
“Bagaimana mungkin kau masih hidup?” sosok Dylan berkedip-kedip. “Petir tadi seharusnya cukup untuk membunuh dua puluh orang!”
“Giliranku,” ujar Jason.
Dia merogoh saku dan mengeluarkan koin emasnya. Jason membiarkan instingnya mengambil alih, melemparkan koin ke udara seakan dia telah melakukan itu ribuan kali. Dia menangkap koin dalam telapak tangannya, dan tiba-tiba saja dia memegang sebilah pedang—pedang tajam bermata ganda yang tampak seram. Gagangnya yang bergerigi pas sekali dengan jari-jari Jason, dan seluruh benda itu terbuat dari emas—gagangnya, bilahnya.
Dylan menggeram dan mundur. Dia memandang dua rekannya dan berteriak, “Tunggu apa lagi? Bunuh dia!”
Roh-roh badai lainnya tidak tampak senang dengan perintah itu, namun mereka terbang ke arah Jason, jemari mereka berderak dialiri listrik.
Jason menebas roh pertama. Pedangnya melewati tubuh roh badai tersebut, dan sosok berasap makhluk itu pun terbuyarkan. Roh kedua melepaskan sambaran petir, namun bilah pedang Jason menyerap aliran listrik tersebut. Jason mendekat—satu hunjaman cepat, dan roh badai kedua pun tercerai berai menjadi serbuk emas.
__ADS_1
Dylan melolong murka. Dia memandang ke bawah, seolah-olah berharap rekannya akan mewujud kembali, tapi mereka tetap menjadi serbuk emas dan tersebar ditiup angin. “Mustahil. Kau ini siapa, Blasteran?”
Piper begitu terperanjat sampai-sampai dia menjatuhkan pentungannya. “Jason, bagaimana ... ?”
Lalu, Pak Pelatih Hedge meloncat kembali ke atas titian dan menjatuhkan Leo seperti sekarung tepung.
“Wahai para roh, takutlah padaku!” raung Hedge sambil meregangkan lengan pendeknya. Kemudian dia menengok kesana-kemari dan menyadari bahwa hanya ada Dylan.
Leo berdiri, bernafas tersenggal-senggal. Dia terlihat malu bukan kepalang, tangannya berdarah karena mencakar-cakar batu. “Hei, Pak Pelatih Kambing Super, siapapun kau—aku baru saja jatuh dari Grand Canyon yang terkutuk! Jangan minta-minta tantangan!”
Dylan mendesis kepada mereka, tapi Jason dapat melihat kilatan rasa takut di matanya. “Kalian sama sekali tak menyadari berapa banyak musuh yang telah kalian bangunkan, Blasteran. Nyonyaku akan menghancurkan semua demigod. Perang ini takkan bisa kalian menangi.”
__ADS_1
Di atas mereka, badai menggila menjadi topan ganas. Retakan menyebar di titian. Hujan deras tumpah ruah, dan Jason harus berjongkok untukmenjaga keseimbangan.
Sebuah lubang terbuka di antara awan-awan—sebuah pusaran hitam dan perak.
“Nyonya memanggilku kembali!” teriak Dylan girang. “Dan kau, Demigod, akan ikut denganku!”
Dia menyerang Jason, tapi Piper menjegal monster itu dari belakang. Walaupun Dylan terbuat dari asap, Piper entah bagaimana berhasil menyentuhnya. Mereka berdua jatuh terjengkang. Leo, Jason, dan sang Pelatih buru-buru maju untuk membantu, namun roh tersebut menjerit murka. Dia melepaskan angin kencang yang menjatuhkan mereka semua ke belakang. Jason dan Pak Pelatih Hedge mendarat dengan bokong lebih dulu. Pedang Jason meluncur di kaca. Bagian belakang kepala Leo terbentur dan dia pun terkapar menyamping sambil bergelung, setengah sadar dan mengerang-erang. Piper yang paling sial. Dia terlempar dari punggung Dylan dan menabrak pagar, terguling ke samping hingga dia bergantung dengan satu tangan di atas jurang.
Jason hendak menghampiri Piper, tapi Dylan berteriak, “Akan kubawa saja yang satu ini!”
Dylan mencengkram lengan Leo dan mulai naik, menyeret Leo di bawahnya. Badai berputar-putar kian cepat, menarik mereka ke atas bagaikan penyedot debu.
__ADS_1