
"Aastaga—" Ucap kedua pelayan itu terkejut saat melihat Oshun.
Mereka berdua spontan berdiri dan menunduk di hadapan Oshun yang sekarang sedang menampilkan ekspresi dingin. Sebenarnya ekspresi dingin bukanlah sesuatu yang cocok menggambarkan dirinya, namun sekarang Oshun bukanlah Dewi muda yang ceria dan berhati lemah seperti dulu.
Sebagai seorang calon pemimpin sukunya, Oshun dituntut untuk menjadi seorang pemimpin yang tegas, bijaksana, dan berbudi luhur. Seorang pemimpin yang harus disegani, sehingga tak ada yang berani mengganggu dirinya dan juga rakyatnya kelak.
"Maafkan kami Dewi, kami melakukan kesalahan. Tolong ampuni kami!"
"Benar Dewi, tolong jangan hukum kami!"
Mohon kedua pelayan itu sambil bersimpuh di hadapan Oshun.
"Meski aku ingin, aku tidak punya hak memberi hukuman yang layak untuk kalian, karena ini di Istana Langit dan kalian milik Istana Langit. Bukankah lebih cocok jika yang memberi hukuman adalah orang Istana Langit juga?" Ucap Oshun tersenyum tipis.
"TIDAK!! TOLONG JANGAN DEWI!! JANGAN BERITAHU KESALAHAN KAMI PADA KEPALA PELAYAN ISTANA LANGIT!! TOLONG AMPUNII KAMI!!" Mohon salah satu pelayan itu dengan isakan tangis. Mereka berdua tampak sangat ketakutan dan dibanjiri keringat dingin.
Oshun tau, kedua pelayan itu pasti akan lebih memilih dihukum oleh Oshun sendiri daripada mengikuti hukum Istana Langit yang terkenal sangat keras. Oshun sengaja berkata demikian untuk memberi gertakan yang akan menggoncang mental mereka, sehingga cukup membuat mereka jera melakukan kesalahan yang sama.
Karena hukuman fisik belum tentu mempan dan memberikan efek jera terhadap orang yang melakukan kesalahan. Justru, hukuman fisik yang berat bisa melahirkan rasa ketidakadilan, amarah, dan berujung pada dendam. Dari sanalah akan lahir yang namanya pengkhianatan, dan berbagai kejahatan lainnya.
Sebaliknya, cara Oshun yang memanfaatkan rasa takut terbesar mereka, akan membuat mereka jera tanpa harus melahirkan sifat-sifat keji. Dan ketika diberi sebuah toleransi, tak jarang dalam banyak kasus orang-orang seperti mereka akan melahirkan buah kesetiaan. Namun meskipun begitu, cara ini hanya berlaku bagi sebagian besar kepribadian yang ada di alam semesta ini.
Lalu apakah Oshun menyalahkan sistem hukum di Istana Langit yang sangat berat? Daripada menyalahkan, baik Oshun maupun Suku Zoi hanya memiliki pandangan yang berbeda saja. Oshun memang tidak menyukai sistem hukum Istana Langit yang sangat berat, tetapi rasa tidak sukanya itu tidak berarti apapun karena dia hanya orang luar. Lagi pula Istana Langit pasti punya alasan besar kenapa memberlakukan sistem hukum yang berat.
Mungkin karena penduduknya yang rata-rata merupakan Dewa dan Dewi yang kuat? Sehingga cara untuk menundukkan mereka juga harus lima kali lipat lebih kuat. Dan seseorang yang kuat atau yang memiliki kelebihan pada umumnya cenderung memiliki sifat yang angkuh, keras kepala, dan tentu berharga diri tinggi. Sehingga cara Oshun barusan takkan berarti apapun pada kebanyakan Kaum Istana Langit.
"Kenapa kalian sangat ketakutan? Bukankah kalian tinggal di Istana Langit? Jika kalian tau hukuman Istana Langit yang sangat ketat, bukankah seharusnya kalian juga bertindak sama ketatnya?"
"Hiks, Iya Dewii... kami bahkan lupa dimana tempat kami berada. Tolong jangan beritahukan pada kepala pelayan Istana Langit."
"Kami menyesal Dewii! Hiks Hiks."
"Benarkah kalian berdua menyesal?" Tanya Oshun yang masih menampilkan wajah dinginnya.
"Sungguh Dewii..." Jawab mereka serentak.
"Angkat kepala kalian, dan lihat aku." Perintah Oshun.
"Ti, tidak Dewi, bagimana bisa--"
"Kubilang angkat kepala kalian!" Perintah Oshun penuh penekanan, sehingga membuat kedua pelayan itu tersentak kaget. Mau tidak mau mereka perlahan mendongak dan melihat Oshun yang berdiri di hadapan mereka.
Kedua pelayan itu semakin takut ketika melihat ekspresi dingin Oshun yang tengah menatap wajah mereka lekat-lekat.
__ADS_1
Melihat ketulusan yang tergambar jelas di wajah kedua pelayan itu, Oshun memutuskan untuk memberikan toleransi. Ini sesuai dengan apa yang direncanakannya.
'Ternyata mereka sama seperti penjaga yang waktu itu. Mereka tak seperti Suku Langit kebanyakan.' Ucapnya dalam hati.
"Kalau begitu aku takkan memberitahukan hal ini kepada kepala pelayan Istana Langit, tetapi bukan berarti aku mengampuni kalian. Aku tetap akan memberi hukumanku."
"AH, TERIMAKASIH... TERIMAKASIH DEWII..." Ucap mereka berdua yang sangat senang atas apa yang mereka dengar. Spontan kedua pelayan itu menghormat pada Oshun dengan gerakan menyembah berulang kali.
"Anda sungguh murah hati. Terimakasih, dan mohon maafkan kami..."
"Tidakkah kau memujiku terlalu cepat? Kau bahkan belum tau apa hukuman yang akan kuberikan pada kalian berdua."
"Terlepas dari itu, Anda memang adalah Dewi yang murah hati. Jika itu yang lain, mereka takkan mendengarkan permohonan dari pelayan rendahan seperti kami. Kami akan terima hukuman apapun yang Dewi berikan."
"Itu benar Dewi." Ucap pelayan yang satunya menyetujui.
"Kalau begitu kalian berdua harus melayaniku selama aku di Istana Langit. Hanya kalian berdua. Aku takkan memakai tenaga para pelayan yang kubawa dari Istana Zoi, jadi bekerja keraslah untuk itu."
Mendengar ucapan Oshun itu, seketika mata kedua pelayan itu terbelalak. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
'Benarkah hukumannya hanya itu? Aku tidak percaya ini jauh lebih baik dari yang kukira.' Ucap salah satu pelayan dalam hatinya.
'Astaga, apa yang sudah kulakukan pada seorang Dewi yang sebaik ini?~ Aku berjanji akan melayani Dewi Oshun sepenuh hatiku!' Batin Pelayan yang satunya lagi.
"Ti,tidak Dewi... justru saya tidak menyangka Anda akan memberikan hukuman ini. Terimakasih. Saya akan melayani Anda sepenuh hati."
"Saya juga akan melayani Anda sepenuh hati."
Ucap kedua pelayan itu menghormat penuh rasa syukur pada Oshun. Melihat ketulusan dan rasa syukur mereka, kedua sudut bibir Oshun spontan tertarik membentuk senyuman tipis.
Sementara di sisi lain, dengan kemampuan yang dimilikinya seorang pria berwajah datar itu sepertinya tampak sedang menikmati peristiwa hukum menghukum itu. Dari awal rupanya ia mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Dewi yang entah sejak kapan jadi cukup menarik buatnya.
"Ouranos, apa yang kau lakukan?"
Mendengar suara yang memanggil namanya, Ouranos tersentak. Buru-buru ia menghentikan kegiatan memata-matai yang dilakukannya pada Oshun. Ia tak ingin menjadi bahan ejekan Mantis seumur hidup jika hal ini sampai ketahuan.
Syutt
'Huh? Aku merasakan ada energi yang tak asing dari belakangku. Apa ada yang sedang memata-mataiku?' Ucap Oshun dalam hatinya mulai menduga-duga.
Untuk memastikannya lagi, Oshun berbalik pura-pura sedang menikmati pemandangan tempat itu. Sebenarnya ia sambil mengamati tempat itu dengan kekuatannya.
'Huh? Tidak ada apapun di sini. Kalau begitu darimana asal energi besar yang ditarik tadi? Siapa yang mengamatiku diam-diam?'
__ADS_1
.
.
"Hei, Ouranos tumben kau melamun saja di sini?" Ucap Mantis.
"Apa ada hal penting?"
"Ipi idi hil pinting?" Beo Mantis dengan ekspresi dan nada mengejek.
Ouranos hanya menatap datar pada temannya itu, lalu kembali menatap ke luar jendela.
"Hah ya ampun, aku lelah menghadapimu."
"Kalau begitu pergilah dari tempat ini, tak ada yang melarangmu pergi."
"Ah sudahlah, bukan itu yang mau kubahas denganmu."
"Katakan dengan cepat."
Mantis kemudian berdehem, bersiap menuangkan seluruh isi kepalanya pada Ouranos.
"Apa kau tidak ada niatan untuk berdamai dengan Putri Mahkota Suku Zoi?"
Ouranos kemudian menatap datar pada Mantis lalu berkata, "Untuk apa berdamai kalau kami tidak pernah bertengkar sebelumnya?"
"Itu kan menurutmuu... Kenyataannya, semua mata yang melihat perilakumu pada Oshun pasti berpikir bahwa kalian sedang bermusuhan. Bahkan Dewi Oshun juga berpikir hal yang sama."
"Darimana kau tau? Apa dia yang bilang padamu?"
"Astaga, pria ini! Dari gerak-geriknya, jelas dia juga tidak ingin melihat wajahmu!"
"Kenapa kau meninggikan suaramu padaku?"
"Ah, maaf, aku terbawa suasana." Balas Mantis. Kemudian ia menghela napasnya, mencoba untuk bersabar ketika berbicara pada makhluk yang tak mengenal emosi di hadapannya itu.
"Ouranos, pikirkanlah lagi. Berdamailah dengannya, cobalah untuk lebih lembut sedikit. Kau tau, banyak gosip yang tersebar setelah apa yang terjadi di gerbang perbatasan tadi. Itu akan mempengaruhi reputasinya dan juga Raja Athan. Meskipun kau benci melihat Dewi yang menyukaimu, setidaknya cobalah untuk menahannya."
"Baiklah, tinggalkan aku." Perintah Ouranos.
'Ck, asal saja membawa nama Dewa Athan, dia pasti mau mendengarkanku. Dasar.' Batin Mantis, kemudian ia pergi meninggalkan Ouranos tanpa memperpanjang pembicaraan itu. Sepertinya Ouranos sangat serius memikirkannya.
...****************...
__ADS_1