
Setelah seminggu lebih aku tidak masuk kuliah,hari ini aku putuskan untuk berangkat,aku tidak mau terus berlarut dalam kesedihan,aku harus bangkit dan melanjutkan hidup ini.
Ku lajukan motorku menuju kampus,sebelumnya aku pergi kerumah Pak Rt untuk mengembalikan uang yang dipergunakan untuk biaya semua keperluan pengobatan,pemakaman dan sampai tujuh hari.Pak Rt sebelumnya menolak,karna uang itu juga berasal dari sumbangan warga sekitar,tapi aku merasa tak enak, tetap uang aku serahkan pada Pak Rt,walaupun dengan cara memaksa.
Tiba diparkiran aku sudah ditunggu Rico,sebelumnya dia kirim pesan padaku untuk bertemu di kampus.
"Ay,,,gimana udah enakan badannya?"sambil terus melihatku.
"Udah Co,nggak usah berlebihan kayak aku sakit parah aja,"
"Namanya juga khawatir Ay,"
"Udah nggak usah lebay," aku berjalan beriringan dengan Rico.
"Aku duluan Ay aku sentar lagi ada kelas," aku anggukan kepalaku saat Rico pergi.
Aku masih memandang punggung Rico yang mulai menjauh,walaupun dia hanya mantan dan sekarang menjadi teman tapi perhatiannya seperti seorang kakak pada adiknya.
Aku bersyukur dia masih mau menjalin hubungan denganku,walaupun dia anak orang kaya tapi dia tak memandang harta dalam berteman.Saat kami pacaran dulu dia selalu memberiku barang-barang mewah,kadang juga mengajak aku jalan-jalan saat weekend keluar kota.
"Hay Yu,udah enak badannya?" pertanyaan yang sama saat aku berangkat pagi ini,
"Kamu sama aja kayak Rico,! datang-datang ditanya gitu," ku dudukkan bokong ini kekursi samping Citra.
"Masak to?? jangan-jangan sehati nih!" Citra cengar cengir
"Mungkin?!!" kujawab dengan cuek
Sikap Citra seperti itu setiap menyinggung nama Rico.Mungkin dia udah ngfans banget ma dia,aku jadi geleng-geleng kepala setiap mengingat kelakuan Citra di depan Rico.
Pelajaran hari ini aku jalani dengan lancar,ku putuskan hari ini untuk berkunjung kepabrik krupuk mendiang orang tuaku,kemarin bang Tohir datang membicarakan rencana kedepannya siapa yang mengelola pabrik itu.
Kusinggahkan sebentar kemasjid untuk sholat,setelahnya ku lanjutkan perjalananku menuju pabrik.
Bangunan sederhana ini menjadi tempat dimana kedua orang tuaku mencari nafkah,membiayai sekolahku hingga sekarang.
Kulangkahkan kakiku masuk kedalam,bang Tohir dan bang Seno sedang mencetak krupuk bersama dua orang lainnya,ada yang mengoven ,ada pula yang lagi mengoreng.Ada 5 orang yang bekerja disini,mereka mengantungkan hidupnya dari sini.
"Ehh mbk Ayu udah datang,mari mbk duduk disana,saya cuci tangan dulu," Bang Tohir beranjak dan menuju kursi yang ada disudut ruangan ini.
"Ya bang," kulangkahkan kakiku dan duduk sambil menunggu Bang Tohir.
"Gimana kabarnya mbk Ayu?"
"Alhamdulilah bang baik,"
"Maaf kemarin tidak bisa bantu-bantu banyak karna disini juga tidak bisa ditinggal lama-lama mbk,"
"Tidak apa-apa bang saya mengerti,"aku tau bang Tohir punya tanggung jawab yang besar disini.
__ADS_1
"Begini mbk,saya harus menyampaikan ini kepada mbk Ayu,setelah pak Anton meninggal siapa yang akan mengantikan beliau untuk mememang pabrik ini?"
"saya dan teman-teman sangat bergantung pada pekerjaan ini,"lanjutnya.
"Saya sudah berfikir bang,saya kurang faham dengan pekerjaan ini,
semua saya serahkan pada bang Tohir untu mengelola usaha Ayah saya.
Karna aku belum bisa mengelola ini semua.
"Tapi bagaimana dengan hasilnya nanti mbk?"
"Saya terima seadanya bang,
bang Tohir hitung perbelanjaannya berapa,gaji pekerja berapa,transprot dan sisanya bis bang Tohir kasih saya."
"Bang Tohir lebih tau dari pada saya,Ayah juga akan setuju kalau beliau masih hidup." lanjutku
"Baik kalau begitu mbk,nanti setiap bulan saya akan menyampaikan rinciannya pada mbak Ayu,"
"Kalau begitu saya pamit bang,maaf ganggu kerjaan bang Tohir,"
"Tidak apa-apa mbak,"
Kulangkahkan kaki menuju tempat motorku parkir,tak lupa aku mampir beli makanan untukku nanti malam,terlalu lelah hari ini untuk memasak sendiri.
Jam menunjukkan pukul 4 sore,segera aku sholat dan bergegas ke makam orang tuaku.
"Ayah ,ibu Ayu datang,semoga Ayah dan ibu ditempatkan di surganya Allah,amin"
Ku baca surat Yasin dan tahlil untuk orang tuaku,seperti ini sudah mengobati rinduku pada orang tuaku.
Hari beranjak malam,rencananya sisa uang yang ditinggalkan ayah dan ibu aku simpan untuk kebutuhan mendadak,mungkin disela kegiatan kuliah,aku akan mencari kerja sambilan.
Tak mungkin aku berdiam diri dan mengantungkan penghasilan dari pabrik Ayah.
Ku cari dari situs lowongan kerja,ada lowongan menjadi kasir di sebuah kafe,setelah aku lihat alamatnya dekat dengan tempat aku kuliah,besok aku putuskan akan melamar disana.
****
Pagi menyapa setelah sarapan aku bergegas kekafe dulu untuk melamar san setelahnya aku berangkat kuliah.
"Selamat pagi mbk!!" saat aku masuk pegawai yang ada di dalam sedang bersih-bersih,mungkin aku terlalu pagi datang melamar pekerjaan.
"Pagi mbak,ada yang bisa saya bantu?"
dia meletakkan alatnya dan menggampiriku.
"Apa benar disini ada lowongan kerja untuk penunggu kasir?"
__ADS_1
"Benar mbk ada,tapi bosnya belum datang,mungkin sebentar lagi,silahkan duduk dulu disana,"
"Iya,terima kasih," ku dudukan pantat ini dan menunggu pemiliknya datang.
Selang beberapa menit,ada cewek cantik masuk.
"Mbak ada yang mau bertemu,!"pegawai itu menyampaikan
"Siapa pagi-pagi gini?"
"Kayaknya mau nglamar kerja ,itu disana orangnya mbak,"
Kami beradu pandang sejenak,cewek yang baru masuk tadi langsung menuju tempatku duduk.
"Duduk saja tak usah berdiri," dia mengatakan dan duduk di depanku.
Ku anggukkan kepala dan membalas senyum ramahnya.
"Saya pemilik kafe ini,apa anda yang akan melamar disini?"
"Benar saya yang akan melamar disini,
perkenalkan nama saya Ayu purnama,saya seorang mahasiswa semester 1 universitas Harapan Bangsa,"
Ku ulurkan tanganku untuk memperkenalkan diri.
"Saya Sinta,pemilik kafe ini,saya memang mencari pegawai yang masih muda untuk bagian kasir," katanya.
"Apa perkerjaan ini tidak akan mengganggu kuliah kamu?"lanjutnya.
"Saya akan membagi waktu saya antara kuliah dan bekerja," ucapku mantap
"Baik kalau begitu,ini gaji yang saya berikan untuk kamu,apa kamu cocok?" sambil menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan tangan.
Kulihat yang tertera cukup untuk biaya hidup aku sebulan.
"Terima kasih itu lebih dari cukup."
"Baik mulai besok kamu bisa masuk kerja,untuk sifnya pagi sampai jam 3 sore,"
"Baik Bu,"
"Panggil mbak aja sama seperti yang lain,biar lebih akrab," sambil tersenyum kami berjabat tangan.
"Selamat bergabung," lanjutnya.
Saat akan beranjak tak sengaja Aku melihat Hp mbak Sinta berbunyi dan tertera nama Bayu kekasihku,
'apakah Bayu mantanku? atau hanya sama namanya?' aku bertanya-tanya dalam fikiranku.
__ADS_1