
"Namaku Seril, apa yang membawa kalian kemari?"
Aku menjelaskan semua hal yang terjadi hingga kami datang kemari.
"Jadi begitu, kalian tahu tempat ini dari Lich. Kurasa aku memang pernah kedatangan orang sebelumnya."
Bagi kebanyakan orang mereka tidak akan mencoba untuk naik ke puncak pohon dunia jika tidak benar-benar memiliki tujuan penting.
Seril menutup matanya dan secara mengejutkan sebuah buku telah terbang padanya.
"Di sini adalah hal-hal apa yang kalian ingin tahu, jika sudah selesai kalian bisa tinggalkan bukunya di meja."
"Kami mengerti, ngomong-ngomong apa kamu akan melakukan sesuatu?"
"Aku ingin tidur, lakukan sesuka kalian."
Dia mungkin hanya seorang yang menghabiskan waktu santainya dengan tidur, atau paling tidak mungkin itulah yang selalu dia lakukan.
Yue duduk untuk membuka bukunya sementara kami mengintip dari belakang.
"Di sini dikatakan bahwa naga legendaris yang membuat benua di dunia ini terbagi empat, konon kemunculannya selalu membuat kehancuran."
"Jadi Dragontail ingin melepaskan makhluk seperti itu nyan."
"Sepertinya begitu."
__ADS_1
Lembaran buku dialihkan pada sebuah gambar yang diisi seekor naga dengan sekelilingnya merupakan penyihir yang berusaha menyerangnya.
Mereka menempatkannya di dalam sebuah peti Iron Maiden lalu menguburnya di bawah gunung dan menyegelnya dengan sihir yang begitu rumit.
Segelnya hanya akan melemah saat gerhana matahari terjadi dan hari itu akan terjadi dalam tiga hari lagi.
"Kita benar-benar tidak punya waktu untuk bersantai," kata Marie demikian yang mendapatkan anggukan kuat dari Noel.
Pada akhirnya kini nasib semua orang bergantung pada kami, setelah mengetahuinya kami menyimpan kembali bukunya lalu keluar untuk menemui Fresisca.
"Sudah selesai."
"Tolong bawa kami ke bawah saja."
"Baiklah."
Kami menaiki kembali kereta lalu meninggalkan pohon dunia begitu saja.
"Aku pikir aku bisa lebih lama di sana nyan."
"Kita bisa pergi kapan-kapan."
"Kamu benar nyan. Kita memiliki hal untuk dilakukan juga."
Aku mengangguk sebagai balasan.
__ADS_1
Kereta kami telah menerobos hutan kemudian melewati sungai dan berhenti di sebuah pedesaan untuk menginap.
"Sebelum gerhananya terjadi, kami harus menghentikannya apapun yang terjadi," selagi bergumam hal demikian aku memandang bulan yang bersinar lewat jendela.
Malam ini kami tidur di kandang kuda yang sudah tidak digunakan, ini lebih baik dibandingkan tidur di alam bebas.
Keesokan harinya sebuah longsor telah menghentikan perjalanan kami, karena tidak ada jalan lagi kami memutuskan untuk menyingkirkannya lebih dulu.
Itu mengambil beberapa jam kami, walau demikian sisanya adalah perjalanan normal saja. Dari tempat kami, kami bisa melihat gunung yang dimaksud. Sebuah gunung yang dibuat dari bebatuan.
Melihatnya akan memberikan pemikiran bahwa apa gunung seperti itu benar-benar ada.
Kami beristirahat kembali di dalam gua, tidak ada perubahan yang terjadi, kami mengobrol seperti biasanya bercanda gurau dan bahkan melakukan hal-hal melawan monster untuk melatih diri.
Ketika aku duduk menatap api unggun semua orang sudah menungguku di depan mulut gua.
"Okta cepatlah sudah waktunya kita pergi nyan."
"Ah."
Aku bangkit selagi memegang pedangku.
"En, kau sudah siap."
"Siap kapanpun."
__ADS_1
Kedua mataku tampak bersinar terang sebelum akhirnya kembali sedia kala. Ini akan menjadi pertarungan habis-habisan.