Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Episode 6


__ADS_3

AWAN BADAI TERPUNTIR MENJADI ANGIN topan mini. Angin ** beliung mengular ke arahtitian bagaikan tentakel monster ubur-ubur.


Anak-anak menjerit dan lari ke dalam museum. Angin merampas buku catatan, jaket, topi, dan ransel mereka. Jason meluncur menyeberangi lantai titian yang licin.


Leo kehilangan keseimbangan dan hampir terjungkal dari pagar, namun Jason menyambar jaketnya dan menariknya ke belakang.


“Makasih, Bung!” teriak Leo.


“Ayo, ayo, ayo!” kata Pak Pelatih Hedge.


Piper dan Dylan memegangi pintu agar tetap terbuka, menggiring anak-anak lain ke dalam. Jaket snowboarding Piper mengepak-ngepak liar, rambut gelapnya berantakan menutupi wajahnya. Jason menduga Piper kedinginan, namun gads itu terlihat tenang dan percaya diri—memberi tahu yang lain bahwa semuanya akan baik-baik saja, menyemangati mereka agar terus bergerak.


Jason, Leo, dan Pak Pelatih Hedge lari ke arah mereka, tapi rasanya seperti berlari di pasir asap. Angin seolah menghadang mereka, mendorong mereka ke belakang.


Dylan dan Piper mendorong seorang anak lagi ke dalam, lalu kehilangan pegangan mereka pada pintu. Pintu terbanting hingga tertutup, menjebak mereka ke titian.

__ADS_1


Piper menarik-narik gagang pintu. Di dalam, anak-anak menggedor-gedor kaca, tapi pintu sepertinya tersangkut.


“Dylan, tolong!” teriak Piper.


Dylan cuma berdiri di sana sambil nyengir bodoh, seragam Cowboy-nya bergelombang ditiup angin, seakan dia mendadak menikmati badai tersebut.


“Maaf, Piper,” kata Dylan. “Sampai di sini saja aku menolong.”


Dylan menyentakkan pergelangan tangan, dan Piper pun terbang ke belakang, menghantam pintu dan meluncur di titian.


“Pak Pelatih,” kata Jason. “Lepaskan saya!”


“Jason, Leo, tetaplah di belakangku,” perintah sang Pelatih. “Ini pertarungan. Aku seharusnya tahu itulah monster kita.”


“Apa?” tuntut Leo. Lembar kerja yang nyasar menampar wajahnya, namun Leo menarik kertas itu dengan telapak tangannya. “Monster apa?”

__ADS_1


Topi sang pelatih tertiup, dan di atas rambut keritingnya mencuatlah dua benjolan—seperti tonjolan yang didapat tokoh kartun ketika kepala mereka terbentur. Pak Pelatih Hedge mengangkat tongkat bisbolnya—tapi benda itu bukan lagi tongkat biasa. Entah bagaimana tongkat tersebut telah berubah menjadi pentungan kasar dari dahan pohon yang masih ada ranting serta daunnya.


Dylan memberi senyum psikopat girang. “Oh, ayolah, Pak Pelatih. Biarkan bocah itu menyerangku! Bagaimanapun, kau sudah terlalu tua untuk ini. Bukankah itu sebabnya mereka memensiunkanmu ke sekolah tolol ini? Aku sudah berada dalam timmu sepanjang musim ini, dan kau bahkan tidak tahu. Kau sudah kehilangan kecermatanmu, Kakek.”


Sang pelatih mengeluarkan suara marah yang menyerupai embikan hewan. “Sudah cukup, Bocah Lembek. Kau bakalan takluk.”


“Menurutmu kau bisa melindungi tiga blasteran sekaligus, Pria Tua?” tawa Dylan. “Semoga beruntung.”


Dylan menunjuk Leo, dan angin ** beliung pun mewujud di sekelilingnya. Leo terbang ke titian seperti dilempar. Entah bagaimana, Leo berhasil meliukkan tubuh di udara, dan menghantam dinding ngarai secara menyamping. Dia meluncur, mencakar habis-habisan untuk mencari pegangan. Akhirnya dia mencengkeram tubir sempit yang terletak kira-kira lima belas meter di bawah titian dan bergantung di sana dengan ujung-ujung jarinya.


“Tolong!” Leo berteriak kepada Jason dan Pak Pelatih Hedge. “Tolong lemparkan tali tambang! Tali bungee! Apa saja!”


Pak Pelatih Hedge mengumpat dan melemparkan pentungnya kepada Jason. “Aku tidak tahu siapa kau, Bocah, tapi kuharap kau jago. Sibukkan mahluk itu”—dia menghunjamkan jempol ke arah Dylan—“selagi aku menyelamatkan Leo.”


“Menyelamatkan dia bagaimana?” tuntut Jason. “Bapak mau terbang?”

__ADS_1


“Bukan terbang. Panjat.” Hedge menendang sepatunya hingga lepas, dan Jason hampir saja kena serangan jantung koroner. Sang pelatih tak memiliki telapak kaki manusia. Dia memiliki kuku belah—kuku belah layaknya kambing.


__ADS_2