
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Zenia.
“Kamu harus mengumumkan pada ketiga temanmu untuk keluar guild 4E. Apakah kau siap kehilangan segalanya?” Satria menguji tekad Zenia dengan mengatakan hal tersebut.
“Aku menerima tantanganmu, berarti aku menerima semua konsekuensinya dan itu tidak masalah denganku, walaupun harus mengulang akun pemain milikku dari awal,” jawab tegas Zenia.
“Baiklah, aku akan menanggung apa yang telah aku perbuat padamu,” kata Satria membuat Zenia tersipu malu karena yang dipikirkannya seperti seorang suami bertanggung jawab pada istrinya
5 menit kemudian, Arven, Kira, Vincent, dan Safira beserta mahasiswa lain masuk ke dalam kelas.
Arven, Kira, dan Vincent menatap ke arah Zenia dengan tatapan kecewa. Mereka bertiga telah melihat video pertarungan Satria dan Zenia yang dimenangkan oleh Satria. Ketiga anggota geng 4E tersebut juga sudah melihat isi dari perjanjian pertarungan antara Satria dan juga Zenia.
"Aku, Zenia Letisha Prameswari mengumumkan, mulai sekarang aku keluar dari Guild 4E dan keanggotaan 4E!" teriak Zenia dengan nada suara sangat tegas, menyatakan tekadnya sudah bulat.
"Jangan bercanda!" Vincent menggebrak meja karena kesal.
Arven dan Kira menggertakan gigi mendengar keputusan Zeni. Safira dan semua mahasiswa di dalam kelas pun menjatuhkan rahang dengan mata membola. Mereka tak bisa mencerna dengan baik dari perkataan Zenia saat ini.
Zenia pun berpindah tempat duduknya di samping Satria dan membuat Safira kembali terbakar api cemburu.
"Zenia, apa yang kamu lakukan? Kenapa kau tiba-tiba mendekati Satria?" teriak Safira berapi-api.
"Mulai lagi. Pasti dia akan marah lagi," batin Satria menunduk pasrah setelah melihat Safira kembali marah-marah.
"Safira, Zenia sekarang anggota keluargaku dan aku akan mendirikan party dengannya. Aku mohon jangan marah lagi. Lebih baik kita mengurus, urusan kita masing-masing," pinta satria dengan menangkupkan tangan dan perasaan yang tulus.
“Lihat saja! Aku akan menarik semua investasi keluargaku dari perusahaan ayahmu Zenia,” ancam Arven.
“Aku juga,” timpal Arven.
__ADS_1
“Ya, aku juga. Kami akan memburumu dimanapun dan kami akan hancurkan sampai level nol,” timpal Kira dengan menunjuk tegas ke arah Zenia.
Keadaan semakin memanas di dalam kelas, tapi semuanya kembali sejuk ketika Ibu Irna masuk untuk memulai kelas hari ini.
***
7 jam kemudian.
Satria keluar dari dalam kelas, dan Zenia terus mengekor di belakangnya membuat pria tambun itu kebingungan.
"Zenia, kenapa kamu terus mengikutiku? Bukankah kamu harus pulang ke rumah?" tanya Satria sambil menengok ke belakang.
"Bukankah kau tadi mengatakan untuk menanggung semua hidupku? Aku melepas semuanya demi kamu, karena kamu sekarang tuanku," jawab Zenia polos dan membuat Satria memijat keningnya berkali-kali.
Bagaimana tidak, hidupnya sendiri saja masih berat, dan kini harus menanggung biaya hidup Zenia yang sudah melepas semua kekayaannya termasuk koin gold di dalam akunnya yang sudah diserahkan ke Arven sebagai Guild Leader 4E atas kompensasinya keluar dari dalam guild.
“Serahkan saja padaku.” Zenia menepuk pundaknya dengan penuh percaya diri bahwa dia bisa hidup seperti Satria, walaupun pas-pasan.
Setelah cukup lama menaiki angkot dan mereka berdua saling bungkam seribu bahasa, karena terlalu canggung. Satria meminta sang supir untuk memberhentikan mobilnya di depan Rumah Sakit Medika, dimana Pak Wiryawan di rawat.
Langkah Satria diayunkan dengan cepat menuju lobi dan tiba di depan meja resepionis.
“Maaf, Suster. Aku mau menjenguk Pak Wiryawan, suaminya Ibu Hera. Apakah sudah menjalani operasi dan dikamar mana? Aku yang ngontra di kontrakannya Ibu Hera, namaku Satria,” tanya Satria dengan tersenyum ramah.
“Sebentar ya mas.” Suster itu mengetik papan keyboard komputer untuk mencari informasi mengenai Pak Wiryawan. “Syukur, operasinya kemarin berjalan lancar. Lantai 3, kamar Rose nomor 11.”
“Terima kasih Suster, permisi!” Satria melempar senyum ramah dan membuat Suster cantik tersebut salah tingkah.
Punggung Satria dan Zenia lama-lama telah hilang dari pandangan Suster tersebut.
__ADS_1
Satria dan Zenia keluar dari elevator. Sekarang mereka berdua berada di lantai tiga sesuai arahan Suster cantik, keduanya melirik ke kiri dan ke kanan mencari kamar Rose nomor 11.
Akan tetapi, mata Satria melebar setelah melihat Ibu Hera sedang ditampar oleh dua orang pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan kekar.
"Cepat! Lunasi hutang-hutang Wiryawan! Kalau tidak, bos kami akan menyita semua asetmu!" Salah satu pria kekar berjas hitam itu mencengkram pipi Hera dan bersiap melayangkan tamparan selanjutnya.
Ajan tetapi ditangkap oleh tangan Satria, “Tuan, jangan kasar dengan ibu kontrakanku,” katanya sambil melempar tangan itu secara paksa.
“Jangan ikut campur!” Pria berjas hitam yang satunya melayangkan pukulan ke arah pelipis kanan Satria, namun dia memiringkan kepala dan pukulan itu hanya mengenai ruang kosong.
"Satria sangat hebat. Bagaimana dia mampu menghindari gerakan pukulan yang cukup cepat seperti itu?” batin Zenia berdecak kagum akan gerakan hindaran yang diperagakan Satria.
“Jangan salahkan aku!” Satria menyerang balik dengan melepaskan pukulan dengan telapak tangan luar seperti bilah pedang dan dihantamkan ke leher kiri pria berjas hitam itu.
BUAK!
Di langsung tersungkur ke permukaan lantai dan meringis kesakitan memegangi lehernya. Pria berjas yang sedang mencengkram pipi Hera melepaskan cengkramannya karena merasakan hawa dingin di tengkuknya karena ditatap tajam oleh Satria dengan aura membunuh yang sangat kuat.
Pria berjas hitam berkepala botak dan hanya menyisakan rambut kuncung di depannya tersebut langsung memapah rekannya yang sedang tertelungkup kesakitan.
“Awas saja! Kami akan datang lagi untuk menagih hutang,” ancam pria berambut kuncung dengan mengacungkan jari tengah ke arah Hera. Kedua punggung mereka sudah tak dapat terlihat lagi oleh Zenia, Satria, dan Hera.
“Sat, kamu gak papa?” tanya Zenia dan Hera serentak dengan nada khawatir.
“Gak papa, Bu. Gak papa Nia. Semuanya aman.” Satria melempar senyum teduh agar mereka berdua tenang dan tidak khawatir lagi padanya. Kemudian dia melanjutkan, “Apa yang sebenarnya terjadi Bu?”
“Entahlah, Sat. Ibu kurang paham, hanya bapak yang tahu. Mereka hanya mengatakan jika Bapak punya hutang 100 juta pada mereka dan 3 hari lagi harus dilunasi. kalau tidak, mereka akan menyia sementara semua unit kontrakan,” jawab Hera dengan tatapan sendu dan menahan cairan bening di kelopak matanya agar tidak jatuh.
Satria memijat keningnya beberapa kali dan menghela nafas panjang. Jiwa kepahlawanannya kembali berontak dan ingin menolong Hera juga Wiryawan dari jeratan hutang rentenir.
__ADS_1