
“Lepaskan aku! Itu bukan urusanmu!” Zenia mencoba melepaskan cengkraman tangan Satria yang menggenggam pergelangan tangan kanannya kuat-kuat. “Aku akan menamparmu jika berani menyentuh tanganku dengan tangan kotormu.”
“Menamparku? Tampar saja! Bukannya kamu sering menamparku, menginjakku, bahkan meludahiku. Disini ada CCTV tampar saja dan banyak orang, aku tidak takut. Wanita manja sepertimu hanya bisa mengandalkan uang dan kekuasaan untuk menindas orang lain. Kamu hanya wanita manja dan tak bisa apa-apa,” tantang Satria dengan menaruh telapak tangan kanan Zenia ke pipi kanannya.
Perkataan Satria tepat mengenai hati Zenia. Belum pernah dia mendengar ada seorang laki-laki yang berani mengatakan, kalau Zenia hanya gadis manja yang mengandalkan kekayaan dan kekuasaan orang tuanya untuk menindas orang lain.
Satria sudah jengah dengan perlakuan Zenia yang selalu menindasnya bersama Arven, Kira, dan Vincent.
“Lebih baik kita sudahi saja permusuhan inni. Sekali lgi aku menantangmu di game Overgear. Bukankah kau kesal denganku yang telah menghajarmu di event ‘War Sengoku?”
“Aku menantangmu! Kalau aku kalah maka aku akan ikut ke dalam guild 4E dan menjadi budakmu. Tapi jika aku menang kau harus ikut aku dan menjadi budakku. Ketiga temanmu tidak boleh lagi menggangguku!” tantang Satria dengan menarik tangan Zenia hingga tubuh Satria dan gadis berambut hitam curly tersebut bersentuhan.
Safira yang menunggunya di ruangan Luna gusar, karena Satria belum juga masuk. Akhirnya dia keluar dan melihat Zenia dan Satria saling menatap dengan tatapan tajam dengan tubuh saling menempel satu sama lain.
“Satria!” teriak Safira yang merasa cemburu melihat Zenia terlalu dekat dengan Satria.
Zenia sadar dan melepaskan paksa cengkraman Satria dari pergelangan tangan kanannya.
“Baiklah, aku menerimanya. Aku akan membuat surat perjanjiannya.” Zenia pun pergi dengan menatap tajam Satria sambil menyenggol bahu kiri Satria dengan bahu kanannya.
Satria benar-benar tidak peka jika Safira cemburu. Lalu melewati Safira dan membukakan pintu untuknya, “Maaf, jika kamu menunggu lama. Ayo!” pintanya dengan senyum yang ramah.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan Luna dan Satria mengekor di belakangnya. Setelah duduk berdampingan di sofa, Safira terus membuang muka pada Safira dan menggembungkan pipi.
Luna keluar dari dalam toilet dan melihat Safira sedang marah, dia meledeknya, “Hai, gadis manis! Kenapa marah? Kalian seperti sedang pacaran saja dan cemburu-cemburuan.”
__ADS_1
“Cemburu?” Satria menyipitkan mata karena bingung dengan lontaran perkataan Luna dan sikap Safira yang biasanya selalu tersenyum ramah. “Tenang, Nona. Kami hanya teman kok. Teman biasa dan tidak hubungan yang lebih. Lagipula pria miskin, jelek dan gendut sepertiku gak pantes buatnya.”
Safira tambah marah setelah Satria mengemukakan isi hatinya tanpa disaring dan tidak paham kondisinya saat ini, “Kata siapa tidak pantas? Itu penilaianmu saja kan Satria?”
“Asih, kenapa dia tambah marah padahal aku jujur mengatakan ini?’ batin Satria yang semakin bingung dan akhirnya menunduk pasrah melihat Safira tambah marah. Dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya.
“Sudahlah, kesampingkan masalah urusan pribadi. Kita berlanjut saja dengan urusan bisnis,” kata Luna mencoba menengahi. Tapi tetap saja emosi Safira belum mereda. “Aku Luna Dina Zora. Kamu sudah tahu kan dari Safira?”
“Ya, Safira sudah mengatakannya. Aku Satria dan Safira sudah mengatakannya juga bukan?” Satria mengangguk pelan dengan tatapan sendu. “Aku langsung saja ke intinya. Aku hanya bisa menjual 10 Orb Stone dengan harga 100 evo per batu.”
"Woah, kamu orang yang terus terang ya Satria." Luna mengacungkan jempol pada Satria dan mulai menyukai sikapnya. "Baiklah, deal. Kita berteman boleh?"
"Boleh. Aku lebih suka memperbanyak teman daripada memperbanyak musuh." Satria mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan Luna menyambutnya.
"Lembut sekali tangannya dan membuat hatiku seperti kesetrum," batin Luna dengan kedua pipi merona.
Safira terbakar lagi api cemburunya dan mendengus kesal, “Pegang saja terus tangannya sammpai puas! Hmph!”
Satria bertambah bingung dengan sikap aneh Safira saat ini dan memutuskan, “Maaf jika aku membuatmu marah. Aku akan pulang sendiri. Lebih baik kita tidak bertemu lagi, itu bisa menjadi lebih baik. Daripada aku hanya bisa membuatmu marah dan marah. Aku tak ingin membuat temanku marah karena sikapku.”
Setelah melakukan pemindaian QR code pada jam tangan Overdrive White milik Luna. Lalu mentransfer 10 Orb Stone ke akun milik Luna dan menyelesaikan transaksinya, Satria pun keluar dari ruangan Luna dengan menunduk pasrah.
Safira menyesal dan langsung mengejarnya, “Saria tunggu sat!”
“Dasar gadis manis bodoh. Seorang laki-laki jika ditekan dia akan pergi, seperti halnya burung yang dilempari batu maka dia akan pergi,” gumam Luna tersenyum tipis dan tak mau ikut campur sahabat karibnya tersebut.
__ADS_1
Di tempat parkir kafe Marinasi, mata Safira berkeliling mencari keberadaan satria yang sudah pergi menggunakan ojek online menuju rumah renata untuk latihan dengan Byakta.
“Maafkan aku Satria, aku salah. Entah mengapa aku tak bisa menahan rasa cemburuku padamu Satria ketika kau berdekatan dengan gadis lain. Padahal ketika aku berpacaran dengan Jonathan dana dia berhubungan dengan wanita lain bisa saja,” gumam Safira menyeka cairan bening yang sudah tumpah membasahi pipinya.
***
Gang menuju rumah Renata.
Satria berjalan perlahan dan tidak ada lagi yang berani macam-macam dengannya. Semua preman mengulas senyum lebar dan Satria menanggapi dengan senyum ramah pada mereka semua.
Di rumah Renata sudah ada bosa dar Saka, kepala preman di wilayah Cicaheum.
“Bagaimana Byakta, Aku sudah memberikan tempo sampai hari ini padamu untuk melunasi hutang-hutangmu?’” tanya Joe sang pria berbadan gendut dengan perut mencuat memakai setelan jas hitam dengan kancing hampir terlepas.
Joe sudah merasa di atas angin karena Byakta pasti tidak akan bisa melunasi hutangnya dan dia bisa membawa Renata untuk dijadikan istri kelimanya.
"Tenang saja bro." Byakta menaruh map coklat berisi uang 30 juta di atas meja. "Silahkan dihitung! Aku yakin tidak akan kurang sepeser pun."
Mata oe membola melihat Byakta menaruh map coklat berisi uang dan membuka map tersebut, lalu menghitung jumlah uangnya dan pas dengan total 30 juta.
“Sial, hutangnya lunas> Jadi aku tidak bisa membawa Renata untuk aku jadikan istri kelima. Tapi Byakta dapat uang darimana?” pikir Joe dengan raut muka dipenuhi tanya besar.
“Hormat pada guru!” Satria tiba dan memberikan salam dengan menggenggam kepalan tangannya lalu menunduk hormat pada Byakta. “Apa ada masalah guru?”
“Ada. Cepat nikahi renata maka semua masalah gurumu ini akan selesai,” jawab Byakta sengaja agar Joe tidak mengganggu renata lagi karena sudah punya calon suami.
__ADS_1
Renata kali ini diam mengikuti semua pengaturan Byakta. Lagipula Renata cukup senang jika Satria yang menjadi calon suaminya. bagi Renata, Satria itu terlalu baik dan rela mengorbankan apa yang dia punya untuk menyelamatkan keluarganya.
“Oh, jadi ini calon suami Renata. Awas saja, aku akan menyuruh orang untuk mematahkan lehermu karena sudah merebut Renata dariku,” batin Joe tersenyum licik. Lau pergi bersama keempat pengawalnya tanpa pamit pada Byakta.