
Keesokan harinya, Kampus ITB.
Mentari pagi bersinar lebih cerah. Satria duduk termenung di tempatnya. memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk masa depannya di dalam game Overgear.
Desas-desus mengenai pembukaan dungeon tersembunyi The Crucible beredar santer dikalangan pemain Overgear.
Sejak pagi hari dia bungkam seribu bahasa dan tidak menyapa Safira dan membuat gadis berambut coklat tersebut dipenuhi tanya besar akan sifat diam Satria yang terjadi secara tiba-tiba.
Sebenarnya Satria minder untuk melanjutkan pertemanannya dengan Safira. Dia merasa tak pantas berteman dengan gadis berambut coklat lurus tersebut karena dia merasa miskin dan jelek.
Di dalam kelas pun Satria tidak nyaman karena terus dipelototi oleh geng 4E, “Bu! Aku minta izin untuk keluar kelas! Badanku tidak enak,” pinta Satria dengan mengacungkan tangan.
“Ya, silakan!” sahut Ibu Irna menyetujui.
Satria pun keluar dengan perasaan yang tidak nyaman menuju pintu keluar dan diteruskan menuju jalan utama.
Pria tambun itu melambaikan tangan untuk menghentikan mobil angkot dan ketika mobil berwarna hijau itu tiba, Satria langsung masuk.
Matanya langsung membelalak ketika ada sebuah kertas berisikan iklan latihan berpedang untuk pemula. Lalu dia mencatat nomor telepon tersebut dan langsung menghubunginya. Namun tidak ada jawaban dan mengirimkan pesan untuk menanyakan perihal tersebut.
Satri pun memutuskan tidak pulang ke rumahnya, tapi menuju tempat latihan belajar ilmu pedang tersebut.
Di dalam angkot yang menuju wilayah Cicaheum, seorang gadis muda dengan bibir merah muda merekah masuk ke dalam angkot dan duduk berhadapan dengan Satria.
Mencium bau wangi dari tubuh Satria, gadis itu bertanya dengan terkekeh sambil menutupi mulutnya, “Mas, wangi banget. Sudah seperti gigolo saja.”
“Maaf, Mbak. Kalau bau badanku mengganggu Mbak,” jawab Satria dengan mengangguk pelan dan tersenyum kecut.
“Bercanda mas, bercanda. Lagipula mas wangi banget ditambah mas lucu wajahnya jadi pengen gigit,” canda gadis berumur 21 tahun tersebut dengan terkesan agresif terkena pengaruh bau wangi dari tubuh Satria yang bisa memabukan para wanita.
__ADS_1
“Sekali lagi maaf ya Mbak.” Satria melempar senyum kecut dan merasa risih dengan tatapan cabul yang dilontarkan kedua mata gadis yang bernama Renata tersebut.
“Tidak apa-apa mas. Aku hanya bercanda. Mas mau turun dimana?” tanya Renata dana mencoba mengakrabkan diri. “Maaf kalau aku buat mas risih. Ya, aku hanya kesal saja pada takdir jadi mencoba tersenyum pada semua orang dan mencoba mengakrabkan diri pada orang yang mungkin tidak kukenal. Aku melihat mas seperti orang baik, jadi aku ingin berbicara dengan mas.”
Perasaan risih itu telah hilang dari dalam hati Satria setelah Renata meminta maaf. DIa mula membuka diri dan menyodorkan tangan untuk berkenalan, “Aku Satria Anggara, mahasiswa ITB.”
Renata menyambut tangan Satria yang begitu lembut, “Aku Renata Adinatha. Aku tidak kuliah. Aku juga belum bekerja, hehehe ….”
“Kenapa tidak mencoba bermain game Overgear?” celetuk Satria dan langsung membuat Renata menunduk pasrah. “Maaf, kkalau membuat Nona Renata resah. Oh, ya. Apakah Nona Renata tahu alamat ini?”
Renata menerima brosur yang disodorkan oleh Satria, “Loh, bukankah ini alamat rumahku? Dasar bocah gemblung itu selalu mencari masalah!” ucapnya kesal dan *******-***** kertas brosur tersebut.
“Oh, ini rumah Nona Renata. Apakah memang Ayah atau Ibu Nona Renata membuka kelas ilmu pedang untuk pemula?” tanya Satria penasaran.
“Iya, tapi kami punya masalah dengan izin dari warga sekitar. Tepatnya kepala preman di daerah Cicaheum,” jawab Renata tertunduk pasrah.
“Kalau aku mendaftar, berapa biaya per bulannya Nona Renata?” tanya Satria tambah antusias.
Dengan adanya murid yang mendaftar maka ayahnya yang seorang pensiunan tentara Kopassus itu bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membiayai adiknya.
Mobil angkot hijau itu berhenti di sebuah gang yang cukup lebar dengan tiga motor bisa masuk. Satria dan Renata turun dari angkot hijau tersebut, lalu berjalan perlahan menyusuri jalan gang itu.
Banyak pemuda berandalan yang sedang main kartu dan para preman yang meminum-minuman keras.
“Nona cantik, kamu sudah pulang.” Salah satu preman yang berjalan agak limbung mendekati Renata dan mencolek dagu renata yang begitu menggoda bagi para pria.
“Ma-maaf, mas. Permisi!” Satria menepis pelan itu dan menunduk hormat pada preman dengan wajah banyak codet tersebut.
“Oh, ini pacarnya Nona cantik ya? Bagaimana kalau kita sikat saja? Biar Nona cantik ini memanggil ayahnya yang sudah berhutang banyak pada bos kami,” tunjuk preman itu pada muka Satria.
__ADS_1
“Bung Jo. Jangan libatkan masalah ayah dengan temanku. ini masalah pribadi bukan masalah yang bisa diumbar pada orang lain dan keluarga kami pantang meminta belas kasih dari orang lain,” tegas Renata dengan tatapan tajam dan kedua tangan mengepal.
“Pukul dia!” tunjuk preman bercodet itu pada Satria dan kelima rekannya langsung berlari dengan pukulan yang siap dihantamkan pada muka Satria.
BUAK! BUAK!
Muka Satria langsung bonyok terkena hantaman pukulan yang cukup keras dan tubuhnya terjungkal menabrak tong sampah.
“Cuih!” Satria meludah, lalu menyeka darah di sudut bibirnya denga bangit berdiri. “Sudah kuduga tubuhku ini masih lemah. Aku hanya kuat di dalam game dan kemampuan di dalam game tidak bisa digunakan di luar game.”
Ayah Renata tidak membantu, justru dia mengintip dari balik lembaran kertas koran yang sedang ia baca. Para preman itu tidak tahu jika ayah Renata adalah pensiunan dan mantan Komandan Kopassus yang menyembunyikan jati dirinya.
Salah satu preman berlari cepat dan menghujamkan tendangan samping ke pelipis kanan Satria dan ditangkisnya dengan lekukan tangan kanannya.
BAM!
Satria terpundur ke arah samping karena tendangan itu terlalu kuat, “Boleh juga kau anak muda,” cibirnya dengan tersenyum sinis.
Darah Satria berdesir an terpompa ke ubun-ubun dengan cepat dan adrenalinnya terpacu hingga dia begitu menikmati pertarungan ini seperti pertarungan di dalam game.
Dia membayangkan kondisinya saat ini seperti di dalam game dan menganggap keenam preman tersebut adalah monster Orc.
Renata hannya bisa menggigit bibirnya dan menumpahkan bulir-bulir bening dari kedua kelopak matanya. Dia marah dan geram pada para preman itu yang selalu mengusik hidupnya.
Satria melirik ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai pedang dan menemukan tongkat besi sepanjang 1 meter di sebelah kanannya. Lalu mengambil tongkat besi tersebut dan menghunuskannya ke arah preman-preman itu.
“Ayo, kita bermain! Jika aku kalah, maka aku akan memberikan kalian setiap aku lewat 1 juta. Tapi jika kalian kalah, maka jangan pernah ganggu lagi keluarga Nona Renata!” tantang Satria dengan tatapan tajam seperti manik mata Elang.
“Hahaha … bocah epep sepertimu mau menantang kami? Mimpi! Patahkan kedua kakinya!” hardik preman bercodet dan menunjuk tegas ke arah Satria.
__ADS_1
kelima preman itu mengepung Satria dengan raut muka menyeringai seperti sang Singa yang siap menerkam mangsanya.