Overgear

Overgear
Bab 14


__ADS_3

Setelah diserap oleh Satria, tubuh Ancient Stone Golem menjatuhkan 100 Orb Stone. Dengan mengerucutkan bibir, Satria menyimpan 100 batu merah bermotif kepala Naga tersebut ke inventaris sistem, “Sial, kenapa dapat ini lagi?”


Tubuh Satria bercahaya dan akan segera di teleportasikan ke katedral. Setelah sampai di depan katedral, dia melihat seorang perempuan yang berpakaian terlalu seksi dan ketat berwarna ungu sampai-sampai kelihatan bentuk lekukan tubuhnya.


Jubah ungu kehitaman yang hanya menutupi bagian pinggul hingga menjuntai ke mata kaki, menambah kesan kalau wanita tersebut seorang bangsawan, tepatnya bansawan iblis. Karena ada dua tanduk ungu di atas kedua telinganya yang runcing dan mat hijau yang tertutupi garis poni miring dari rambut yang berwarna merah muda berkilau.


Satria yang baru keluar dengan tubuh yang lebih gemuk dari sebelumnya dengan perut mencuat, sampai-sampai meneguk salivanya dalam-dalam.


Gadis itu adalah Safira dengan nama pemain Sylya sang Ratu Kehancuran yang memiliki level 20 dan seorang ras High Demon hampir mendekati ras Asmodians.


Satria baru tersadar setelah mendongakkan kepalanya keatas dan melihat suara mekanis sistem yang terus mendengungkan namanya berkali-kali ke seluruh daratan di dunia cermin Overgear.


Sylya matanya berkeliling dan kepalanya menengok ke kanan serta ke kiri seperti mencari sesuatu atau mencari pemain.


sadar dirinya menjadi target pencarian Safira, Satria berjalan pelan-pelan agar tidak ketahuan oleh Safira. Masalahnya saat ini tidak ada orang yang keluar dari katedral kecuali Satria seorang diri.


Safira menengok ke arah Satria dan pandangan matanya tajam seperti mata Elang yang telah membidik mangsanya, “Berhenti!” teriaknya.


Satria yang mau melanjutkan langkah kakinya pun berhenti dengan tubuh agak gemetar dan keringat dingin mengalir deras di dahi serta tengkuknya.


Sylya berjalan cepat ke arah Satria dan langsung mencengkram tangannya. Satria ditarik menjauh dari katedral dan dituntun menuju sebuah gang sempit dan gelap.


Tubuh Satria didorong ke dinding yang merupakan jalan buntu. Sylya mengendus-endus tubuh Satria dan sangat kenal dengan aroma tubuh itu, “Kamu Satria?!” tanyanya.


“Sial, aku ketahuan gara-gara bau wangi ini. Percuma saja menggunakan mask predacon jika baunya tidak dapat dihilangkan,” batin Satria kesal dan langsung berlutut di depan Safira.


“Aku tanya sekali lagi. Apakah kamu Satria? Bau ini aku sangat mengenalnya,” tanya Safira sekali lagi karena satria masih bungkam seribu bahasa dengan menjatuhkan rahang dan mata membola.

__ADS_1


“I-Iya,” jawab Satria gugup.


“Owalah! Sat, kamu toh. Aku pikir siapa. Tapi kenapa, maaf avatar kamu jadi berantakan begini?” tanya lagi Safira atau Sylya melihat karakter Satria melebihi konyolnya dengan bentuk asli tubuh Satria.


“Bagaimana ya aku jelasinnya? Hehehe ….” Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan terkekeh pelan.


“Lalu, nama avatar milikmu apa?”


Pertanyaan Safira membuat kedua kalinya tubuh Satria panas-dingin tidak karuan dan bingung harus menjawab apa. Terlebih lagi dia sudah tahu jika ayahnya Safira merupakan ketua Guild Versaxus, Guild nomor satu di dunia.


“Safira, maaf sekali. Apa bisa kita bicarakan ini nanti? Sejujurnya, aku belum bisa percaya pada siapapun. Jika kamu memang orang yang bisa aku percaya dan menganggapku dan memperlakukanku seperti seorang teman. Aku berjanji akan menjelaskannya pada ….” Satria tidak melanjutkan lagi perkataannya.


Safira dipaksa keluar ke terminal Navigator oleh ayahnya. Karena Guild Versaxus akan mengadakan rapat untuk event selanjutnya yang akan dadakn GM Overgear.


“Fyuh, selamat-selamat” Satria mengelus dadanya berkali-kali dan merasa sangat lega karena tidak harus menjelaskan semuanya pada Safira sekarang.


Bagi ketua guild, bisa melakukan tindakan paksa untuk mengeluarkan anggotanya dari dalam permainan selama anggotanya tersebut tidak berada di dalam labirin atau dungeon.


Gedung Versaxus, Bandung.


Safira yang sudah keluar dari Terminal Navigator dan berada di ruangan rapat gedung Versaxus terus saja mengerucutkan bibir. Karena tidak dapat mendapatkan informasi dari Satria.


“Sial, gara-gara rapat yang gak jelas ini aku harus kehilangan informasi. Dugaanku sementara, Satria merupakan pemain Regalia. Karena tidak ada lagi pemain yang keluar dari katedral setelah dungeon Trail Tower itu selesai.”


“Dilihat dari jeda waktu keluar dari dungeon menggunakan lingkaran teleportasi yang hanya 3 detik, hanya Satria yang cocok,” pikir Safira sambil menopang dagu di atas tautan tangannya.


“Kenapa sayang? Kok kamu gak mood gitu?” tanya Prigya yang membuat sadar lamunan Safira.

__ADS_1


“Kesal-kesal! Ini semua gara-gara ayah, hmph!” Safira bangkit dari duduknya dan memukul-mukul dada Prigya yang bidang dengan sangat pelan. “Aku mau pergi! Berikan kunci mobil, hmph! Aku lagi gak mood ikut rapat ini. tapi aku janji akan mendapatkan sesuatu yang lebih berguna.”


Prigya pun terheran-heran dengan menjatuhkan rahangnya, melihat kelakuan anak gadisnya jadi gampang emosi seperti ini. Tanpa sadar, tangannya langsung memberikan kunci mobil SSC Tuatara yang sering dibawa oleh Prigya.


Hal yang membuat Prigya heran, karena Safira tidak pernah au membawa mobil. Padahal di garasinya ada banyak mobil Hypercar. Sungguh, membuat Prigya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Safira saat ini.


Safira sudah menyetir mobil dan menelepon Satria terus-menerus. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Satria dan menginterogasinya.


“Dugaanku benar, dia masih di dalam game,” gumam Safira dengan tersenyum simpul.


Kemudian, Safira mengirim pesan pada seseorang untuk mencarikan alamat Satria dan satu detik kemudian dia mendapatkan pesan yang berisikan biodata serta alamat Satria.


“Kamu selalu bisa diandalkan, Brio,” pujinya dengan bergumam.


Safira terus mengendarai mobil hypercar milik ayahnya menyusuri jalanan Bandung yang agak lengang di jam sembilan malam. Dia sudah tak sabar untuk bertemu Satria yang sudah ditentukannya sebagai pemain Regalia.


Safira sampai di sebuah gang sempit yang mengarah ke kontrakan Satria dan memarkirkan mobilnya tersebut di samping di dekat gang.


Begitu keluar dari mobilnya dengan pakaian yang cukup seksi. Safira menyusuri jalan gang sempit yang agak gelap tersebut dengan raut muka berbinar-binar.


Sampailah Safira di pintu gerbang kontrakan Satria yang memiliki 10 kamar kontrakan dan kamar kontrakan Satria bernomor tujuh dengan ciri lampu di depan kontrakannya mempunyai pencahayaan temaram.


“Sat, pantas saja mereka menindasmu. Kamu terkenal memiliki bau badan, bodoh, hitam, jelek dan gendut. Aku mengerti kenapa kamu ingin menyembunyikan semua ini,” gumam Safira dengan raut muka sendu dan berdiri di depan gerbang kontrakan Satria ambil terus menelponnya.


Ada dua orang perempuan di salah satu depan kamar kontrakan sedang bergosip ria dan Safira memanggilnya, “Permisi bu! Aku Safira temannya Satria. Apakah Satria ada di dalam kamar?”


Kedua perempuan itu pun tersentak kaget melihat Safira yang begitu sangat cantik dan seksi.

__ADS_1


“Eeeh, i-iya Nona Safira. Dari lepas maghrib dia belum keluar kamar, biasanya keluar kamar dan ngobrol sama kita-kita disini. Biar aku panggilkan,” sahut salah seorang ibu-ibu bernama Markonah. lalu mengetuk pintu kamar Satria namun tak ada jawaban.


Walaupun sering ditindas dan dikucilkan di kampus, tapi di kontrakan Satria terkenal orang yang sangat ramah. Bahkan sering bagi-bagi makanan jika dia dapat upah dari pekerjaan paruh waktunya.


__ADS_2