
En merajuk karena dia kami larang membawa keretanya, walau demikian tidak ada yang berfikir akan menyerah terhadapnya dan mengizinkannya kembali mengemudi.
Dia berkata ke arah Yue.
"Nah Yue, di dunia roh juga ada pohon dunia juga bukan?"
"Itu benar, aku ingat ayahku bilang bahwa di setiap dunia ada satu bahkan di alam dewi juga."
"Dia pernah pergi ke sana?"
"Cuma beberapa kali kurasa."
"Aku yakin dia bukan lagi manusia kurasa."
Aku juga berfikir seperti apa yang dikatakan oleh En, Rider terlalu kuat melebihi manusia jika dia bukan orang yang pemalas dunia ini pasti sudah aman.
Ia sudah pensiun jadi tidak ada yang bisa diharapkan darinya, bahkan pahlawan pertama yang membawa pedang ini juga Fel memutuskan untuk berhenti.
Aku tidak ingin mengatakannya tapi kini harapan semua orang tergantung pada kami.
Kami berhenti di sebuah desa untuk berisitirahat dan baru keesokan paginya kami kembali melanjutkan perjalanan, terkadang menginap di hutan, terkadang di kota ataupun di desa hal itu terus berulang sampai kami tiba di sebuah pelabuhan yang akan mengantarkan kami ke benua lain.
"Naiklah, pastikan agar memasukan barang-barang kalian dengan hati-hati agar tidak jatuh."
Kapal yang akan membawa kami sangatlah besar sehingga beberapa kereta masuk ke dalamnya menggunakan uap itu menjadi perjalanan yang cukup santai. Perjalanan ini juga menjadi perjalanan yang tidak terlalu merepotkan.
Aku, Yue, Marie, Kila dan Noel membentangkan tangan untuk merasakan udara laut menerpa wajah kami. Daratan yang kami lihat mulai terlihat mengecil sampai tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Bagi kami semua ini perjalanan pertama kami meninggalkan benua.
"Masih ada banyak waktu, saatnya memancing nyan."
"Yah, itu ide bagus... seorang pelayan juga harus pandai memancing."
"Aku juga ikut, aku kira sensasi saat seseorang tidak mendapatkan ikan juga mendebarkan."
Aku memilih membiarkan mereka begitu saja.
Yue memandang laut dengan senyum yang membuatku bertanya-tanya, apa dia sangat senang laut.
Seolah membaca pikiranku Yue menjelaskan.
"Laut selalu terlihat indah, aroma dan juga suasananya menenangkan."
"Aku pikir laut tidak selalu seperti itu, terkadang badai dan juga hal-hal lainnya terlihat mengerikan."
"Kurasa seperti itu juga benar, ini pertama kalinya aku mendengar seorang pria membalas perkataanku dengan cara seperti itu, maksudku mereka akan setuju-setuju saja dengan apa yang aku katakan."
Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan.
"Ah gawat, Kila jatuh ke air, aku dengar kucing benci air, Marie Marie cepat lemparkan rantaimu."
"Baiklah."
Aku bisa melihat bagaimana Kila ditarik ke atas.
__ADS_1
"Nyan, nyan, aku dapat ikannya."
Dalam posisi seperti itu dia masih saja memikirkan ikan. Kami duduk sementara Yue akan mengolah ikan yang mereka tangkap dengan pisau di tangannya.
Jika menyangkut makanan En yang dalam bentuk pedang akan meluangkan waktunya ke bentuk manusia untuk ikut makan.
Yue tidak menyajikannya dalam bentuk masakan melainkan akan dia sajikan dengan mentah.
Aku meragukan bagaimana rasanya namun melihat dia terlihat serius melakukannya, aku tidak bisa menolaknya.
Setelah dipotong-potong tipis dan rapih, ia mulai menyediakan saos khusus serta perasan jeruk nipis.
"Selesai, silahkan dicoba."
Kila yang lebih dulu melakukannya.
"Selamat makan, uwaaah.... ini enak nyan."
"Benar!"
Kami juga mencobanya dan tidak aku sangka makanan mentah bisa seenak ini.
"Jika ikannya langsung ditangkap dan diolah, kesegarannya yang terbaik, kerang dan lobster juga bisa dimakan mentah."
Tiba-tiba saja kami bersemangat untuk mencari mereka dalam perjalanan ini. Makanan enak memang seharusnya tidak boleh dilewatkan.
"Kalian aku tidak bisa membuatnya sekaligus."
__ADS_1
Yue mengeluh bagaimana kami memberikannya sangat banyak.
Pada akhirnya ia membekukannya dengan sihir es untuk disimpan nanti.