Overgear

Overgear
Bab 28


__ADS_3

Salah satu preman melepaskan tendangan lurus dan Satria mundur dengan menyerang balik melakukan tusukan ke arah telapak kakinya.


Dia seperti melihat gambaran prediksi ketika menggunakan skill ‘Scarlet Emperor.’


“Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan tubuhku dan pikiranku?” batin Satria dipenuhi tanda tanya besar.


Preman itu terjungkal tabrak tiang listrik dan masuk ke dalam selokan. Satria menunduk, tangan kiri salah satu preman yang sudah berada di belakang Satria, tiba-tiba melewati kepalanya.


Satria menyerang balik lagi dengan menusukan tongkat besi itu tepat di persendian tangan kirinya .


BAM!


“Aaaakh!” pekik preman botak meringis kesakitan dan memegangi tangan kirinya. Gerakan tusukan yang dilancarkan oleh Satria begitu kuat seperti dia sedang bermain game Overgear.


Preman yang lain menyapukan kaki kanannya dari atas ke bawah untuk mengenai kepala Satria yang masih merunduk. Satria berguling mundur dan melakukan gerakan menebas secara horizontal ke arah kaki kiri preman bergigi ompong tersebut.


BAM!


Preman bergigi ompong terjatuh dengan kepala terhantuk ke permukaan beton. sebelum itu terjadi, Satria menyangga kepala preman ompong tersebut dengan tangan kirinya.


“Bos! Hentikan!” kata preman bergigi ompong yang merasa telah ditolong oleh Saria.


Jika kepalanya tidak disanggah oleh tangan Satria, kepalanya bisa menghantuk permukaan beton dengan sangat keras dan bisa mengakibatkan gegar otak.


Satria mengeluarkan uang 1 juta dari Overdrive gold dan memberikannya pada preman bercodet tersebut.


“Kita sudahi saja permusuhan ini. Bawa mereka berobat! Jangan ganggu keluarga Nona Renata lagi!” Satria menatap tajam preman bercodet tersebut dan preman itu seperti melihat malaikat pembunuh di depannya hingga membuat celananya basah.

__ADS_1


“Ba-baik, maafkan kami.” Prema bercodet itu langsung bersujud dan Satria menyanggahnya agar badannya tetap tegak.


“Ingat, bung manusia dan aku manusia. Sesama manusia dilarang untuk saling bersujud, bersujudlah pada Tuhan.” Satria menepuk punda preman bercodet tersebut yang badannya masih gemetar. Lalu meninggalkannya dengan keadaan seperti itu.


Renata menghela nafas panjang setelah Satria berhasil melewati para preman itu. terlebih lagi dia sangat kagum dan tidak berlaku kejam walau preman itu sudah meminta maaf juga menyerah.


Walaupun pemimpin preman itu adalah Saka sang preman bercodet. Tapi dari kesepuluh anak buahnya yang terkuat adalah preman bergigi ompong tersebut yang bernama Haki.


Ayah Renata yang bernama Byakta Adhinata, dari jauh menyunggingkan senyum melihat Satria menang dari para preman yang telah meresahkan keluarganya tersebut.


Melihat Satria dan Renata memasuki gerbang kediaman rumahnya yang cukup luas dengan gaya rumah sunda tradisional, dia pun berdiri dengan mengulas senyum lebar.


“Non, bawa calon suami?” goda Pria berumur 65 tahun namun tubuhnya menolak tua. Wajahnya awet muda dengan mata sipit dan berambut putih bersih seperti beras premium.


“Apaan sih yah! Jengkol eh jengkel deh!” Renata menggembungkan pipi lalu mencium punggung tangan Byakta. Setelah itu dia memperkenalkan Satria, “Ini temanku Satria. Kita baru berkenalan di angkot. Semua ini gara-gara bocah gemblung itu memasang brosur di angkot, hmph!”


“Pak, Aku Satria. mohon aku terima jadi muridmu!” potong Satria dan berlutut dengan menangkupkan tangan ke arah Byakta. "Aku mohon pak. Aku belajar ilmu pedang bukan untuk berkelahi. Tapi aku ingin mengasah kemampuanku bermain game."


Byakta tertawa terbahak–bahak dengan alasan yang dikemukakan oleh Satria, "Hahaha … Satria oh Satria. Tidurmu terlalu miring dan kopimu kurang kental. Apa hubungannya bermain gam dengan berlatih ilmu pedang?"


“Ini Pak!” Satria menyodorkan ponsel pintarnya yang sudah dibuka dan menunjukan video yang merekam dirinya sedang bertarung dengan Zenia. “Itu aku sedang ikut kompetisi di game tersebut dan aku mendapatkan juara tiga bersama rekan-rekanku.”


Byakta memperhatikan secara semua gerakan Satria dan membuatnya berdecak kagum. Tapi namanya juga Bapak-bapak zaman baheula, Byakta tidak percaya jika pria yang ramping memakai cyborg armor suit putih itu Satria.


“Ah, tidak mungkin. Pria ini ramping, kamu maaf agak tambun —”


“Ayah!” potong Renata dengan berteriak sangat keras hingga ayam tetangga kehabisan nafas karena kaget. Dia selalu kesal dengan sikap kepolos-polosan Byakta itu setiap kali menanggapi sesuatu.

__ADS_1


“Sudahlah, pak. Intinya diterima gak aku jadi muridmu pak?” pinta lagi Satria yang obrolannya sudah berbelok jauh.


“Hmmm … bagaimana ya? Sebenarnya aku tidak lagi menerima murid. Itu juga gara-gara si bocah gemblung itu. Tapi asal nak Satria bisa melunasi hutangku dan menikahi Renata. Aku jamin —”


“Ayah!” potong lagi Renata dengan berteriak dan memukul pelan punggung Byakta yang selalu saja menggodanya untuk segera menikah.


“Ampun Nona Jago! Ampun!” Byakta berpura-pura meringis kesakitan dan langsung memeluk Renata.


Satria tertunduk lesu dengan tatapan sendu. Dia iri dengan Renata dan mengingatkan pada almarhum kedua orang tuanya yang jarang bercengkrama dengannya


“Baiklah, pak. Berapapun hutang bapak aku akan bayar,” tegas Satria sambil bangkit berdiri.


“Hutangku pada bos Saka dan rekan-rekannya itu 30 juta. Apakah kau sanggup membayarnya?” tantang Byakta.


“Sanggup, jangankan 30 juta, 100 juta juga aku siap,” tegasnya lagi.


Satria berani menerima tantangan Byakta, karena dia mendapatkan hadiah gold dari kompetisi event 'War Sengoku' cukup banyak. Total 2 juta Gold masing-masing untuk party juara 3 dan sudah Satria konversi ke mata uang rupiah. Dia mendapatkan 40 juta rupiah.


Awalnya memang ingin digunakan untuk membeli sepeda motor dan sisanya untuk biaya kuliahnya. Namun ia urungkan, karena di dalam game masih memerlukan banyak persiapan dan tidak selalu mengandalkan semua skill yang dia miliki.


“Baiklah, aku terima tekadmu dan aku pastikan ilmu berpedang milikku bukan ilmu berpedang kaleng-kaleng. Makanya aku memintamu dengan harga yang cukup mahal —”


“Ayah, apa tidak keterlaluan meminta Satria untuk melunasi semua hutangnya. Lagipula dia teman yang baru saja berkenalan denganku. Aku harap ayah tidak keterlaluan,” potong Renata merasa malu dengan Satria karena Byakta meminta uang yang cukup besar padanya.


“Maafkan ayah, putriku. Tidak ada pilihan lain. Ayah hanya tidak mau mereka terus mengganggumu. Apalagi Bos besar terus memintamu jadi istrinya. Ayah mungkin bisa melindungi diri dari mereka tapi dengan kalian bagaimana?” balas Byakta dengan tatapan sendu pada Renata.


“Pak, apapun syaratnya aku akan memenuhi.” Satria tanpa basa-basi lagi mengeluarkan uang 30 juta dari dalam Overdrive gold dan memberikannya pada Byakta. “Anggap saja ini ongkos atau mahar aku meminang ilmu pedang milikmu Pak.”

__ADS_1


“Maafkan bapak nak Satria. Harus melibatkan nak Satria dalam masalah ini. Tapi bapak tidak punya pilihan lain. Anggap saja ini hutang bapak pada nak Satria, masalah ilmu berpedang, Bapak anggap impas dan tak perlu ongkos,” balas Byakta merasa terharu.


__ADS_2