Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 21 : Dosa Nafsu


__ADS_3

Untuk serangan jauh aku selalu membawa kerikil di dalam saku celanaku, saat dibutuhkan aku hanya harus melemparkannya dan itu menerbangkan mereka dengan kecepatan tinggi.


Di bawah, semua orang terus bertarung, Kokoro menggunakan semacam sihir yang mampu membuat lingkaran sihir di udara lalu meledak begitu saja.


Itu merupakan sihir unik.


Kami berhasil menerobos pertahanan pertama musuh, lalu kedua dan ketiga berada di dekat kristal yang memancarkan sinarnya ke langit.


Hanya satu orang yang berada di sana, seorang pria dengan rambut hitam serta satu anting di telinga kiri.


Walau penampilannya terkesan rapih dia menunjukan wajah senyuman yang mengerikan. Beberapa orang kesatria langsung menyerangnya sekaligus.


Kokoro menghentikan mereka namun sudah terlambat, seluruh tubuh mereka terpotong dengan rapih hingga bagian dalam mereka berceceran.


"Aku tidak bisa mengotori tanganku lebih dari ini, tapi apa boleh buat."


Aku segera melompat ke arah Kokoro, mempercepat diriku dengan sihir hingga mampu menangkapnya dengan baik.


"Okta?"


Aku segera memanjat ke dinding lalu melompat dengan baik untuk mendarat, bisa aku lihat bahwa semua orang yang tadinya berada di bawah telah mati secara mengenaskan.


Tubuh mereka terpotong-potong, bahkan dari mereka terjahit di udara.


"Orang itu membunuh rekannya sendiri."

__ADS_1


"Kau bisa melihatnya," kata si pelaku.


Aku menjelaskan pada Kokoro, dia menggunakan benang-benang tipis untuk menyerang, lengah sedikit kamu bisa berakhir mengenaskan.


"Biar aku yang menghadapinya, kamu tunggu saja di sini."


"Tolong berhati-hatilah."


Aku mengangguk kecil lalu mendarat di depannya yang dikelilingi mayat. Kematian Kokoro merupakan kerugian bagi negara ini karenanya aku memprioritaskan keselamatannya.


"Aku akui kau cukup percaya diri untuk tidak melarikan diri."


"Akan terbuang sia-sia jika kami tidak bisa menghancurkan benda yang ada di belakangmu."


"Memang benar."


"Kenapa kau?"


"Jangan salah paham, ketika kristal ini diaktifkan maka prosesnya tidak bisa dihentikan, sebelum semua kristal lainnya dihancurkan, jika itu awal kalian mungkin bisa beruntung menghentikannya."


Jadi Fel juga salah memberikan informasi.


"Kamu terkejut? Kami tahu kalian mendapatkan informasi tentang kristal ini bukan, namun kami sudah mengantisipasi semuanya dengan merubah sedikit informasinya."


Mereka ternyata mampu melakukan itu.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong namaku Gore, perwakilan dari tujuh dosa mematikan perwakilan nafsu... salam kenal."


Aku melirik ke sekeliling saat sebuah jarum berterbangan ke sekelilingku, masing-masing jarum terlilit oleh sebuah benang tipis yang mampu memotong bahkan besi baja.


Setelah menghindarinya aku mengambil kerikil lalu melemparkannya, setelah melewati beberapa lingkaran sihir di udara, kecepatannya berlipat ganda.


Aku harap itu bisa mengakhiri pertarungan ini dengan cepat namun sayangnya Gore hanya menghindarinya dengan mudah, ia bahkan menangkap satu batu yang muncul di depan wajahnya.


"Sihir yang unik, tapi sepertinya itu bukan suatu sihir yang menganggumkan."


Dia terkejut dengan apa yang aku keluarkan berikutnya. Itu sebuah jimat yang aku lemparkan dan menempel di benangnya.


Ketika aku mengaktifkannya itu berubah menjadi api yang membakarnya.


"Jadi begitu, tidak kusangka kau menggunakan sihir dengan cara seperti itu, kau pasti sangat lemah hingga melakukannya."


Terserah dia mengatakan apa, yang jelas aku harus mengalahkannya dengan cara apapun.


Aku menerjang untuk memberikan pukulan dari depan secara langsung, menyadari ada sebuah benang yang melesat aku menarik diri mundur lalu memangsa wajah masam.


"Kau penyihir pemanggil bukan?" kataku kesal.


"Heh, kau menyadarinya sungguh mengejutkan."


Dari belakang Gore muncul sebuah boneka bayi yang dipenuhi paku di tubuhnya, dan masing-masing di sekitarnya mengeluarkan benang dan jarum.

__ADS_1


Sejak awal makhluk inilah yang menyerang kami.


__ADS_2