
Istana Langit, Area Saka
Di dalam ruangan yang cukup besar itu, Oshun hanya bisa duduk menatap cermin di hadapannya, meratapi segala penyesalan atas perbuatannya.
"Harusnya dari awal aku meninggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya menemui Kaisar." Gumamnya.
Ada rasa kecewa yang dirasakannya ketika Ouranos tidak menyetujui permintannya. Padahal Oshun tidak pernah semenyedihkan itu ketika meminta sesuatu. Ia berusaha untuk menunjukkan ketulusan hatinya, tetapi semuanya tak berarti bagi Ouranos.
Ketulusan gadis itu seolah tak berarti apa-apa bagi Ouranos. Tak adakah belas kasih di dalam orang itu? Begitulah yang dipikirkan Oshun.
Rasa sesak karena kekecewaan dan penyesalan, membuat tanpa sadar air mata gadis itu menetes membasahi pipinya.
"Hiks... Hah... Harusnya, harusnya aku tidak perlu ikutt.. hiks... hiks..." Ucapnya pada dirinya sendiri, menyesal dalam tangisnya.
Dalam hati, ia berulang kali merutuki kebodohannya. Hanya karena seorang pria yang bahkan tidak memedulikannya, dia sudah menyakiti banyak orang sekaligus.
Hanya karena rasa kagum dan ketertarikannya pada pria yang bahkan seperti enggan menatapnya, ia sampai berpikiran pendek dan membahayakan banyak orang.
Betapa bodohnya. Dan sekarang, Oshun baru menyadari itu.
"Hei Oshun, sadar atau tidak, kau ini jadi terlalu terobsesi pada Kaisar. Kau pasti pernah mendengar kan, cinta yang dipaksakan itu tidak akan pernah berakhir bahagia."
Seketika, ingatan atas perkataan gurunya terlintas di kepalanya. Ingatan itu membuatnya spontan tersenyum getir. Itu membuatnya semakin menyadari kebodohannya sendiri.
Itu benar... guru benar. Aku terlalu memaksakan perasaanku. Hah, betapa malunya... Batin Oshun.
Tok Tok Tok
Oshun terperanjat, tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintunya dari luar.
"Permisi, Dewi, bolehkah kami masuk? Kami diperintahkan untuk mengambil sesuatu di dalam." Ucap seseorang dari balik pintu kamar Oshun.
"Sesuatu? Dan siapa pula yang memerintahkannya?" Gumam Oshun.
Oshun berdehem untuk membenarkan pita suaranya yang mulai terasa mengering karena isak tangisnya yang berdurasi cukup lama tadi. Kemudian, ia membenarkan segala yang berantakan di ruangan itu.
Tidak lupa ia juga merapikan rambut, pakaian, dan wajahnya yang tentu sangat kacau saat ini.
Ia duduk masih di meja rias, menghadap kaca, dan membelakangi pintu masuk.
"Masuklah." Perintahnya setengah berteriak.
Lalu, masuklah tiga orang pelayan ke ruangannya. Dari pakaiannya, terlihat jelas bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah kepala pelayan.
Mereka bertiga menunduk hormat, lalu kepala pelayan mulai berbicara, "Maaf Dewi, kami diperintahkan oleh Dewa Hector untuk membawa semua peralatan Dewa Avram."
Mendengar itu, Oshun mengernyit heran, "Huh? Kenapa Dewa Hector memintanya? Dan kenapa baru sekarang?" Tanya Oshun.
"Katanya, Barang-barang Dewa Avram digunakan untuk kebutuhan penyelidikan."
Kebutuhan penyelidikan? Bukankah aku sudah menjelaskannya saat di ruangan Kaisar? Apa mereka masih mencurigaiku?Tapi, seharusnya mereka menyuruhku mengambilnya dari awal kalau memang masih curiga padaku. Atau jangan-jangan Dewa Hector bertindak sendiri? Oshun menyimpulkan dalam hati.
"Kira-kira kenapa Dewa Hector meminta baru sekarang?"
"Ah, saya juga tidak tahu, Dewi. Kam tak diberitahu alasannya." Jawab kepala pelayan itu dengan sopan.
O iya, kan mereka tidak tahu kalau aku habis bertemu Dewa Hector. Ini tak bisa dibiarkan, si Hector itu, entah kenapa dia mencurigakan. Batin Oshun.
__ADS_1
"Baiklah. Tunggu di sini, biar aku ambilkan." Ucap Oshun.
"Tidak, tidak perlu Dewi, biar kami saja." Tolak kepala pelayan itu.
"Sudahlah, diam saja di situ." Tegas Ohun.
Ketiga pelayan itu hanya bisa terdiam saat Oshun menegaskan suaranya. Mereka tidak menyangka seorang Dewi terhormat seperti Oshun menolak untuk dilayani.
Setelah Oshun mengumpulkan semua barang-barang milik pamannya, kemudian diberikannya semua itu kepada ketiga pelayan itu.
"Terimakasih banyak, Dewi" Ucap mereka bertiga serentak.
Lalu, sambil menunduk, mereka pamit meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah, sekarang aku harus mengikuti mereka." Ucap Oshun setelah ketiga pelayan itu meninggalkan kamarnya.
.
.
.
Oshun berkonsentrasi, memusatkan energinya. Dengan gerakan segel tangan dan mantra singkat, Oshun bermaksud mengeluarkan kemampuan "tak terlihat" yang baru dipelajarinya.
Karena kemampuan ini baru dipelajarinya, sebenarnya ia tak yakin bisa menggunakannya. Ia tak tahu berapa lama kemampuan ini akan bertahan, atau apakah keampuan ini memiliki cacat lain atau tidak.
"Baiklah, mari kita lihat." Gumamnya.
Gadis itu kemudian berlari kecil menuju cermin, untuk melihat apakah kemampuan "tak terlihat" mliknya berhasil atau tidak.
Karena merasa semuanya sudah sempurna, cepat-cepat Oshun bertelerportasi keluar dari kamarnya, untuk mengikuti ketiga pelayan tadi.
"Ah, itu mereka!" Gumam Oshun bersemangat saat mendapati ketiga pelayan tadi, yang belum begitu jauh dari kamarnya.
Karena kemampuan tak terlihat miliknya, Oshun jadi bebas mau mengekori mereka sedekat apa. Asal tak bersuara dan tak bersentuhan, Oshun tak akan ketahuan.
"Dewi Oshun itu ternyata baik ya. Kukira Dewi-Dewi cantik itu semuanya tinggi hati." Kata salah seorang dari pelayan itu.
"Iya kau benar Fey. Tapi aku jadi kasihan saat melihat wajahnya tadi. Sepertinya dia sangat sedih karena kerabatnya dihukum." Sahut pelayan yang satunya.
"Eum! Padahal dia Dewi yang baik, tapi malah mengalami sial seperti ini. Habis ini, pasti dia akan dicemooh banyak pihak."
"Hah, aku turut bersedih."
"Ngomong-ngomong, kalau Dewi itu melihat keadaan kerabatnya, pasti dia makin sedih. Beruntunglah Dewa itu hanya dihukum sebentar, iya kan Layla?"
"Benar Feya. Tapi hukuman Istana Langit sangat mengerikan. Baru sebentar saja dihukum, Dewa itu sudah sangat kacau. Bagaimana nasib Dewa Athan ya setelah ini?"
Degg
Jantung Oshun terasa sakit saat mendengar percakapan kedua pelayan itu.
Apa maksudnya? Apa Ayah sudah...
"Hush... kalian berdua jangan berbicara terlalu keras! Bagaimana kalau ada yang mendengar?" Ucap kepala pelayan yang berdiri di depan kedua pelayan itu.
Jadi mereka diminta merahasiakan ini ya... tapi kenapa? Batin Oshun.
__ADS_1
.
.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya ketiga pelayan itu berbelok ke lokasi yang bertuliskan "Axile" di gapuranya.
Bukankah ini tempat penyembuhan Istana Langit yang terkenal itu? Kenapa mereka ke sini?
Belum sempat menyimpulkan apa pun, Oshun terpaksa harus berjalan terburu-buru karena tanpa sadar ketiga pelayan itu sudah berjalan cukup jauh darinya.
Saat masuk ke area itu, Oshun beberapa kali tertegun melihat suasana tempat itu yang begitu megah, dan ramai oleh Dewa-Dewi ahli pengobatan, juga kelompok-kelompok pelayan yang ikut membantu mereka.
Sibuk mengamati sekitarnya sambil mengikuti ketiga pelayan itu, tanpa sadar ternyata Oshun dibawa ke salah satu ruangan yang cukup luas di area itu.
Cukup jelas terlihat dari kejauhan beberapa Dewi dan pelayan sedang mengobati seseorang yang sedang terbaring di tengah ruangan.
Oshun tampak mengernyit, dan memicingkan matanya melihat ke arah itu.
Siapa yang sedang terbaring? Sepertinya itu...
"Permisi Dewi, kami sudah membawa barang-barang Dewa Avram." Ucap kepala pelayan tadi.
"Baiklah, kau bisa bawa ke sini. Tolong bersihkan luka Dewa Avram yang sebelah sana ya."
Hah?!
"Paman?!" Tanpa sadar, suara itu keluar dari mulut Oshun.
Sontak, kedua pelayan tadi yang berdiri cukup dekat dengan posisi Oshun saat ini, melihat ke arah belakang. Lebih tepatnya, ke arah Oshun.
"Apa kau mendengar sesuatu Layla?" Tanya Feya, salah seorang pelayan itu.
"Iya kan? Kukira hanya aku yang dengar. Tapi tak ada siapa pun di belakang kita tuh." Jawab Feya.
"Hmmm... mungkin hanya perasaan kita." Simpul Layla.
Feya mengangguk setuju, lalu mereka ikut membantu kegiatan penyembuhan itu.
Fyuhh, untunglah aku tidak ketahuan. Batin Oshun sedikit lega.
Oshun kemudian dengan berhati-hati mendekat ke arah mereka yang sedang sibuk mengobati pasien mereka, yaitu Avram.
Saat sudah mendapat sudut pandang yang aman untuk melihat pasien itu, Oshun terperanjat. Ia terkejut melihat keadaan pamannya yang sangat kacau. Luka sobekan ada dimana-mana. Belum lagi semacam luka lebam menghiasi wajah tampan pamannya itu.
Kemudian, Oshun melihat ke arah lain, dimana terdapat banyaknya balutan kain putih berbekas darah tertumpuk di situ.
Tanpa saar, air mata menetes dan membasahi pipinya. Dibekapnya mulutnya rapat-rapat, agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Melihat kondisi pamannya yang seperti itu, sungguh sangat menyayat hatinya. Oshun ingin berteriak sekeras mungkin memanggil pamannya, namun ia tak mau membuat masalah lagi. Ia ingin membantu, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Energinya bahkan sudah tak cukup lagi untuk menyembuhkan pamannya.
Ia bingung, gelisah, dan panik. Kepalanya seakan mau pecah memikirkan kebodohannya yang membuat Sang Paman menderita. Air mata Oshun mengalir lebh deras lagi.
Tiba-tiba, mata Oshun terbelalak. Ia menyadari sesuatu...
Jika Paman sudah dibebaskan... itu artinya Ayah, Ayah sudah ada di sini??!! Batin Oshun.
...****************...
__ADS_1