
Satria duduk di salah satu meja milik outlet KFC dan sebelum itu memesan ayam super kombo beserta minumannya coca cola. Dia merasa kemenangan ini pantas dirayakan walau tidak ada orang tua, pacar atau sahabat.
PLAK!
Satria mendengar suara tamparan dan dia menoleh ke belakang. Ternyata suara tamparan itu dari pipi Safira yang ditampar oleh pacarnya Jonathan.
“Kamu memang cantik, tolol!” Jonathan mendorong dahi Safira dengan telunjuknya dan Safira terjungkal ke belakang. “Gara-gara kamu aku harus bayar semua makan ini! Lebih baik kita putus!”
Satria terenyuh melihat Safira terduduk lemas di lantai dan memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan tangan Jonathan.
Tubuh Satria merespon sendiri dan mendekati Safira. Lalu menarik tangannya agar berdiri tegak dan menyeka air matanya. Sungguh, Satria sekarang selayaknya seorang pahlawan yang menolong seorang putri yang sedang nestapa disakiti pasangannya
“Mbak, gak papa?” tanyanya dan mata Safira menatap muka Satria yang jelek dengan tatapan mata terperangah.
Bukan karena kejelekan wajah Satria, tapi di mata Safira ada sesuatu yang menarik minatnya dan itu sangat kuat. Bahkan kesedihannya hilang seketika ketika melihat wajah Satria seperti judul lagu ‘Wajahmu mengalihkan duniaku.’
“Te-terima kasih mas. sudah dua kali mas menolongku. Maaf kalau aku sering ngerepotin mas,” jawab Safira dengan kedua pipi merah merona, lalu menyeka cairan bening yang masih tersisa di bawah kelopak matanya.
Tiba-tiba perut Safira berbunyi keras, Satria yang kehilangan kewarasan menarik tangan Safira ke arah mejanya dan mendudukkan tubuh sintal itu ke kursi yang berhadapan dengan kursinya.
Sewaktu makan dengan Jonathan, Safira tidak makan karena tidak membawa uang dan beralasan jika sudah makan. Hanya Jonathan makan seorang diri dan membuat Safira meneguk salivanya dalam-dalam.
Akan tetapi, ketika Jonathan selesai makan, dia meminta Safira yang membayarnya. Safira memberi penjelasan kalau dompetnya dicopet, sontak membuat Jonathan marah dan berburuk sangka pada Safira dengan sangkaan gadis berambut coklat tersebut tidak mau membayar makanan yang dibayar Jonathan dan terjadilah kejadian itu.
Satria kembali membawa paket kombo yang sama dengan yang dia makan dan menaruhnya di depan Safira, “Silahkan mbak makan!” serunya.
__ADS_1
Safira awalnya menolak karena dia malu karena ditraktir oleh Satria, “Silahkan dimakan mbak, apa perlu aku suapi? Baiklah, aku akan makan di meja yang lain dan membelakangi mba,” bujuknya datar.
“Tidak!” Safira menarik tangan Satria yang sudah membawa nampannya dan menuntun pria gendut itu untuk duduk kembali ke kursinya. “Maaf, ya mas. Aku merepotkan mas lagi. Aku akan menggantinya lain kali dan traktir mas, janji!”
Safira mengulurkan jari kelingking kanannya dan Satria menyambut jari kelingking yang begitu halus dan lembut itu dengan jari kelingkingnya.
Satria baru tersadar dan terbatuk, “Alamak, uhuk!” serunya dengan darah keluar dari kedua lubang hidungnya.
Satria bangkit dan menutup hidungnya dengan tisu. Lalu bergegas ke toilet untuk membersihkan diri. Safira yang khawatir mengejarnya ke toilet dan melupakan perutnya yang lapar.
Di depan toilet, Safra mondar-mandir menunggu Satria dengan perasaan khawatir. Begitu keluar, Satria langsung ditarik tangannya dan mukanya berhadapan langsung dengan muka Safira, membuat jantung Satria berdetak tak beraturan seperti genderang mau perang.
“Aku bisa mati. Aku bisa mati. Oh, tuhan, jangan siksa aku dengan kecantikan ini. ra-rasanya aku mau mati,” batin Satria dengan badan gemetar tangannya dipegang oleh tangan selembut sutra.
Safira dan Satria kembali melanjutkan makan dengan perasaan canggung diantara mereka berdua.
Satria berinisiatif mengawali pembicaraan, “Maaf, nama mbak siapa? Bolehkah aku berkenalan dan menjadi teman mbak?” pintanya menyodorkan tangan dalam keadaan muka menunduk malu.
Safira menyambut tangan Satria, “Boleh, aku Safira Maharani. Mau minta nomor telepon juga boleh atau ID Overdrive juga boleh. Apakah mas juga seorang pemain Overgear?”
“Satria, namaku Satria Anggara. Aku ….” Satria melepaskan tangan Safira dengan cepat dan bingung mau menjawab apa. Dia tidak mau identitasnya sebagai pemain Regalia terbongkar. “Mmmm …. Tidak mbak. Aku hanya mahasiswa di ITB fakultas FTI dari beasiswa. Mana mampu membeli Overdrive yang sangat mahal itu.”
“Oh, kampus ITB. Aku juga baru saja kuliah disana dan kita satu fakultas. Besok aku baru masuk. Syukurlah, aku jadi punya teman. Aku suka malu jika bersinggungan dengan orang yang belum aku kenal dengan lebih dalam.” Safira raut wajahnya sangat sumringah dan tak sadar memegang kedua tangan Satria.
Tak terasa mereka sudah berbincang sangat lama di dalam food court Mall PVJ Bandung. Walaupun Safira yang mendominasi pembicaraan itu, ternyata Safira orangnya ramah dan agak bawel.
__ADS_1
Mereka berdua pulang bersama menggunakan taksi online. Satria meminta driver taksi online tersebut untuk mengantarkan dahulu ke rumah Safira.
Alangkah terkejutnya Satria ketika melihat rumah Safira yang begitu megah dan dijaga banyak bodyguard. namun Safira yang tidak suka dengan gaya hidup mewah selalu merendah dengan pergi kemanapun menggunakan transportasi publik dan tidak suka diawasi oleh para bodyguard ayahnya.
Satria sempat curiga dengan jam tangan Overdrive yang dipakai di tangan kiri Safira yang memakai jam tangan Overdrive Silver dan hanya anak orang kaya saja yang bisa memakai jam tangan tersebut.
Safira Maharani merupakan anak dari Prigya Maharanu, orang terkaya nomor satu di Indonesia dan nomor tiga di dunia.
Berkat game Overgear dan memiliki guild Versaxus yang memiliki 1 juta member di dunia dan merupakan guild nomor tiga teratas di dunia. Prigya Maharanu mampu meraup banyak profit dari aset digital, investasi berbasis digital di game Overgear.
Satria keluar pertama dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Safira. Prigya yang sedang menunggu Safira di depan gerbang dengan menyandarkan tubuhnya di pagar rumahnya membuat Satria langsung menggigil tubuhnya.
“Maaf, pak. kalau aku mengantarkan Nona Saira terlalu malam. Ini —”
“Bagus, kamu memang lelaki yang gentleman. Tidak seperti si tempe bacem itu,” potong Prigya dengan tatapan tajam dan membuat Satria tambah bergidik ngeri seperti ditatap malaikat maut. “Kamu siapa?”
“Sa-satria Anggara pak,” balas Satria gugup dengan keringat dingin membasahi dahinya.
“Pah, sudah! Mas Satria mau pulang, kasihan pak supirnya menunggu. Lagipula aku harus masuk untuk mencari keberadaan pemain Regalia itu.”
“Sungguh gara-gara dia semua pemain dan guild melakukan perombakan besar.” Safira mendorong badan Prigya untuk masuk dan menoleh ke arah Satria dengan mengerlingkan mata. “Kapan-kapan mampir ya mas!”
"Sial, aku malah masuk kandang macan," gumamnya dengan tersenyum ramah ke arah Safira yang hanya terlihat punggungnya saja. Kemudian dia masuk ke dalam mobil taksi online. "Maaf, ya pak agak lama. Boleh jalan pak, silahkan!"
"Gak papa mas, sudah biasa." Sopir taksi online tersebut menoleh ke arah Satria dengan mengacungkan jempol dan tersenyum sampai giginya kelihatan.
__ADS_1