau sudah siap?" Tanya Avram pada keponakannya yang tengah berdiri di depan jendela sambil melihat pemandangan di luar.


Oshun kemudian berpaling dan melihat ke arah pamannya, lalu ia mengangguk pelan.


"Kalau begitu ayo, Yang Mulia Putri Mahkota~" Ujar Avram sambil tersenyum lebar. Tidak lupa dengan postur menghormat ala-ala seorang bawahan, yang ditujukannya pada Oshun.


Oshun kemudian tertawa pelan, lalu menggeleng kecil. Setelah itu, ia pun mengikuti langkah pamannya yang menuntun ke aula Istana, tempat dimana penobatan Oshun diselenggarakan.


"Kau tidak sedih kan?" Ucap Avram memulai pembicaraan selagi mereka berjalan di koridor yang cukup panjang itu.


"Huh? Sedih kenapa?"


"Kau benar tidak tau? Atau pura-pura tidak tau?" Tanya Avram dengan mata penuh selidik pada keponakannya itu.


Wajah polos Oshun menjawab kecurigaan Avram. Ternyata memang benar bahwa Oshun tidak tau apa maksud perkataan Avram.


Sebelum menjawab, Avram menghela napasnya panjang. Lalu setelah dirasanya siap, ia pun berkata pada keponakannya itu, "Kaisar Ouranos tidak datang ke penobatanmu."


Mendengar itu, langkah Oshun tiba-tiba melambat, lalu berhenti, membiarkan Avram berjalan sendiri di depan.


Ketika sudah lumayan jauh melangkah dari posisi Oshun, Avram menyadari bahwa ia dari tadi berjalan sendiri. Jadi ia berbalik untuk memastikan. Dan benar saja, Oshun malah berdiri mematung di belakangnya dengan wajah datar, tak berekspresi apa pun.

__ADS_1


"Oshun?" Panggil Avram.


"Sepertinya dia sangat membenciku."


Karena koridor itu sepi, jadi gumaman Oshun masih dapat terdengar oleh Avram. Avram mendekati Oshun, lalu berkata, "Hei Oshun, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Kaisar tidak bisa datang karena punya urusan mendesak di perbatasan bumi. Itu kabar yang kuterima dari Ayahmu. Dan kabar itu juga diterima Ayahmu dari Dewa Mantis sendiri." Jelas Avram dengan raut wajah khawatir. Ia takut jika Oshun kembali murung seperti dulu lagi. Seketika ia merasa menyesal karena telah menyinggung soal Ouranos.


Oshun kemudian tertawa sinis. Ia merasa tergelitik dengan apa yang barusan dikatakan Avram. Entah kenapa alasan itu hanya terdengar seperti omong kosong belaka. Ia yakin, sangat yakin, bahwa Kaisar hanya tak ingin lagi melihat wajahnya. Kejahatan macam apa yang sebenarnya dilakukannya? Apa kejahatannya lebih besar daripada kejahatan mencuri serpihan batu energi di Istana Langit? Bahkan pencuri batu energi yang mencuri sebesar bongkahan pun, Ouranos masih sudi melihat wajahnya. Pikiran-pikiran itulah yang tengah memenuhi isi kepalanya saat ini.


'Bahkan Dewi Bia saja yang berulang kali memberontak, tidak dia perlakukan sama sepertiku. Bukankah itu artinya aku jauh lebih jahat dari Dewi Bia?' Benak Oshun. (Mengenai Dewi Bia, diceritakan di chapter 1, dan Chapter filler).


"Oshun, maafkan paman. Paman tidak bermaksud—"


"Paman tidak perlu minta maaf. Aku bisa mengerti, itu haknya Kaisar mau datang apa tidak, karena dia Kaisar Agung. Lagi pula, dari awal aku tidak berharap pada Kaisar." Ucap Oshun sambil berjalan, berlalu meninggalkan pamannya.


'Tidak lagi.' Ucapnya dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu mari kita selesaikan upacara penobatanmu." Sahut Avram setengah berlari menyusul Oshun yang sudah cukup jauh berjalan di depannya.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju aula Istana untuk melangsungkan penobatan Oshun di depan seluruh rakyat Zoi, Keluarga Kerajaan Zoi, dan para tetua kerajaan itu. Para penguasa suku-suku lain, juga Putra dan Putri Mahkota yang sudah lebih dulu dinobatkan pun turut hadir menjadi saksi atas penobatan Oshun.


Acara penobatan hari itu berlangsung meriah. Semuanya berjalan lancar. Awalnya Dewa Athan, Dewi Anastasya, dan Dewa Avram khawatir karena berpikir Oshun akan sedih dan murung selama acara karena ketidakhadiran Kaisar Ouranos. Orang-orang yang mengenal Oshun, pasti mengkhawatirkan hal yang sama. Namun siapa sangka, sepanjang acara Oshun terus memperlihatkan senyumannya yang manis. Ia tampak sangat bahagia.


.


.


.


Istana Langit


"Ouranos, apa aku bisa menganggumu?" Tanya Mantis meminta izin pada sang empunya ruangan itu, padahal ia sudah lebih dulu melangkah masuk sebelum mendapat tanggapan dari Ouranos.


"Jika itu tidak penting lebih baik kau keluar saja. Aku sedang sibuk di sini."


Jawaban dingin itu tentu berasal dari Ouranos. Saat ini ia sedang fokus melakukan transfer energi pada senjata yang baru dibuatnya beberapa hari yang lalu. Senjata itu dibuat untuk digunakannya ketika hari Festival Pankrasi diadakan. Ia menyiapkan senjata itu hanya untuk berjaga-jaga, kalau saja ada yang tiba-tiba menantangnya untuk berduel di Festival itu. Ya, meskipun kemungkinan itu hanya 0,00000000001%


Festival Pankrasi adalah hari dimana kekuatan para Dewa dan Dewi akan diperlihatkan. Mereka akan saling unjuk diri untuk mendapat pengakuan dari semua orang yang ada di ketujuh dimensi, terutama pengakuan dari Kaisar Agung Ouranos. Seluruh rakyat serta Dewa dan Dewi di ketujuh dimensi akan berkumpul pada hari itu di satu tempat, untuk menyaksikan pertarungan antar Dewa dan Dewi. Semua orang sangat menantikan Festival ini.

__ADS_1


Berbagai kandidat telah dicalonkan dari setiap dimensi, dan saat ini Mantis datang menemui Ouranos hanya untuk memberitahukan bahwa nama Oshun tertulis sebagai kandidat dari Kerajaan Zoi. Mantis ingin Ouranos mengakui kehebatan wanita itu, dan takkan meremehkannya lagi.


"Tidak, ini penting kok."


"Kalau begitu katakan dengan cepat." Ucap Ouranos yang masih menatap fokus senjata di hadapannya. Tangannya mengitari senjata yang tampak melayang itu sambil menyalurkan energi biru miliknya.


"Oshun adalah salah satu kandidat yang ditunjuk dari Kerajaan Zoi."


Mendengar kalimat itu, tiba-tiba Ouranos menghentikan proses transfer energinya. Ia menarik kedua tangannya, hingga senjata itu tak lagi melayang karena kehilangan energi Ouranos.


'Benarkah itu?' Tanya Ouranos dalam hatinya.


Namun daripada memastikannya langsung pada Mantis, Ouranos lebih memilih untuk berpura-pura melupakan nama itu. Nama yang selama 500an tahun terakhir terus hadir di pikirannya.


"Siapa Oshun?" Tanyanya dengan ekspresi datar.


Mantis mendelik, ia melangkah lebih mendekat pada Ouranos lalu memasang telinganya baik-baik.


"Apa kau serius? Kau serius tidak ingat siapa Dewi Oshun?" Tanya Mantis tak percaya.


Daripada menjawabnya, Ouranos lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti tadi. Ia tak memedulikan Mantis yang sekarang tengah menatapnya, menuntut sebuah jawaban.


Mantis menghela napasnya panjang


"Kau benar-benar keterlaluan Ouranos. Dia itu adalah anaknya Dewa Athan, Penguasa Zoi. Dewi Oshun itu sekarang sudah menjadi Putri Mahkota Kerajaan Zoi. Dia yang melakukan kecerobohan di hari pertemuan seluruh suku terakhir kali. Apa kau ingat?" Ucap Mantis panjang lebar.


Diam. Ouranos tak menanggapinya.


"Ouranos, apa kau membencinya? Jawablah dengan jujur, kenapa kau membencinya."


"Siapa yang bilang aku membencinya?" Sahut Ouranos.


"Tapi sikapmu menunjukkan seolah kau sangat membencinya."


"Aku hanya menghindarinya. Menghindar bukan selalu berarti benci kan?" Jawab Ouranos dengan wajah datar, namun terlihat jelas keluguan akan perasaan dari setiap kata yang diucapkannya.


"Kalau begitu apa alasanmu menghindarinya?" Tanya Mantis semakin penasaran.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2