
jari-jarinya yang panjang dan cekatan tidak mau berheti bergerak—mengetuk-ngetuk kursi, menyibakkan rambut ke belakang telinga, memain-mainkan kancing pada jaket tentara longgar yang dia pakai. Entah anak itu memang aslinya hiperaktif atau dia telah mengkonsumsi gula serta kafein yang cukup untuk membuat seekor kerbau kena serangan jantung.
“Ngomong-ngomong,” kata Leo, “kuharap kau menyimpan lembar kerjamu, soalnya punyaku sudah kupakai buat lap ludah berhari-hari lalu. Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang menggambari wajahku lagi?”
“Aku tidak kenal kau,” kata Jason.
Leo memberinya senyuman lebar. “Oke deh. Aku memang bukan sahabatmu. Aku kembaran jahatnya.”
“Leo Valdez!” Pak Pelatih Hedge berteriak dari depan. “Ada masalah di belakang sana?”
Leo berkedip kepada Jason. “Perhatikan ini.” Dia berputar ke depan. “Maaf, Pak Pelatih! Saya tidak mendengar suara Bapak. Bisa tolong Bapak menggunakan megafon Bapak.”
Pak Pelatih Hedge menggeram, seolah dia senang karena mendapat alasan untuk menggunakan megafonnya. Dia melepaskan megafon itu dari sabuknya dan melanjutkan memberi arahan, namun suaranya kedengaran seperti Dart Vader. Anak-anak tertawa terbahak-bahak. Sang pelatih mencoba lagi, tapi kali ini megafon itu mengumandangkan: “Sapi bilang moo!”
Anak-anak terpingkal-pingkal, dan sang pelatih membanting megafon itu. “Valdez!”
__ADS_1
Piper menahan tawa. “Ya Tuhan, Leo. Bagaimana caramu melakukan itu?”
Leo mengeluarkan obeng kembang mungil dari lengan bajunya. “Aku ini bocah istimewa.”
“Serius nih,” pinta Jason. “ Apa yang kulakukan di sini? Kita mau ke mana?”
Piper mengerutkan alus. “Jason, apa kau bercanda?”
“Tidak! Aku sama sekali tidak tahu—“
Jason menatapnya sambil bengong.
“Tidak, menurutku dia serius.” Piper berusaha menggamit tangan Jason lagi, tapi Jason menarik tangannya menjauh.
“Maafkan aku,” kata Jason. “Aku tak—aku tidak bisa—“
__ADS_1
“Sudah cukup!” teriak Pak Pelatih Hedge dari depan. “Barisan belakang baru saja mengajukan diri untuk bersih-bersih sesudah makan siang!”
Anak-anak yang lain bersorak.
“Wow, kejutan,” gerutu Leo.
Tapi Piper terus memandangi Jason lekat-lekat, seolah dia tidak bisa memutuskan harus merasa terluka atau khawatir. “Apa kepalamu terbentur atau semacamnya? Kau benar-benar tidak tahu siapa kami?”
Jason mengangkat bahu tanpa daya. “Lebih parah daripada itu. Aku sendiri tidak tahu siapa aku.”
***
Bus menurunkan mereka di depan sebuah kompleks bangunan berplester merah mirip museum yang bertengger begitu saja di tengah-tengah negeri antah berantah. Mungkin itu memang Museum Nasional Negeri Antah Berantah, pikir Jason. Angin dingin bertiup di gurun. Jason tadinya tak terlalu memerhatikan apa yang dia kenakan, tapi pakaiannya kurang hangat: jins serta sepatu olahraga, kaus ungu, dan jaket penahan angin tipis berwarna hitam.
“Jadi, kuliah singkat buat yang kena amnesia,” kata Leo dengan nada sok ingin menolong yang membuat Jason berpikir bahwa ceramahnya takkan menolong sama sekali. “Kita ini murid ‘Sekolah Alam Liar’”—Leo membuat tanda kutip di udara dengan jari-jarinya. “Artinya, kita ini ‘anak nakal.’ Keluargamu, atau pengadilan, atau entah siapa, memutuskan bahwa kau terlalu merepotkan, jadi mereka mengirimmu ke penjara indah—sori, ‘sekolah berasrama’—di sini di ‘Ketiak Amerika’, Battle Mountain, Nevada. Di sini kau mempelajari keterampilan yang bermanfaat di alam liar, misalnya lari lima belas kilo di antara kaktus atau menganyam bunga aster untuk dijadikan topi! Dan sebagai hadiah istimewa, kita pergi kie karyawisata ‘edukasional’ bersama Pak Pelatih Hedge, yang menjaga ketertiban dengan tongkat bisbol. Apa sekarang kau sudah ingat semuanya?”
__ADS_1
“Belum.” Jason melirik anak-anak lain dengan was-was: mungkin dua puluh cowok, kira-kira sepuluh cewek. Tak seorang pun dari mereka bertampang seperti pelaku kriminal kambuhan, tapi Jason bertanya-tanya apa yang telah mereka lakukan sehingga dijebloskan ke sekolah untuk berandalan ini, dan dia bertanya-tanya apa sebabnya dia ditempatkan bersama mereka.