
Satria mengirim pesan pada Zenia dan Renata, bahwa dirinya telah dikalahkan oleh anggota dalam guild Helios yang memiliki pedang bergerigi.
Zenia dan Renata yang sedang melakukan penggerebekan di Forgotten City segera keluar.
Akan tetapi, mereka berdua mendapatkan hasil yang cukup gemilang. Berkat surat rekomendasi evolusi job yang diberikan Satria, Renata berhasil naik ke level 35 dan berhasil naik job terakhir Rune Caster, yakni La Geas. Sedangkan Zenia berhasil naik ke level 45.
Mereka bertiga berada di lantai bawah ruko yang sementara dipinjam Hera pada Satria.
“Sat, kamu gak papa?” tanya Zenia khawatir.
“Buruk juga sih. Aku kehilangan Syverian Phantom Armor Set beserta keempat senjatanya. Padahal itu aku beli dari Harold seharga 1000 evo, karena set armor custom khusus,” jawab Satria menunduk sedih.
“Maafkan aku Sat. Aku tak bisa membantumu.” Renata menepuk pundak kanan Satria untuk menguatkannya dan menyesal karena tak bisa menolongnya disaat Satria kesulitan.
"Tidak apa-apa. Tapi aku akan membalas dendam pada —"
"Nion, namanya Nion. Vice Leader anggota dalam Guild Helios. Dia pemain yang cukup berbakat dan sulit untuk dikalahkan. Guild 4E pernah bentrok dengannya dan kami kehilangan banyak sumber daya,” potong Zenia dengan tatapan tajam dan mengeraskan rahang karena mempunyai musuh yang sama dengan Satria.
“Sat, aku memang baru dalam bermain game Overgear ini. Tapi, jika lawannya adalah pemain kuat maka kita kalahkan dengan jumlah. Saranku kenapa kita tidak merekrut teman atau mendirikan apalah namanya guilid itu atau guild,” kata Renata memberikan saran.
“Ren, mendirikan guild itu bukan perkara mudah. aku harus punya sumber daya yang cukup dan Overdrive yang banyak juga. Kita ini hanya party kuda hitam yang tidak mempunyai sponsor, dan itu sulit jika menyangkut masalah keuangan,” tolak Satria dan merasa saran yang diberikan Renata terlalu muluk.
“Safira, aku sudah menyelidikinya. Bukannya kau bisa memanfaatkannya atau bekerja sama dengannya. Lihatlah!”
Zenia memperlihatkan ponsel pintarnya pada Satria. Dengan memperlihatkan postingan milik Safira yang sedang mencari anggota party untuk direkrut.
“Huh … Safira lagi.” Satria langsung menghela nafas lesu.
__ADS_1
“Kenapa sih? Ada apa dengan kalian? Jangan bilang kalau Safira itu anak dari Prigya Maheswari dan orang terkaya nomor satu di Indonesia? Masalahnya itu. Kamu punya pikiran gak relevan tentang kekayaan, Sat,” balas Zenia dengan menolak mentah-mentah apa yang dipikirkan Satria tentang kekayaan Safira.
“Maksudnya bagaimana? aku gak paham,” timpal Renata dengan raut muka dipenuhi tanda tanya.
“Kamu tahu kenapa aku melepaskan kekayaanku?” tanya Zenia pada Renata dan gadis berambut biru tersebut hanya menggeleng pelan, “Sebenarnya aku semenjak lama ingin berteman dengannya. Tapi dia selalu mempermasalahkan tentang kekayaan.”
Zenia mulai menceritakan saat dirinya awal masuk kuliah dan satu kelas dengan Satria. Dia ingin berteman dengannya, tapi ketika Satria melihat dirinya keluar dari mobil mewah dan teman-temannya mengatakan jika status Zenia merupakan keluarga terkaya nomor satu di Bandung, Satria selalu menghindar dari Zenia sampai sekarang.
Zenia masuk ke dalam anggota 4E sebenarnya hanya ingin melindungi Satria dari kejahilan Vincent, Arven dan Kira. Saat mereka bertiga menjahilinya, Zenia selalu berpura-pura menindas Satria dan menjauhkannya. Itu cara Zenia meringankan Satria dari kejahilan geng 4E.
“Jadi, kamu …?!” Satria melebarkan mata mendengar cerita jujur Zenia.
“Aku mengerti. Satria ….” Renata menepuk pundak Satria dan melanjutkan, “Sat, takdir manusia itu seperti roda, bisa di atas dan bisa juga di bawah. Tapi untuk untuk naik ke atas butuh usaha keras. Salah satunya adalah mengubah paradigma atau pandangan kita tentang suatu kekayaan. Sangat picik jika kamu menilai pertemanan dengan sebuah kemiskinan dan kekayaan.”
“Huh …. Ya aku salah. Mungkin seharusnya aku membuka hati dan pikiran untuk belajar lebih luas lagi tentang kehidupan. Aku akan menemui Safira untuk meminta maaf.”
Sesampainya di kafe milik Luna, Satria masuk ke dalam kafe dan matanya berkeliling mencari keberadaan Safira dengan tergesa-gesa.
“Sat, kamu disini? Mau makan?” tanya Luna yang sedang keliling di wilayah meja pelanggan untuk melakukan pengecekan kebersihan setiap meja.
“Eh, ya Lun. Begini … aku mencari Sa-safira, apakah kau melihatnya?” tanya balik Satria dengan nafas terengah-engah.
“Safira ada di lantai dua sedang bersama —”
Sebelum Luna menyelesaikan jawaban atas pertanyaan Satria. Pria tambun itu sudah naik ke lantai dua melalui tangga dan melihat Safra sedang dipegang tangannya oleh Jonathan yang sedang merengek.
Satria mematung dengan perasaan hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum. Tapi dia tetap tegar dan duduk di meja yang berseberangan dengan meja Safira. Lalu memesan makanan pada pelayan yang sudah melayani Safira.
__ADS_1
“Aku akan menunggunya. Lagipula aku bukan siapa-siapa Safira,” gumamnya menguatkan tekad dengan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya.
Lama menunggu pesanan Satria datang, dia melihat Safira mukanya ditekuk, walaupun tangannya dipegang oleh Jonathan dengan mesra.
“Ra, maafkan aku. Waktu itu aku —”
PLAK!
Safira langsung berdiri dengan melepas paksa tangan Jonathan yang memegangnya. Lalu menampar pipi kiri Jonathan dengan sangat keras.
“Cih, maaf.” Safira tersenyum sinis dan melanjutkan, “Setelah kau tahu aku anak orang kaya? Sampah, benar- benar sampah. Satria jauh lebih baik darimu, sangat jauh. Bahkan dia menjauh dariku setelah tahu aku ini orang kaya, dasar penjilat!”
Satria yang sedang makan dan tidak diketahui keberadaannya oleh Safira, karena terhalangi oleh badan Jonathan langsung tersedak sampai terkentut-kentut, “ Pffft …! Uhuk-uhuk …. Preet!”
Jonathan yang mendengar suara konyol itu mengalihkan pandangannya ke Satria dengan menoleh dan Safira akhirnya melihat Satria, “Satria?!” ucapnya dengan mata melebar.
Jonathan langsung menghampiri pria tambun yang berada di belakang dan mencengkram kerah bajunya dengan tatapan yang mengancam, “Oh, lu yang namanya Satria?”
"Ya, kenapa? Aku tak punya masalah denganmu Tapi jika kamu mau berkelahi ya ayo! Di game, di dunia nyata, aku siap layani," tantang Satria dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang sangat kuat.
Jonathan pun terkencing-kencing dengan kedua lutut menggigil, “Ti-tidak. A-aku ….”
Pria berambut mohawk pun berlari kencang hingga menabrak tembok yang berdampingan dengan pintu yang menuju tangga. Dia berlari karena sangat takut dengan aura membunuh yang dipancarkan oleh Satria yang sudah berhasil mencapai tahap pertama teknik berpedang Naga terbang yang telah diajarkan oleh Byakta.
"Kamu gak papa, Sat?" tanya Safira mendekati Satria dengan muka khawatir.
"Tidak apa-apa. Hanya kerah bajuku saja yang sobek, hehehe …." Satria menunjukan kerahnya sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membuat Safira ikut tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1