Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Episode 7


__ADS_3

Artinya, yang di kepalanya itu, Jason menyadari, bukanlah benjolan. Itu tanduk.


“Bapak seorang faun,” kata Jason.


“Satir!” bentak Hedge. “Faun itu mahluk Romawi. Tapi akan kita bicarakan itu nanti.”


Hedge meloncati pagar. Dia melompat ke arah dinding ngarai dan mendarat dengan kuku belah terlebih dahulu. Disusurinya tebing dengan kelincahan yang mencengangkan, menemukan pijakan yang tak lebih besar dari prangko, menghindari angin ribut yang berusaha menyerangnya selagi dia berjuang untuk menghampiri Leo.


“Manisnya!” Dylan menoleh untuk menghadap Jason. “Sekarang giliranmu, Bocah.”


Jason melemparkan pentungan. Sepertinya ini tindakan sia-sia karena angin kencang sekali, namun pentungan itu terbang tepat ke arah Dylan, bahkan menukik ketika dia berusaha mengelak dan menghajar kepalanya sedemikian keras sampai-sampai dia jatuh berlutut.


Piper juga tidak selinglung kelihatannya. Jemarinya dikatupkan ke pentungan ketika benda tersebut menggelincir ke sampingnya, tapi sebelum cewek itu sempat menggunakan pentungan itu, Dylan berdiri. Darah—darah keemasan—mengucur dari dahinya.

__ADS_1


“Usaha yang bagus, Bocah.” Dia memelototi Jason. “Tapi kau harus berusaha lebih keras.”


Titian berguncang. Retakan halus muncul di lantainya yang terbuat dari kaca. Di dalam museum, anak-anak berhenti menggedor pintu. Mereka mundur, memperhatikan dengan ngeri.


Tubuh Dylan terurai menjadi asap, seolah-olah molekul-molekulnya tengah tercerai berai. Wajahnya masih sama, senyum putih cemerlangnya masih sama, namun seluruh sosoknya mendadak tersusun oleh uap hitam yang berputar-putar, matanya bagaikan percikan listrik ditengah-tengah awan badai hidup. Dia mencuatkan sayap hitam setipis asap dan menjulang di atas titian. Seandainya ada malaikat yang jahat, Jason memutuskan,wajahnya pasti persis seperti ini.


“Kau adalah ventus,” kata Jason, kendati dia sama sekali tak tahu bagaimana dia bisa mengetahui kata itu. “Roh badai.”


Dua angin ** beliung mendarat di kiri-kanan Dylan dan berubah menjadi ventus—cowok-cowok yang mirip hantu dengan sayap setipis asap serta mata yang berkilat laksana petir.


Piper tetap terkulai, pura-pura linglung, tangannya masih menggenggam pentungan. Wajahnya pucat, namun cewekitu memberi Jason ekspresi penuh tekad, dan Jason memahami pesannya: Terus alihkan perhatian mereka.


Akan kuhajar mereka dari belakang.

__ADS_1


Manis, pandai, dan garang. Jason berharap dia ingat dia punya pacar seperti Piper.


Jason mengepalkan tinju dan bersiap menyerang, tapi dia tidak memperoleh kesempatan itu.


Dylan mengangkat tangan, lengkungan listrik mengalir di antara jari-jarinya, dan menyetrum Jason di bagian dada.


Gedubrak! Jason mendapati dirinya telentang. Mulutnya terasa seperti kertas alumunium yang terbakar. Dia mengangkat kepala dan melihat bahwa pakaiannya berasap. Sambaran petir itu menjalari tubuhnya dan menghantam sepatu kirinya hingga copot. Jari-jari kakinya hitam terkena jelaga.


Para roh badai tertawa. Angin mengamuk. Piper berteriak mengancam, tapi teriakannya terdengar mendenging dan jauh sekali.


Dari ekor matanya, Jason melihat Pak Pelatih Hedge memanjat tebing bersama Leo di punggungnya. Piper sedang berdiri dengan putus asa mengayun-ayunkan pentungan untuk menghalau dua roh badai lainnya, namun mereka kelihatannya cuma mempermainkan cewek itu. Pentungan Piper menembus tubuh mereka seolah mereka tak ada di sana. Dan Dylan, tornado gelap bersayap yang memiliki mata petir, menjulang di atas Jason.


“Stop,” kata Jason parau. Dia bangun sambil terhuyung-huyung, dan dia yakin siapa yang lebih kaget: dirinya sendiri atau para roh badai.

__ADS_1


__ADS_2