Pahlawan Terakhir

Pahlawan Terakhir
Chapter 50 : Gelombang


__ADS_3

Tepat setelah kami menanyakan soal gelombang, beberapa menit berikutnya gelombang tersebut terjadi, pertahanan yang sebelumnya jebol kini dengan mudah dimasuki oleh kawanan monster.


Ada dua Orc yang menjadi pembuka jalan, masing-masing memiliki tinggi 6 meter dengan pentungan kayu di tangan mereka.


Soal kekuatan sudah tidak diragukan lagi, mereka melibas seluruh penjaga dengan hanya ayunan saja serta tubuh mereka begitu kuat saat menerima berbagai sihir.


Orang-orang dengan pakaian militer mengeluarkan apa yang disebut sebagai Gun Machine, semenjak perdamaian antara Hermione dan Astrea disepakati mereka memberikannya pada kami sebagai kompensasi.


Senjata itu menembakan sihir dengan kecepatan tinggi, kecuali Orc sisanya begitu ampuh saat menghadapi undead, goblin dan lainnya.


"Kila bantu aku."


"Okay nyan."


Aku dan Kila menerjang ke depan untuk mengincar Orc, semua orang sibuk dengan urusan mereka hanya kami berdua yang akan melakukannya.


Salah satu Orc mengincar Kila, dengan gerakan gesitnya dia melompat dan berlari di tangannya.


"Sayang sekali nyan, aku ini sangat kuat nyan."


Dia mengincar leher Orc dengan sebuah pukulan membuatnya mengerang kesakitan di saat yang sama aku telah menyelimuti tubuhku dengan sihir cahaya, satu tebasan membelah Orc menjadi dua bagian sedangkan Kila sudah melompat ke Orc lain menendang pada wajahnya hingga jatuh, dia menarik tangannya, memberikan tinju seratus kali lebih kuat dari sebelumnya hingga Orc itu meledak di bawah tanah.


"Ber-berhasil, semuanya juga maju."


"Hooh."

__ADS_1


Dengan kekalahan dua Orc motivasi semua orang orang naik semakin tinggi. Marie melompat ke dekatku setelah mencari informasi di sekeliling.


Ia seorang pelayan yang bisa diandalkan dan mengaku dirinya yang terbaik.


"Aku telah kembali."


"Bagaimana?"


"Gerbangnya tidak terlihat di manapun, sepertinya mereka mengeluarkan monsternya saat malam hari dan mengendalikannya dengan lampion pengendali."


"Jadi begitu, aku rasa para anggota guild kegelapan itu akan muncul setelah situasi kita semakin buruk."


Marie mengangguk sebagai tanggapan dan ia mulai membantu kami berdua melawan monster lainnya.


Ketika selesai sebuah suar warna merah ditembakkan ke langit, disusul suar lainnya.


Tepat saat orang-orang dari guild kegelapan bermunculan maka kami juga berpencar. En dalam bentuk pedang berkata.


"Di balik rumah itu ada lima orang yang bersembunyi, mereka penyihir tingkat atas."


"Bagaimana dengan di dalam rumahnya."


"Kosong."


Karena aku sudah tahu maka aku menggunakan api dari teknik material art untuk membakarnya, seluruh penyihir itu berteriak kesakitan saat bagaimana tubuh mereka terbakar.

__ADS_1


Ketika aku memasuki persimpangan jalan, Orifiel telah berdiri di sana dengan pedang di tangannya.


"Aku sudah menunggumu."


"Kalau begitu kita akhiri semuanya di sini."


"Okta?"


Berkat peringatan En, aku berhasil melompat sedikit, dimana sebelumnya aku berpijak terdapat panah yang menancap di sana.


"Sialan si mata satu melakukan taktik curang," ucap En kesal.


"En sikapmu berubah."


"Aku keceplosan."


Dia kembali ke mode gadis polos.


Aku tidak ingin berkomentar lebih dari itu.


Aku berlari untuk menghindari panah termasuk menahan serangan Orifiel yang mulai serius.


Dua lawan satu kah.


Dari kejauhan aku melihat Marie yang memberikan sebuah isyarat dengan jarinya lalu mengangguk sebagai balasan.

__ADS_1


Dia akan mencari orang yang mengendalikan Orifiel, aku mengandalkanmu.


Pedangku dan Orifiel saling bertubrukan menghasilkan embusan angin di sekitar.


__ADS_2