Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 57 : Ruangan Tersembunyi


__ADS_3

Para penjaga mulai menyiapkan panah-panah mereka yang di ujungnya terbakar api, saat itu menancap di tubuh Zombie mereka segera terbakar.


Dari kejauhan puluhan panah itu menyerupai sebuah meteor indah, sayangnya itu bukan pemandangan yang ditunggu-tunggu semua orang melainkan pemandangan yang mereka benci.


Untuk serangan zombie mudah bagi mereka dan berikutnya kesulitannya baru dimulai.


Serangan para pasukan tengkorak dengan panah tidak berefek apapun yang memaksa kami untuk menyerang dari depan.


Aku melihat ke arah seluruh anggota kelompokku dan mengangguk untuk turut membantu.


Yue menembakan berbagai sihir api, Noel menyerang dengan pedangnya, Kila melalui tinjunya dan Marie menghancurkan kepala mereka dengan bola besinya.


Berbeda dengan saat kami masuk dungeon kesulitannya tidak seberapa, yang membuatnya merepotkan hanyalah bahwa pasukan ini sangatlah banyak.


Aku mengayunkan pedang menghancurkan lima dari mereka sekaligus.


Setelah hampir 5 jam pertempuran sudah selesai, tidak ada yang mati, walau demikian orang-orang yang terluka tetaplah banyak, bisa dipastikan jika ada serangan berikutnya aku ragu mereka bisa bertahan, sebelum terjadi, keesokan paginya kami telah pergi ke tempat reruntuhan.


Seperti namanya bangunan tersebut sudah ditinggalkan dengan tanaman Ivy merambat di sekitarnya.


Kila mengendus untuk mencium aromanya.


"Aku tidak mencium apapun."

__ADS_1


"Sejak kapan kamu bisa melakukannya, bukannya kucing tidak bisa melakukannya," Noel memberikan tanggapan.


"Jangan remehkan ras kucing, mereka bahkan ahli mencium bau ikan dan kue Pai di jendela."


"Itu aku juga bisa melakukannya."


Selagi memeriksa sekitar kami mendengarkan obrolan keduanya.


"Saat malam tadi aku bisa merasakan sihir dari tempat ini yang mengendalikannya," kata En disusul Yue yang merasakan hal sama.


Mereka memiliki darah roh karenanya mereka bisa melakukannya.


Aku sekali lagi mengitari sekeliling. Menurut pemilik kota seseorang seharusnya tidak bisa memasuki tempat ini. Karena kami bisa memasukinya maka segelnya benar-benar telah hancur.


"Jika begitu hanya satu jawaban."


Aku memanggil Kila.


"Tolong hancurkan lantai ini."


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Setelah kami menjaga jarak Kila bersiap seolah menarik nafas dalam-dalam, ada rantai yang mengikat tubuhnya yang terhubung dengan tangan Marie.


"Aku mulai," setelah mengatakan itu, Kila melompat ke udara lalu mengirimkan tinjunya. Hanya satu pukulan lantai batu tersebut mulai retak dan hancur, menciptakan lubang yang dalam. Tentu saja sebelum Kila jatuh Marie segera menariknya sekuat tenaga.


"Rasanya ini tidak terlihat keren nyan."


Meski dia mengeluh, hal yang dilakukannya bukan semua orang dapat melakukannya. Di dalam lubang yang dihancurkan ada semacam koridor tersembunyi.


Kami sebisa mungkin untuk turun dengan sihir Yue dan mulai menyusuri jalannya, aku menggunakan En sebagai penerangan.


"Apa-apaan ini, aku sebuah pedang suci dijadikan lampu penerangan."


"Kami sangat terbantu En."


"Aku akan mentraktirmu makanan yang jauh lebih enak."


"Percuma saja kalian tidak bisa menyuapku, aku ingin porsi besar."


Cara ini selalu berhasil untuk menghiburnya.


Kami tiba di depan sebuah pintu yang menghubungkan altar yang sangat luas, api-api di sekelilingnya bersinar terang menampilkan seorang tengkorak berjubah hitam dengan bola kristal di tangannya, duduk selagi menyilangkan kakinya.


Matanya bersinar terang menatap kami.

__ADS_1


"Aku tidak menduganya bisa ditemukan secepat ini, kalian benar-benar manusia menarik," katanya demikian.


__ADS_2